Kugugat Suami Setelah Dipoligami

Kugugat Suami Setelah Dipoligami
baru sadar


__ADS_3

"Mas, maaf semalam Cahya ketiduran. Mas makan malam nggak?" tanya Cahya saat ia baru saja selesai mandi.


"Kamu ketiduran, ya Mas nggak makan malam. Eh, Mas ada acara besok di kantor. Camping gitu. Kata si bos, nginep 3 harian di puncak. Boleh nggak?" tanya Hardian.


"Kok lama? Cahya ikut ya?" rengeknya.


"Nggak bisa, Sayang. Yang ikut, semua karyawan kantor aja. Tanpa keluarga."


Hardian sengaja mencari cara agar bisa mendapatkan waktu yang pas untuk memenuhi keinginan Silvia.


"Liburan macam apa yang tidak boleh membawa keluarga ikut? Aneh," decak Cahya kesal.


"Namanya juga bonus kantor. Nggak semua juga dapat jatah liburan. Boleh, ya?"


Cahya diam sejenak dan berpikir untuk mengiyakan. "Baiklah. Setidaknya, aku tahu Mas memang ke puncak. karena ada acara kantor ya. Awas kalau kamu bohong, Mas," sungut Cahya. Perasaannya tak enak dan ia merasa khawatir jika suaminya akan lebih lama lagi perginya seperti kemarin-kemarin.


"Kapan Mas bohong? Lagian kalau kamu gak percaya, ya susah. Nanti aku Mas kirim bukti kalau Mas memang ke puncak."


Cahya mengiyakan, tetapi ia memang tidak begitu saja percaya. Perasaannya akhir-akhir ini tak enak, terlebih keanehan suaminya yang sering membuat hatinya bertanya-tanya.


****


Hardian sengaja mengajak Silvia untuk mendampinginya ke puncak karena sekalian membujuk dan memenuhi keinginan Silvia waktu itu yang merajuk meminta liburan.


"Nanti kamu bilang saja mau pulang ke kampung satu minggu. Biar nggak membuat Cahya curiga jika kita sama-sama di sana tiga hari. Selisihkan saja 3 hari buat kamu beristirahat di hotel nanti," terang Hardian.


"Ya, Mas."

__ADS_1


Tentu saja Cahya tak tahu, jika keduanya akan pergi bersama. Cahya sibuk mengelola bisnisnya dan ia tak mau memikirkan negatif atas kepergian suami dan ART nya.


***


Ting!


"Ini suami kamu, Ya?"


Pesan dari Melina, membuat Cahya sedikit kaget. Ia memperhatikan gambar foto yang dikirimkan sahabatnya. iya sampai memperbesar foto tersebut dan memperhatikan dengan jelas, apa itu Hardian dan Silvia atau bukan.


"Kamu dapat dari mana?" tanya Cahya saat membalas pesan Melina.


"Tadi aku sengaja mengambilnya diam-diam saat sedang makan malam di restoran dekat hotel tempatku menginap."


"Ok. Makasih, ya. Coba aku tanyakan sama Mas Hardian dulu, dia sedang di mana. Kalau sampai dia ketahuan berselingkuh dengan ARTku, akan aku balas dengan cantik."


"Tapi aku yakin dia Hardianmu. Kalau iya betul mereka ada hubungan, tak sumpahi mati muda mereka," umpat Melina.


Cahya tertawa, "Santai aja lah. Tidak ada bangkai yang bisa tertutup dengan sempurna, baunya pasti akan menyeruak seiring berjalannya waktu. Kamu lihat saja ya, Mel. Aku tidak semudah itu dibohongi."


"Hahaha, aku tahu kamu, Ya. Di balik sikapmu yang kalem, terdapat jiwa ******* yang meresahkan."


Setelah mendapatkan laporan dari Melina, Cahya mengatur strategi untuk bisa menyelidiki perbuatan suami itu. Ia berpikir keras bagaimana caranya membalas rasa sakit hati dikhianati.


"Kamu bermanis-manis di depanku demi menutupi kebusukanmu? Mari kita bermain-main, Mas. sejauh mana kamu bisa dapat bertahan untuk hidup seperti ini dalam kebohongan yang nyata," batin Cahya bergelora.


Cahya mengirim pesan pada Hardian dan menanyakan di mana keberadaannya saat ini. Balasan Hardian sungguh sangat membuat dirinya tak habis pikir karena dia mengirimkan gambar pemandangan alam, yang entah kapan ia ambil. Cahya memutuskan untuk memanggil Hardian dengan panggilan video agar bisa mengetahui keadaan terkini yang ada di sekeliling Hardian.

__ADS_1


Namun lagi-lagi Cahya merasa curiga karena panggilannya tidak diangkat oleh Hardian dan 5 menit kemudian, nomer ponselnya mati. Membuat Cahya bertambah curiga dan semakin yakin jika Hardian memiliki hubungan dengan Silvia-- sang asisten rumah tangganya yang dibawa oleh Hardian itu.


"Kamu mengajak aku untuk jadi wanita yang kejam, Mas? Baiklah."


Cahya menelpon sahabatnya yang bekerja di kantor yang sama dengan Hardian. Rio--sahabat kuliahnya dan menjabat sebagai kepala divisi karyawan kantor. Cahya berharap Rio dapat membantunya. Selama ini dia sangat percaya pada para sahabatnya. Karena persahabatan mereka terjalin cukup lama dan tak ada yang berubah dari mereka.


"Rio. Sibuk nggak?"


Pesan Cahya langsung terconteng biru. Cahya tersenyum dan semoga kali ini semesta merestui.


"Lumayan. Lagi dinner sama Kania, kenapa?"


"Ganggu ya?"


"Kan sudah jadi langganan kalau kamu suka ganggu aku. Ada apa?"


"Ya dah. Nanti aja. Kabari kalau dah sendiri."


"Kamu doain aku ditolak Kania?"


"Apaan? Kagak nyambung!"


"Lah tadi, kamu bilang kabari kalau sudah sendiri."


"Hm, dah lanjutin dinner kamu sana. Malah ngelawak!"


Cahya menyudahi mengirim pesan dan menunggu ada hal baik yang bisa sedikit meringankan beban pikirnya. Semua tak harus buru-buru. Akan ada waktu di mana semuanya terbongkar dan dia yakin, pasti ada alasan Hardian kenapa melakukan hal ini padanya

__ADS_1


__ADS_2