
Alicia keluar dari gedung Bimakarsa group dengan perasaan lega, di sisi lain ia heran mengapa tuan Devian sama sekali tidak marah, padahal ia terkenal sangat angkuh di hadapan orang lain.
siang itu Alicia tidak langsung pulang karena toko bunga milik ibunya hari ini tidak terlalu sibuk, ia duduk di sebuah taman bermain ,memperhatikan beberapa anak sedang bermain wahana di dampingi orang tua ataupun kerabat ,mereka terlihat sangat bahagia.
Dada Alicia seketika terasa sesak ,teringat dahulu setiap hari Minggu ia bermain ke wahana bersama ayahnya, momen yang begitu indah dan tak akan bisa terulang lagi, kini ayahnya telah tiada.
Alicia berjalan dengan langkah yang berat kembali ke rumahnya, di sana seperti biasa ia ikut bergantian mengurus toko bunga bersama ibunya.
Janice," Cia ,bagaimana dengan tuan Devian?"
Alicia ,"dia baik-baik saja ma, Cia sudah minta maaf dan tidak masalah dengan semua itu."
Janice,"apa kamu sekarang sudah mulai menyukainya, bukankah dia sangat baik."
Alicia," ntahlah ma, Cia merasa sedikit aneh ketika bersamanya."
"mungkin saja kamu mulai jatuh cinta dengan tuan Devian," ucap Janice sedikit menggoda Alicia.
Alicia terdiam dan berfikir apakah benar ia sekarang menyukai sosok Devian, padahal sudah sejak lama ia sama sekali tidak tertarik pada pria manapun lantaran ingin tetap setia dengan Dev cintanya di masa lalu.
mengapa Dev dan Devian seolah bukan orang yang berbeda, namun Alicia kembali di buat bingung, apa mungkin mereka orang yang sama.
tapi Devian yang ia kenal sekarang adalah Presdir Bimakarsa group, sedangkan Dev yang dulu hanyalah seorang mahasiswa yang terdengar lugu.
Alicia larut dalam lamunannya hingga tak menyadari seorang pria masuk dan beberapa kali menyapa, pada akhirnya ia tersentak kaget.
pria itu tersenyum ,dan kembali berjalan melihat beberapa bunga.
Alicia tercengang ,pria itu sangat tampan namun jika di bandingkan dengan Devian ia masih terlihat jauh. ia memang tampan tapi menurutnya Devian sempurna.
tak berselang lama ia kembali dengan membawa sekuntum bunga mawar merah yang di serahkan kepada Alicia.
"hai nona ,maukah nona menerima bunga ini." ucap Willy, ya pria itu adalah Willy ia merupakan pewaris angkasa grup.
"tapi siapakah anda, sepertinya kita baru kali ini bertemu, dan mengapa saya harus menerima bunga dari anda."sahut Alicia penasaran dan sedikit cuek, begitulah yang sering di lakukan Alicia saat beberapa pria mencoba untuk mendekatinya, ia akan bersikap dingin.
"Nama saya Willy dan saya tertarik dengan nona." ucap Willy.
"namun saya sama sekali tidak mengenal anda ,lebih baik bunga itu di serahkan kepada pacar anda saja." sahut Alicia ketus.
Willy," bagaimana jika saya menginginkan nona menjadi pacar saya?"
Alicia," dan saya menolaknya!"
__ADS_1
Willy ,"hmmm,,,,baiklah, suatu saat nona pasti akan menjadi milik saya."
Alicia," sebaiknya anda tidak terlalu percaya diri."
"kita lihat saja nanti, saya akan selalu ke sini, dan tak lama lagi nona akan tergila-gila kepada saya." dengan senyuman menyeringai dan tatapan penuh misteri Willy meletakkan mawar merah itu di depan Alicia setelah membayarnya di kasir kemudian ia berlalu pergi.
Alicia merasa sangat geram dan tak habis pikir dengan pria seperti itu, dia begitu nekat.
kebanyakan pria yang merayunya saat Alicia bersikap acuh mereka akan pergi dengan sendirinya dan tak lagi kembali, namun sepertinya tidak dengan pria yang baru saja di kenalnya kali ini. ia terlihat bagai pria berkuasa yang bisa bertindak sesuai kemauannya. memikirkan hal itu membuat Alicia bergidik dan teringat sosok Devian , jika harus memilih dari kedua pria itu, mungkin ia akan memilih Devian.
lagipula Alicia sudah merasakan desiran aneh di hatinya ketika bersama dengan Devian, mungkin ia sudah benar-benar jatuh cinta namun masih menyangkalnya.
...............
Di gedung Bimakarsa group Devian dan Gravin sedang menyusun rencana pertemuan bisnis dengan perusahaan angkasa group.
"menurut kamu, dimana kira-kira tempat yang cocok untuk pertemuan besok."ucap Devian meminta pendapat Gravin.
"itu semua tergantung pada kenyamanan tuan saja."balas Gravin.
Devian,"bagaiman dengan hotel Hilton ."
Gravin," baik ,jika tuan memilih tempat itu saya akan mengaturnya, tapi kali ini yang akan menemui kita adalah Willy, putra pak Jordan yang baru pulang dari luar negeri, dia sangat sombong, dan suka bermain wanita.
Gravin," kenapa harus membawa Alicia, apakah tuan tidak takut jika Willy mengambilnya dari tuan, Alicia sangat cantik dan tidak menutup kemungkinan jika Willy akan menyukainya."
Devian," saya hanya ingin mengenalkan bahwa Alicia milik saya, sekaligus menguji kesetiaannya."
"Baiklah terserah tuan saja, akan saya persiapkan segalanya, tapi saya tidak yakin kalau tuan mampu membawa Alicia ke pertemuan besok." ucap Gravin sedikit ragu kepada atasannya.
Devian,"apa kamu meremehkan saya."
Gravin ,"bagaimana saya berani meremehkan tuan, saya hanya tidak yakin dengan hal yang satu ini.
Devian terdiam sejenak dan berfikir keras ,mencari cara agar Alicia mau pergi bersamanya di pertemuan itu, sekaligus membuat Alicia kembali jatuh cinta padanya.
Segera Devian keluar dari kantornya dan pergi menemui Alicia di toko bunga.
tiba di sana terlihat wajah Alicia tampak kesal, namun bagi Devian itu merupakan pemandangan yang sangat menggemaskan.
"hallo nona ,apa yang sedang terjadi di sini?" sapa Devian seolah dia adalah orang lain.
"mengapa anda datang lagi, bukankah saya sudah bilang tidak mau." sahut Alicia sangat dingin tanpa memperhatikan siapa yang datang.
__ADS_1
"hei,,,ada apa dengan dirimu Alicia ."balas Devian keheranan.
"oh,,,ma-maf tuan, saya kira pria yang tadi datang lagi." ucap Alicia terkejut ketika ia menatap sosok Devian.
Devian," Pria, siapa, dan apa yang dia lakukan terhadapmu?"
Alicia", bukan apa-apa tuan, hanya ada pria nyasar yang menggoda saya dan memberikan sekuntum bunga mawar."
Devian,"jika dia sudah membayarnya ,buang saja bunga itu dan saya akan memberimu bunga yang lain."
setelah menyelesaikan kalimatnya, Devian berlalu dari hadapan Alicia dan mencari bunga tertentu.
setelah menemukannya ia kembali dengan beberapa tangkai bunga lili putih di tangan dan menyerahkannya kepada Alicia.
Dengan tangan sedikit bergetar Alicia menerima bunga itu ,kemudian menatap Devian.
Sedikit perasaan aneh kembali muncul di benak Alicia, apakah mungkin ia benar-benar Dev.
namun, ia tak berani berspekulasi sekarang, perlu bukti yang banyak untuk mengetahui siapa sebenarnya Devian.
"lain kali jangan terima bunga atau apapun dari pria lain."ucap Devian obsesif.
"mengapa tuan memberi saya bunga ini, bukankah di sini ada berbagai macam bunga." sahut Alicia sedikit menyelidiki.
Devian," itu karena saya sangat menyukai bunga lili putih."
Alicia,"bolehkah saya tau alasannya."
Devian," tentu saja, tapi tidak sekarang, karena sekarang saya ingin mengundangmu ke pertemuan bisnis besok di hotel Hilton, apakah kamu mau pergi bersama saya?"
Alicia,"mengapa harus saya."
Devian," karena saya butuh pendamping wanita, dan saya hanya punya satu orang sahabat wanita yang sangat cantik, yaitu kamu."
Alicia,"........".
Devian," saya harap kamu tidak menolak."
"baiklah ,saya akan pergi bersama tuan." sahut Alicia mantap, karena ia juga ingin lebih dekat dengan Devian dan berharap jika pria itu adalah benar-benar Dev.
"Bagus ,kamu memang sahabat saya yang terbaik,besok saya jemput pukul 8 malam."ucap Devian yang terlihat sangat bahagia,
kemudian ia permisi untuk kembali ke kantor.
__ADS_1