Ku Temukan Dirimu

Ku Temukan Dirimu
Merawatnya


__ADS_3

Devian memegang lengan Alicia dan menuntunnya keluar dari hotel.


Perasaan yang tak karuan menyelimuti dirinya, ketika melihat reaksi Willy terhadap Alicia membuatnya merasa takut untuk kehilangan.


akankah ia harus mengungkapkan kepada Alicia sekarang siapa dirinya yang sebenarnya ataukah nanti. semakin dia memikirkan hal itu, maka semakin berkecambuk pula didalam hatinya. Devian tau bahwa sosok Willy tidak akan begitu mudah untuk menyerah. Apalagi Alicia merupakan gadis yang sangat cantik dengan postur tubuh ideal, sangat memikat. pasti Willy akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya.


"Dev, apakah kita akan langsung pulang?", ucap Alicia menyela lamunan Devian, yang seketika membuatnya tersentak.


"hah,,,mau kah kamu menemani saya minum?", sahut Devian sontak membuat Alicia bingung.


Gravin yang mendengar seolah mengerti dan sama sekali tak membantah keinginan bosnya, malah ia menatap Alicia berusaha membujuk untuk menuruti keinginan Devian.


Alicia," baiklah, kita akan berpesta malam ini."


Gravin merasa lega mendengar keputusan Alicia, ia langsung menyetir mobil menuju bar ,tempat yang biasa mereka tuju.


Alicia merasa sangat asing di tempat itu, karena baru pertama kali pergi ke bar.


Devian dengan cepat merangkul Alicia dan mengajaknya masuk, kemudian mereka duduk dan memesan minuman, tampak Devian yang segera menegak botolnya tanpa menggunakan gelas, Alicia tercengang, tak mengerti apa yang terjadi kepada Devian.


ia menatap lekat ke arah Gravin berusaha mencari jawaban, namun tak ada yang bisa ia ketahui.


Tak berselang lama akhirnya Devian sudah mabuk dan memegang tangan Alicia dengan erat dan mengatakan "jangan tinggalkan aku."


Alicia semakin bingung ,mengapa Devian mengatakan hal itu.


"maafkan aku yang pergi tanpa kabar" ,sambil menangis Devian mengucapkan kalimat yang semakin membuat Alicia terkejut.


namun ketika Alicia ingin kembali bertanya ,Devian sudah tertidur di pundaknya.


Gravin tak berani mengucapkan apapun ,ia takut jika mengatakan yang sebenarnya maka Devian akan marah atau Alicia akan pergi meninggalkan Devian. akhirnya dia hanya terdiam dan menggendong bosnya ke mobil, di ikuti oleh Alicia yang terlihat sangat cemas dan penuh tanda tanya


Suasana di dalam mobil sangat hening, Devian sejak tadi masih tertidur.


Gravin juga fokus menyetir, tak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Hingga Alicia tak berani untuk bertanya.


ia hanya memandang lekat ke wajah Devian yang tertidur dengan pulas, ada rasa hangat di dalam hatinya, semoga saja perkiraan Alicia benar bahwa pria di hadapannya adalah cinta masa lalunya yang kini telah di temukan.perlahan ia menyeka keringat di dahi Devian dan membetulkan posisi tidurnya agar lebih nyaman.


semua yang dilakukan Alicia tak luput dari pandangan Gravin.


Mereka sampai di rumah Alicia, namun gadis itu seakan tak mau turun, ia malah bertanya kepada Gravin.


"Gravin, di rumah tuan Devian ada siapa?",ucap Alicia.

__ADS_1


"hmm,,,sepertinya tuan Devian tinggal sendirian bersama para pelayannya saja, setahu saya orang tuanya tinggal di Eropa." sahut Gravin menjelaskan dan merasa aneh dengan pertanyaan Alicia.


Alicia,"kalau begitu bawa saya pulang ke rumah tuan Devian, sepertinya dia sangat mabuk dan tidak ada yang akan menjaganya."


Gravin," apa?


Alicia,"tidak perlu kaget seperti itu Gravin, semua tidak seperti yang kamu kira, saya hanya ingin menjaganya saja."


"Baiklah nona Alicia, sesuai permintaan mu." ucap Gravin kembali memutar mobilnya berpaling dari rumah Alicia menuju taman matahari terbit.


tak lama kemudian mereka sampai di sana, meskipun sudah hampir larut malam namun suasana di sana sangat terang, begitu banyak lampu yang menyinari bangunan megah itu, hingga Alicia bisa melihat hamparan bunga lili putih yang berbaris rapi di halaman dan di dekat pintu utama. hal itu membuat Alicia semakin yakin bahwa Devian adalah pria yang di rindukannya.


Gravin turun dari mobil dan menggendong Devian masuk ke dalam rumah di iringi oleh Alicia.


Grace yang melihat tuannya pulang dalam keadaan di gendong merasa sangat panik dan bergegas menghampiri.


"tuan Gravin, apa yang terjadi dengan tuan Devian?", tanya Grace dengan panik.


Gravin," tidak apa-apa ibu Grace, tuan Devian hanya mabuk saja."


Grace ," syukurlah ,ibu benar-benar khawatir, lalu siapa nona cantik ini."


Gravin,".........".


Grace ,"Benarkah, tuan Devian sebelumnya tidak pernah terlihat dekat dengan wanita, ternyata diam-diam sudah punya pacar, saya senang sekali, ayo ,silahkan jika nona Alicia ingin menjaga tuan Devian ,saya akan menyiapkan makanan."


Alicia ," Baik ibu Grace."


setelah mempersilahkan Alicia untuk menjaga tuannya, Grace pergi ke dapur menyiapkan cemilan untuk Alicia, namun bukan hanya itu, ia juga diam-diam menelfon mamanya Devian.


Grace ," hallo nyonya, apa kabar?"


Nyonya ," iya hallo Grace, saya baik-baik saja, ada apa ya malam-malam begini?"


Grace ," itu nyonya, baru saja tuan Devian pulang dalam keadaan mabuk diantar tuan Gravin, tapi ada juga seorang gadis sangat cantik yang katanya pacar tuan Devian, dan sekarang ia sedang merawat tuan."


Nyonya,"Bagus dong Grace ,berarti Devian saya pria normal, kemarin saya sempat khawatir kalau dia dan Gravin punya hubungan istimewa, tapi sekarang saya lega.'


Grace ,"iya nyonya, sepertinya gadis itu sangat baik."


Nyonya", kamu urus saja bagaimana caranya supaya hubungan mereka menjadi semakin baik."


Grace ," baik nyonya."

__ADS_1


Perlahan Grace menutup telfonnya dan kembali mengambil makanan yang sudah di buat untuk di bawa ke kamar Devian.


ia membuka pintu dan melihat Alicia yang duduk di samping ranjang sambil menyeka wajah Devian dengan handuk basah.


Grace merasa terharu dan segera mendekat ,meletakkan piring makanan di meja dekat Alicia.


Grace ," Nona Alicia , apa sebenarnya yang terjadi kepada tuan, sebelumnya dia tidak pernah seperti ini."


Alicia," saya juga tidak mengerti ibu Grace, tadi setelah pertemuan bisnis ia langsung mengajak saya dan Gravin untuk menemaninya minum."


Grace," baiklah, saya permisi dulu, jika nanti nona mengantuk, nona bisa tidur di kamar tamu atau kalau perlu apa-apa panggil saya saja, kamar saya tidak jauh dari dapur."


Alicia," iya ibu Grace."


Grace keluar meninggalkan Alicia sendirian didalam kamar dengan Devian yang tertidur pulas, Gravin sendiri sudah pulang sejak tadi setelah membaringkan Devian di tempat tidur.


Alicia berusaha menahan kantuknya dengan memakan cemilan yang ada di atas meja.


namun rasa kantuk semakin menjadi, hingga tanpa di sadari ia tertidur di samping Devian dalam posisi duduk dan saling berhadapan.


Keesokan harinya, Devian terbangun dengan kepala yang sedikit sakit, namun ketika ia membuka mata ,terlihat pemandangan yang sangat indah, ia seakan bermimpi, perlahan menyentuh pipi dan membelai rambut Alicia yang masih tertidur, hingga Devian tersadar bahwa itu nyata, Alicia benar-benar sedang tidur bersamanya sejak tadi malam, betapa menyesal ia karena tak menyadari hal itu, disaat gadis yang sangat di cintai berada di sisinya sepanjang malam ,ia malah tidur dengan pulas.


Senyum mengembang di wajah Devian, perlahan ia mengecup bibir Alicia , namun tiba-tiba Alicia membuka mata dan terbelalak ketika bibir Devian masih menempel di bibirnya.


Devian seketika panik ,ia segera menjauh dan menjadi salah tingkah, namun Alicia hanya berjalan mendekat ,menyentuh dahi Devian untuk mengecek suhu tubuhnya.


Alicia ," hmm,,,sudah mendingan."


Devian," apa kamu dari semalam belum pulang?".


Alicia," iya, karena tuan sepertinya butuh perawatan."


Devian," kamu tidak perlu repot-repot, bukankah sudah ada ibu Grace."


Alicia," apa tuan begitu tega membiarkan ibu Grace yang sudah tua merawat tuan semalaman."


Devian terdiam, kata-kata Alicia ada benarnya juga, ibu Grace memang sudah tua dan memerlukan istirahat yang cukup.


Alicia ," tuan, bolehkah saya bertanya tentang apa yang tuan katakan semalam di saat tuan sedang mabuk?"


Devian," memangnya saya mengatakan apa?"


Alicia ," tuan mengatakan,"jangan tinggalkan aku dan maafkan aku yang pergi tanpa kabar".

__ADS_1


__ADS_2