
"Pak, ini nggak ver dong. saya merasa tidak melakukan kesalahan apapun. Kenapa saya dipecat?" tanya Hardian dengan wajah tanpa dosanya.
"Yakin?" tanya Hasbi memandang Hardian tajam.
"Yakin, Pak."
Hasbi mengeluarkan sebuah map berisi catatan rincian keuangan yang digarap oleh salah satu karyawan baru di bagian keuangan.
"Kenapa hasil laporan keuangan bulan lalu tidak sesuai dengan laporan yang kamu buat dan laporkan kepada saya? Ini juga! Kenapa kamu membuat satu karyawan dipecat padahal dia tidak melakukan kesalahan apapun. Ini juga! Kamu sudah menuliskan rincian yang salah tentang apa yang sudah dikeluarkan perusahaan sehingga perusahaan mengalami kerugian yang lumayan. Masih mengelak mau tanya apa salahnya? Perlu saya beberkan juga foto-foto tentang hubungan kamu dengan wanita yang bernama Silvia itu?" tunjuk Hasbi pada semua bukti yang ada di dalam map yang tadi ia tunjukkan pada Hardian. Tentu saja Hardian kaget karena melihat foto Silvia saat masih bersamanya dahulu, ketika menjalin hubungan sebelum menikah dengan Cahya.
"Ba-pak tahu?"
"Saya bukan tipe lelaki yang dengan mudah menghukum orang tanpa sebab. Selama ini saya diam karena saya sedang mencari bukti yang akurat akan kecurangan yang sudah kamu perbuat itu. Beruntung saya belum melaporkan kamu ke polisi, karena saya masih mempunyai rasa iba melihat istri sirihmu itu sedang mengandung. Namun, Jika kamu membuat masalah dengan saya, maka kamu tidak segan-segan saya laporkan ke pihak yang berwajib," ucap Hasbi tegas.
Hardian langsung terpatung. Ia sudah tidak bisa lagi menyangkal apa yang bosnya tuduhkan. Selama ini Ia memang memangkas dana perusahaan namun tidak begitu besar hanya saja sering ia lakukan, sehingga kecurangan itu terendus dan mengakibatkan kemarahan Hasbi yang dikuatkan dengan bukti sikap arogannya yang lainnya.
"Jangan laporkan saya ke polisi. Saya janji akan mengganti uang perusahaan yang sudah digunakan. Namun, tolong jangan pecat saya karena saya menghidupi ibu dan istri saya. Saya mohon, Pak," ucap Hardian menghiba.
"Baiklah. Namun saya tidak bisa memberikan kamu kesempatan untuk menjabat di posisi semula. Kali ini kamu akan saya pekerjakan sebagai OB di kantor ini. Ini jika kamu berkenan jika tidak silakan angkat kaki dari sini," ucap Hasbi.
"O-B? Apa tidak bisa diganti posisi yang lain? Karyawan gudang juga tidak apa-apa. Jangan OB lah Pak, saya malu," rintih Hardian.
"Baiklah kalau begitu, silakan keluar dari ruangan saya dan bahwa semua peralatan kerja kamu. Mulai hari ini kamu saya pecat dan saya tidak terima kamu sebagai karyawan Saya lagi. Saya tidak menerima karyawan yang sombong dan juga angkuh seperti mu! Kebaikan Saya cukup sampai di sini. Ternyata kamu masih saja tidak bisa menghargai kebaikan orang lain," sembur Hasbi.
"Tapi, Pak_"
__ADS_1
"Keluar!!" teriak Hasbi dengan nada suara yang sedikit meninggi.
Hardian keluar dari ruangan Hasbi dengan perasaan yang dongkul sekaligus marah. Cita-citanya untuk membangun kontrakan baru harus kandas karena ia yang kini sudah menjadi pengangguran.
"Mas, kok pulang awal?" tanya Silvia.
"Mas dipecat, Sil."
"Apa?" pekik Silvia kaget. "Kok bisa?"
"Ini semua gara-gara Cahya. Dia sudah membuat Pak Hasbi memecat Mas dan membuat Mas seperti ini. Dia pasti sudah memberikan guna-guna pada Pak Hasbi. Hingga beliau memecat dengan bukti yang tidak masuk akal. Argh!" teriak Hardian mengacak rambutnya yang tidak gatal.
"Cahya?"
Hardian beranjak dari tempatnya duduk menuju kamar. Ia menghabiskan kemarahannya di kamar sambil merenungi apa yang harus ia lakukan kedepannya untuk menghidupi Silvia dan ibunya.
"Diam! Apakah kamu tidak tahu Kalau suamimu sedang pusing memikirkan hal yang sangat berat? Kamu malah memikirkan pernikahan yang tidak penting," omel Hardian.
"Kok tidak penting? Kan kamu sudah janji kalau Cahya sudah bercerai dengan kamu, kamu akan menikahiku secara negara. Jangan jadi lebih pembohong, Mas!" omel Silvia.
"Ya. Mas memang kamu menyukaimu secara negara tapi mas tidak janji mengadakan resepsi meriah untuk pernikahan kita. Sudah sana pergi, lebih baik kamu lakukan pekerjaan yang lain dan jangan ganggu aku yang sedang pusing ini!" usir Hardian.
"Tapi, Mas_"
"Pergi!"
__ADS_1
Satu bentakan Hardian membuat Silvia terkejut. Dia pergi dari ruang kamar Hardian dan memilih kembali ke kamarnya.
***
"Sil, bikin kopi!"
Silvia diam saja tidak merespon di masih kesal dengan sikap Hardian yang kemarin membentaknya dan mengusirnya dari kamar.
"Sil!" panggil Hardian lagi. "Heh, gak denger apa?"
"Apa sih, Mas. Pengen kopi bikin sendiri saja sana! Silvi males ngurusin Mas yang sukanya ngebentak istri yang lagi hamil ini," jawab Silvi kemudian berlalu meninggalkan Hardian sendiri di dapur.
"Argh ... sial! Aku harus menemui Cahya dan meminta pertanggungjawabannya karena sudah membuat hidupku menjadi begini," batin Hardian.
Setelah mandi, Hardian bersiap untuk menuju tempat di mana cahaya sekarang mencari nafkah. Hardian ingin menanyakan usaha laundry yang dibangun dengan uang darinya. Itu menurutnya. Karena Hardian pikir selama ini Cahya tidak pernah bekerja dan selalu menggunakan uang yang untuk segala kebutuhan rumah dan juga usaha yang digelutinya itu.
"Mau ke mana, Mas?" tanya Silvia.
"Bukan urusanmu!" sentak Hardian.
"Mas!" teriak Silvia dan berlari mengejar Hardian yang hendak masuk ke mobil. "Tunggu! Mas mau ke mana pakai pakaian yang rapi begitu Bukan karena Sudah dipecat dari pekerjaan di kantor?" berondong Silvia.
"Mas mau cari kerja. Biar kamu tidak cerewet dan teriak-teriak lagi karena Mas tidak bisa memberikan uang. Baru saja mendapat kabar dipecat, kamu sudah begitu kasarnya pada Mas. Lihat saja, kalau Mas punya banyak uang lagi nanti, kamu Mas buang!" teriak Hardian emosi.
Silvia langsung merasa takut. Selama ini Hardian memang terkenal pekerja keras dan juga pantang menyerah. Ia juga lelaki berpendidikan Yang pastinya tidak akan susah untuk mendapatkan pekerjaan yang layak. Silvia menyesal karena sudah tidak mau melayani Hardian sejak semalam dan berakibat pada kemarahan Hardian yang pasti akan membuat posisinya sulit dalam keadaan hamil tanpa suami nantinya.
__ADS_1
**
Hardian mengajukan mobilnya menuju laundry tempat Cahya mencari nafkah untuk dirinya. Dia mengamati dari kejauhan laundry tersebut dan terlihat sangat ramai, membuat sisi terdalamnya ingin menguasai usaha yang sempat menjadi perdebatan saat sidang pembagian harta gono gini. Hardian yang merelakan usaha tersebut jatuh ke tangan Cahya, merasa menyesal dan berniat bernegoisasi dengan Cahya untuk mengelolanya bersama. Dia sangat yakin jika Cahya masih memiliki cinta di hatinya untuk Hardian. Tujuh tahun Ia berumah tangga dengan Cahya, mantan istrinya itu sangatlah pengalah. Dan ia sangat yakin dan percaya diri, bahwa Cahya pasti akan merelakan usahanya itu.