
Di sisi lain, Orchon merasa sudah sangat lama menetap di desa perkebunan, demi mencari tahu apa yang kakeknya katakan, mencari buah kuning seperti petunjuk kakeknya.
Hingga Orchon rela ikut para petani di Desa bercocok tanam sampai 6 bulan lamanya hingga panen kembali, tetapi Orchon belum juga menemukan buah kuning maksud dari kakeknya.
Rasa gelisah memikirkan keadaan kerajaannya yang entah apa yang terjadi disana.
"Hai nak, kenapa melamun disini ? Tidak baik jika seorang lelaki muda sepertimu banyak melamun di pinggir jalan." Sapa seorang wanita paruh baya yang pakaiannya agak glamor datang menghampiri Orchon sambil tersenyum.
"Eh eh iya nek, maafkan aku." Ucap Orchon sambil kebingungan karena ketahuan melamun.
"Kamu dari mana ? Nenek perhatikan setiap hari kamu sering duduk melamun disini."
"Apa nenek sering memperhatikan aku ?"
"Rumah nenek ada didepan, ketika kamu duduk di bawah pohon ini, bertepatan dengan arah jendela kamar nenek, itu sebabnya nenek tau kamu sering duduk melamun disini." Terang nenek sambil nenunjuk arah rumah dan jendela kamarnya.
"Ma maafkan, aku nek." Ucap Orchon yang salah tingkah karena mulai merasa malu terhadap nek tua itu.
"Sudah sudah tidak perlu malu pada nenek, bagaimana kalau kamu ikut kerumah nenek saja, tidak baik mengobrol ditempat ini." Ucap nenek tua itu yang tiba tiba mengajak Orchon mampir kerumahnya. Karena tak mendapat alasan, Orchon mengangguk menyetujui ucapan nenek tua itu.
Sampai dirumah nenek itu, betapa terkejutnya Orchon, seorang nenek yang sudah tua dan keriput sepertinya, bisa punya rumah semewah ini, namun rumahnya tidak sebesar rumah yang pertama kali dia lihat waktu datang kedunia manusia.
Kini nenek mempersilahkan Orchon masuk, tanpa sungkan Orchon mengikutinya, tidak lama setelah dipersilahkan duduk, pelayan datang membawakan nampan berisikan teh, karena sudah berbulan bulan tinggal dialam manusia Orchon sudah paham isi cangkir didepannya adalah teh manis.
"Diminum nak, selagi hangat." Ucap nenek.
Uuup... Uuup...
Nyuruup....
Orchon meminum sedikit tehnya.
"Oh iya nama kamu siapa ?"
"Namaku Orchon nek."
"Kalau nenek, orang sering memanggil dengan sebutan Maciik." Orchon hanya tersenyum tak membalas ucapan nenek itu.
"Nenek perhatikan sepertinya kamu anak baru ya."
"Mmm... Iya nek, aku baru enam bulan tinggal di Desa ini."
__ADS_1
"Lalu untuk apa kamu setiap hari melamun sendirian dibawah pohon itu ?"
"Aku, aku hanya suka saja duduk sendirian dibawah pohon. Hehehe..."
"Benar tidak ada apa apa ? Coba cerita saja pada nenek, siapa tahu aku bisa membantumu." Selidik nenek, sambil menawarkan bantuannya.
Orchon berfikir sebentar lalu menjawab ucapan nenek.
"Aku, sedang mecari buah berwarna kuning nek." Jawabnya dengan wajah datar.
"Untuk apa kau mencari buah kuning ? Coba jelaskan pada nenek." Tanya Maciik yang mulai curiga dengan lelaki muda itu.
"Aku, akuu ingin menolong kekasihku." Jawab Orchon lantang.
"Kenapa harus memakai buah kuning ? Aneh." Batin Maciik.
"Buah kuning letaknya ada di kaki pegunungan didesa ini, nenek bisa membantumu."
Mendengar ucapan Maacik, rasanya Orchon belum percaya buah itu benar benar ada. Hampir saja ia putus asa menjadi lelaki tidak berguna dan tidak kembali ke kerajaan miliknya karena tidak ingin melihat kematian Liliana.
"Apa nek, buah itu benar benar ada di Desa ini ?" Tanya Orchon yang tiba tiba menjadi bersemangat berbeda dengan tadi wajahnya begitu terlihat begitu lesu.
Maciik begitu terkejut melihat ekspresi Orchon, dulu waktu Maciik masih jadi seorang dukun ia ingat benar, anak buahnya sering mengambil buah itu untuk perlengkapan sesajian, itulah sebabnya ia sangat hafal dan mulai curiga pada Orchon.
"Buah itu sepertinya sangat berharga untukmu, sampai kau meneteskan air mata."
"Benar nek, berkat buah itu aku bisa pulang ke... "Orchon terhenti, hampir saja ia kecoplosan pada Maciik.
"Jangan takut anak mudah, aku sudah tahu siapa kamu." Jawab Maciik spontan, membuat Orchon terdiam.
"Jawab aku, apakah kamu berasal dari dunia yang berbeda ?"
Bak bagai disambar petir disiang bolong nenek itu mengetahui jati dirinya.
"Siapa sebenarnya nenek ini ? Kenapa bisa ia mengenalku." Batin Orchon
"Kenapa nenek mengenalku ?"
"Hahaha, aku sangat tahu manusia manusia seperti kalian yang punya kekuatan tiada terhingga, dan bisa masuk kedunia kami.
Dulu aku juga perna menolong mahkluk seperti dirimu, dia jatuh cinta dan akhirnya menikah dengan manusia namun karena melanggar perjanjian di Alam mereka, cinta mereka akhirnya putus ditengah jalan, ikut tertanam dengan badai besar yang menimpah Desa kami saat itu."
__ADS_1
Lagi lagi Orchon sangat terkejut, mengetahui kebenaran besar ternyata sebelum ia datang kesini sudah ada makluk sepertinya yang sebelumnya juga sudah perna datang kedunia manusia dan menetap lama disini.
"Bukankah pernikahan di alam manusia, sama saja melanggar perjanjian. Tetapi Liliana juga seorang manusia." Orchon mulai kepo dengan arah ucapan nenek tua itu lalu ia mulai bertanya.
"Nek, kau begitu banyak tahu tentang kami, siapa sebenarnya dirimu ?"
"Bukan apa apa, dulunya aku hanya seorang dukun kampung yang selalu mengadakan ritual di Desa ini, namun semenjak keterikatan sebuah perjanjian aku melepas kesaktianku dan menghilangkan nama dukun kampungku itu."
"Kenapa nek, apa nenek juga jatuh cinta dengan bangsa kami ?"
"Bukan bukan begitu nak, aku tidak perna jatuh cinta pada siapa pun, aku hanya membantu melakukan ritual pernikahan gaib dengan bangsa kalian dan aku telah berjanji tidak akan mengatakannya pada siapapun."
"Maksud nenek ? Ritual pernikahan apa ?
Ceritalah nek, lagi pula identitasku sudah nenek ketahui, untuk apa nenek menyembunyikannya padaku."
"Sepasang suami isteri perna datang memintaku untuk membantu mereka mendapatkan kekayaan dengan jaminan mereka akan menumbalkan anak gadisnya untuk dinikahkan dengan penguasa yang hadir pada malam itu."
Orchon tak menyangka begitu banyak tipe manusia di Dunia yang begitu serakah bahkan sampai rela menjual anak gadis mereka.
"Apa gadis itu bernama Liliana nek ?"
Sungguh kaget, Maciik gemetaran mendengar ucapan Orchon, ia tidak menyangka lelaki tampan ini sangat mengenal gadis itu.
"I-iya nak, apa kamu juga mengenalnya ?"
"Aku sangat mengenalnya, dia tinggal di istanaku, tetapi dia sedang sakit nek, dan aku datang kesini untuk mencari buah kuning itu, hanya untuk membantunya."
"Apa ? Syukurlah kalau anak itu masih hidup, berarti yang kau maksud kekasihmu itu adalah Liliana."
"Iya nek." Jawab Orchon singkat.
"Bagaimana dengan suaminya ? Sejak saat itu aku dan orang tua Liliana sudah terikat perjanjian dengannya."
"Dia masih disana nek, sedang menjaga Liliana." Ucap Orchon dengan raut wajah sedih ketika Maciik menanyakan kabar Erland.
Maciik yang melihat Orchon seperti itu, ia sangat tahu betul lelaki didepannya ini sangat mencintai anak manusia itu.
"Hmmp... Sudahlah nak jangan terlalu banyak berfikir. Ayo kita pergi kekaki bukit untuk mengambil buah kuning, dan selamatkan gadis yang kau cintai itu." Ajak Maciik.
Orchon menghabiskan teh manisnya yang sudah dingin sedari tadi mereka terus bicara, lalu ia dan Maciik pun pergi.
__ADS_1
Bersambung....!!!