Kisah Putri Langsat

Kisah Putri Langsat
27. Koin Emas


__ADS_3

Disisi lain, Monster jahat buatan Octavia baru saja berhasil menembus wilayah kekuasaan kaisar Oxados.


"Hahaha... Ternyata segampang itu menembus tempat ini." Ucap monster jahat yang merubah wajahnya menjadi Orchon.


Sang monster terus saja berjalan hingga tibalah dirinya diperkampungan. Para penduduk yang mengetahui pangeran Orchon datang, segera saja menyambutnya, mereka melayani Orchon yang palsu dengan sangat ramah.


Sedang Monster itu masuk begitu saja dan langsung duduk di meja yang sudah tersiap aneka hidangan makanan. Tanpa peduli para penduduk.


"Silahkan dinikmati makanannya tuan." Ajak para penduduk yang kebetulan juga sedang duduk ditempat itu.


"Aaaaahhh.... " Hardik sang monster pada para penduduk, lalu menatap mereka dengan wajah menakutkan. Ia menggunakan sebelah tangannya menghamburkan makanan dimeja.


"Braaaakkk.... "


Seorang penduduk coba mendekati dirinya. Sedang yang lain mulai ketakutan, mereka tidak menyangka pangeran Orchon yang dikenal sangat baik akan berprilaku seperti itu terhadap para penduduknya.


"Pangeran mau makanan apa biar kami sediakan."


"Burung gagak hitam." Ucap monster jahat.


Keheranan, para penduduk semakin gemetaran melihat tingkah Orchon yang seperti bukan bangsa mereka. Namun yang lain mencoba memberanikan diri mencari permintaannya tetapi tetap saja mereka tidak dapat menemukan burung gagak.


"Maafkan kami pangeran, para penduduk sudah mencari burung gagak kemana mana, tetap saja belum ketemu."


Monster jahat itu segera menarik kerah baju seorang penduduk, hingga orang itu merasa tercekik lehernya. Lalu melemparnya sekuat tenaga, mambuat penduduk itu meregang karena kesakitan ditubuhnya yang seakan remuk.


"Ampun pangeran jangan sakiti dia." Ucap salah satu penduduk lain yang juga sudah gemetaran. Sedang seluruh penduduk yang ada disitu segera duduk dan bersujud di depan monster jahat itu.


Kala ia melihat banyak binatang serta ayam para penduduk yang sedang di pelihara, langsung saja monster jahat itu berdiri lalu masuk mengambil seekor ayam hitam.


Kok. kok. kok.


Bunyi ayam yang mulai bersahutan ketika monster yang menyerupai Orchon mendekati ayam itu.


Keeeoook.... Keeeoookk....


Rengguhan terakhir ayam saat monster itu memakan dan melahap habis hewan peliharaan para warga. Hanya tersisa beberapa tulang hewan berserakan ditanah yang habis dimakannya.


Para warga yang menyaksikan perubahan pada pangeran Orchon semakin ketakutan dan bergidik ngeri. Ada yang coba berlari dan melindungi diri, ada juga yang sudah terjebak dan tidak bisa kemana mana, dengan terpaksa mereka hanya memohon untuk tidak dibunuh.


"Hahaha....


Kalian menyiapkan santapan lezat untukku." Teriak monster jahat itu.


Beberapa menit setelah puas dengan makanan yang didapatnya, monster jahat itu segera menghilang dari tempat itu ia menuju ketempat lain.


Sejak kepergian sih monster jahat, para warga mulai meratapi hewan peliharaan mereka. Lelaki yang tadi di lemparkan juga sedang berusaha diobati punggung belakang tulangnya. Penduduk kampung berencana akan datang keistana kaisar Oxados, untuk meminta ganti rugi dan juga pertanggung jawaban pada kaisar mereka yang dikenal sangat bijaksana.


Sedang di tempat lain, pangeran Orchon baru saja menembus goa seperti ucapan kakeknya.


Setelah keluar dari goa, pangeran Orchon berusaha menyamar dan merubah bentuknya menjadi seperti manusia biasa.

__ADS_1


Merasa puas dengan penyamarannya, ia berjalan melewati hutan, pepohonan dan semak semak yang tinggi. Lain halnya di alamnya, ia tidak dapat melihat rumput atau seluruh tumbuhan berwarna hijau.


Didunia manusia ia dapat menjumpai semua itu, termasuk rumah penduduk yang terbuat dari kayu, ada juga yang terbuat dari batu bata dan segala macam bentuk dan rupa bangunan.


Sungguh Orchon baru pertama kali melihat dunia lain selain dari dunianya. Jika dunianya penuh dengan kemegahan dan keindahan namun berbeda dengan dunia manusia.


Hingga matanya tercengang melihat satu bangunan mewah. Benar benar indah dipandang mata, bangunan dengan interior yang super mewah bergaya bangunan ala Eropa.


"Rumah siapa itu ?


Dari seluruh rumah penduduk di desa ini, hanya rumah itulah rumah yang paling besar dan bagus di desa itu."


Perlahan Orchon mendekati bangunan itu, tetapi terlihat benar benar penuh dengan penjagaan yang ketat. Hingga membuatnya tidak bisa masuk begitu saja.


Tatapan matanya, kini tertuju pada warung makan yang begitu banyak orang sedang mengunjungi.


"Tempat apa disana, kenapa manusia begitu banyak ada ditempat itu."


Orchon berjalan masuk mengikuti kerumunan orang orang, ia mencoba duduk mengikuti ulah manusia yang dilihatnya.


"Dek, mau pesan apa ?"


Tiba tiba seorang wanita paruh baya mendekatinya dan bertanya padanya.


Orchon kebingungan, menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Maksudnya apa ?


Tidak sengaja dilihatnya seseorang sedang memesan makanan.


"Aku pesan teh manis sama nasi uduk." Ucap seorang bapak yang duduk disampingnya.


"Ee eh sama, aku juga pesan teh manis sama nasi uduk." Jawab Orchon mengulangi bahasa yang didengarnya.


"Jadi ini tempat makan mereka seperti di alamku tetapi kalau kami bukanlah makanan pesanan tetapi sebuah jamuan yang makanannya begitu mewah dan nikmat dilidah, dimana semua orang akan mengambil makanan sesuka hati mereka." Batin Orchon.


Tanpa menunggu lama pelayan datang membawakan nampan berisi makanan dan segelas teh untuknya.


"Silahkan tuan, dinikmati hidangannya." Ucap seorang pelayan wanita yang agak muda.


Setelah melihat lihat sekelilingnya, Orchon mengikuti cara makan mereka.


"Makanan apa ini, kenapa rasanya aneh ?" Batin Orchon. Tanpa ia sadari seseorang sedang memperhatikan dirinya.


"Hei anak muda, sepertinya kamu bukan orang sini ? Aku juga baru melihatmu singgah diwarung ini."


"Maaf tuan aku hanya orang yang sedang melewati tempat ini."


"Oh memangnya kau akan kemana ?" Tanya seorang lelaki yang sedang menghampirinya.


"Aku akan ke sana, dan sedang mencari tanaman yang bisa digunakan untuk obat." Jawab Orchon singkat sambil menunjuk kesatu arah.

__ADS_1


"Tapi hari sebentar lagi akan kembali gelap, para pekerja sedang kembali beristirahat. Jika kau berkenan tinggallah lebih dulu di desa kami, besok kau lanjutkan kembali."


Merasa Orchon hanya orang baru dan belum mengetahui kehidupan dunia manusia, ia lalu menyetujui permintaan orang itu.


"Apa didesa ini ada penginapan untuk aku istirahat ?" Tanya Orchon.


Orang yang sedang bicara pada Orchon sampai kebingungan menjawab ucapannya.


"Disini hanya desa den, kami tidak punya penginapan disini. Kalau kau mau, menginap saja dirumahku."


"Tidak usah pak aku tidak bisa berlama lama disini." Tolak Orchon dan hendak pergi dari tempat itu


Tidak jauh dari duduknya ia mendengar orang lain sedang bercakap cakap tentang pemilik rumah mewah yang ada didesa itu.


Konon menurut cerita, pemilik rumah mewah itu pernah menumbalkan anak gadisnya sebagai persugihan untuk mendapatkan segala harta yang dimilikinya. Sampai detik ini para penduduk tidak perna melihat gadis baik itu.


Jika ditanya mereka selalu beralasan, anak itu sedang dibawah keluarganya untuk tinggal di Luar Negeri.


Sesaat Orchon mengingat Liliana.


"Apa yang mereka bicarakan ini adalah Liliana ?


Liliana berasal dari Desa ini ?" Batin Orchon sambil melangkah keluar dari situ, namun langkahnya dihentikan oleh seseorang.


"Maaf pak, upahnya mana ?


Bapak belum membayar makanannya." Ucap seorang wanita yang tadi mengantar makanannya, kini wanita itu menghampirinya dan mengulurkan tangan seperti meminta sesuatu.


Orchon kebingungan, dengan tingkah wanita dihadapannya.


"Ma-maksudnya apa ?"


"Upah bang, bayaran makanan yang abang makan." Terang wanita itu yang berusaha menjelaskan.


Sesekali ia melirik beberapa manusia yang sedang makan, lalu pergi sambil meninggalkan uang kertas dimeja makan mereka.


"Apa yang dimaksud wanita itu seperti punya mereka.


Tetapi aku tidak punya upah seperti yang mereka punya." Batin Orchon yang mulai kebingungan.


Sesaat ia merogeh kantongnya, ia mengambil satu koin emas miliknya.


"Apa ini cukup untukmu nyonya." Ucap Orchon sambil menaruh koin emas itu di telapak tangan wanita itu, lalu pergi begitu saja tanpa peduli dengan ekspresi wanita yang menatapnya sangat aneh.


Sedang wanita itu merasa aneh, bahkan koin pemberian pria muda itu, bisa membuat warungnya berubah menjadi rumah makan mewah.


Sesaat ia berlari mengejar pria muda itu, tetapi ia sudah tidak menemukan Orchon ada disana.


"Benar benar aneh, siapa lelaki tajir yang memberikan aku koin emas ini ?" Batinnya lalu kembali masuk kewarungnya.


Sedang Orchon sudah pergi dari sana, ia takut kehadirannya ditempat itu, akan mengundang rasa aneh dari penduduk lain.

__ADS_1


Bersambung...!!!


__ADS_2