Kisah Putri Langsat

Kisah Putri Langsat
32. Kejujuran Menyakitkan


__ADS_3

Para penduduk mulai mengikuti arah monster jahat yang melarikan diri.


Hingga mereka menemukan sungai tempatnya berendam menceburkan diri.


"Itu monsternya, ayo serang lagi. Jangan biarkan dia lolos dari tempat kita." Teriak salah seorang warga, sementara yang lain secepatnya berdatangan dan mengarahkan anak panah mereka pada monster jahat yang mirip Orchon itu.


"Tunggu." Seru pangeran Erland sambil melompat dari tempatnya berendam mandi.


"Hei, biarkan kami menyerang monster itu, jangan halangi kami." Teriak para penduduk.


"Mengapa kalian ingin menyerangnya ?"


"Karena dia telah memakan hewan hewan ternak kami.


Kalian semua bersiap bunuh monster itu."


Para penduduk mulai melemparkan kembali panah api di tubuh monster. Sedang monster yang menyerupai Orchon itu mulai menyerang. Ia mulai mengibas seluruh penduduk dengan lengannya yang kokoh, berwarna hitam dan membesar, peperangan terus terjadi. Para penduduk banyak yang menjadi korban karena amukan sang monster. Banyaknya penduduk tidak dapat ia kalahkan seorang diri, api terus merajalela membakar kulitnya.


"Akan kubunuh kalian.


Aaaagggh... " Erangan monster itu, semakin kesakitan akibat panah api yang membakar habis tubuhnya.


Disaat yang sama Erland baru menyadari dirinya telah ditipu, oleh monster dihadapannya ini.


"Bagaimana ini, dia bukanlah Orchon yang sesungguhnya. Aku harus kembali ke Kota Tua untuk menyampaikan berita ini pada kaisar Oxados.


Aku tidak bisa melanjutkan perjalanan mencari penangkal, jangan sampai Liliana dalam bahaya. Dia bukanlah pangeran Orchon yang sebenarnya." Ucap Erland dalam hati.


Penyerangan terus terjadi, Erland tidak membantu sedikitpun, ia hanya melihat sang monster dikalahkan para penduduk sambil mengerang kesakitan.


"Aaaaaagggh...." Rintih monster yang menahan sakit di akhir kematiannya sambil mengucapkan sebuah pesan terakhir.


"Hahaha....


Aku bersumpah kegelapan akan menghantui negeri ini, kalian para penduduk tidak akan sanggup bertahan dengan kegelapan."

__ADS_1


Ucap sang monster yang tubuhnya hangus terbakar, lalu menghilang di terpahan arus sungai. Para penduduk tidak mengerti akan ucapan terakhir monster itu, mereka tak peduli dan pergi begitu saja tanpa peduli pada pangeran Erland.


Sedang di kerajaan kegelapan Octavia merasakan ada sesuatu yang terjadi di kerajaan kaisar Oxados karena gioknya terus saja bersinar.


"Apa pertanda sesuatu sedang terjadi ?" Batin Octavia yang sudah merasa sangat gelisah. Ia lalu menggunakan kekuatan miliknya untuk pergi menembus kerajaan kaisar Oxados.


Buuusssh... Buuusssh....


Tiba disana, Octavia begitu bahagia melihat semuanya.


"Akhirnya apa yang ku inginkan telah terjadi. Aku akan memberitahukan ini pada ayah." Teriak Ocyavia dengan lantang saat melihat kondisi Kota Tua yang sudah menjadi es.


"Ouuups... Aku ingat pengawalku sedang pergi dengan Erland mencari penangkal. Aku harus mencari mereka secepatnya." Ucapnya sebelum terbang meninggalkan Kota Tua.


Octavia terus berkeliling mencari makhluk ciptaannya yang entah pergi kemana. Setelah beberapa lama mencari, akhirnya Octavia bertemu dengan pangeran Erland, tetapi tidak dengan monster jahat makhluk ciptaannya.


"Erland, apa yang kau lakukan disini ?" Tanya Octavia yang tiba tiba muncul dan baru saja melihat lelaki pujaan hatinya.


"Hei Octavia, kau rupanya." Jawab Erland yang sangat marah melihat wajah Octavia.


"Aku tidak menyangka Octavia, rupanya kau yang telah menculik isteriku dan mengurungnya di kastil kuno." Hardik Erland.


Wajah Octavia langsung memerah karena ucapan Erland yang menyambutnya dengan kemarahan.


"Apa isterimu yang menceritakan semuanya ?" Tanya Octavia.


"Tidak, dia sedang terbaring tak berdaya. Kaisar Oxados yang memberitahukan itu. Kenapa kau sungguh tega pada isteriku ?"


Sambil membuang nafas beratnya Octavia berkata.


"Semua itu kulakukan karena dirimu Erland, kau selalu saja menjauh dariku, semenjak kedatangan wanita itu didunia kita, kau menjadi berubah. Bahkan kebersamaan kita tidak lagi seperti dulu, apa kau tahu kalau aku sangat membencinya Erland. Karena dirinya aku tersiksa, cintaku padamu bertepuk sebelah tangan.


Jawab aku Erland, apakah aku salah jika melakukan semuanya pada Liliana, rasa sakit akibat cinta yang aku bina sudah sejak lama denganmu, lalu kau putuskan ditengah jalan. Jawab akuuuu...." Teriak Octavia dengan mata berkaca kaca. Satu kejujuran menyakitkan yang begitu membuatnya tersiksa.


Sesaat pangeran Erland termenung, apa begitu sakitnya penderitaan yang Octavia alami sampai sampai ia mengurung Liliana. Pangeran Erland baru menyadari semuanya, kenapa Octavia menganggap semua itu adalah cinta, padahal bagi pangeran Erland, ia hanyalah sebagai adik yang selalu menemaninya.

__ADS_1


"Kamu saja yang terlalu bodoh Octavia, kenapa kamu menganggap semua perhatian dan kebaikanku padamu adalah cinta, padahal kamu sudah ku anggap sebagai adikku, dan kamu harus menerima kenyataan kalau Liliana adalah isteriku."


"Tidak Erland, tidaaak.... Kamu tahu akibatnya karena menikah dengan manusia, itu sebabnya aku memisahkan kamu darinya. Karena aku tidak mau melihatmu dihukum kegelapan karena melanggar peraturan dunia kita."


"Apa kau tahu aku sangat mencintai dirinya. Jika sampai nyawaku yang harus ditukar untuk isteriku aku sudah siap Octavia." Tukas Erland dengan nada marah.


"Erland, berhentilah mengejarnya. Jika kau memaksa mengajar cintanya, apa kau sadar akibatnya akan sangat fatal."


Ucapan Octavia membuat Erland termenung sesaat, seakan ucapan Octavia memang sedang terjadi.


"Aku akan berusaha menyembuhkan Liliana isteriku. Jika kau ingin aku memaafkan dirimu, maka kau harus membantuku mencari bantuan pengobatan untuknya."


"Memangnya ada apa lagi dengannya, kamu sudah menemukan isterimu berarti kalian sudah bersama, lalu untuk apa lagi mencari pengobatan." Ucap Octavia yang berpura pura tidak mengetahui semuanya.


"Liliana sedang sekarat, tubuhnya membeku menjadi batu."


" Whatt ? Apa kau sadar itu adalah kutukan dari kegelapan ?"


"Iya makanya bantu aku mencari obat untuknya."


"Untuk apa aku membantumu ha, setelah kau mendapat penangkalnya lalu aku hanya bisa jadi penonnton yang melihatmu sedang bahagia. Tidak, aku tidak mau. Kau cari saja bantuan dari orang lain." Hardik Octavia dengan marah, sambil menjauh dan ingin pergi dari sana.


"Jangan jangan benar kau yang telah membuat dia seperti itu !" Pangeran Erland menuduh Octavia.


"Terserah padamu saja Erland, aku tidak bisa menolongmu lagi, dan jangan salahkan aku jika suatu saat terjadi sesuatu padamu." Seketika Octavia hilang dari pandangannya, niat hati mencari pengawalnya, malah menjumpai pangeran Erland sedang sendirian.


"Tungguu jangan pergiii... " Teriak Erland, namun Octavia tidak lagi menghiraukannya. Ia lenyap seketika dan pergi menuju istananya, iya mencari ayahnya Kaisar Luther, dan berencana akan meminta bantuan pada ayahnya untuk melenyapkan gadis itu.


"Siaal, Octavia sudah pergi. Sebaiknya aku kembali menemui kaisar Oxados untuk menceritakan tentang Orchon palsu yang berubah menjadi monster jahat." Ucapnya dalam hati.


Erland pergi dan meninggalkan kawasan hutan, ia kini sudah sampai di kerajaan milik kaisar Oxados. Namun apa yang dilihatnya sungguh sangat menyakitkan dan menyayat hati, Kota Tua telah berubah menjadi Kota Es, para penduduk juga ikut tertanam didalam butiran butiran es.


"Apa yang terjadi pada Kota ini, semuanya telah lenyap." Batinnya.


"Tidaaaaak...." Teriak Pangeran Erland setelah melihat semuanya, entah apa yang akan dilakukannya untuk menyelamatkan semuanya. Kini bukan hanya Liliana yang terkurung dengan es, melainkan seluruhnya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2