
Cahya memang sakit hati, tetapi ia tidak buta akan cinta. Dia masih memiliki akal sehat untuk berpikir dengan jernih bagaimana sebaiknya sikap bersikap dengan Hardian yang sudah semena-mena dengannya. Jika ditanya Apakah ia masih cinta, tentu saja. 7 tahun bukanlah waktu yang singkat dalam menjalin hubungan rumah tangga. Banyak suka duka yang mereka lewati bersama dan itu kandas begitu saja akan hadirnya orang kedua yang sudah benci dimadu dalam hidup suaminya.
"Kamu sedih, Ya?"tanya sang ibu saat melihat anaknya terdiam setelah kejadian tadi. Cahya memang memilih diam dan fokus menyetir daripada marah tidak jelas yang mengakibatkan kerugian pada dirinya sendiri.
"Buat hal tadi?" tanya Cahya sambil tersenyum getir.
"Ibu saja yang melihatnya sangat marah. Bisa-bisanya suamimu melakukan halnya sejahat itu kepada wanita yang sudah menemaninya dari nol sampai seperti sekarang ini," gerutu Gayatri. "Kenapa kamu tidak menunggu saja bertemu datang biar tahu kelakuan anaknya yang sangat keterlaluan itu," imbuhnya.
"Percuma saja Bu, Cahya tidak akan mendapatkan pembelaan apapun dari Bu Martha. Selama ini saja beliau selalu membuat masalah dengan Cahya, dari masalah kecil hingga besar tidak ada satupun hal yang membuat Bu Marta membela Cahya di depan Mas Hardian. Bukan di depan mata saja, ketika Mas Hardian tidak ada, dia selalu memojokkan saya tentang sebuah kehamilan yang diidamkan. Entahlah, tidak usah membayangkan dan mengharapkan pembelaan dari beliau. Cahya sudah tahu apa yang pasti nantinya Bu Martha lakukan jika Mas Hardian terang-terangan menikah lagi. Pasti jawabannya akan tetap sama, yaitu keinginan mereka yang mengidam-idamkan hadirnya buah hati."
"Benar-benar keluarga aneh. Kenapa bisa memutuskan menikah tanpa meminta persetujuan dari istri sah. sebenarnya kalau mau dituntut bisa loh," usul Gayatri.
"Buat apa? seandainya nanti Cahya menang dan mendapatkan Mas Hardian kembali justru itu akan semakin memper buruk hati kami Mas Hadian juga tidak akan pernah bahagia karena sudah membuat istri siri dan anaknya itu menderita. Lalu Cahya? Tidak mungkin juga Mas Hardian akan mencintai Cahya seperti dulu. Yang jelas sesuatu yang sudah rusak meskipun diperbaiki tidak akan bisa seperti semula. Walaupun, Mas Hardian berjanji tidak akan mengulangi, namun hatinya tidak ada yang tahu dan tidak bisa menjamin dia tidak akan mengulanginya lagi," terang Cahya.
"Lalu bagaimana dengan langkah kamu selanjutnya? Kamu telah meninggalkan rumah itu dan menggugat Hardian. Itu artinya kamu tidak bisa lagi menuntut kekayaan yang dipegang oleh suamimu dam waktu dekat ini, kecuali saat sidang nanti pembagian harta gono gini."
"Biar saja. Ibu nggak usah khawatir saya sudah menyiapkan semuanya dengan baik. tidak ada yang terlewatkan dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan perceraian yang nanti cahaya lakukan," ucap Cahya berusaha tegar.
Meski hatinya sakit dan tidak rela akan yang sudah terjadi, namun ia sudah menyiapkan jauh-jauh hari. Bagaimana menyiapkan mental untuk siap menghadapi kenyataan perpisahan yang sudah ada di depan mata, sejak kedatangan Silvi di rumahnya.
Cahya mengantar ibunya untuk pulang ke rumahnya. Malam ini Ia memang benar-benar akan menginap di rumah sang ibu. Niatnya besok, Cahya akan menggugat suaminya ke pengadilan dan ia akan benar-benar memulai kehidupan yang baru.
***
2 minggu kemudian ...
"Ya, kamu dengar nggak?"
"Nggak," jawab Cahya ketus.
"Ish, belum cerita." Mentari menelpon Cahya malam-malam untuk memberitahukan kabar yang mengejutkan mengenai suaminya.
"Kenapa? Habis liat orgil kagak semvakan? Atau habis lihat bakul cilok yang gantengnya Kagak ketulungan?" kelakar Cahya.
__ADS_1
"Serius, Ya!" gerutu Mentari.
"Baiklah. Kenapa?"
"Tadi tuh, Aku lagi sibuk urusin baju yang mau diambil buat laundry. Nah ... datanglah seorang wanita yang tidak asing bagiku. Kalau nggak salah dia itu madumu itu loh."
"Mantan madu," ujar Cahya membenarkan.
"Iya, mantan. Dia datang bawa 3 keranjang baju kotor dan juga selimut ke laundry kita. Aneh, kan? padahal di dekat area rumahmu juga banyak laundry. Kenapa dia datang ke sini? Yang lebih anehnya lagi, dia tanya-tanya tentang kamu dan juga bisnis laundry yang sedang kita jalankan ini," terang Mentari.
Cahya tertarik dengan obrolan yang sedang Mentari adukan. Pembahasan mengenai Silvi yang datang lebih menarik daripada tumpukan pekerjaan yang sedang ia kerjakan di depannya.
Ya, Cahya sengaja melamar pekerjaan sebagai guru di taman kanak-kanak. Ia sengaja melamar pekerjaan menjadi guru karena itu memang cita-citanya sedang dulu. Meski hanya honorer, tetapi ia merasa nyaman kerja di sana. Bahkan meski ia kuliah mengambil jurusan manajemen bisnis, tetapi sikap cintanya kepada anak-anak tidak pernah hilang sampai kini ia telah menikah dan hendak menjadi janda.
"Lalu?" tanya Cahya serius.
"Ye ... kepo ya?" kelakar Mentari.
"Kagak. Karena kamu cerita begitu semangat ya ... aku dengerin juga harus yang semangat. Biar kamu tidak meleot dan sedih saat aku tidak mendengarkan," sahut Cahya mulai berlagak santai. Padahal hatinya memang penasaran akut, akan informasi yang Mentari sampaikan.
"Oke oke, aku kagak bercanda lagi. Jadi, apa motif Silvia datang ke sana?" tanya Cahya.
"Kagak tahu. Dia itu cuman tanya siapa bos yang punya laundry ini. Lalu, tanya-tanya kenal kamu atau enggak. Gitu."
"Terus, kamu jawab apa?"
"Jawab nggak kenal dan aku bilang loundry ini milik 'aku, lah. Ya kali aku bilang itu laundry punya kamu. Bisa bisa dia berusaha untuk menghancurkan laundry kita dan membuat surat pernyataan hak milik laundry sebagai harta gono gini kamu dan Hardian nanti," ucap Mentari.
"Tumben kamu pinter?" seloroh Cahya.
"Idih ... dari dulu aku itu pintar. Kamu aja yang nggak paham dan nggak hafal kalau sahabatmu ini bisa diandalkan dalam segala hal."
"Masa?"
__ADS_1
"Au ah. Kamu tahu nggak? Dia ngeloundri semua pakaian dia. Jumlah total pakaian kotornya ada 30 kg. Gila gak?" adu Mentari.
"Hahaha, sudah berasa jadi Nyonya dia. makanya dia malas untuk mencuci pakaian dan memilih untuk laundry. Tenaga masih aman?" ledek Cahya.
"Aman! Selama ada ayang di sini pekerjaan pasti lancar," jawab Mentari.
"Jangan pacaran terus ya Awas kalau kamu macam-macam sama si Bontang," ujar Cahya mengingatkan.
"Nama dia Boni, bukan Bontang. Sekata-kata kamu ganti nama orang. Disuruh buat nasi tumpeng tahu rasa kamu."
"Hahahaha, mangap mangap."
Cahya dan Mentari memang sering bercanda seperti itu. Namun, keduanya tidak pernah marah jika satu sama lain melontarkan bercandaan yang terdengar sangat tidak sopan. Keduanya memang berteman sejak SMP dan kebetulan Cahya memintanya untuk bekerja di laundry miliknya yang terdapat di kota di mana Hardian tinggal. Cahya dan Mentari tinggal dalam satu kampung dan satu kota. Sehingga jika ada keinginan dan kabar dari desa mereka, keduanya akan tahu dan bisa pulang bersama.
"Sidang cerai kamu kapan?" tanya Mentari.
"Minggu depan. Sengaja aku meminta dipercepat agar bisa segera bebas dari Hardian."
"Sewa pengacara mahal ya?"
"Lumayan. yang penting semuanya beres dan aku bisa segera menyudahi semuanya. Jika Masih samar-samar begini rasanya mau melakukan hal apapun masih ragu. Berasa masih takut, kalau nantinya Hardian bakalan menuntut banyak hal."
"Cahya takut? Kagak percaya," ejek Mentari.
"Dih, nggak percaya ya sudah. Yang penting survei membuktikan," sahut Cahya.
"Kayak kuis aja, ada survei membuktikannya. Yakin takut?"
"Takutlah. Ngeri dan nggak ngebayangin mau kek gini nasib pernikahanku."
"Yakin takut? Ah ... Cemen!" ejek Mentari gantian.
"Hahaha, bukan Cemen. Tapi fakta yang valid bagi semua calon janda."
__ADS_1
"Heleh, pembelaan macam apa itu? Gaje ..."
Keduanya tertawa bersama dan setelah itu menyudahi telepon karena merasa hari ini sudah sangat larut untuk melanjutkan pembicaraan. Cahya harus menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda tadi. Menjadi tanggung jawabnya sebagai guru di sekolah TK yang tentunya masih harus banyak belajar dari para guru yang lain bagaimana menyikapi kehebohan anak-anak.