
Sesaat langkah kakinya terhenti, Erland termenung memikirkan siapa lelaki tampan yang ada didepannya itu.
"Wajahnya benar benar tampan rasanya aku seperti mengenalnya, tapi diamana ? melihatnya saja baru kali ini." Bathin Erland.
Karena dirundung penasaran Erland terus saja mendekat ke arah lelaki yang dilihatnya begitu tampan itu.
Orchon yang melihat dibalik tampannya pangeran Erland ada rasa cemburu mulai menghinggapi hatinya.
"Apa benar ini suami Liliana ? Lalu untuk apa dia diam dan tidak perna mencari istrinya.
Kalau sudah tak cinta lebih baik kau ceraikan saja, biar aku yang jadi penggantimu." Batin Orchon.
Fikiran jahat mulai menghinggapi hatinya namun ia mengingat nasib Liliana sedang diujung tanduk, hingga Orchon mulai berdamai dengan keadaan demi orang yang dicintainya.
"Hei, kau siapa ? untuk apa mencariku ?" Tanya Erland tiba tiba.
"Maafkan mengganggumu pangeran. Aku seorang pangeran dari Kota Tua milik kakekku kaisar Oxados, namaku Orchon."
Terkejut bukan main, Erland begitu bahagia berkenalan dengan Orchon.
"Aku sangat tersanjung atas kedatanganmu, tetapi apa yang membuatmu mengunjungi istanaku ini pangeran ?"
"Aku kesini membawa berita penting. Apa kita bisa bicara empat mata ?"
"Baiklah." Erland mengikuti keinginan Pangeran Orchon dan memerintahkan anak buahnya untuk kembali berjaga.
Kini diruangan itu tinggallah mereka berdua.
"Apa yang kau ingin bicarakan padaku pangeran Orchon."
"Aku, aku membawah kabar tentang istrimu, dia masih hidup."
Mendengar Orchon, rasanya begitu bahagia dan sangat terkejut mendengar ucapan lelaki mudah dihadapannya ini.
Dengan raut wajah yang sedih Orchon menceritakan semua apa yang terjadi, dan bagaimana nasib buruk menimpah Liliana, dan karena Liliana juga ia sampai datang ke istana milik Erland.
"Benarkah istriku masih hidup ?
Dari mana kau tahu aku adalah suaminya ?"
"Liliana yang telah menceritakan semuanya, bahkan ia memberi tahu pada kaisar Oxados tentang siapa jati dirinya."
"Kalau memang benar, aku sangat berterima kasih pada kalian pangeran Orchon, aku tak tahu bagaimana membalas kebaikanmu dan kakekmu itu."
"Sudahlah kau jangan banyak berfikir yang terpenting sekarang kau harus pergi menyelamatkan istrimu sebelum semuanya terlambat.
Saat ini tubuh dan hatinya sedang membeku, hanya ketulusan yang dapat mengalahkan kekuatan jahat yang bersemayam ditubuhnya."
Baru saja bahagia karena mendapat kabar tentang istrinya, kini Erland harus menerima kenyataan bahwa istrinya dalam keadaan sekarat.
"Maksudmu istriku, ada kekuatan jahat yang membelenggu tubuhnya ?"
"Iya, saat ini tubuh dan hatinya membeku seperti es, kami tidak dapat menolongnya."
"Apa ini perbuatan kaisar Luther !" Sorot mata yang tajam, aurah yang terpancar diwajahnya begitu menakutkan.
__ADS_1
"Ayo kita berangkat ke istanamu sekarang juga pangeran Orchon, aku takut istriku tidak dapat diselamatkan."
"Eh iya tapi, tapi tidak sekarang pangeran. Kita berdua harus saling membantu mematahkan ilmu hitam yang dipasang di perbatasan kota.
Kau akan kuajarkan mantra buku takdir untuk bisa melewati tempat itu."
"Apa sesulit itu masuk ke istanamu Orchon ?" Tanya Erland yang sudah sangat gelisah.
"Semuanya telah berubah, semenjak Liliana ada disana, kekuatan jahat memporandakan kerajaan kami."
Orchon duduk di istana pangeran Erland, lalu meminta secarik kertas dan pulpen untuk ia menulis sesuatu.
Para pengawal segera membawakan apa yang dimintanya, lalu ia menulis sesuatu yang menarik perhatian Erland dan bertanya.
"Apa yang sedang kau tulis itu ?" Tanya Erland, namun Orchon tidak menjawab ucapannya, ia tetap saja menulis lalu memberi kertas tulisan ini pada Erland.
"Ini ambillah..." Ucap Orchon. Sedang Yuda terus memperhatikan tulisan itu.
Hanya butuh sedikit waktu, Erland mempelajari semuanya.
"Aku tidak ingin membuang waktuku terlalu lama, sekarang ayo kita pergi." Ajak Erland pada pangeran Orchon.
"Baiklah jika memang kau memaksa pangeran Erland."
Kedua pangeran dari kerajaan masing masing itu pergi dengan menggunakan ilmu tingkat dewa yang dimiliki Erland begitu juga pangeran Orchon hingga akhirnya mereka sampai di perbatasan Kota dalam sekejab.
Kini Erland sedang berkonsentrasi menutup matanya, menggunakan mata batinnya untuk mencari letak pintu sebenarnya yang dimantra hitam dari kegelapan.
Buuuuush...
"Disebelah sana Orchon, ayo kita kesana." Ajak pangeran Erland.
"Hahaha...
Kalian tidak akan bisa pergi dari tempat ini, kegelapan akan selalu menghatui dunia."
Seperti sebuah suara yang sedang menggema di langit terdengar begitu jelas.
"Suara apa yang tadi terdengar pangeran ?" Tanya Erland pada Orchon.
"Aku juga belum tahu Erland, mungkin saja itu suara kegelapan yang akan memusnakan hidup kita." Jawab pangeran Orchon.
"Kalau begitu ayo lebih cepat ?"
Tak tahu dari mana datangnya Erland dan Orchon sudah dikelilingi begitu banyak makhluk berjuba hitam, kukunya yang panjang, giginya bertaring, rupanya yang begitu menyeramkan tak terlihat darah mengalir diwajah mereka, rambutnya yang panjang menambah seramnya manusia monster itu.
"Hahaha... Kalian yang akan menjadi penghalang bagi kegelapan untuk menguasai alam ini.
Jika datang ketempat ini maka kalian tidak akan bisa kembali." Teriak salah satu dari monster jahat.
"Aku tak takut pada kalian siapa yang menyuruh kalian menutupi perbatasan kota Tua dengan mantra sihir kalian."
"Hai kalian para monster jahat, serang mereka, binasakan mereka ditempat ini. Jangan sampai ada yang tersisa." Teriak para monster yang mulai menyerang dan semakin lama semakin banyak.
Erland dan orchon berada di tengah para monster jahat.
__ADS_1
"Apa kau siap Orchon ?
Ayo kita habisi mereka, kita buka kembali perbatasan kota." Teriak Orchon
"Aku sudah siap demi menyelamatkan kerajaanku, aku rela mati disini. Ayo Erland kita serang mereka....
Hiaaap.... Haaaap.... Huuup....
Pertarungan melawan dengan tangan kosong terus terjadi, Erland dan Orchon terus berlompatan menahan serangan demi serangan.
Keduanya semakin melayang diudara, para monster semakin kewalahan menyerang, Erland dan Orchon mulai melempar dengan ilmu tenaga dalam mereka masing masing. Satu persatu para monster tumbang dan langsung menghilang dengan sekejab. Tak ada ampun mereka terus menghantam dengan kekuatan mereka, pertarungan terus terjadi, suasana perbatasan seperti sebuah tempat pembantaian.
Erland dengan konsentrasi tinggi ia mengeluarkan Elang legendaris yang dimilikinya.
"Aaaaaaaaghh..." Rintih Erland saat elang itu berpisah dengan raganya, Orchon yang melihatnya begitu terkejut.
"Bukankah itu seekor elang legenda yang sangat dipercaya memiliki kekuatan yang tiada tandingannya ? Dia hidup ratusan tahun di negri ini. Lalu kenapa burung itu ada di tubuh pangeran Erland ?" Orchon terus bertanya dalam hatinya.
Begitu juga para monster jahat yang melihat Elang besar itu, mereka mulai merasa ketakutan...
Bhaaaa.... Bhaaaa....
Bola bola api keluar dari mulut Elang, ia membakar habis para monster, hingga mereka menjadi abu lalu menghilang seketika.
Merasa sudah selesai melakukan tugasnya membinasakan seluruh kekuatan hitam, Elang itu kembali masuk ketubuh Erland.
Tidak ada yang tersisa semuanya mati dilibas Elang besar itu.
"Sekarang sudah aman ayo kita pergi." Ajak Erland.
Sedang Orchon masih banyak pertanyaan yang timbul di benaknya. Bagaimana bisa Elang itu menyatu ditubuh Erland.
Kegelapan yang tadinya menyelimuti perbatasan kini telah musna dan berganti dengan awan dan suasana alam yang damai.
Keduanya membaca mantra pintu takdir dan membuka segel pelindungnya.
**"Salamat Salamat Salamat Kaasi Opung.
Opungku beenan mopido papasalamat mai aku.
Salamat Salamat Salamat Kaasi Opung.
Kupolgole dei tau dako Lipuku.
Salamat Salamat Salamat Kaasi Opung.
Tulungi aku Tau tau nibenan popokuasa
Salamat Salamat Salamat Kaasi Opung."**
Begitulah bunyi isi mantra buku takdir.
Oke Readers terimakasih telah membaca jangan lupa like, vote, favoritkan dan tambahkan komentar.
Bersambung.....!!!
__ADS_1