
"Makasih, Pak, atas bantuannya," ucap Cahya saat Hardian sudah pergi dari restoran.
"Makasih buat hal yang memang harus saya lakukan karena dia memang melakukan kesalahan-kesalahan di kantor. Bukan hanya karena dia yang memutuskan menikah lagi," terang Hasbi.
Waiters mengantarkan pesanan mereka. Rio dan Mentari sangat senang melihat makanan begitu banyak tersaji di atas meja.
"Wah, tiap hari gini bisa gendut aku, Ya," celetuk Rio.
"Laki-laki gendut ya jelek, Rio. Lelaki tuh yang gantle, sangar, macho, maskulin, sixpack. Bukan gendut macam ibu hamil," protes Mentari yang tidak setuju Rio mengatakan hal tersebut.
"Gak apa. Gendut asal sehat, fine-fine aja. Ya nggak, Pak?" seloroh Rio pada Hasbi yang sedari tadi diam memainkan ponselnya.
"Papa!!"
Panggilan seorang anak kecil berumur 6 tahun, membuat semuanya menoleh. Termasuk Cahya yang kaget melihat gadis kecil yang sangat manis menurutnya itu, mendekat setengah berlari pada Hasbi.
"Hei, Nau. Sama siapa, Sayang?" tanya Hasbi ramah sambil membawa gadis itu dalam pangkuannya.
"Sama Oma tadi. Tuh!" tunjuk gadis imut yang dipanggil Nau oleh Hasbi.
"Aduh, Naura. Kamu jalannya cepat banget. Oma jadi kewalahan ngejar kamunya. Loh, ada papa Nau ternyata." Terlihat wajah kaget Ratri--ibu Hasbi--kala melihat dan bertemu Hasbi di restoran.
"Mah. Kok di sini?" tanya Hasbi dengan meraih tangan ibunya dan menciumnya takzim.
"Iya. Mamah mau ketemu Arfan. Dia ngajak Mamah buat mampir ke resto ini. Kalian sedang rapat, ya? Silahkan lanjutkan saja. Mamah mau temui adik kamu dulu. Ayo, Nau. Ikut Oma!" ajak Ratri.
"Nggak mau. Mau sama Papa," tolak Naumi.
"Gak apa, Mah. Biar Naura di sini saja dulu. Nanti kalau Hasbi selesai, Hasbi antar ke dalam."
"Baiklah."
Ratri seperti menghargai kedatangan Mentari yang lain. Ia pamit menemui anak bungsunya yang merupakan pemilik restoran ini.
"Hai, anak cantik. Namanya siapa?" tanya Cahya lembut.
"Naura, Mamah."
Rio dan Mentari kaget saat mendengar Naumi memanggilnya Mamah. Hasbi merasa tak enak dan mencoba menjelaskan pada anaknya itu.
"Nau, dia bukan Mamah Nau. Dia Tante_"
"Cahya. Nama Tante, Tante Cahya," sela Cahya yang melihat Hasbi bingung menjelaskan pada Naumi.
"Tante lagi? Kemarin Tante, ini Tante lagi. Mama Nau mana?" celetuk Naura membuat Cahya prihatin melihatnya. Naura memasang wajah cemberut membuat Cahya berpikir, untuk menghiburnya.
__ADS_1
"Naura, Sayang. Gak usah marah sama Papa, sini Tante pangku. Nanti Tante suapi, oke?" ucap Cahya.
Wajah Naura berubah bahagia. Ia langsung turun dari pangkuan Hasbi dan beralih ke pangkuan Cahya.
"Yee ... makan sama Mamah. Makasih, Mah. Kangen deh pengin disuapi Mamah. Bosen sama Oma, Bibi dan Papah yang suapi." Naura tampak antusias mendengar Cahya akan menyuapinya.
"Maaf, Cahya. Saya_"
"Gak apa. Ini sebagai bentuk permintaan maaf saya dan juga terima kasih karena Bapak sudah membantu saya dua beberapa kali," jawab Cahya.
"Baiklah. Mari makan, kurang bilang saja. Adik saya pemilik restoran ini."
"Oh," jawab Mentari dan Rio kagum sekaligus senang.
Semua melanjutkan makananya dengan hening, karena kedatangan Hasbi membuat Rio tidak bisa berkata-kata. Terlalu beresiko jika ia bercanda dengan atasannya sendiri di tempat umum. Mereka memilih makan sambil melihat bercandaan Cahya pada Naura yang memang nampak seperti anak dan ibu.
Hasbi memperhatikan dengan kagum, apa yang Cahya lakukan pada anaknya. Biasanya anaknya itu akan jahil dan berbuat usil jika bertemu dengan orang baru. Namun kali ini anaknya terlihat bahagia dan banyak menampakan senyum saat berbincang dengan Cahya.
"Pah, ajak Mamah pulang ya? Nau mau sekolahnya diantar Mama kayak yang lain. Ya?" rengek Naura saat makananya sudah habis.
Tentu saja Cahya kaget mendengarkan pulang ke rumah Hasbi.
"Lain kali ya, Sayang. Tante Cahya ada acara soalnya," bujuk Hasbi.
Hasbi berjongkok di depan Naura."Sayang, nanti ya. Sekarang ikut Papah ke dalam. Kita tanya Oma dulu, boleh gak ajak Tante Cahya ikut. Ya?"
"Nggak mau. Sama Mamah aja. Nanti Papah sama Oma bohong!" Naura memeluk erat Cahya dan seperti tidak mau melepasnya.
Hasbi bingung dan ia melirik pada Cahya, agar dia sedikit membantunya.
"Anak cantik, anak baik. Papa hari ini masih kerja. Main sama Mamah nanti ya? Kalau urusan Mamah dan Papah selesai. Bisa janji jangan nakal? Mamah janji akan datang menemui Nau lagi. Oke?"
Cahya berusaha dengan halus membujuk Naura agar mau ikut bersama dengan Hasbi.
"Janji ya, Mah?"
"Janji."
Naura turun dari pangkuan Cahya dan beralih pada gendongan Hasbi. Kemudian Hasbi membawanya ke dalam bersama Ratri dan kembali dengan cepat untuk menyudahi makan-makannya.
"Saya terima kasih atas bantuannya. Saya harus pergi karena saya ada rapat. Ini kartu nama saya. Silahkan saja hubungi saya jika kamu butuh bantuan," ucap Hasbi memberikan kartu nama pada Cahya kemudian berlalu pergi dengan segera.
"Cie ... yang dipanggil Mamah. Udah kode alam tuh," ledek Rio.
"Apaan sih? Hanya kebetulan. Lagian, aku juga nggak kenal sama Pak Hasbi itu."
__ADS_1
"Kalau nggak kenal, ya kenalan, Ya. Dia itu duda loh," ucap Rio menjelaskan.
"Duda kalau begini modelannya, aku juga mau," celetuk Mentari.
"Kamu mah, aki-aki juga mau. Asal duitnya tebel, kamu tabrak aja. Ya kan?" seloroh Cahya sambil minum jus yang masih tersisa di dalam gelasnya.
"Iya bukan aki-aki juga keles. Berat amat bandingannya sama orang yang udah bau tanah," sungut Mentari.
"Iya-iya. Jadi, macam mana?"
"Apanya yang macam mana?" tanya Cahya bingung dengan apa yang Mentari katakan.
"Itu kartu nama. Pasti mau kamu save dan kamu datangi rumahnya. Ya kan?"
"Lihat nanti. Tergantung bisa atau enggak ini kartu nama buat membantu meringankan beban hidup dan kebutuhan sehari-hari," ucap Cahya asal.
"Jangankan kebutuhan sehari-hari, seumur hidup juga bisa kalau kamu mau jadi mamahnya Naumi alias anak si bos."
"Dih, kagak bakalan. Mana mungkin dia mau sama wanita yang tidak setara dengannya."
"Mana mungkin kamu bilang? Ya mungkin saja. Naumi itu anaknya tipe pemilih untuk menyebut wanita dengan sebutan mama. Nggak semua orang dia mau panggil mama yang ke kamu tadi. Aku sering lihat dia dibawa ke kantor oleh Pak Hasbi."
"Iyakah?" tanya Cahya kagum.
"Iya. Keren kan? Cuslah, daftar."
"Hilih, daftar opo. Dah ah, aku mau bayar tagihan ini dulu."
Cahya memanggil waiters untuk menghitung berapa total keseluruhan yang ia makan di tempat ini.
"Semuanya sudah dibayar sama Pak Hasbi. Ini billnya!"
Cahya kaget melihat nominal yang sebenarnya ia yang harus membayarnya. Setelah waiters pergi, kedua teman saya itu meledeknya dengan senang.
"Ciye ... yang habis ditraktir calon."
"Iya. Senangnya. So sweet."
Rio dan Mentari meledek Cahya hingga membuatnya jengah dan berdiri.
"Mau pulang atau tetap di sini?" omel Cahya.
"Waduh, galaknya calon bos. Kami pulang saja. Mumpung dikasih cuti dua hari, hari ini aku mau tidur!" seru Rio.
"Huh!" sembur Cahya dan Mentari membuat Rio tersenyum tanpa dosa.
__ADS_1