
"Kita grebek sekarang?" tanya Mentari semangat.
Cahya tersenyum. "Nggak usah. Tunggu saja tanggal mainnya. Harus ada bukti yang kuat untuk memberikan efek jera pada kedua manusia yang tidak tahu dosa itu," ucap Cahya. meski dalam hatinya begitu geram namun ia tidak bisa berbuat banyak jika bukti yang ia dapatkan hanya satu atau dua. Dia akan mencari bukti yang lebih kuat agar Hardian mau mengakui semuanya.
"Tapi ini sudah kebangetan loh, Ya. Memangnya kamu nggak marah apa?" tanya Mentari.
"Wanita mana yang dimadu tidak marah? Tapi percuma saja jika memang keduanya sudah terlanjur menikah. Kita hanya butuh waktu dan situasi yang tepat untuk membuat kedua orang itu mati kutu dengan apa yang kita lakukan. Tidak ada pembalasan yang sangat menyakitkan selain ditinggal orang terkasih," ucap Cahya.
"Maksudnya? Lo bakal bunuh Hardian?"
Pletak!
Cahya memukul kening sahabatnya lirih. "Aw! Kok dijitak?" protes Cahya.
"Kagak lah! Emangnya aku ini pembunuh apa? Tampang kalem dan baik ini masa melakukan pembalasan dengan membunuh orang. Yang benar saja. Lebih baik aku akan melakukan satu langkah ke depan agar bisa membuat Hardian merasa jika dia membutuhkan ku."
Cahya berpikir untuk meminta bantuan Rio untuk membuat Hardian mendapatkan masalah di kantornya. Namun bukan cara Yang licik yang akan ia gunakan, tetapi ia akan membuat celah kebohongan bagi Hardian agar bosnya merasa jika Hardian memang melakukan kesalahan sehingga dirinya dipecat dengan tidak terhormat.
"Aku akan minta bantuan dia untuk hal ini. Jika dia bisa berpergian keluar kota berbulan madu bahkan bersenang-senang dengan alasan keluarganya yang sakit, maka bosnya harus tahu jika karyawannya itu telah berbohong dan kita akan dapat melihat seberapa tak berdayanya Hardian tanpa pekerjaan di kantornya," ujar Mentari.
"Tapi bisa saja nanti Hardian melamar pekerjaan di tempat lain," ucap Mentari. "Bagaimana?"
"Kamu jangan terlalu khawatir, Mentari. Kamu ingat, tidak ada kejahatan yang sempurna dan kita pasti akan dengan mudah membuka dan memberikan pelajaran pada mereka yang sudah menjadi kita."
__ADS_1
Cahya tersenyum mengetahui ide yang tiba-tiba terlintas di pikirannya kali ini. iya baru sadar jika dirinya memang benar-benar jenius dan pandai untuk melakukan sebuah intrik dan rencana.
"Kamu mau pulang?" tanya Mentari.
"Nggak. Aku akan meminta izin untuk pergi berapa hari. Dengan alasan itu aku bisa memata-mata itu melakukan segalanya dengan rapi," ucap Cahya.
"Kalau menurut aku sih, baiknya kamu nggak usah pergi. Kamu bisa membuat adegan yang bisa membuat madu kamu itu merasa cemburu. Sehingga nanti dia akan marah-marah pada Hardian dan memilihmu daripada dia," saran Mentari.
"Aku nggak minta dipilih sih. Tapi saran kamu bagus juga. Aku coba, siapa tahu bisa membuat Mas Hardian melek dan tahu mana istri yang harus dibuang dan istri yang harus dipertahankan. Sebenarnya nggak niat mempertahankan sih kalau udah sampai berhubungan badan begitu. aku jadi jijik dan malas untuk melayaninya nanti. Dipikir aja Mas melayani yang sudah dipakai oleh wanita lain. Kalau situ jadi aku, situ mau memakai bekas orang lain? Kalau aku suka, aku akan pertahan kan hanya untuk membalas sakit hati yang Mas Hardian lakukan. Setelah itu aku akan memberikan kejutan padanya," ucap Mentari.
"Aku setuju. Ogah juga memakai bekas orang lain. Baiklah, good job kawan semoga semuanya bisa berjalan dengan baik dan kamu akan mendapatkan kebahagiaan atas apa yang sudah kamu lewati ini," ucap Mentari.
" Thank, Tari. Aku pulang dulu ya pokoknya aku harap usaha aku ini agar tidak diketahui oleh siapapun. Termasuk mertuaku nanti jika menanyakannya padamu," ucap Cahya.
"Sip. rahasia aman dan terjaga dengan baik. Pokoknya aku tunggu berita selanjutnya dari kamu, sepertinya ini menarik untuk menjadi sebuah cerbung atau sinetron ikan terbang," seloroh Mentari.
Cahya menaiki ojol yang dipesannya untuk sampai ke rumah. sebenarnya ia ingin membeli mobil pribadi untuk yang pakai jika sedang bepergian, tetapi tidak selalu membuat mertuanya curiga Jika ia mempunyai uang yang banyak dari usaha yang sudah ia buka beberapa tahun belakangan.
"Assalamualaikum," salam Cahya.
"Waalaikumsalam, Bu. Tumben pulang sore?" tanya Silvi.
"Kenapa? Panik banget saya pulang awal?"
__ADS_1
Setelah melihat kejadian mesra antara Silvi dan Hardian, Cahya mulai enggan bersikap manis pada Silvi.
"Bu-kan, Bu, tetapi tumben saja biasanya Ibu kalau dari luar selalu pulang malam," ucap Silvi membuat Cahya bertambah muak.
"Mas Hardian sudah pulang?" tanya Cahya yang langsung masuk tanpa menjawab dan menanggapi ucapan Silvi.
"Su-dah. Sedang mandi di kamarnya."
"Kok kamu tahu, suamiku sedang mandi? Kamu ngintip?"
"Eng-gak, Bu. Tadi Pak Hardian minta disiapkan air hangat. Katanya badannya sedang tidak enak," ucap Silvi gugup.
"Masa? Bukannya pake water heater?"
Kali ini Cahya dapat menangkap sosok Silvi yang salah tingkah ketika dia kedapatan ditanyai tentang Hardian.
"Iya. Tapi_"
"Hai, Ya. Sudah pulang?" Hardian tiba-tiba muncul saat Silvi terlihat bingung menjawab tuduhan Cahya.
"Iya. Water heater mati, Mas? Kok Silvi bilang, kamu minta disiapkan air panas untuk mandi?"
Hardian menengok pada Silvi yang terlihat sudah pucat pasi.
__ADS_1
"Oh, i-ya. Yuk, ah! Mas sudah kangen sama kamu. Mas bikin semur ayam kesukaan kamu. Kita makan yuk, pasti kamu lapar," ucap Hardian merangkul Cahya membuat Silvi cemburu.
Cahya hanya tersenyum melihat tingkah dan wajah kedua orang di depannya itu. Mereka bahkanterlihat salah tingkah karena kedapatan melakukan kejanggalan dan kecurigaan pada Cahya.