Kugugat Suami Setelah Dipoligami

Kugugat Suami Setelah Dipoligami
CCTV


__ADS_3

Semua sudah beres, kamera CCTV sudah terpasang dan Cahya juga menunggu suami dan ART nya pulang.


"Mas, Cahya lagi gak di rumah. semalam sayang ini di rumah Bude Ilyas di Kemang. Kemungkinan pulangnya lusa, Mas masih lama nggak pulangnya?" tanya Cahya.


"Yah, padahal Mas niatnya pulang hari ini. Tapi ya nggak apa deh. Silvi dah balik mudik belum?"


"Kayaknya belum. Kemarin sih, dia bilang hari ini."


"Oh, baiklah. Mas akan usahakan pulang secepatnya. Kamu juga, jangan lama-lama di sana. Mas besok mulai kerja lagi. Dah lama minta cutinya."


"Ok," jawab Cahya singkat.


Semua rencananya tidak boleh ada yang gagal. Ia harus memastikan kalau suaminya pulang hari ini terlebih dahulu sebelum ia pulang dari rumah sahabatnya. Ia kemudian mengirim pesan pada Silvi dan menanyakan perihal kepulangannya kembali ke rumah.


"Sore, Bu. Tumben nelpon? Nggak kirim pesan kayak biasanya," tanya Silvia.


"Nggak. Kamu di mana, Sil?" tanya Cahya memastikan.


"Saya masih di kampung, Bu. Kenapa?"


"Oalah. Sayang sekali. Bukannya izin liburnya tujuh hari?"


"Hehehe, Iya, Bu. Nanti saya pulang."


Ibarat kata peribahasa, gayung bersambut dua tiga pulau terlampaui. Berharap bersama Rio dan Melati, awalnya sudah berjalan dengan lancar.


Cahya bersiap untuk pergi dari rumah terlebih dahulu dan menunggu dari rumah sahabatnya, apakah keduanya akan pulang bersama nanti.


Benar saja, malam hari keduanya pulang bersama. Cahya semakin geram karena melihat keduanya yang saling merangkul dan tertawa bahagia.

__ADS_1


"Gila suami Lo, Ya. Nekat bener bawa pacar ke rumahnya," ujar Mentari.


Cahya tak menanggapi. Ia fokus melihat gerak-gerik suaminya dan juga Silvi--art yang sekaligus jadi selingkuhan suaminya.


Keduanya masuk ke dalam rumah dan Hardian mengantar Silvi masuk ke dalam kamar miliknya. Cahya kembali dibuat meradang, saat melihat Hardian yang mencium kening Silvi sebelum meninggalkan kamar itu.


"Lo mau pulang sekarang atau nunggu ada banyak bukti?" tanya Melati.


"Kita akan tunggu satu atau dua hari. Kita akan benar-benar melihat apa yang mereka lakukan jika tidak ada aku di sana," ucap Cahya lirih.


Sebagai sahabat, Mentari sangat prihatin dengan hasil pernikahan sahabatnya itu. Bahkan ia tahu perjuangan saya dalam membantu keuangan dan perekonomian keluarga Hardian.


****


Malam hari selepas Hardian pulang dari kerja, Silvi menyambutnya layaknya istri sesungguhnya. Hardian mencium kening Silvi dan mengusap perut Silvi membuat Cahya benar-benar terpukul. Ia berpikir jika alasannya Hardian mendekati Silvi adalah karena sampai sekarang ia juga belum diberikan keturunan.


"Biar nggak ngantuk," ucap Silvi mendayu dan membuat Hardian memeluk pinggang Silvi dan tersenyum.


"Thanks ya. Jangan masuk ke kamar ini. Takutnya Cahya pulang dan liat kamu ada di sini."


"Mas ngusir aku?" sungut Silvia. Namun ini hanya triknya untuk membuat Hardian membujuk dan merayunya.


Hardian yang merasa tak enak dan memilih mendudukan Silvia dia pangkuannya. Cahya yang mengawasi dari jauh, merasa tak nyaman dengan pemandangan itu.


"Gimana? Mau kita grebeg?" tanya Mentari yang juga ikut geram melihat kelakuan suami Cahya itu.


"Kita lihat aja dulu. Perihal apa yang hendak mereka lakukan, ini akan menjadi bukti yang memalukan," ucap Cahya menyeringai.


Kembali ia melihat adegan demi adegan Silvi, yang tampak sedang menggoda suaminya yang bekerja lembur di rumahnya.

__ADS_1


"Mas, Cahya pulang kapan katanya?" tanya Silvi.


"Besok katanya. Kenapa?" tanya Hardian.


"Yah. Harus jadi babu lagi deh. Mas, bisa nggak sih, kamu jelasin aja ke Cahya kalau kita dah nikah dan ini anak kamu? Biar dia tahu dan Nerima dengan lapang, kalau aku ini madunya," bujuk Silvi.


Cahya dan Mentari terkejut mendengarnya. Ini sungguh di luar ekspektasinya yang tadinya Cahya kira adalah hubungan kekasih gelap. Ternyata keduanya sudah menikah tanpa sepengetahuannya.


"Mana bisa? Itu sama saja bunuh diri, Sil. Kamu kan yang minta agar kita bisa memiliki buah cinta tanpa merusak hubungan yang sudah Mas jalin dengan Cahya? Lagian, Mas masih mencintainya juga. Kamu gak boleh kayak gitu. Bagaimanapun, kamu tetap istri Mas. Jadi nggak usah ngiri sama Cahya. Kalian sama di mata Mas," ucap Hardian.


"Nggak! Silvi maunya ada pengakuan dari Mas pada teman-teman Mas di kantor, di dalam keluarga. Ya?"


Hardian menghadapkan wajah Silvi ke arahnya. Sungguh, percakapan dengan Silvi membuatnya tak fokus bekerja.


"Sayang, Mas itu bingung kalau mengahadapi Cahya jika nanti dia tahu kamu istri Mas juga. Untuk saat ini, bersabarlah. Nanti pelan-pelan akan Mas jelaskan padanya. Pasti dia mengerti, ya? Mas lagi kerja. Nanti Mas tidur di kamar kamu, ya?"


"Janji?"


"Ya."


"Tapi jangan lama-lama kerjanya. Nanti Silvi keburu tidur."


"Ya, Sayang. Bawel ih!" jawab Hardian sambil mencium pipi Silvi yang sudah bersemu.


Silvi tersenyum setelah mendengar janji Hardian yang hendak tidur di kamarnya. Ia melenggang pergi dengan perasaan senang, sedangkan Cahya di sana masih menahan dada yang bergetar karena melihat percakapan Hardian bersama Silvi di kamarnya.


"Kita akan grebeg nanti?" tanya Mentari lagi.


*Bersambung .... hehehe

__ADS_1


__ADS_2