Kugugat Suami Setelah Dipoligami

Kugugat Suami Setelah Dipoligami
Surat peringatan


__ADS_3

"Jadi, ini istri kamu?" tanya Hasbi saat melihat Hardian masuk ke ruangannya bersama dengan Silvia.


"Ya, Pak. Jadi ada hal apa Pak Hasbi memanggil kami untuk datang ke kantor? Apa ada hal serius yang ingin dibicarakan pada kami?" tanya Hardian was-was.


"Tentu. Mana istrimu yang lain?" tanya Hasbi setengah menuduh.


"Nggak ada, Pak. Saya istri satu-satunya," sahut Silvia tak terima ditanyai mengenai keberadaan Cahya.


"Yang ini, siapa?" tanya Hasbi menunjukkan sebuah foto di ponselnya. Foto yang ia dapatkan dari pesan yang dikirim Cahya padanya tempo hari.


Hardian dan Silvi terkejut melihat ada foto Cahya dan Hardian saat sedang menikah dahulu. "Bapak dapat dari mana?" tanya Hasbi.


"Dari mana saya dapat, itu tidak penting. Yang penting sekarang, saya ingin mengklarifikasi. Apakah informasi ini betul atau tidak, jika kamu sudah menikah lagi tanpa sepengetahuan istrimu ini?" tunjuk Hasbi pada foto yang masih jelas ada di ponselnya.


Sebenarnya bukan tipe Hasbi yang ingin mencampuri urusan orang lain, namun masalah Hardian dan istrinya berpengaruh dengan kinerja Hardian beberapa bulan belakangan. Sehingga ia merasa harus ikut turun tangan menyelesaikan masalah mereka.


"I-ya, Pak," jawab Hardian ragu.


"Kalau begitu, kamu saya beri surat peringatan untuk pertama kali ini sebagai bahan acuan kamu dalam bekerja. Jika kamu menunjukkan kinerja yang baik dan tidak ada masalah, maka kamu akan saya pertahankan. Namun Jika pekerjaan kamu terganggu dalam satu minggu ini, maka saya akan memecat kamu dan membiarkan kamu keluar dari perusahaan saya ini," ucap Hasbi tegas.


"Baik, Pak. Saya akan menunjukkan kinerja yang baik dan memang selama ini, saya selalu bekerja dengan sungguh-sungguh dan tidak pernah mau mengesampingkan pekerjaan. Bukan begitu?" tanya Hardian.


"Tidak pernah kamu bilang? Kamu mau minta cuti satu minggu dengan alasan keluargamu ada yang sakit, namun sebenarnya kamu sedang berbulan madu dengan dia, kan?" tanya Hasbi menunjuk Silvi yang ada di samping Hardian dengan dagunya.


"Bapak salah paham. Saya memang sedang menjenguk keluarga yang sakit dan kebetulan mengajak Silvi untuk membantu saya membawakan banyak barang. Begitu kan, Sil?" ucap Hardian mencoba meluruskan situasi sulit ini.


"Itu masalah kalian. Saya harap, tidak ada lagi kasus yang sama seperti ini dan menjadi masalah yang berkepanjangan. Jika kamu kedapatan melakukan kebohongan dan kecurangan di perusahaan ini maka bukan hanya pemecatan namun denda yang sangat banyak," ucap Hasbi.


"Siap, Pak."


Hardian kembali ke ruangannya. Sebelum itu, Silvi mengatakan harus segera pulang karena hanya meminta izin pada Cahya untuk ke pasar. Ia tak ingin Cahya curiga jika ia telah pergi ke kantor Hardian.


***


"Kok ke pasar lama banget, Sil?" berondong Cahya saat Silvi baru saja tiba di rumah setelah tadi izin dari luar.


"Maaf, Bu. Jalanan macet dan Silvi harus berjalan dengan pelan menuju pasar."

__ADS_1


"Jalan? Tapi kok kamu tidak berkeringat?" tanya Cahya menaruh curiga.


"Iya. Soalnya tadi Silvi agak tidak enak badan, jadi mau secapek apapun tidak akan berkeringat," kelit Silvi.


"Kamu sakit benar-benar kasihan sekali. Coba lihat!" Cahya mengulurkan tangannya hendak menyentuh kening Silvia. Namun, Silvia menghindar.


"Silvi sudah enakan, Bu. Hanya butuh istirahat. Boleh Silvi ke kamar?" tanya Silvi grogi. Ia seperti sedang dalam fase diintimidasi oleh Cahya yang mengkhawatirkan. Silvi hendak beranjak, namun tangan Silvi dicegat oleh Cahya.


"Tunggu!"


Cahya memperhatikan wajah Silvi yang tampak lain. "Kamu habis berhias?" tanya Cahya. "Habis dari mana?"


"Apa ... ini? Oh, ini. Bukannya dari tadi Silvia berangkat, sudah begini?" tanya Silvia bertambah takut.


"Masa?"


Wajah curiga Cahya, membuat Silvia semakin bergetar tak karuan.


"I-Ya. Ya sudah. Silvi ke dalam dulu. Mau masak," ucap Silvia.


"Masak? Lihat! Jam berapa. ART apa yang masak pukul 9 siang, hm? Makanan sudah beres. Kalau mau makan, beli saja. Jangan makan makanan yang saya bikin. Itu khusus buat saya dan suami. Kamu nggak usah masak lagi, boros!" seru Cahya.


"Bereskan semua rumah ini, tapi ingat! Jangan bereskan kamar saya. Berani masuk, kamu saya pecat!!"


Kali ini Cahya berbicara dengan penuh penekanan, agar Silvia merasa sedikit risau tinggal di rumah itu. Cahya bahkan sampai tak habis pikir, kenapa ia harus dipertemukan dengan kondisi yang rumit seperti ini. Jika Silvia ini selingkuhan suaminya, pasti sudah jauh-jauh hari ia depak karena itu adalah dosa besar. Jika Silvia, dia sama-sama istri hanya bedanya dia istri sah secara hukum negara dan agama, sedang Silvia hanya sah sebatas hukum agama. Bagaimanapun itu, ia memang harus berpikir realistis agar tidak kehilangan semuanya.


Silvi masuk ke kamarnya, setelah membersihkan seluruh kamarnya. Ia Sama sekali belum sarapan, membuat tubuhnya lemah karena menahan lapar. Dia mengirimkan pesan pada Hardian dan berniat mengadukan sikap Cahya padanya.


"Mas. Aku lapar!" lapor Silvi.


Tak ada balasan dari Hardian, membuat Silvia menelponnya. Panggilannya juga tidak diangkat, membuat Silvia benar-benar kesal akan perbuatan suaminya itu.


"Kemana sih, kamu, Mas. Tahu gini kan tadi aku mampir dulu ke warung nasi. Mana malas keluar, panas. Huh!" keluh Silvia dalam hati. "Awas aja, Cahya. Akan aku balas kamu!"


Silvia beringsut turun dari tempatnya duduk. Ia ingin membeli apapun di luar untuk mengisi perutnya yang kosong. Sungguh, larangan Cahya untuk makan di rumah sangat menyiksanya.


"Udah kek anak tiri aja. Makan sampe dilarang-larang," gerutu Silvia sambil berjalan mencari warung nasi.

__ADS_1


***


Di balik kamar, Cahya tersenyum senang. Ternyata bermain-main dengan madu suaminya sangatlah menyenangkan. Melihat pesan Silvia yang tidak terbalas, sungguh membuatnya lega. Ia yakin suaminya sedang sibuk bekerja atau sibuk kena tegur bosnya.


Cahya mengirim pesan pada Rio, menanyakan hal apa yang sudah terjadi di sana. Rio segera membalas, karena Rio bukan pegawai inti di perusahaan itu.


Cahya : "Yo, suamiku masih di kantor?"


Rio : "Masih. Lembur keknya dia. Dikasih SP sama bos tadi."


Cahya : "Iyakah? Wah, pantas pesanku tak dibalasnya."


Rio : "Kenapa emang?'


Cahya : "Kagak. Hanya firasatku mengatakan jika Mas Hardian bakal dipecat dari kantor. Eh, tahunya hanya dikasih SP."


Rio : "Ya kagak semudah itu, Cahyadi. Suamimu itu cukup diperhitungkan jabatannya. Kinerjanya bagus selama ini, hanya akhir-akhir ini aja aneh. Makanya bos kasih SP buat peringatan."


Cahya : "Sejak kapan Cahyani jadi Cahyadi?"


Rio : "Sejak kamu bakat jadi istri yang tangguh dan mengerikan karena bisa mempertahankan madu di rumahmu."


Cahya : "Itu karena terpaksa, Go Rio Rio bin Anwar. Bentar lagi juga nggak bakal kek gitu konsepnya. Kamu lihat aja nanti, ya. Habis dia sama aku."


Rio : "Ih, ngeri! Dah, ah. Aku mau kerja lagi. Ganggu aja.


Cahya : "Hehehe, thanks ya. Infonya. Good Job."


Cahya memasukkan ponselnya ke dalam saku dan dia melihat ke layar monitor, bagaimana Silvi makan dengan lahapnya di dalam kamar.


"Itu belum seberapa, Sil. Kamu berani masuk kandang singa, siap-siap kamu habis dilahapnya!" batin Cahya.


Bukan tipe Cahya wanita yang kejam, tetapi sekali ia disakiti maka ia akan balas dengan kecerdikan. Sebagai sarjana jurusan bisnis management, Cahya juga pandai memperhitungkan keuangan. Meski skillnya belum bisa terlampiaskan setelah menikah, setidaknya ia punya usaha yang dikelola sendiri olehnya.


Prinsipnya, wanita memang butuh mandiri dan punya bekal jaga-jaga kalau ada hal yang tidak diinginkan terjadi. Tidak terlalu monoton mengharap penghasilan suami, karena sebaik-baiknya suami pasti ada di mana diri itu berada di fase bosan dan ingin mencoba yang lain.


Maklum, tentu saja. Namun, kalau sampai berhubungan badan dan hingga menikah seperti kasus yang sedang Silvi dan Hardian alami , Cahya tidak bisa terima. Ia tidak akan memakai bekas orang lain, termasuk suaminya yang sedari awal tidak jujur akan pernikahan sirinya dengan Silvia.

__ADS_1


'Sebaik-baiknya suami, adalah yang bisa menjaga hati istrinya. Kejujuran, inti dari kebahagiaan berkeluarga. Sekali saja berani berbohong, maka kebohongan lainnya juga akan tercipta dan bisa jadi, menciptakan percikan api yang bisa kapan saja meledak seiring berjalannya waktu.'


__ADS_2