Kugugat Suami Setelah Dipoligami

Kugugat Suami Setelah Dipoligami
menyangkan


__ADS_3

"Sidang perceraian kamu kapan, Hardian?" tanya Marta saat datang berkunjung ke rumah Hardian.


"Lusa kayaknya. Kenapa, Bu?" tanya Hardian yang baru saja bangun tidur. Hari Minggu ini Ia memang sedikit bersantai karena tidak berangkat bekerja dan ia memilih bangun lebih siang karena ingin istirahatkan tubuhnya yang lelah bekerja selama satu pekan.


"Mau kamu percepat?" tanya Marta.


"Bukan Hardian. Tapi Cahya sendiri yang mengurus semua proses sidang dan meminta pengacaranya mungkin untuk mempercepat jalannya persidangan ini. Sengaja Hardian membiarkan Cahya yang mengurusnya karena perceraian ini memang keinginannya. Hardian manut saja lah," ucap Hardian santai.


"Nggak bisa begitu dong, Mas. Kamu harus menuntut hak gono gini dahulu nanti. Katanya Cahya punya usaha laundry, mana? Kemarin Silvia cek ke sana, Silvia tidak menemukan Cahya. Bahkan seorang wanita mengatakan jika dirinya adalah bos di tempat itu. Apa mungkin Cahya sudah menjual usahanya dan pergi jauh dari kota ini?" tanya Silvia penasaran.


"Masa sih?" tanya Marta. "Kamu tahu, Yan. Kalau Cahya punya usaha laundry?"


Martha juga semakin ikut penasaran kala tahu jika Cahya sudah memiliki usaha tersendiri di luar sana selain dari hasil keringat Hardian dan juga bagi hasil kontrakan yang selama ini ia kelola.


"Sedikit. Tapi bukan usaha laundry besar, hanya usaha laundry kecil yang paling omsetnya nggak sampai 500.000 sebulan," ucap Hardian.


Hardian tidak tahu jika Cahya memiliki cabang laundry yang lain yang lebih besar daripada laundry yang berada di kota asal mereka tinggal sekarang.


"Ah, masa sih? Tapi kemarin Silvia lihat laundry itu sangat ramai. Ada satu pegawai laki-laki juga yang bekerja di sana," ucap Silvia membujuk suaminya agar mau merebut harta yang dimiliki oleh Cahya. Menurutnya semua yang sah yang miliki adalah hak Hardian dan juga haknya setelah menikahi Hardian nanti.


"Satu itu bukan berarti sebuah usaha yang menghasilkan omset besar. Kalau karyawannya lebih dari satu, itu baru bisa dikatakan usaha yang besar. Lagian biarin saja hanya laundry ini. Kita masih punya banyak kontrakan yang bisa lebih menghasilkan. Niatnya nanti Hardian akan membeli lahan lagi untuk dijadikan kontrakan baru. Jadi nanti kamu bisa mengurusnya, Sayang," ucap Hardian pada Silvia.


"Kok Silvia? Kamu kan sudah janji kalau semua usaha kontrakan itu Ibu yang mengelola dan kalian hanya mendapatkan 20% bagian dari pendapatan bersih yang Ibu dapatkan?" timpal Marta tak suka mendengar keputusan Hardian yang tanpa meminta pendapatnya.

__ADS_1


"Kita kelola sama-sama saja, Bu, biar tahu dan jelas berapa total pendapatan yang diperoleh," terang Silvi yang jelas-jelas merasa keberatan dengan bagi hasil yang Martha nanti akan diberikan padanya dan Hardian.


Silvi merasa dia bukanlah sosok Cahya yang bisa dengan mudah dibodohi dengan bagi hasil yang tidak seberapa. Sewa kontrakan adalah penghasilan bersih karena tidak perlu mengeluarkan modal banyak dan Silvi merasa mertuanya itu terlalu rakus dan tamak. Namun ia akan bermain cantik untuk mengambil sedikit-sedikit haknya sebagai istri Hardian nanti. Yang ia perlukan adalah mendukung semua apa yang Hardian perintahkan sehingga perasaan bucin yang Hardian lontarkan padanya, akan membuat Silvi mudah melakukan apapun. terlebih Dia mempunyai pengikat yaitu anak yang ada di dalam kandungan itu. Ia rasa, ya akan lebih mudah mendapatkan hati Hardian setelah itu.


"Nggak bisa. pokoknya kalau nanti membuat kontrakan baru itu akan menjadi hak Ibu sepenuhnya dan kalian hanya akan mendapatkan bagasi seperti kesepakatan awal yaitu 20%, jika kalian keberatan maka kalian tidak usah resmi menikah secara negara," ancam Marta. "Setelah anak itu lahir, pergilah kamu dari sini kalau kamu tidak mau menurut!" omel Marta pada Silvi.


Marta yang awalnya menyetujui saran Silvi dan Hardian untuk merestui hubungan keduanya, kini merasa ragu setelah melihat sifat Silvi yang seakan ingin merebut apa yang sudah ia peroleh.


"Bu. tidak perlu berbicara pakai emosi kita bisa berbicara dengan baik-baik dan mengkomunikasikan ini dengan kepala dingin. Sidang perceraian Hardian saja masih lusa dan pembagian harta gono gini belum jelas seberapa yang akan Hardian dapatkan. Setelah itu barulah kita memikirkan langkah apa yang harus kita kerjakan untuk menata semuanya kembali dengan lebih mudah kedepannya," sela Hardian. "Silvi, tolong berbicara lebih sabar ketika dengan Ibu, karena beliau ini adalah orang tua kita. Selayaknya kita sebagai anak itu menghormati. Minta maaflah!" lirih Hardian pada Silvi.


Tentu saja Silvia kesal karena suaminya membela ibunya di depannya namun jika ia memberontak dan melawan maka bisa jadi sidang keputusan besok Hardian menolak untuk mengurus dan melanjutkan perceraian dengan Cahya.


"Baiklah. Maaf, ya, Bu. Silvia salah."


Silvi gegas ke belakang. Meski dalam hatinya sangat dongkol dan kesal.


"Sudah tua, cerewet lagi. Dasar nenek lampir!" gumam Silvia.


***


"Cahya protes kalau kamu ceraikan?" tanya Marta.


"Nggak. Ibunya yang membawanya pulang dan sejauh ini ... kita belum bertemu lagi. Hanya sekilas di pengadilan dan kami juga tidak berbincang apapun. Dia tak menyapa Hardian, Ibunya juga tampak melengos saat melihat Hardian."

__ADS_1


"Baguslah. Sudah nikah tujuh tahun tapi masih belum juga hamil. Umur kamu sudah 37, mau sampai kapan? Bentar lagi tua, dan kamu sudah pasti tidak bisa sekuat itu menjadi ayah di saat anakmu masih sangat kecil. Itu pun kalau Cahya hamil, kalau enggak? Alamat kiamat kamu. Untung kita ada Silvi yang sedang hamil anakmu, jadi kita bisa punya harapan baru mengenai keturunan."


Meski kesal dengan sikap Silvia, tetapi kehamilannya membuat Marta seakan punya harapan baru.


"Ini, Bu. Ibu mau nginap sini?" tanya Silvia ramah.


"Nggak. Ibu tidak pernah betah tidur di kamar yang bukan kamar Ibu sendiri. Kamu udah cek usia kehamilanmu berapa bulan?"


"Sudah. Kenapa, Bu?"


"Nanti kalau sudah 4 bulan Ibu mau mengadakan syukuran 4 bulanan bersama dengan jamaah ibu-ibu pengajian yang lain. Sebelum itu, kalian resmikan rambut pernikahan secara negara biar Ibu tidak malu memperkenalkan diri pada teman-teman Ibu yang lain."


"Kenapa harus malu? Ini bukan aib dan Silvi itu sudah sah Hardian nikahi," terang Hardian.


"Sama aja. Pasti mereka nanti menanyakan keberadaan Cahya karena mereka hanya tahunya Ibu mempunyai mantu Cahya, bukan Silvi," jawab Marta.


Kali ini Silvi merasa senang dengan keinginan Martha yang menikahkan dirinya dengan Hardian secara negara. Dengan begitu, ia lebih mudah mendapatkan sedikit keuntungan dari pernikahan ini.


"Akan Hardian pikirkan. Cahya juga tidak pernah mengabarkan apapun lagi setelah keluar dari rumah ini. Dia kayak yang suka Hardian ceraikan. Aneh sekali," ucap Hardian.


"Dia emang wanita aneh. Apa nggak sayang, minta cerai sama kamu? Udah hidup enak, apa salahnya menerima Silvi sebagai madu."


Hardian juga sangat menyayangkan sikap Cahya yang berbuat demikian. Sengaja memergoki dirinya dengan membawa mertuanya dan akhirnya mertuanya marah dan membuat keputusan untuk memilih antar Cahya dan Silvi. Jujur Hardian masih sayang, namun jika dihadapkan pada pilihan pasti ia akan memilih Silvi karena dia yang sedang mengandung anaknya dan dia juga cukup lama menjalin kasih sejak masa sekolah dulu

__ADS_1


__ADS_2