
Suasana istana yang terletak di Kota Tua yang begitu hidup makmur dan damai tiba tiba sangat kacau, beberapa perajurit korban luka luka sedang berusaha bangkit dan mengobati luka mereka, tak kuasa kaisar Oxados melihat semuanya, karena kepergiannya itu membuat istananya hancur berantakan dan Liliana dibekukan hatinya menjadi sedingin es dikutub utara.
Apa yang harus ia perbuat, semuanya sudah terlambat, ratu kegelapan bahkan membentengi kotanya dengan kekuatan hitam. Sedang Orchon masih saja menangisi tubuh Liliana yang sedang membeku.
"Apa yang terjadi padamu, aku tidak bisa memaafkan diriku karena akulah kamu seperti ini." Orchon tak hentinya dan terus saja merutuki diri, ia tak kuasa melihat Liliana yang terbaring seperti patung itu.
Tak jauh dari sana Kaisar Oxados yang berusaha untuk bangkit, coba mengampiri cucunya.
"Berhentilah menangisi wanita itu Orchon, sudah terlambat tidak ada gunanya kau seperti itu, jika ingin membantunya kita harus memulihkan kerajaan kita, kemudian kita fikirkan langkah kita selanjutnya."
Serasa masuk akal apa yang diucapkan kakeknya barusan, Orchon berhenti meratapi Liliana, ia menoleh melihat beberapa para prajuritnya dan bentuk istana yang sudah retak yang masih tersisa. Perlahan Orchon berdiri melihat ke arah kakeknya.
"Apa yang harus kita lakukan kek ?"
"Untuk sekarang kita akan melakukan penguburan mayat para prajurit yang telah tewas, lalu kita akan perbaiki bekas bekas reruntuhan bangunan." Ucap sang kakek.
"Baiklah kek." Jawab Orchon singkat lalu segera bergegas mengumpulkan beberapa mayat prajuritnya dan menguburkan mayat mayat itu dengan memberinya tanda payung kuning di atas pemakaman mereka.
Payung itu sengaja dipasang dan sudah menjadi tradisi di kerajaan mereka sebagai pahlawan dari keluarga kerajaan yang tewas dalam medan peperangan.
Selesai pemakaman Orchon masuk kesebuah ruangan untuk menemui kakeknya.
Kriiing... Kriiing...Kriiing....
Suara kain gorden yang saling memukul ketika Orchon melewatinya, membuat kaisar Oxados menyadari ada seseorang mendekat. Ia pun tersenyum ketika melihat cucunya yang sedang berjalan kearahnya.
"Apa kau sudah siap Orchon ?"
"Iya kek, aku sudah selesai melakukan tugasku."
"Bagus, kalau begitu duduk dan berkonsentrasilah dengan tenaga dalammu agar istana kita berdiri lebih kokoh lagi."
Orchon yang tak ingin membantah langsung mengikuti arahan kakeknya, keduanya mulai mengayunkan tangan secara bersamaan pelahan lahan hingga tangan mereka tegap ke atas, lalu saling melingkari dan membentuk sebuah ilmu sakti membuat puing puing bangunan mulai beterbangan satu persatu dan menyatu sedikit demi sedikit hingga penyatuan itu membesar lalu memasuki sela selah bangunan yang retak, ada pula yang kembali tegap seperti sedia kala.
Kreeek... Kreeek... Kreeek...
__ADS_1
Bunyi bangunan yang akhirnya satu persatu mulai menjadi utuh dan tidak ada satupun yang terlihat retak lagi, bangunan rampung dan kembali seperti semula.
"Akhirnya kek, kita telah berhasil mengembalikan kerajaan kita."
"Kau yang memberi kekuatan hingga bangunan itu menjadi lebih kuat." Ucap kaisar Oxados.
"Iya kek, lalu selanjutnya apa yang akan aku lakukan ?"
"Kita istrahat saja Orchon, besok kau akan membantu mengobati luka luka prajurit kita yang tersisa."
Orchon meninggalkan kakeknya di ruangan itu, badannya yang sangat lelah terasa sangat pegal, meski ia bukanlah manusia tetapi karena begitu banyak beban dihatinya ia merasa begitu lelah. Sedang Kaisar Oxados masih saja termenung.
"Satu satunya cara untuk menolong wanita itu hanyalah cinta tulus dari suaminya. Tetapi bagaimana caraku mencari pangeran Erland, sedang situasi kerajaanku masih sangat terpuruk, apalagi perbatasan sedang dikunci dengan mantra kegelapan, kami seluruh rakyat tidak bisa menembusnya.
Sebenarnya wanita itu yang menjelma menjadi teman Liliana itu siapa ?
Yang aku sangat heran kenapa ia bisa dengan bebas keluar masuk istanaku sesuka hatinya, apa kegelapan ada kaitannya dengan ilmu suci ?" Batin kaisar Oxados, yang terus saja bertanya tanya siapa gadis pemberontak itu sebenarnya, bahkan ilmunya saja tidak bisa menembus gadis itu. Ia memiliki kekuatan yang besar, bisa saja mereka akan memusnahkan kerajaannya.
Cukup lama kaisar Oxados berada dalam fikirannya sendiri, hingga membuatnya lelah dan tertidur ditempat pembaringan miliknya.
Esok harinya Kaisar Oxados dan Orchon kembali berdiskusi di dalam ruangan.
"Apa kau mencintai gadis yang terbaring lemah itu Orchon ?" Tanya kaisar Oxados pada cucunya.
"Ia kek, aku akan melakukan segala cara untuk membantunya."
"Sungguh sangat mulia hatimu Orchon, tetapi kau harus ingat jika wanita itu sudah bersuami."
"Aku sudah ikhlas kek, apakah rasa cinta itu perlu pengorbanan ?
Aku siap melakukan segala cara untuk menyembuhkannya, aku tidak ingin melihat wanita itu terbaring lemah."
"Jika kau benar benar ikhlas dengan cintanya, apa kau sanggup mencari suaminya dan membawanya ke tempat kita ?"
"Ma maksud kakek aku yang harus pergi mencari suaminya ?"
__ADS_1
"Ia hanya kau, siapa lagi ? Aku juga tidak akan memaksamu untuk pergi, namun kau harus sadar Orchon janganlah terlalu dibutakan cinta karena suatu saat kau akan merasakan akibatnya."
Dengan raut wajah sedih Orchon menjawab ucapan kakeknya. Entah maksudnya apa, ia tidak mengerti akan maksud kakeknya yang mengatakan dibutahkan dengan cinta, sedang Orchon hanya ingin menolongnya. Setidaknya Liliana sadar bahwa Orchon adalah lelaki yang akan bertanggung jawab penuh dengan ucapannya.
"Iya kek jika itu yang akan bisa menolong gadis itu, maka aku akan pergi." Ucap Orchon dan segera pergi dari tempat itu, tetapi kakek menghentikan langkahnya
"Tunggu Orchon, belum saatnya kau pergi."
"Memangnya apa lagi, apa yang harus aku tunggu."
"Kita tidak akan bisa keluar dari mantra gaib yang sengaja dipasang kegelapan di perbatasan."
"Jadi aku harus bagaimana mencari suaminya ?"
"Kau harus mengumpulkan seluruh tenaga dalammu dan mempelajari ilmu penyerangan dan pembuka mantra."
"Lalu aku harus kemana kek ? Apakah tidak ada cara lain ? Kenapa sesulit itu menolongnya ?"
"Dalam buku takdir yang dimiliki kerajaan kita hanya itu jalan satu satunya yang bisa kau tempuh."
Setelah memikirkan ucapan kakeknya, Orcon menoleh pada gadis seperti batu yang tertidur itu. Ia tersenyum melihat wajah gadis itu.
"Baiklah kek, kalau begitu antar aku mecari buku takdir itu, dimana aku harus mendapatkan bukunya ?"
"Kau harus pergi ke gunung tertinggi yang terletak di dalam kerajaan kita, setelah melakukan semedi tinggi maka kau akan mendapatkan mantranya dengan mudah.
Aku tidak bisa mengantarmu kesana Orchon, di istana aku akan melakukan tugasku untuk melindungi rakyatku dan tubuh Liliana, kau pergilah seorang diri. Aku hanya berpesan satu padamu.
Tempat itu dijaga oleh para leluhur kita, kau harus berhati hati disana Orchon."
Orchon yang sudah tidak sabaran segera pergi meninggalkan istana itu, Ia berusaha terbang dan keluar masuk mengelilingi Kota tua tanpa mendengar lagi ucapan kakeknya.
"Dimana sebenarnya tempat itu, apa aku bisa menemukan penangkal mantranya?" Batin Orchon
Bersambung...!!!
__ADS_1