
selanjutnya Devian benar-benar membantu Alicia menghias kue tart, tidak banyak yang bisa di katakan Alicia , semua yang di ucapkan hanya seputar hiasan kue.
meskipun kepalanya dipenuhi dengan banyak pertanyaan, namun ia menahan semua itu dan selalu melirik ke arah Devian.
menyaksikan pemandangan yang begitu menawan serta aroma parfum maskulin yang digunakannya membuat Alicia merasakan desiran aneh dihatinya.
Devian sadar jika sejak tadi diperhatikan, tapi sengaja cuek dan pura-pura tak melihat namun dalam hatinya sangat bahagia.
Dengan santai Devian memandang Alicia yang masih fokus pada lamunannya hingga pandangan mereka bertemu, membuat Alicia seketika salah tingkah dan gelagapan.
"apakah saya tampan?" ucap Devian percaya diri dengan pandangan yang belum dialihkan.
Alicia tak bisa mengucapkan kata-kata dan hanya tertunduk dengan wajah yang memerah karena malu .namun dengan sedikit keberanian ia mencoba mengatakannya.
"tuan memang tampan dan punya segalanya, tapi saya juga heran mengapa tuan mau repot-repot membantu saya di sini." ucap Alicia dengan jelas membuat Devian tersenyum penuh arti.
"jika kamu mengakui saya tampan, apakah kamu mau menikah dengan saya?".ucap Devian sengaja mengulang masa lalu berharap Alicia mengingat sesuatu.
"mengapa saya harus menikah dengan tuan, kita tidak benar-benar saling mengenal ."sahut Alicia kesal.
Devian ," karena kamu cantik dan saya tampan, dan saya hanya mau menikah dengan wanita yang cantik."
Alicia,".........".
Perkataan Devian seketika membuat raut wajah Alicia berubah sedikit sendu , semua itu mengingatkan Alicia pada seseorang dimasa lalu, tak terasa bulir air mata menetes di pipinya yang mulus. dia berusaha memalingkan wajahnya dari pandangan Devian berharap pria itu tidak melihatnya menangis, namun ternyata Devian sudah mengetahuinya.
Sedikit rasa bersalah muncul di benak Devian, tak disangka kata-kata yang baru saja diucapkannya justru malah membuat Alicia sangat sedih. mungkinkah Devian terlalu menyakiti Alicia di masa lalu dengan menghilang tanpa kabar. sejenak suasana terasa hening ,tak ada satupun diantara mereka yang bicara.
"maaf, jika perkataan saya tadi membuatmu sedih, saya tidak bermaksud.........,"ucap Devian yang terhenti.
"tidak apa-apa, tuan tidak bersalah, hanya saya saja yang terbawa emosi." sahut Alicia berusaha bersikap tenang.
Devian," apakah kamu sekarang sudah baik- baik saja?".
Alicia," saya baik-baik saja tuan, hanya perkataan tuan tadi mengingatkan saya pada seseorang."
Devian ," apakah dia orang yang sangat berarti bagimu?".
"iya, dia pacar saya ." ucap Alicia berterus terang.
"Dimanakah dia sekarang, mengapa saya tidak melihatnya?", sahut Devian seolah tak mengetahui siapa pria yang dimaksud Alicia.
"namanya Dev, dulu dia tinggal di kota ini tapi sekarang saya tidak tahu." ucap Alicia tertunduk lesu sambil mengusap air matanya yang kembali jatuh tak tertahankan.
Devian," maaf ,jika saya telah mengingatkan kenangan mu, apakah kamu masih mencintainya?"
Alicia ," Dia tak akan pernah tergantikan oleh siapa pun, tapi mungkin dia sudah melupakan saya...hiks.....hiks...."
Devian tak kuasa melihat Alicia dalam kesedihan namun di sisi lain kebahagiaan seolah menghampiri, ternyata selama ini Alicia masih sangat setia menunggunya.
__ADS_1
"jika kamu masih mencintainya, percayalah suatu saat kalian akan bersama, tapi maukah kamu mulai sekarang menjadi sahabat saya?"
ucap Devian ragu, sengaja menjadikan Alicia sahabat karena ingin lebih dekat dengan Alicia, saat waktunya tiba maka ia akan mengungkapkan segalanya.
Alicia," mengapa sekarang tuan meminta saya untuk menjadi sahabat tuan, bukankah tadi sudah meminta saya untuk menikah dengan tuan?"
Devian," yang tadi nanti saja, karena kamu sudah mempunyai pacar ,jadi saya hanya bisa meminta kamu untuk menjadi sahabat saya."
"hmmm,,,,baiklah". Alicia tampak bingung dengan maksud Devian, terpaksa ia mengiyakan, lagipula selama ini dia hanya bersama dengan ibu dan adiknya, mungkin akan lebih menyenangkan jika punya seorang teman ,kelihatannya Devian tidak terlalu jahat seperti yang di pikirkan Alicia sebelumnya.
Waktu sudah hampir menunjukkan pukul 7 malam, semua makanan dan kue tart sudah di susun diatas meja. sembari menunggu kedatangan Clovis yang masih kuliah, Devian sengaja memulai pembicaraan dengan janice berusaha untuk mengorek informasi masa lalu.
"nyonya, apakah Alicia sudah sejak kecil tinggal di sini." ucap Devian sedikit ragu.
Janice," tidak tuan Dev, kami pindah ke sini sejak Alicia berusia 18 tahun, lebih tepatnya sekitar 7 tahun yang lalu".
"kalau boleh saya tau mengapa kalian memilih untuk pindah ke sini?" balas Devian penasaran.
Janice," waktu itu papanya Cia sakit keras dan harus dirujuk ke rumah sakit besar di kota ini,namun pada akhirnya beliau meninggal dunia, dan setelah itu nenek Cia menyuruh kami untuk mengelola dan meneruskan toko bunga ini.
Devian mengangguk mengerti, ternyata begitu banyak cobaan yang dialami Alicia selama ini.
Devian semakin merasa bersalah dan bertekad akan membuat Alicia bahagia.
dia akan selalu ada disampingnya ,berbagi suka dan duka, saat waktunya tiba maka Alicia akan menjadi miliknya selamanya.
Clovis tak kuasa menahan haru dan segera memeluk ibu dan kakaknya.
pandangannya tertuju pada Devian yang sangat asing baginya.
"Ma , siapa pria itu?", tanya Clovis penasaran.
" kenalkan nak, ini tuan Devian, pemilik Bimakarsa group dan langganan setia di toko mama." sahut Janice menjelaskan.
"senang bertemu dengan anda tuan." ucap Clovis sambil mengulurkan tangan untuk perkenalan.
Devian mengulurkan tangan dan membalas dengan senyuman hangat.
"Clovis, ini kado dari mama dan kakak buat kamu." sahut Alicia sambil menyerahkan sebuah kado yang di bungkus rapi.
Clovis," terima kasih kak, ini apa?"
Alicia ," buka saja, kamu akan tau sendiri."
tak sabar Clovis langsung merobek bungkusan kotak pipih itu dan ternyata isinya adalah sebuah laptop.
"waw,,,,"dengan mata berkaca-kaca Clovis kembali memeluk Kakak dan ibunya sambil kembali mengucapkan terima kasih.
Alicia ," bukankah laptop kamu yang kemarin sudah rusak, mengapa kamu tidak mengatakannya."
__ADS_1
Clovis ," iya, aku hanya tidak mau membuat mama dan kakak merasa kesulitan.
Alicia ," apapun yang kamu butuhkan sebaiknya kamu katakan, kami tidak akan merasa keberatan karena semua itu memang tanggung jawab kami.
Devian yang menyaksikan momen haru antara kakak, adik dan ibunya merasa tersentuh.
betapa hangatnya keluarga kecil ini, mereka saling menyayangi dan saling mengerti ,tidak seperti Devian yang sejak kecil terbiasa hidup sendiri ,jauh dari orang tua dan sangat jarang berkumpul dengan keluarga yang utuh.
"Clovis ,apakah kamu tidak ingin melihat hadiah dari saya?" ucap Devian mengingatkan.
"jika tuan membawa hadiah untuk saya maka dengan senang hati saya akan melihatnya ."ucap Clovis dengan sopan dan penuh hormat.
Devian,"Baiklah, silahkan kamu buka pintu ,hadiahnya ada di luar, baru saja bawahan saya mengantarnya ke sini."
Clovis ,Alicia dan juga Janice segera membuka pintu dan mencari hadiah yang dimaksud Devian.
terlihat sebuah mobil sport berwarna hitam terparkir di samping Rolls-Royce milik Devian.padahal tadi saat Clovis datang mobil sport itu belum ada.
seketika mereka melongo tak percaya.
"kak, apakah benar ini hadiah dari tuan Devian buat aku? ,sepertinya aku bermimpi." ucap Clovis kepada Alicia.
Alicia tak menjawab namun berbalik mendekati Devian yang masih duduk dengan memancarkan pesonanya.
"tuan Devian, apakah ini tidak berlebihan." ucap Alicia merasa tak percaya dengan apa yang dilakukan Devian
Devian ," Tidak , itu sangat cocok untuk Clovis dan kamu."
Alicia," saya?
" benar ,jika kamu ingin jalan-jalan ,kamu bisa meminjamnya dari Clovis tapi tentu saja jika ia mengijinkan." sahut Devian dengan senyuman menyeringai.
"hmm,,,,oke,,,baiklah ,tuan memang selalu benar, terima kasih untuk hadiah yang tuan berikan kepada adik saya." jawab Alicia datar .
Devian," apa kamu juga mau,,,hmm? jika iya besok saya akan membelikan satu khusus buat kamu, atau kamu bisa pilih sendiri."
"apa tuan memang sebegitu mudahnya memberikan hadiah mewah kepada siapapun, termasuk para wanita diluar sana." sahut Alicia merasa kesal.
Devian," tidak, hanya di sini."
Alicia ,"lalu kenapa? bukankah kita tidak terlalu saling mengenal.
Devian ," karena kamu sekarang sahabat saya, maka saya dengan senang hati akan memberikan hadiah apapun yang diinginkan seorang sahabat.
Alicia tak mengerti dengan pola pikir Devian, semuanya benar-benar diluar nalar dan terasa sangat aneh, mereka baru bertemu tiga kali namun Devian memberikan hadiah sebuah mobil sport mewah edisi terbatas kepada adiknya Clovis.
apa maksud semua ini.
Di sisi lain Devian tersenyum penuh arti dan merasa hadiah yang diberikannya belum apa-apa, pada akhirnya semua yang dimiliki Devian akan menjadi milik Alicia.
__ADS_1