Kisah Mantan Berandalan

Kisah Mantan Berandalan
This Love for You


__ADS_3

16 November jam setengah lima sore


Ayla dan Marsha sedang bermain berdua di kamar. Namun, sang ayah yang setiap keinginannya tak dapat dibantah datang untuk menjodohkan Marsha.


" Marsha... ayo ke ruang tamu... ada yang ingin ayah bicarakan." Ucap Pak Damar. " iya ayah." Marsha dan Ayla pun ikut ayahnya ke ruang Tamu.


" Nah pak Sandi, ini anak saya namanya Marsha. Jadi bagaimana perjodohan anak anak kita?" Tanya Pak Damar.


" tentu saja, minggu depan anak kita dapat menikah." Ucap pak Sandi. " apa? Perjodohan? Pernikahan? Tidak... aku tidak mau!!!" Ucap Marsha yang menangis.


" Marsha!!! Bagaimanapun juga kamu harus menikah dengan Tedi, anaknya pak Sandi. Lihatlah dengan matamu sendiri. Pak Sandi sudah diatas kursi roda dan penyakitnya semakin parah." Ucap Pak Damar.


" tinggal menunggu waktu saja untuk mati..dasar Tua!!" Ucap Marsha Sinis. " eh jaga ucapanmu ya!! Kalau begitu aku tidak mau menikah dengan Anak yang tidak memiliki etika sepertimu." Ucap Tedi.


" Aku juga tidak mau menikah denganmu pria br*ngs*k." Ucap Marsha yang semakin menjadi.

__ADS_1


" Marsha... siapa yang mengajarkanmu seperti itu??" Tanya Pak Damar. " ayah... ayah yang mengajarkanku seperti itu.... ayah merusak hidupku dan merusak masa depanku." Ucap Marsha.


" Dasar anak tak berguna.." Saat ayahnya akan menampar Marsha. Sebuah ledakan besar terjadi akibat mobil pengangkut bahan bakar menabrak tiang listrik lalu Api menyambar pipa gas yang tersambung ke setiap rumah.


"Duarrrrr!!!!!" Satu kampung hancur lebur tak bersisa. Hanya menyisakan Ayla dan Marsha yang tak sadarkan diri. " Tolong!!" Teriak Ayla.


" Darimana suara ledakan itu?" Tanya Rion. " dari sana Ri..." Ucap Naufal. " itu kan kampungnya si Marsha??" Tanya Rion. " ayo kita kesana." Ucap Fahri.


" Tolong!!!" Teriak Ayla yang mencari pertolongan. " kak Ayla!!! Kakak enggak apa apa?" Tanya Naufal dan Fahri.


Rion,Fahri dan Naufal menunggu di depan ruang ICU rumah sakit ternama di Kota Bogor. Mereka menunggu kepastian dari dokter.


" Dok bagaimana kondisi mereka berdua dok??" Tanya Rion. " yang atas nama Ayla sudah stabil dan atas nama Marsha masih kritis." Ucap Dokter Heru.


" kita bertiga boleh kedalam kan dok??" Tanya Rion. " boleh... silahkan." Ucap Dokter Heru.

__ADS_1


" Marsha?? Bangun...Rion udah disini!!! Marsha bangun!!! Aaahhh mengapa saat aku mencoba untuk berubah harus mengalami ujian yang berat?" Tanya Rion.


" Emang kenapa Ri?" Tanya Naufal. " Gua dulunya berandalan kota... sekarang gua disuruh tinggal disini dan banyak ujian yang harus gua lewati." Ucap Rion.


" sama kita berdua juga Zaf, Gua juga dulunya berandalan kampung yang sering main kesana kesini..dan kini kita hanya memiliki satu tongkrongan dan main saat ada perlu saja." Ucap Naufal.


" Rion?Naufal?Fahri? Bagaimana kondisi Marsha?" Tanya Argina dan Intan yang baru saja tiba di rumah sakit.


" lihatlah... dia kritis... memang untuk berubah itu butuh perjuangan ekstra." Gumam Rion. " kenapa emang Ri?" Tanya Argina dan Intan.


" Kita bertiga adalah mantan berandalan di tempat kami masing masing... dan saat kami ingin berubah. Banyak ujian yang harus kita lalui." Ucap Fahri.


" Fahri..Naufal...Rion... memang untuk perubahan itu tidak ada yang Instant... Instant itu hanya ada pada Mie. Semuanya butuh proses." Ujar Intan.


" maaf waktu besuk sudah habis..kalian pulang saja dulu. Sisakan satu orang disini." Ucap Dokter Heru. " hmm... siapa? Rion lu mau disini?" Tanya Fahri.

__ADS_1


" baiklah... kalian pulang saja.. nanti jika ada apa apa gua kabarin." Ucap Rion. " baik Ri.. kalau begitu kita berempat pulang ya!!" Ucap Naufal. " iya hati hati dijalan." Rion pun kembali duduk di pinggir Marsha sambil mengusap kepala Marsha dengan lembut.


__ADS_2