Kisah Putri Langsat

Kisah Putri Langsat
31. Makhluk Menjijikan


__ADS_3

Di pagi hari yang begitu teduh, matahari baru saja memancarkan cahaya pagi. Erland dan Orchon palsu keluar dari wilayah Kota tua mencari wilayah kekuasaan kerajaan kegelapan.


"Pangeran Orchon, sebaiknya kita berhenti disini dulu. Memikirkan bagaimana cara kita merebut kembali penangkalnya."


"Aku setujuh dengan idemu pangeran Erland."


Keduanya terbang dan menginjakkan kakinya di tanah, mereka berinisatif beristirahat ditempat yang tidak jauh dari rumah penduduk.


Suara gemericik air terus saja terdengar semakin berisik.


"Kau dengar suara deru air yang mengalir itu pangeran ?" Tanya Erland.


"Iya aku mendengarnya suaranya begitu jelas."


"Apa kau sudah mandi ? Ayo kita berendam disana." Tawar pangeran Erland tetapi pangeran Orchon menolaknya.


"Tidak Erland, kau saja yang mandi aku hanya merilexkan tubuhku, lagi pula perutku sangat lapar, kalau mandi pasti aku akan kelaparan." Tolak Orchon palsu


"Ya sudah kalau begitu aku mau mandi."


"Iya Erland, kau tunggu aku disini. Aku akan ke perkampungan itu untuk mengisi makanan diperutku." Tunjuk Orchon palsu ke rumah para penduduk.


"Oke, aku akan menunggumu disini."


Orchon palsu meninggalkan pangeran Erland, sementara ia menuju tempat air sungai berasal untuk berendam tubuhnya.


Sedang di Kota Tua para penduduk disana sadang ramai memperbincangkan pangeran Orchon yang sudah sangat berubah. Banyak hewan hewan yang mati dan lenyap, hanya meninggalkan tulang tulang akibat perbuatan Orchon palsu.


Para penduduk beramai ramai mendatangi aula istana kerajaan kaisar Oxados. Mereka menuntut ganti rugi atas hewan ternak mereka yang dimakan pangeran Orchon, bukan hanya itu mereka juga meminta ganti rugi atas rumah mereka yang dihancurkan pangeran Orchon dan biaya pengobatan para korban yang dilukainya.


Dung... Dung... Dung...


Bunyi gong besar di aula istana mulai terdengar, para penduduk yang mencapai ratusan orang berdatangan dan berkumpul meminta hak asasi mereka kepada kaisar Oxados.


Kaisar yang tidak tahu menahu tentang kejadian apa yang menimpa rakyatnya datang berbondong bondong masuk ke istana membuatnya terpaksa harus mendatangi mereka di aula istana kerajaan.


Baru saja kaisar Oxados duduk disinggah sananya, seorang rakyat mulai berteriak.


"Wahai kaisar yang bijaksana, kami meminta keadilan darimu atas perbuatan pangeran Orchon."


"Benar kaisar, kami sangat dirugikan.


Akibat perbuatan pangeran Orchon, hewan hewan kami banyak yang hilang karena habis di lahapnya." Sahut penduduk yang lain.


"Pangeran Orchon menghancurkan rumah kami, banyak dari kami yang terluka parah ada beberapa yang tewas akibat amukan darinya." Teriak yang lain.


Wajah kaisar Oxados begitu terkejut mendengar laporan para penduduknya yang menurutnya sangat tidak masuk akal.

__ADS_1


"Benarkah semua ini perbuatan Orchon ?


Ada apa dengannya ? Bukankah cucuku tidak perna memakan daging mentah ?


Bahkan seumur hidup Orchon hanya berbuat kebaikan untuk seluruh rakyatnya, mengapa sekarang ia menindas para penduduknya ?" Batin Oxados.


"Apa benar ucapan kalian ?


Seperti yang kalian ketahui, cucuku Orchon tidak perna melakukan hal keji seperti itu kepada rakyatnya." Tanya Oxados, sambil berteriak menerangkan pada seluruh rakyatnya.


"Benar kaisar, kami tidak mengada ngada. Bahkan kami melihatnya dengan mata kepala kami sendiri." Jawab para penduduk yang mulai berdesas desus tentang kelakuan aneh pangeran Orchon.


"Kami minta keadilan darimu kaisar, atas perbuatan pangeran Orchon kami meminta dia dihukum." Sahut warga yang lain.


Oxados tidak bergeming, ia masih saja tidak percaya dengan ucapan mereka. Sesaat ia memikirkan cucunya. Namun warga terus berteriak meminta keadilan.


"Hukum pangeran Orchon.


Hukum... Hukum... Hukum...." Sorak sorai suara warga semakin ramai mereka meminta pangeran Orchon segera dihukum.


Angin kencang mulai menerpa, awan yang tadinya sangat cerah kini mulai menghitam berlarian diudara.


Duuaaarrr... Duuaaarrr... Duuaaarrr....


Petir tiba tiba bersahut sahutan menerangi gelapnya awan. Sedang kaisar Oxados mulai merasa sesuatu akan terjadi.


"Apa alam telah murka kepada kita yang ingin meminta keadilan ?" Tanya seorang rakyat pada temannya.


"Entahlah, namun jika melihat keadaan alam yang seakan murka. Sepertinya ada yang salah." Jawab Rakyat yang lain.


Petir terus menerjang, beberapa patung istana banyak yang roboh akibat sambaran petir yang dahsyat.


Rakyat semakin ketakutan banyak dari mereka yang tubuhnya terhempas dan terpelanting jatuh ke ketanah, kaisar Oxados tidak mampu berbuat apa apa.


Saat yang sama es mulai membekukan seluruh lantai istana dan para rakyat yang tadinya berlarian kini tidak dapat mengangkat tubuh mereka, sebagian dari tubuh mereka sudah membeku.


"Tolooong...Tolooong...Toloooong...." Teriak para rakyat.


Semakin gemetaran kaisar Oxados berusaha menyelamatkan diri, tetapi sayang tubuhnya tidak dapat digerakkan. Langkah kakinya terhenti, kini kakinya mulai membeku.


"Apa yang terjadi padaku ? kenapa seluruh istana seperti ini.


Dimana Orchon dan pangeran Erland, apa terjadi sesuatu pada mereka ?" Batin Kaisar Oxados yang semakin panik.


Tak henti hentinya kilatan petir semakin menggema, kini disertai hujan yang lebat. Puing puing es semakin bertambah merambat kesegala arah sampai keluar istana. Es yang tadinya membeku dibagian kaki, kini menjalar naik keseluruh tubuh dan es menutupi seluruhnya.


Suasana Kota Tua dilanda badai salju, kini hujan yang deras bergantikan air salju, kota yang tadinya damai dan makmur kini berganti dengan penyiksaan. Rumah rumah penduduk yang megah berubah menjadi sebuah gubuk derita ditutupi seluh es yang semakin mengeras.

__ADS_1


Tidak ada satupun yang tesisa, hanya sebuah Kota mati tidak berpenghuni dilanda badai salju.


Disisi lain Erland masih saja berendam di air sungai yang di dapatnya, sedang Orchon palsu membasmi penduduk Desa, diluar kekuasaan wilayah Kota Tua.


Kreeeek.... Kreeeek... Kreeeek....


Bunyi patahan tulang binatang yang dimakannya dengan buas. Seluruh warga disana mulai ketakutan, tetapi mereka terus mengusir dan melawan Orhon palsu.


"Ayo bunuh orang yang berani memakan hewan ternak kita." Teriak salah seorang warga yang mulai menyerang Orchon palsu.


Banyak warga mulai menggunakan kesaktian mereka untuk melawan. Panah panah mulai dilemparkan di hadapan Orchon, ia membalas serangan dari warga, tetapi warga antusias menyerang makhluk menjijikan itu.


Para warga mulai meletupkan panah api mereka dan memanah Orchon.


Sleeeeeep....


Satu anak panah tepat mengenai dada bidangnya, Orchon palsu sangat marah, ia mulai geram kini tubuhnya menjadi raksasa besar dan hitam, gigi taringnya mulai terlihat, matanya memerah, kukunya semakin panjang.


"Monster...Monster... Monster...." Teriak warga yang lain.


"Hahaha.... Kalian berani melukaiku. Aku akan menelan kalian satu persatu."


Orchon mulai mencari keberadaan para warga, dan mulai menangkap mereka. Kini anak panah api semakin banyak mengenai tubuhnya, api semakin membesar. Kini tubuhnya mulai merasakan sakit.


"Aaaaaaggh....


Bajingan kalian." Raksasa besar itu pergi dari rumah para warga, ia menuju air sungai dimana pangeran Erland sedang berendam.


Buuuuuuzzz....


Monster jahat yang menyerupai Orchon mengagetkan Erland.


"Ka kau... Orchon...."


Terbata bata pangeran Erland melihat rupa monster raksasa yang wajahnya masih menyerupai Orchon.


"Hahaha....


Ada apa Erland, kau menatapku seperti itu ?


Ini aku Orchon temanmu, inilah wujudku yang sesungguhnya. Apa kau takut padaku ?"


Hahaha..."


"Tidaaaak, kau bukanlah Orchon sahabatku, dimana pangeran Orchon ?." Sahut Erland.


Bersambung.....!!!

__ADS_1


__ADS_2