Kugugat Suami Setelah Dipoligami

Kugugat Suami Setelah Dipoligami
sia-sia


__ADS_3

...20...


"Mbak, bisa ketemu sama Cahya?" tanya Hardian pada Mentari yang kala itu sedang mengurus loundrynya hari ini.


"Siapa ya?" tanya Mentari pura-pura tidak mengingat Hardian.


"Saya Hardian. Bisa ketemu Cahya?"


"Oh, Bu Cahya sudah pergi, Mas. Dia sudah tidak mengurus loundry ini. Katanya, beliau sudah memiliki pekerjaan baru yang lebih menjanjikan."


"Betulkah?" Terlihat Hardian kaget mendengarkan apa yang Mentari ucapkan tadi.


"Iya. Laundry ini sudah dijual kepada bos saya yang orang tajir melintir. Pemilik PT ... PT apa ya? Pokoknya PT yang gedungnya tinggi itu. Lupa namanya," dusta Mentari.


Sebenarnya Mentari hanya menutupi keberadaan Cahya yang kini tinggal di rumah milik Hasbi. Mentari sudah diminta Cahya untuk mengatakan hal ini Jika Hardian datang ke tempat laundry-nya.


"Punya nomer ponselnya?" tanya Hardian.


"Nomor ponselnya Masih yang lama kok, Pak."


"Nggak bisa saya hubungi. Coba kamu yang hubungi, saya mau ngomong sebentar."


"Maaf, Pak. Saya sibuk! Bapak coba saja hubungi sendiri. Misal nggak bisa, itu artinya nomer Bapak diblokir. Mungkin Bapak sudah membuat kesalahan sehingga Bu Cahya yang merupakan wanita sabar itu marah. Permisi," pamit Mentari masuk ke dalam dan meminta kekasihnya untuk gantian di depan.


Hardian merasa frustasi dan dia segera kembali ke dalam mobilnya dengan wajah yang kesal. Ia akan mengunjungi rumah sang ibu untuk menanyakan hasil uang dari kontrakan yang sudah dikelola oleh ibunya itu. Setidaknya mendengar penjelasan laba yang dihasilkan dari kontrakan, akan ada sedikit kelegaan dalam hatinya dalam memperoleh pendapatan untuk biaya makan dan persalinan sembari ia mencari pekerjaan yang lain.


Hardian melajukan mobilnya dengan perlahan menuju rumah Martha. Wanita yang kala itu sedang menyapu halaman tampak terkejut dengan kedatangan Hardian yang tiba-tiba.

__ADS_1


"Assalamualaikum, Bu."


"Waalaikumsalam. Dari mana? Tumben," tanya Marta.


"Dari rumah. Tadi mampir ke tempat usahanya Cahya dulu. Tapi kata pegawai yang bekerja di sana, laundry itu sudah dijual oleh Cahya."


"Masa? Kok dijual begitu saja tanpa meminta persetujuan darimu? Itu laundry kan juga usaha yang kamu rintis dengan uang yang kamu berikan pada Cahya, bukan? Gak Bisa dong, dia menjual tanpa memberikan berapa persen pun padamu," sergah Marta terpancing emosi.


"Entah. Saat Hardian mencoba menghubungi Cahya nomornya sudah tidak aktif dan sepertinya nomor Hardian yang sudah diblokir oleh Cahya."


"Dari awal juga Ibu sudah feeling kalau Cahya pasti akan menjual itu laundry. Kamu sih kurang cepet dan tegas waktu pembagian harta gono gini di persidangan. Maka jadi dia meminta usaha laundry itu," omel Marta. "Sekarang sudah dijual oleh Cahya, kamu baru merasa menyesalinya."


Marta yang tampak emosi itu segera masuk dalam rumah dan membuat Hardian mengikutinya masuk karena ia juga tidak ingin membuat keributan di depan rumah sang ibu.


"Kopi, Bu," pinta Hardian.


Hardian akhirnya beranjak dengan langkah yang malas. Dia pergi ke belakang untuk membuat kopi, yang seharusnya ia dapatkan. Sedari pagi belum Hardian teguk karena Silvi yang tidak mau membuatkannya kopi.


"Ah ... kopinya mantap," ucap Hardian.


"Memangnya Selvia tidak membuatkan kamu kopi? Kayak udah bertahun-tahun aja nggak buat kopi," tanya Marta.


"Biarlah, Bu. Hm, Silvia itu kan lagi hamil, pasti bawaannya mager."


"Mager? Halah Itu hanya alasan istri mudamu saja. Kenapa Ibu akhir-akhir ini merasa jika istrimu itu terlihat sangat menyebalkan. Setelah menikahimu terlihat sekali sikap barbarnya dan tidak menghormati Ibu sama sekali. Ibu Jadi menyesal sudah mau restui kamu menikahi Silvia."


"Nggak papa, Bu. Hardian hanya melakukan ini sebagai rasa tanggung jawab Hardian karena sudah menghamili Silvia. Setelah anak itu lahir, Hardian akan membuatnya menjadi janda dan ibu bisa mempunyai kesibukan baru mengasuh cucu Ibu nanti," ucap Hardian.

__ADS_1


"Intinya kamu sudah tidak cinta pada Silvi? Lalu buat apa kamu menceraikan Cahya?" Marta tampak emosi dan marah. Ia tidak habis pikir dengan apa yang Hardian pikirkan mengenai perceraiannya dengan Cahya dan memilih hidup dengan Silvi yang tidak mempunyai tata krama yang baik terhadap dirinya yang merupakan orang tua seperti dirinya.


"Hardian mana tahu kalau semuanya akan menjadi seperti ini. Awalnya Hardian pikir Cahya akan takut ketika Hardian bentak dan mintanya untuk tidak datang sementara waktu ke rumah. Sebenarnya Hardian hanya ingin membuat Cahya berpikir bahwa suaminya ini harus benar-benar dihormati dan dihargai sebagai kepala rumah tangga. Apa susahnya menerima pernikahan sementara antara Hardian dan Silvi? Hardian sudah yakin dia mengerti, karena setelah mengatakan hal itu, Cahya terlihat fine fine aja. Hardian sudah menjelaskan dari awal bahwasanya anak Silvia nanti akan Cahya asuh. Tapi kenyataannya dia malah memikirkan ucapan Hardian secara serius dan mengajukan perceraian kita, tanpa Hardian minta" ucap Hardian pasrah.


"Pasti kamu membuat Cahya curiga mengenai hubungan kamu dengan Silva di rumah kamu itu. Kamu terlalu bodoh membuang Cahya. Dia itu istri yang penurut dan mudah kamu mintai bantuan ini dan itu."


"Kok jadi Hardian yang disalahin? Selama ini Ibu juga mendukung kedekatan Haridan dengan Silvia. Ibu juga tidak keberatan saat Hardian berpisah dari Cahya. Kenapa jadi berbalik seperti ini?" tanya Hardian heran.


"Ya, karena Ibu baru tahu sikap asli Silvia setelah menikah. akunya Ibu nggak mau tahu kontrakan yang sudah Ibu kalau tidak boleh diganggu gugat oleh siapapun termasuk kamu dan Silvia. Itu adalah satu-satunya penghasilan ibu untuk bisa bertahan hidup dan makan. Kamu masih sehat dan gagah. Takkan pernah susah mendapatkan pekerjaan dan juga kehidupan yang lebih layak diluar sana," terang Marta cara membuat pikiran dari yang benar-benar buntu.


"Masalahnya ... Hardian Sudah dipecat dari pekerjaan Hardian yang sekarang dan selama Hardian mencari pekerjaan yang baru, Hardian meminta bantuan Ibu. Hardian tidak mempunyai tabungan sama sekali dan ingin meminta ibu bersama sampai nanti Hardian yang mendapatkan uang kembali untuk menghidupi kehidupan Hardian dan anak istri."


Marta sedikit enggan untuk mendengarkan keluhan anaknya itu, namun akan terkesan terlalu pelit jika ia membiarkan anaknya tidak makan dan juga kelaparan sedangkan dirinya ada kelebihan uang hanya untuk sekedar makan. Mengingat Hardian ikut menjadi penopang kehidupan selama ini. Sebenarnya Martha tidak mendukung langkah Cahya dalam menceraikan Hardian. Karena bagaimanapun Cahya merupakan mantu yang cukup rajin dan juga pengertian. Kesalahannya hanya satu yaitu belum juga memiliki keturunan sehingga pernikahan yang 7 tahun dengan Herdian terasa hambar. Marta hanya bisa pasrah saat Hardian meminta kelancaran saat sidang perceraian dengan Cahya, sehingga ia juga harus mengiyakan keinginan Hardian untuk bercerai meskipun dalam hatinya mengatakan masih memberatkan posisi Cahya di dalam keluarganya.


"Kamu mau lamar kerja di mana?" tanya Marta.


"Nggak tahu nanti Hardian belum menyiapkan berkas untuk melamar pekerjaan di manapun. Nanti saja sepulang dari sini sekalian Hardian menyiapkan semua file yang dibutuhkan untuk melamar pekerjaan," ucap Hardian santai.


"Pasti nggak akan susah untukmu mendapatkan pekerjaan. Kamu ini kan sarjana dan pasti banyak perusahaan yang membutuhkan tenaga dan otakmu untuk bekerja ekstra. Ibu mendidikmu dari kecil untuk kuat dan juga pekerja keras," ucap Marta menyemangati.


"Doakan saja semoga Hardian mendapatkan pekerjaan yang lebih tinggi jabatannya daripada pekerjaan Hardian yang kemarin. Lagian Hardian juga ingin merefresh otak dari perusahaan milik Pak Hasbi yang memiliki peraturan ketat dilarang menikahi wanita dari satu istri."


"Aneh sekali ada perusahaan memiliki peraturan seperti itu. Itu artinya dia sudah menyalahkan kebaikan yang sudah diajarkan. Menikah lebih dari satu istri juga diperbolehkan, terlebih alasan kamu menikahi Silvi karena memang Cahya tidak bisa memberimu keturunan. Seharusnya ini sebagai ladang pahala bagi Cahya dan juga bosmu sendiri karena sudah membuat banyak ibadah dilakukan di dalam sistem kekeluargaan yang kamu bina itu," ucap Marta membenarkan sikap Hardian.


"Entahlah Hardian juga tidak tahu dengan jalan pikiran Pak Hasbi. terlebih kemarin Hardian mendapati Cahya yang sedang makan-makan setelah sidang perceraian diputuskan. Hardian merasa Jika Cahya senang bercerai dengan Hardian dan dia memiliki misi untuk menghancurkan karir Hardian di kantor. Selama ini Hardian yang tidak pernah melakukan kesalahan apapun," sangkal Hardian menunjukkan kebaikan dan juga keburukan Cahya yang sama sekali tidak ada betulnya.


"Itulah. Pantas saja Tuhan memudahkan jalan perceraian kamu dan Cahya. Setelah ibu pikir-pikir itu artinya kamu tidak salah sudah bercerai dengan Cahya. Dia bukan istri yang sholehah yang bisa dengan tabah menerima pernikahan keduamu itu," ucap Marta.

__ADS_1


Hardian mengangguk setuju pernyataan yang Marta ucapkan. meski dalam hatinya masih sangat berat menerima perceraiannya dengan Cahya setelah tahu bagaimana sikap Silvia dalam melayaninya ketika di rumah. Bahkan setelah mendengar ia tidak bisa lagi bekerja, Silvia tidak mau lagi membuat dirinya bahagia dengan pelayanan yang biasa Silvia tawarkan saat ia masih menjadi suami Cahya. Benar-benar Hardian tidak habis pikir dengan jalan pikiran Silvia yang seakan-akan sudah meremehkan kerja kerasnya.


__ADS_2