
Beberapa hari berlalu, Orchon akhirnya berhasil mempelajari buku takdir yang ada ditempat itu, tak mau menunda waktu akupun berpamitan pada kakek tua itu.
"Aku telah berhasil mendapatkan apa yang aku inginkan. Apa aku sudah boleh pergi dari tempat ini ?" Tanya orchon.
"Baiklah jika itu kemauanmu, maka pergilah." Jawab kakek tua itu dan memberikan kunci pembuka mantra.
"Terima kasih telah membantuku ki, aku akan secepatnya mengembalikan padamu."
Buuuuussshh....
Secepat kilat, seperti siluet bayangan aku langsung menghilang dari hadapan lelaki tua itu, dan sampai di perbatasan daerah kekuasaan.
Perlahan lahan aku menginjakkan kaki dan mendaratkan tubuhku di tanah, aku berusaha mencari jalan keluar namun yang kutemukan bukanlah gerbang berlambangkan kastil emas namun gerbang bernuansa hitam, dan didalamnya banyak sekali kabut kabut hitam.
"Apa mungkin ini memang jalan keluarnya." Sebelum memasuki gerbang hitam aku sesaat sempat berfikir.
Tap! Tap! Tap!
Bunyi langkah kakiku berjalan masuk kegerbang hitam, saat baru saja masuk aku kembali dikejutkan dua cahaya yang begitu kuning mendekat padaku.
"Si siapa itu ? Siapa kalian ?" Terbata bata aku mulai memberanikan diri bertanya pada cahaya itu.
"Kau jangan takut anakku, kami akan membantumu."
"Anak, maksudnya apa sih, aku tidak mengerti."
"Kami akan menunjukkan jalan untukmu."
Tidak jauh dari tempatku berdiri, dua cahaya itu menyerupai bayangan manusia, lalu terbang menjauh dariku, seperti sedang mengarahkan aku kesuatu tempat.
"Semoga saja ini petunjuk untukku.
Tetapi siapa kedua cahaya itu ? Mengapa mereka memanggilku anak ?
Rasanya aku baru kali ini melihat cahaya itu, mungkin saja itu jalan kebenaran yang mau membantu." Batinku.
Aku mengikuti cahaya yang terbang menjauh dariku, hingga aku dipertemukan dengan sebuah tempat yang berbentuk pintu yang berukuran sangat besar.
"Astagaa....Ternyata benar ucapan kedua cahaya itu." Batinku.
Aku berbalik badan mencari dua cahaya yang tadi membawaku datang kesini.
"Te terimaa... ?
Ucapanku terhenti saat aku tidak melihat cahaya itu. Anehnya mereka sudah tidak ada, entah kemana perginya mereka.
Tak sampai dua menit aku sampai disini angin kencang sudah mulai menerpa, seakan ada badai yang besar.
"Tempat apa ini ? Kenapa anginnya kencang sekali, aku harus segera pergi."
__ADS_1
Huuuuusss... Huuuuusss....
Angin bertiup sangat kencang, pasir yang sedang kupijak seakan berdiri menyerupai hewan ganas yang ingin menerkamku, akibat deru angin yang semakin kuat. Kabut hitam kembali mengelilingi tempat itu seakan alam sedang marah.
Dengan cepat aku mengambil kunci pembuka mantra yang dipinjamkan kakek tua itu, lalu aku berlari menuju pintu besar yang entah berapa besar ukurannya, untuk membukanya aku harus menggunakan tenaga dalam yang kumiliki.
Aku mulai membuat bayangan bayangan lalu terbang sambil melompat tinggi dengan tangan kananku sedang memegang kunci mantranya, saat yang sama angin menghempaskan tubuhku, rasanya ia sangat marah jika aku ingin membuka pintu besar itu, perlahan ku pejamkan mataku lalu aku membaca mantra buku takdir yang perna kupelajari.
**Salamat Salamat Salamat Kaasi Opung.
Opungku beenan mopido papasalamat mai aku.
Salamat Salamat Salamat Kaasi Opung.
Kupolgole dei tau dako Lipuku.
Salamat Salamat Salamat Kaasi Opung.
Tulungi aku Tau tau nibenan popokuasa
Salamat Salamat Salamat Kaasi Opung.**
Aku terus memejamkan mataku, berulang kali mulutku komat kamit membaca mantranya, hingga saat kubuka mataku, tubuhku benar benar melayang di depan pembuka kuncinya. Dengan kekuatanku, aku memasang kunci itu dipintu.
Cekkleeeek....
Pintu terbuka lebar, sebelum angin besar yang datang menerpaku, sekuat tenaga aku masuk dan melompat masuk kepintu yang baru saja ku buka. Tubuhku terlempar terguling guling di dasar tanah, awan yang tadinya menghitam kini berganti menjadi awan yang putih dan bersih, suasana yang tadinya sangat kacau kini berganti dengan suasana yang damai, hanya pepohon besar, kicauan burung burung bersahutan dan deru derasnya air yang mengalir yang saat ini kudengar.
"Apakah ini jalan menuju kerajaan pangeran Erland ?" Batinku.
Perlahan aku menikmati keindahan alam ditempat yang luas ini, begitu nikmat rasanya dunia hutan di luar dari kerajaan tempat tinggalku.
Huuuuuuuuh....
Aku menghembuskan nafas yang panjang, kucoba melangkah perlahan lahan. Membuat aku terpana melihat seperti bayangan seekor burung besar berwarna putih keemasan dihadapanku.
"Hai anak muda, apa yang sedang kau lakukan ditempat ini ?"
"Ternyata burung itu bisa bicara." Batinku
"Aku, aku datang dari Kota Tua, tujuanku kesini aku ingin mencari tuanku pangeran Erland. Apa kau bisa membantuku ?"
"Aku hanya bisa mengantarkan kau di depan pintu masuk kerajaannya."
"Baiklah tidak masalah, terima kasih kau sudah membantu."
Entah dari mana datangnya, aku selalu saja di tuntun oleh sesuatu yang baik, berkat mereka aku dapat menyelamatkan diriku dan terbebas dari ilmu hitam yang sengaja dipasang diperbatasan Kota.
__ADS_1
Aku mengikuti arah burung putih itu tanpa gangguan apapun, hingga kami sampai disebuah tempat yang begitu indah dipandang mata.
"Aku hanya bisa mengantarmu sampai disini anak muda. Berjalan masuklah ke pintu itu, kau akan menemukan beberapa pengawal istana yang sedang berjaga."
"Baiklah, semoga suatu saat aku bisa membalas kebaikan hatimu."
Dalam sekejap, burung itu menjauh dan semakin menghilang dari pandanganku.
Benar saja, saat aku melangkah masuk kepintu beberapa pengawal istana menghadangku.
"Berhenti... "Teriak salah seorang pengawal padaku, lalu menyilangkan dua buah tombak di depan tubuhku. Aku tidak melawan, karena tujuanku kesini sangat mulia.
"Aku ingin bertemu pangeran Erland." Jawabku tanpa basa basi.
Sesaat para pengawal berfikir, lalu seseorang dari mereka berbicara.
"Hei, kita bawah saja dia menghadap pangeran Erland."
Setelah merasa yakin, mereka lalu membawaku masuk, aku melihat suasana istana yang tidak jauh dari megahnya istanaku, kerajaan kami sama sama berwarna kuning dan mempunyai ciri khas tersendiri.
Aku sengaja datang kesini tidak menggunakan ilmu atau kekuatan apapun, karena tidak ingin kegelapan mengikutiku. Aku bisa saja menghilang seketika dan lenyap lalu sampai dihadapan Pangeran Erland, namun itu tidak ku lakukan.
Pengawal membawaku masuk kami sampai di sebuah tempat luas, tempat pertemuannya para raja dan ratu istana, disitulah para pengawal membawaku.
Dari jauh kulihat seseorang berjubah kuning yang kira kira umurnya masih sepertiku, sedang duduk dikursi kebesarannya. Wajahnya dan rupa yang tampan tetapi seperti orang mati, tidak ada kehidupan diwajahnya, aku melihat begitu banyak kesedihan yang menyelimuti hatinya.
"Apa ini orang yang aku cari ?
Apa dialah pangeran Erland ?" Batinku.
Setelah kurang lebih berapa meter langkahku dihentikan para pengawal, seseorang berlari dan bersujud didepan lelaki yang sedang duduk itu.
"Lapor pangeran !!
Ada seseorang yang datang ke istana kita. Dia sedang mencarimu dan ingin bertemu dirimu."
"Siapa dia ? Apa kalian mengenalnya."
"Maaf pangeran, kami tak berani bertanya lebih, namun jika melihat pakaiannya kurasa ia berasal dari kerajaan lain."
"Benarkah..."
"Ada apa seorang pangeran dari kerjaaan lain mencariku.
Apa jangan jangan dia membawa berita baik tentang istriku." Batin Erland.
Erland berdiri dan turun dari kursi kebesarannya, karena penasaran dia sendiri yang melangkah pergi melihat siapa orang yang sedang mencarinya.
Bersambung....!!!
__ADS_1