Kugugat Suami Setelah Dipoligami

Kugugat Suami Setelah Dipoligami
Thanks


__ADS_3

"Terimakasih atas bantuannya, Pak Hasbi. Maaf, saya tidak sengaja melibatkan Bapak dalam hal ini," ucap Cahya saat keduanya keluar cafe.


"Kamu seharusnya berterimakasih kepada Tuhan karena memberikan nasib baik padamu. Beruntung teman saya urungkan datang, jika tidak kamu tidak akan mendapatkan keberuntungan dengan saya," ucap Hasbi dingin.


Lelaki yang berstatus bosnya itu, Cahya benar-benar tidak mengenalnya karena setiap ada pekerjaan atau pesta di kantor, Cahya tidak pernah diminta untuk ikut.


"Baiklah, Pak. Sekali lagi, thanks. Semoga besok Bapak bisa membantu saya sekali lagi," ucap Cahya menyeringai.


"Itulah alasan saya benci wanita. Dikasih hati, minta jantung," omel Hasbi yang kemudian masuk ke dalam mobilnya.


Cahya melambaikan tangan ke arah mobil yang sudah melesat pergi. Ia harus gegas pulang sebelum suami dan ART nya pulang ke rumah.


Dengan langkah seribu jalan, Cahya sampai di rumah dan langsung berganti baju biasa.


Bel rumah berbunyi dan Cahya yang memang sudah tahu mereka dari mana, pura-pura kaget.


"Assalamualaikum, Ya," salam Hardian lemas.


"Waalaikumsalam. Kenapa Mas? Loh, kok bareng sama Silvi?" tanya Cahya.


"Iya. Mas lelah, mau mandi dulu dan setelah itu Mas mau langsung tidur," jawab Hardian yang langsung masuk ke dalam rumah.


"Kamu lama sekali, Sil. Mana obatnya?" tanya Silvi.


"Anu, Bu, tadi ngantri. Ini obatnya ada di saku. Saya permisi," pamit Silvi.


Batin Cahya mengumpat. Mengetahui sikap keduanya, ia semakin benci pada sosok Hardian maupun Silvi.


"Kayaknya pucat banget, Mas. Lagi ada masalah kantor?" tanya Cahya mencoba memancing agar Hardian bercerita mengenai hal tadi.


"Nggak apa. Mas hanya kecapean aja."


"Cahya pijitin ya?"


Meski dalam hatinya mengatakan jika ia muak dengan drama ini, tetapi ia harus bersikap wajar agar suaminya itu tidak menaruh curiga padanya.


"Ya."

__ADS_1


Sambil memijit, Cahya memikirkan pertanyaan apa yang hendak ia lontarkan. Ia benar-benar ingin tahu apa yang sudah terjadi pada suaminya di kantor tadi.


"Mas. Kerjaan gimana? Lancar?" tanya Cahya.


"Alhamdulillah," jawab Hardian sambil terpejam. Menikmati pijitan di kaki oleh Cahya yang menurutnya sangat membantu meredakan rasa pusingnya.


"Syukurlah. Besok Mas sibuk?"


"Kenapa?"


"Enggak. Tanya aja, hehehe."


Cahya sedikit kesal karena Hardian tidak mau bercerita padanya mengenai hal tadi.


"Mas."


Hardian Sudah tidak menanggapi ucapan Cahya dan membuat Cahya akhirnya menyudahi pijitannya dan beranjak dari kasur karena suaminya itu sudah tertidur pulas.


Cahya berjalan ke dapur untuk menyimpan makan malam yang urung dimakan Hardian.


"Loh, lagi ngapain, Sil?" tanya Cahya yang kaget saat melihat Silvi sedang melakukan sesuatu di dapur.


Dahi Cahya berkerut. Semakin hari asistennya itu semakin berani untuk mendekati suaminya. Hal itu membuat Cahya semakin yakin untuk mempersiapkan semuanya agar tidak salah langkah dan bisa memberikan pelajaran bagi keduanya.


"Baik sekali dirimu? Saya yang istrinya saja tidak diberitahu kalau beliau sedang tidak enak badan," ketus Cahya.


"Hanya kebetulan saja, Bu, jadi kita bertemu saat kita pulang dan saya menanyakan Kenapa wajah Pak Hardian begitu pucat dan beliau bilang sedang tidak enak badan. Jadi saya berpikiran untuk membuatkan jamu untuknya. silakan kalau ibu yang mau memberikannya," ucap Silvi memberikan secangkir jamu yang masih mengeluarkan asap itu.


"Tidak perlu, karena mas Hardian sudah tidur Setelah saya pijat tadi. Sepertinya dia terlalu nyaman sehingga begitu saya pijat dan urut, beliau langsung terpejam. Mas Hardian itu memang sedikit unik, dipijat oleh saya dia langsung klepek-klepek. Kamu tahu nggak? Soalnya saya mijitnya pakai pijat plus-plus, nggak kerasa deh kalau udah selesai. Begitu selesai dia langsung tidur," ucap Cahya sengaja memanas-manasi.


"Syukurlah. Silvia senang mendengarnya. Kalau begitu, ini jamu buat Ibu aja."


"Oh, saya nggak minum jamu seperti itu. Soalnya saya lagi program hamil, jadi tidak meminum jahe yang panas dan juga tidak baik untuk saya ini," tolak Cahya.


" Oh, baiklah."


Cahya melihat ada sedikit rasa kesal dari sorot mata asistennya, akan penolakan yang ia lakukan. namun ia sengaja melakukannya dan berhasil membuat asistennya itu tahu diri dan tahu jabatan dan kedudukannya di rumah ini. Berani menjadi madu, maka dia harus siap diberikan racun oleh sang ratu.

__ADS_1


Cahya segera masuk kembali ke dalam kamar setelah meminta Silvia untuk membereskan semua makan malam di meja. Ia akan beristirahat dan membereskan kembali sisa-sisa masalah yang tersisa di rumah ini.


***


Agenda rutin setiap pagi yang Cahya lakukan adalah mengecek ponselnya dan melihat Apa yang dilakukan suaminya jika tengah malam. Dan untuk malam ini suaminya memang benar-benar tertidur semoga pagi dan tidak mendatangi kamar Silvia. Ada kelegaan pada diri Cahya saat melihat hal ini.


"Tumben sepagi ini sudah mandi, Mas?" tanya Silvia.


"Mas ada meeting di kantor. Jika datang terlambat nantinya, Mas bisa dipecat gara-gara ini," ucap Hardian.


"Baiklah kalau begitu Cahya akan cek makanan di dapur. Apakah sarapan sudah siap atau belum," ucap Cahya.


"Tidak perlu sarapan, Mas buru-buru kali ini."


Hardian mencium kening Cahya sebelum pergi dan pamit untuk ke kantor. Cahya mengantar suaminya sampai ke depan pintu.


"Bu. Silvia mau buang sampah dulu di depan. Sekalian nanti Silvia mampir ke pasar dekat komplek untuk membeli bumbu dapur yang masih kurang."


"Emang stok di kulkas sudah habis?" tanya Cahya.


"Sudah habis, makanya ini sekalian Silvia mampir untuk membeli sayuran segar dan juga bumbu dapur yang habis itu. Boleh?"


"Silahkan."


Silvia sangat senang mendengar izin yang Cahya ucapkan untuknya pergi. Sedangkan Cahya sudah yakin jika Silvia akan datang ke kantor dia untuk menemui bosnya yang tadi malam sudah membantu. Begitu Silvia pergi, Cahya mengirim pesan pada Rio agar memastikan benar atau tidaknya Hardian dan Silvia berangkat bersama.


Sambil menunggu balasan dari Rio, Cahya gegas ke kamar untuk membereskan beberapa dokumen yang nantinya akan diperlukan untuk membuat pelajaran pada Hardian dan Silvi, jika apa yang dimiliki suaminya adalah haknya. Surat dan beberapa aset berharga lainnya, Cahya amankan untuk antisipasi jika sewaktu-waktu iya ditinggalkan Hardian begitu saja dan memilih madu daripada dirinya yang sudah jelas-jelas membantunya dari nol hingga memiliki deretan kontrakan yang nilainya puluhan juta itu.


Satu jam sudah ia mempersiapkan dokumen untuk dia bawa pergi dari rumah itu, dan pesan dari Rio masuk ke dalam ponselnya.


'Gila, madu suami kamu cantik bener.'


Rio mengirimkan gambar Silvi yang di make up total dengan memakai dress yang cukup membuat pangling dirinya saat melihat foto yang dikirimkan Rio padanya.


'Baru sampai si ulet bulu? Pantau saja, selepas ini kita bisa liburan ke Bali,' balas Cahya.


"Yes, jangan bohong ye. Kutunggu jandamu. Eh, salah. Kutunggu janjimu, hehehe," balas Rio dengan emoticon tersenyum lebar.

__ADS_1


Cahya meletakkan ponselnya kembali setelah membalas pesan Rio yang terakhir dan memesan taksi online. Ia akan mengamankan surat berharganya pada orang yang tepat. Dan Cahya akan berusaha untuk tidak membuat hadiah curiga bahwa semua surat berharganya ada padanya.


__ADS_2