Kugugat Suami Setelah Dipoligami

Kugugat Suami Setelah Dipoligami
Ular


__ADS_3

...1...


Cahya mengintip dari jendela. Mobil suaminya sudah masuk ke halaman rumahnya. Gegas ia turun dan ingin menyambut kepulangan suaminya dengan suka cita. Seminggu sudah suaminya pergi ke luar kota untuk dinas pekerjaannya. Cahya pun senang karena akhirnya rindu itu terobati kala sang suami pulang tanpa mengabari.


Suara bel pintu membuat Cahya berlari dan membuka dengan segera. "Assalamu_"


Cahya tercekat kala mendapati suaminya pulang dengan membawa seorang wanita pingsan yang dibopongnya.


"Waalikumsalam. Siapkan kamar tamu, Ya," ujar Hardian.


Cahya gegas membuka pintu kamar tamu, tanpa ingin bertanya dahulu siapa wanita itu. Setelah memastikan wanita itu beristirahat di kamar, Hardian mengajak Cahya keluar.


"Maaf, Sayang. Kamu pasti kaget waktu Mas bawa Silvia ke rumah. Dia anak tetangga Ibu yang tinggal di kampung. Tadi Mas lihat dia mau bunuh diri dan melompat ke jembatan. Waktu Mas lihat, tadinya Mas kira dia mau ngapain. Tahu-tahu dia ternyata menyusul kekasihnya dan yang lebih menyakitkannya, dia hamil dan si lelakinya itu tidak mau bertanggung jawab."


"Terus, kamu kasihan, Mas?" tanya Cahya tampak tidak habis pikir dengan apa yang suaminya lakukan. Dia bahkan belum bertanya apapun dan Hardian sudah lebih dulu bercerita.


"Ya kasihan lah, Ya. Dia ini gadis yang ditipu dan dihamili tanpa mau si lelakinya bertanggung jawab. Brengs*k banget kan?"


"Terus? Kamu mau ambil alih tanggung jawab itu?" Cahya bersedekap sambil menatap lekat wajah suaminya yang terlihat salah tingkah.


"Eh, ya nggak begitu, Sayang. Gini gini. Jangan emosi dulu. Kita duduk dulu dan kita rundingkan berdua. Silvia ini gadis desa. Dia belum berpengalaman hidup di kota dan kamu nanti bisa lihat langsung kalau dia sudah siuman. Dia ini polos, Mas paham sekali sama Sivia ini. Dia anaknya Paijan, orang dusun yang kerjaannya hanya angon kambing. Bagaimana Mas nggak simpati dan kasihan. Kalau dia kembali ke desa, bukan hanya cibiran tetangga yang didapat. Malunya itu loh … kasihan kan? Bagaimana kalau kita adopsi anak dia yang ada dalam rahimnya, setelah itu kita biarkan dia pergi setelah memberikan anak itu pada kita. Anggap aja, ini pancingan biar kamu cepat hamil. Siapa tahu, dekat dengan Silvia kamu bisa ketularan."


Manik mata Cahya memancarkan kemarahan nyata. Hardian harus memikirkan banyak cara agar istrinya mau memahami keinginannya.


"Maksud Mas apa?" teriak Cahya.


"Sayang. Mas itu sayang sama kamu, sama ibu, sama emak juga. Kita nikah udah 8 tahun. Usaha dari yang herbal sampai medis sudah, nyatanya Tuhan belum juga kasih anak sama kita. Siapa tahu dengan membantu Silvia melahirkan anak tak diharapkan itu, hidup kita akan sempurna. Mas janji nggak akan macam-macam. Cinta Mas tulus sama kamu, serius dah. Swerr … kan kamu tahu sendiri. Ibu suka ngomel sama kamu kalau berkunjung dan nanyain anak. Mas nggak tega kalau harus ngeliat kamu dibentak atau dimarahi ibu. Nanti Mas akan minta Silvia jadi asisten rumah tangga kita selama tinggal di sini. Biar kamu nggak curiga sama Mas dan menganggap Mas ada perasaan sama Silvia itu."


"Nggak ada. Kagak jamin Mas nggak kegoda sama dia," tolak Cahya.


"Kok kagak jamin? Baiklah. Mas jamin, kagak tergoda. Lagian, Mas kan jarang pulang ke rumah. Nanti kamu bisa ngontrol sendiri pergerakan Silvia dan kamu pasti nggak akan curiga deh. Kasih kesempatan Silvia buat hidup dan merasa tidak sendiri. Ya?"


Hardian menghiba. Bahkan matanya yang sangat mengharapkan keturunan, membuat Cahya tak tega. Ia memikirkan ulang kata-kata Hardian mengenai anak pancingan.


"Baiklah. Selama tinggal di sini, dia ini aku awasi. Awas aja kalau Mas macam-macam."


Hardian segera memeluk tubuh Cahya yang sangat wangi. Sengaja Cahya menyambut kepulangan suaminya dengan cinta, walau ada sedikit rasa kecewa namun sikap Hardian yang lembut membuatnya luluh.


"Kamu tetap cantik dan mempesona, Sayang. Mas kangen banget," bisik Hardian saat merebahkan badan Cahya ke atas ranjang.


"Mas mandi dulu gih. Masa habis kerja nyosor aja," protes Cahya. Namun karena terlanjur berminat, Hardian langsung membawa Cahya dalam pelukannya.


"Mas udah kangen sama kamu. Mandinya nanti saja, kalau sudah mandi keringat sama kamu. Kamu cantik pake lingerine merah itu. Baru ya?" tanya Hardian lembut sembari memainkan jarinya di bagian tubuh Cahya yang terbuka.

__ADS_1


"Nggak. Ini kan hadiah hantaran Mas waktu itu. Baru Cahya buka karena kasihan kalau kelamaan dianggurin," terang Cahya.


"Baiklah. Biar nggak lama nganggur, langsung dipake aja seisi-isinya."


Hardian langsung tancap gas. Menyalurkan hasrat yang sengaja ia keluarkan pada sang istri, setelah ia membawa Silvia ke dalam rumahnya.


Cahya merasa suaminya begitu bergairah, hingga ia kewalahan dan tertidur pulas setelahnya. Hardian mencium kening sang istri dan menutupi tubuh yang sudah ia sentuh lalu ia beranjak pergi setelah memakai semua pakaiannya. Hardian pergi ke luar dan mengecek keadaan Silvia yang tadi sempat pingsan karena terlalu lama menangis di dalam mobil.


Silvia Angeline. Mantan kekasih Hardian yang kembali dekat setelah wanita itu dipertemukan dalam sebuah keadaan yang sulit dijelaskan. Silvia yang memintanya bertanggung jawab atas perbuatan khilafnya saat itu dengan Hardian. Hardian yang memang masih memiliki sedikit empati, tak tega melihat Sivia yang menangis tersedu di depannya dan Silvia yang memohon agar dia mau membawanya pulang. Bahkan Silvia berjanji tidak akan menyakiti keluarganya dan tidak akan meminta anaknya nanti jika dia sudah dilahirkan.


Krek!


Hardian melihat Silvia yang masih terpejam. Melihat selimut yang sudah tersingkap, Hardian membantu menutupnya kembali.


"Mas … jangan! Jangan!" racau Sivia.


Sivia mimpi buruk dan bahkan sampai meracau. Hardian yang bingung, mencoba membangunkannya.


"Sil, hey. Kamu mimpi buruk, kah?"


Hardian yang memang cenderung penyayang itu, tidak tega melihat kegelisahan Silvia meski sedang dalam keadaan terpejam. Silvia yang tersadar dan terbangun, segera bangkit dan langsung memeluk Hardian.


"Kamu mimpi buruk?" tanya Hardian.


Hardian hendak beranjak namun tangan Silvia mencegatnya. "Jangan pergi. Aku takut sendiri. Please…"


"Baiklah. Aku tunggu kamu terpejam tapi jangan lama-lama. Istriku ada di kamarnya," ucap Hardian pasrah.


Silvia menyeka air matanya dan tersenyum. Dia memikirkan cara agar Hardian mau menemaninya lebih lama. Sungguh kehamilannya ini, membuat ia kehabisan akal dan memilih menggunakan simpati mantan kekasihnya itu demi bisa membuatnya bernasib lebih baik.


"Mas, kepalaku pusing," keluh Silvia. "Kayak ada pakunya di sini," tunjuk Silvia dan berdrama seperti memijat kepalanya.


"Sini, aku bantu pijatkan."


Hardian duduk agak mendekat dan memijat dengan pelan kepala Silvia. Silvia membuat suara seperti sedang keenakan saat dipijat dan itu membuat Hardian sedikit merasa terpacu. Terlebih tangan Silvia yang mulai nakal dan sekilas menyentuh bagian Hardian yang tampak menegang.


"Maaf," ucap Silvia sengaja.


"O-h, nggak apa. Sudah enakkan?" tanya Hardian.


"Belum. Malah kayak masuk angin. Mungkin minta dikerok. Mas ada minyak angin? Silvi minta gosokkan ke punggung. Nanti bagian depan Silvi yang balurin. Nggak enak banget badannya," rintih Silvia.


Hardian sedikit ragu. Namun, lagi-lagi wajah memelas Silvi membuatnya tak tega. Ia mengambil minyak kayu putih dan Silvia bangkit dengan membuka baju dressnya. Punggung putih bak susu tanpa noda, membuat jakun Hardian naik turun. Terlebih Silvi membuka seluruh baju bagian atas dan sengaja hanya menutupi tubuhnya dengan selimut.

__ADS_1


"Mau dikerok apa dibalurin aja?"


"Balurin aja."


Lagi-lagi Sivia mengeluarkan suara ******* khas, yang membuat Hardian merasa meremang. "Udah?" tanya Hardian memastikan. "Perutnya sekalian biar enakan," ucapnya.


"Biar Silvi sendiri. Bisa kok," kilah Slvia.


"Biar Mas sekalian."


Hardian melihat ke arah bagian tubuh Silvia yang hendak dibalurkan. Ia sengaja tidak melihat ke arah wajah Sivia, takut khilaf mendera. Tangan Silvia mengulur ke panggul Hardian dan tersenyum.


"Makasih ya. Maaf merepotkan."


Hardian hanya mengangguk dan meletakkan kembali minyak kayu putih itu. "Mas, tolong kancingkan BH-nya," ucap Silvia mendayu.


"O-h. Oke."


Tangan Hardian terulur, hendak mengaitkan kancing BH yang Silvia minta. Tangan Silvia mencekal tangan Hardian dan membawa kedua tangannya untuk bisa menyentuh kedua gunung kembar miliknya.


"Mas, maafkan aku yang dulu pernah menyakitimu. Sungguh, aku merasa jika ini adalah karma karena sudah pernah meninggalkanmu. Maafkan aku, ya?"


Silvia menatap manik Hardian lekat dan seperti terbius dengan ucapan dan tatapan mantan kekasihnya itu.


"Tak masalah. Aku sudah melupakan."


Namun, bukan Silvia namanya jika ia tidak memiliki trik menjerat Hardian. Dia mendekatkan bibirnya dan menciumnya dalam. Meresapi nikmatnya cinta sesaat yang sudah membius akal nuraninya. Hardian pun tak kuasa menolak. Ia menikmati serangan cinta Silvia dan keduanya melakukan hubungan yang tidak semestinya yang sudah pernah ia lakukan sebelumnya.


***


Cahya meraba ke sekeliling. Melihat suaminya yang sudah tidak ada di kamarnya. Namun ia kembali tersenyum saat mendengar suara percikan air dari arah kamar mandi. Lima menit Cahya duduk di atas ranjang, menunggu suaminya selesai mandi dan mengedarkan pandangan melihat jam pukul 4 pagi.


"Sudah bangun?" tanya Hardian saat mendapati istrinya yang tersenyum saat ia baru keluar kamar mandi.


"Sudah dong. Masa dah senyum gini, belum bangun. Tumben awal? Biasanya kalau habis olahraga malam, bangunnya kesiangan," ucap Cahya.


"Itu kan biasanya. Malam tadi, luar biasa. Pelayananmu memuaskan. Mas suka dan makanya Mas bisa bangun lebih awal karena menginginkannya lagi," rayu Hardian.


"Dih. Nggak capek apa? Cahya aja belum mandi," protesnya.


"Hahaha, nggak, Sayang. Bercanda. Dah sana mandi. Hari ini Mas mau ajak kamu liburan ke Ancol."


"Iyakah? Yee …"

__ADS_1


Sorakan Cahya membuat Hardian merasa lega. Beruntung setelah melakukannya dengan Silvia, ia buru-buru kembali ke kamar Cahya dan tidak ketiduran di sana. Ia akan membuat istrinya senang agar kelakuannya tidak dicurigai sang istri.


__ADS_2