
"Cie ... yang udah resmi jadi janda. Traktir makan-makan dong. Masa iya kebahagiaan dirasakan sendiri, bagi-bagi lah pada kawanmu ini," ucap Mentari.
"Iya nih, Ya. Kita makan-makan yuk di restoran yang baru buka di cabang kota itu loh. Restoran AgaYumi kayaknya kalau nggak salah," ajak Rio.
"Restoran mahal yang ada di samping Mall Elite Plaza?" tanya Cahya.
"Iya. Restoran itu cabang dari restoran terkenal di Senayan. Tahu gak?"
"Nggak!" jawab Cahya jujur.
"Pokoknya kamu harus traktir kami makan di restoran itu. Oke?" desak Rio.
Cahya memang minta ditemani oleh kedua sahabatnya Rio dan Mentari untuk hadir di persidangannya. Hari ini ia sudah resmi menjadi janda setelah Hardian mengiyakan permintaan Cahya berpisah di persidangan akhir. Tentu awalnya Cahya berharap jika Hardian datang meminta maaf serta mau bermediasi untuk meluruskan semua yang sudah terjadi. Namun sejak keluar dari rumah itu, Hardian tidak pernah mengklarifikasi bahkan mencoba untuk menemuinya dan meminta maaf, sehingga Cahya sudah yakin dan mantap jika dirinya mengambil langkah bercerai.
"Ibu ikut ke Senayan?" tanya Cahya.
"Nggak, Ya. Ibu sudah dijemput sama adikmu Gilang."
"Bukannya tadi dia bilang mau mengantar Pakde pulang?"
"Iya. Sebentar lagi pasti balik ke sini. Kan pakdemu rumahnya tidak jauh dari sini."
Ekhm!
"Ada janda nih. Kayaknya seneng banget berubah status jadi janda? Atau jangan-jangan memang sudah disengaja mencari perkara untuk bisa berpisah dengan Hardian?" sindir Silvia yang baru keluar bersama dengan Hardian dan juga mertuanya--Marta.
"Iya. Kenapa memangnya? Situ iri kalau saya senang banget jadi janda sekarang? Lebih baik jadi janda yang terhormat daripada jadi wanita pelakor yang suka mengambil suami orang. Untung saya cepat mengetahui tingkah kalian yang sungguh tidak pantas itu. Setidaknya aku sudah menyelamatkan mantan suamiku ini dari dosa yang menumpuk. Tugas saya sudah selesai dan silakan kalian menikmati apa yang sudah kalian tanam cepat atau lambat, hukum karma pasti akan segera berlaku. terutama untuk kamu wanita setengah iblis. Apa yang kamu dapatkan dengan cara merampas hak orang lain, maka tidak akan bisa tenang hidupnya dan juga kamu akan merasakan apa yang aku rasakan jika Tuhan sudah menghendaki," ucap Cahya lalu menarik kedua sahabatnya untuk pergi dari sana.
Gayatri hanya bisa pasrah mengikuti ke mana putrinya pergi karena ia pun enggan bersaparia dengan Martha yang dahulu juga sering membuat masalah dengannya jika sedang datang mengunjungi rumah Cahya.
__ADS_1
"Kamu harus bisa segera move on Hardian. Tunjukkan sama Cahya Kalau kamu bisa bahagia tanpa dia dan tunjukkan sama dia kalau kita juga bisa hidup tanpa dia."
Hardian tersenyum miring. Nyatanya ia merasa sedih melihat Cahya bisa tersenyum lebar paska bercerai, sedangkan dirinya selalu dihantui rasa bersalah karena sudah menikahi Silvia secara diam-diam dan membuat Cahya memilih berpisah sebagai jalan terbaik.
"Mas, ayo pulang! ngapain kamu masih melihat Cahya yang sudah pergi jauh?" ucap Silvia mengagetkan lamunan Hardian.
"Baiklah. Ayo!"
Hardian menaiki mobil bersamaan dengan perginya Cahya beberapa menit yang lalu. Seperti ada yang mengganjal dalam hati-hardian setelah perceraian ini selesai. Namun ia mencoba menepis bayang-bayang penyesalan karena perginya Cahya dalam hidupnya kini.
"Mas, Kamu sebenarnya lagi ngelamunin apa? Kok dari tadi diem aja," panggil Silvia.
"Nggak. Hanya saja kepalaku sedikit pusing dan ingin cepat-cepat istirahat di kamar."
"Nggak jadi masuk kerja?"
"Ya lah tuh."
Hardian hanya menurunkan Silvia dan ibunya di rumah karena ia memilih pergi setelah mengantar keduanya di rumah masing-masing.
"Mau ke mana, Mas? Katanya tadi ngantuk dan lelah pengen istirahat di rumah. Tali kok malah pergi lagi?" tanya Silvia penuh rasa penasaran.
"Mas mau ambil sesuatu yang tertinggal di kantor untuk dikerjakan di rumah. Sebentar saja, nanti Mas kembali lagi. Kamu bisa berbincang dahulu dengan ibu selagi Mas keluar."
"Tapi, Mas ..."
Hardian tidak mendengarkan panggilan Silvi. Ia langsung masuk ke dalam mobilnya dan ingin menyusul Cahya yang sedang berpesta ria di restoran yang sempat tadi ia dengar tempatnya. Ia ingin meminta maaf secara langsung, agar ada kelegaan dalam hatinya. Setelah dari awal Silvia dan Marta melarangnya menemui cahaya, jika sudah bercerai begini pastilah keduanya tidak akan keberatan karena status yang sudah ditetapkan dalam persidangan perceraian tadi.
Hardian menengok ke kanan dan ke kiri mencari meja di mana Cahya berada. Namun ia kaget karena mendapati Cahya bersamaan dengan bosnya sedang ada di sana juga. Hardian segera mendekat dan menyapa atasannya ramah sedangkan Mentari dan Rio memandang Hardian sinis karena sudah berani datang ke restoran tempat Cahya mengadakan syukuran untuk mereka.
__ADS_1
"Pak Hasbi? Kok ada di sini bareng sama Cahya dan yang lain?" tanya Hardian.
"Kenapa? kok mukanya kaget begitu melihat saya? Apa ada yang salah jika saya ikut merayakan kebahagiaan Cahya dan yang lain?" ucap Hasbi datar.
"Oh, tidak. Silahkan dilanjutkan makan siangnya. Saya hanya akan memesan makanan untuk dibawa pulang karena istri saya sedang ngidam," lirik Hardian menyindir Cahya.
Cahya sengaja diam dan tidak mau mengeluarkan perkataan dan pernyataan apapun dari mulutnya karena ia menjaga agar tidak terjadi keributan di dalam restoran karena ulah Hardian yang datang tiba-tiba.
Hardian beranjak setelah mengatakan itu. Namun suara Hasbi memanggil Hardian membuat dia menengok dan berbalik. "Iya, Pak? Kenapa?" tanya Hardian antusias. Ia berpikir jika dirinya akan diberikan bonus dan juga hadiah karena sudah melaksanakan pernikahan keduanya.
"Kamu sekalian ke kantor dan ambil berkas-berkasmu karena mulai hari ini kamu saya berhentikan."
Tentu saja Hardian kaget dengan apa yang diucapkan oleh bosnya itu. Tanpa ada hal yang memicu pemecatan, tiba-tiba Hasbi memecatnya begitu saja.
"Loh Memangnya apa yang sudah saya lakukan Pak selama ini? Saya melakukan pekerjaan saya dengan baik bahkan saya tidak pernah bolos absen dalam satu mingguan ini meski saya harus wara-wiri mengurus perceraian." Hardian tampak tidak terima karena dipecat mendadak seperti ini.
"Eh, jangan mengaku-ngaku jika kamu tidak mengurus perceraiannya, karena saya yang sudah mengurusnya. Enak saja!" protes Rio.
"Sst ..."
Cahya memberi kode pada kedua sahabatnya agar diam dan membiarkan Hardian mengatakan hal yang bisa saja melukai hatinya. Beruntung ia memang sengaja untuk tidak membuat keributan di restoran itu.
"Kesalahan kamu banyak. Apa perlu saya mengatakan semuanya di depan mereka satu persatu?" tantang Hasbi senang. Sebenarnya niatnya tadi ia hanya akan mengunjungi kliennya yang menyepakati bertemu di restoran mahal ini. Namun ternyata ia bertemu dengan cahaya dan kedua sahabatnya yang sedang memesan makanan. Hasbi berani mendekati karena kliennya itu mengabarkan jika pertemuannya dibatalkan dan akhirnya membuat Hasbi berpikir untuk bergabung bersama dengan Cahya, Rio dan Mentari. Meskipun hanya sebentar, Namun mampu mengobati hatinya yang sedang kesal karena jadwal temu tidak bisa tepat waktu.
Mentari dan Rio saling berpandangan. Mereka sampai ikut kaget mendengar pemecatan Hardian di depan mereka. Mereka yakin, Hardian pasti sangat malu dan kecewa karena sudah diberhentikan secara sepihak.
"Baiklah. Tapi, saya meminta penjelasannya besok di kantor saja karena mungkin Bapak ketularan tidak waras sepeti wanita di depan saya ini. Selamat siang!" tunjuk Hardian kemudian berlalu pergi.
Cahya begitu kaget karena mendengar cibiran dari Hardian secara nyata. Namun ia tidak merasa sakit hati karena memang ia sudah terbiasa diumpat dan dikatai berbagai hal yang tidak layak untuk diucapkan.
__ADS_1