
Rasanya belum percaya, baru seharian ditinggalkan suasana Kota Tua sudah tidak lagi seperti kawasan istana, melainkan sebuah tempat yang banyak perbukitan salju dimana mana.
"Apa yang sudah terjadi disini ?
Dimana kaisar Oxdos ?"
Kaisar... Kaisar... Kaisar..."
Teriak pangeran Erland di tengah badai salju, merasa tidak ada jawaban ia pun berhenti memanggil, lalu ia memutuskan mencari tempat yang masih bisa di lalui.
Disisi lain, pangeran Orchon yang sebenarnya sedang mengambil buah kuning bersama Maciik.
"Jadi ini yang dinamakan buah kuning ? Hanyalah buah Langsat yang sudah matang. Bukankah banyak buah jika sudah matang, warnanya juga menjadi kuning seperti buah Langsat ?
Pantas saja aku mencarinya berbulan bulan bahkan sampai ikut bercocok tanam dengan warga desa, nihil aku tidak menemukannya, ternyata ia berbentuk sebuah pohon yang berbuah."
"Benar ucapanmu nak, tetapi perlu kamu ketahui buah langsat sangat dipercaya dapat menyembuhkan berbagai penyakit kronis.
Dalam sebuah analisis kuantitatif menunjukkan bahwa Langsat termasuk kedalam buah yang kulitnya memiliki kandungan Flavonoid paling tinggi dari buah tropis lainnya.
Itu sebabnya buah Langsat banyak dipakai sebagai simbol sesuatu tradisi, seperti halnya di Desa kami. Aku yakin inilah buah yang dicari kakekmu." Terang Maciik berusaha menjelaskan pada Orchon.
"Hmmm... Aku juga masih kurang mengerti, semoga saja benar sesuai harapan dengan permintaan kakekku." Tukas Orchon.
"Ya sudah cepat ambil, aku sudah meminta izin pada penduduk desa untuk memetiknya." Perintah Maciik.
"Baiklah, terima kasih sudah membantuku." Orchon segera memetik buah, seperti perintah Maciik, ia hanya mengambil beberapa buah yang matang untuk di bawah masuk kedunianya.
Maciik menunggu Orchon sambil menatap wajahnya. Sekilas ia menatap wajah tampan itu, entah kenapa ia seperti perna melihat wajah itu. Tetapi dimana ? Maciik juga masih berusaha mengingatnya.
"Selesai, sudah saatnya aku kembali ke duniaku." Ucap Orchon sambil tersenyum, ia akhirnya bisa berhasil mendapatkan penangkalnya, tidak sia sia ia tinggal berbulan bulan didunia manusia.
"Apa perlu aku mengantarmu nak ?" Tanya Maciik.
"Tidak perlu repot repot mengantarku, aku punya kesaktian yang langsung membawaku ke pintu masuk penghubung dua dunia."
"Kalau begitu pergilah nak, lain waktu jika kau datang lagi ke dunia manusia, jangan sungkan datang kerumahku."
"Aku tidak akan perna melupakan jasa jasamu, kau terimah ini." Ucap Orchon sambil memberikan 10 koin emas pada Maciik.
"Kenapa kau memberikan ini padaku ? Jangan tidak perlu nak."
"Sudahlah, ambil saja semuanya. Aku tidak membutuhkannya, jangan khawatirkan aku, di dunia kami semuanya terbuat dari emas."
Mata Maciik melotot mendengar penjelasan Orchon, sungguh jika dibayangkan saja betapa kaya dan megahnya dunia mereka. Dengan terpaksa ia menerima uluran tangan Orchon yang sedang memberinya koin emas.
"Sebelum pergi aku ingin bertanya satu hal padamu."
__ADS_1
"Silahkan nak, apa yang kau ingin tanyakan padaku."
"Ada satu rumah megah bertingkat yang ada di Desa ini, apakah itu adalah rumah orang tuanya Liliana ?"
"Iya benar nak, berkat bantuan dari bangsa kalian hidupnya menjadi mapan. Dengan menumbalkan anak gadisnya."
"Hmm... Sudah kuduga, dasar manusia yang seraka." Maki Orchon sambil berpamitan, ia lalu pergi dari hadapan Maciik.
Drap! Drap! Drap!
Bunyi langkah kaki pangeran Orchon yang menjauh dari pandangan Maciik. Setelah merasa tempatnya aman dan sepi Orchon menggunakan kekuatannya mencari pintu masuk kedunianya.
Buuuuzzzhh...
Giok pemberian kakeknya tiba tiba bersinar, Orchon mengikuti arah sinar itu, hingga akhirnya ia sampai di depan pintu masuknya.
Orchon mengangkat tangannya memegang cahaya seperti goa yang membesar seakan ingin menariknya. Kini seluruh tubuhnya telah masuk kedalam, dalam sekejab cahaya itu menghilang ia terlempar di hutan belantara yang yang luas.
"Dimana aku ?
Kenapa aku harus terdampar dihutan ini ?
Bukankah pada saat masuk aku tidak melewati hutan belantara ini ?" Tanya Orchon dalam hati.
Ia terus mengendap menembus lebatnya hutan belantara, hingga kakinya tersandung sesuatu.
"Aaaagggh... Apa itu ?"
"Sleeep... Sleeep... Sleeep..."
Sebuah bayangan hitam datang menyerangnya, untung saja Orchon segera menyadari kedatangan bayangan hitam itu.
Orchon berusaha berlindung dan mulai menyerang. Karena banyaknya bayangan hitam itu, hingga membuat Orchon beberapa kali terkena serangan mereka.
"Serahkan penangkal yang kau bawah itu, jika tidak maka hidupmu akan berakhir disini." Acam sebuah suara yang terdengar tiba tiba dalam sebuah bayangan.
"Siapa kalian ? Aku tidak akan memberikan penangkal ini pada kalian."
Saat yang sama muncullah sosok cantik dihadapan Orchon, tetapi aurahnya begitu terlihat sangat marah.
"Ka-kamu siapa ?" Terbata bata Orchon bertanya.
"Hahaha... Akulah Octavia.
Akulah orang yang ingin hidup Liliana tidak berlangsung lama di Negeri ini Orchon." Hardik Octavia.
__ADS_1
"Ka-kau sudah keterlaluan Octavia.
Kali ini kau tidak akan ku maafkan, perbuatanmu telah melampaui batas. Karena perbuatan jahatmu Liliana saat ini sedang sekarat." Balas Orchon sambil menyerang Octavia.
"Kau tidak akan bisa mengalahkan aku Orchon, sebelum kau terluka lebih baik menyerahlah dan serahkan penangkal yang kau ambil dari dunia manusia itu."
"Aku tidak akan menyerahkannya padamu.
Jika kau ingin mengambilnya langkahi dulu mayatku." Teriak Orchon.
"Dengan senang hati aku akan meladenimu Orchon, kau yang memaksaku untuk menyerangmu. Hahaha...." Jawab Octavia dan mulai melakukan penyerangan pada Orchon.
Keduanya mulai melakukan penyerangan, pertarungan semakin hebat, bunyi bunyi suara terpahan ilmu mereka yang dikeluarkan saling beradu.
Sleeep... Sleeep....
Tak hentinya mereka saling menyerang, Orchon mulai kelelahan meladeni wanita dihadapannya. Hingga ia terkena serangan dahsyat dari Octavia.
Daaarrrrkkkk....
Bunyi serangan yang mengenai tubuh Orchon, hingga membuatnya terpelanting dan jatuh dengan mengeluarkan darah dari mulutnya.
Aaaahhhhggg....
"Cepat serahkan penangkalnya, jika tidak aku akan membunuhmu."
Orchon masih bertahan tidak memberikan penangkalnya, ia berusaha bangun sekuat tenaga dengan melakukan perlawanan, namun sayang dengan sisa tenaganya yang lemah Orchon kembali jatuh, Octavia bukanlah tandingannya.
Orchon kini berhasil di kurung dengan mantra jahat Octavia, hingga akhirnya Octavia berhasil mengambil buah untuk penangkalnya.
Susah payah Orchon mengambilnya hingga akhirnya jatuh juga ketangan musuh, rasanya begitu sakit, melebihi rasa sakit luka ditubuhnya.
"Hei, lepaskan aku..." Teriak Orchon, namun Octavia tidak peduli siapa dirinya.
"Lemparkan saja tubuhnya ke penjara kita, aku ingin dia melihat kebahagianku ketika aku menguasai Negeri ini." Perintah Octavia pada prajuritnya.
"Buah kuning ini akan aku musnakan, tidak ada yang boleh menyembuhkan wanita itu." Ucap Octavia dengan geram.
"Jangan kau musnakan penangkal itu." Jawab Orchon spontan.
Para pengawal Octavia segera membawah tubuh Orchon ke penjara mereka, disana begitu banyak bangkai yang tercium sangat busuk.
Uuueeeek...Uuueeeeek....
Orchon tidak kuasa menahan bau busuk yang berasal dari bangkai tulang tulang itu.
"Tempat apa ini ? Sungguh benar benar sangat mengerikan." Batin Orchon.
__ADS_1
Octavia membawah buah itu masuk keruang rahasianya, lalu menyimpannya disana. Ia tidak membiarkan siapapun mendekatinya.
Bersambung para Readers...