
Rencananya Cahya hari ini akan ke rumah sang ibu. Ia ingin mengadukan perbuatan Hardian pada sang ibu yang selalu saja membanggakan suaminya itu di depan banyak orang. Saya berharap sang Ibu bisa membantunya untuk memudahkan urusannya dalam membongkar kejahatan Hardian.
"Assalamualaikum," salam Cahya.
Gayatri yang sedang memasak di dapur, terkejut dengan kedatangan putrinya yang tiba-tiba. Gayatri tinggal di lain kota, sehingga jarang datang untuk menemui Cahya.
"Waalaikumsalam. Ya? Tumben datang ke rumah lbu?" tanya Gayatri antusias.
Cahya meraih tangan sang Ibu lalu menciumnya takzim. "Iya. Cahya sengaja datang untuk menengok keadaan Ibu. Ibu sehat? Lama tidak berkunjung cahaya kira Ibu lupa sama anak sendiri," seloroh Cahya.
"Hehehe, maklum, Ya. Ibu akhir-akhir ini sibuk. Kamu tahu sendiri kan sebagai single mom, Ibu harus bisa menghidupi kedua adikmu juga yang masih kuliah dan SMA. Kamu gimana dengan Hardian? Sehat?'
"Alhamdulillah."
Gayatri mengajak cahaya untuk duduk di ruang makan. Seraya menyajikan sarapan, Cahya merasa perutnya begitu keroncongan begitu melihat makanan yang tersaji di depannya.
"Ibu yakin kamu datang ke sini tidak hanya untuk menjenguk ibu. Hayo, mau ngapain?" tebak Gayatri.
"Hm, ada deh. Kita sarapan dulu aja. Cahya belum sarapan dari rumah tadi, buru-buru datang ke sini sekalian bareng Mas Hardian berangkat ke kantor," ujar Cahya.
"Oh, kamu bareng Hardian mana kok tidak disuruh masuk?" tanya Gayatri.
"Tidak. Sengaja. Hari ini Cahya nginap, boleh?" tanya Cahya membuat dahi Gayatri berkerut.
"Kamu sedang berantem sama suamimu?" tanya Gayatri penuh selidik.
"Nggak juga. Kami baik-baik saja. Hanya ada sesuatu yang ingin saya bilang tapi nanti setelah sarapan saja. Gilang sama Lila mana, Bu?" tanya Cahya.
"Mereka kan sudah ngekos di tempat masing-masing. Gilang sekarang kuliah sambil kerja jadi jarang pulang. Kalau Lila, sengaja ikut kost bareng temennya biar hemat di ongkos bolak-balik."
"Oh."
Cahya dan Gayatri menyantap sarapan paginya meski sudah jam 08.00 tetapi Gayatri memang suka sarapan Jika pekerjaan rumahnya sudah selesai. Maka dari itu cahaya sengaja untuk tidak sarapan di rumah dan memilih sarapan di rumah ibunya.
Selepas makan, Cahya membersihkan semua sisa piring yang kotor lalu menunggu sang ibu yang sedang mandi di kamarnya dengan menonton TV dan memainkan ponselnya sambil memeriksa Apa yang sedang Silvi lakukan di rumahnya.
Nampaknya Silvi sedang berleha-leha di depan televisi sambil memakan beberapa camilan yang mungkin saja sengaja Hardian belikan saat pulang dari kantor. Ia sudah tidak sabar lagi dan ingin langsung memberikan pelajaran kepada Silvi yang sudah merebut suaminya.
"Betah nunggu, itu artinya Ada hal penting yang ingin kamu sampaikan. Betul?" tanya Gayatri.
"Hehehe. Lumayan, Bu."
Gayatri duduk di samping Cahya, kemudian mengecilkan suara televisi untuk mendengarkan apa yang hendak anaknya ucapkan.
"Kenapa?"
"Ini masalah Mas Hardian. Dia sudah menikah lagi tanpa seizin Cahya. bahkan dia sudah membawa wanita itu ke dalam rumah dan menjadikan wanita itu sebagai asisten rumah tangganya," ucap Cahya sendu.
__ADS_1
Wajah Gayatri setengah tidak percaya dengan apa yang Cahya ucapkan, karena selama ini Hardian sangatlah baik. Bahkan setiap bulan selalu mengirimkan uang untuk mengurangi beban sekolah Gilang dan Lila.
"Ah, masa? Ibu gak yakin ih. Selama ini harian sangat baik kok sama ibu dan adik-adikmu. Dia selalu memberikan jatah uang belanja bulanan Gilang dan Lila. Dia juga kemarin habis belikan Gilang motor," ucap Gayatri alot.
"Itu uang Cahya yang transfer, Bu. Sengaja Cahya berikan atas nama Mas Hardian biar Ibu merasa jika Mas Hardian memang bertanggung jawab dengan keluarga kita. Lagian, mana mungkin seorang pegawai bisa memberikan uang sebanyak itu setiap bulan?" ucap Cahya.
"Ya, mungkin saja. Kalau kamu yang kasih, kamu dapat uang dari mana? Bukannya kamu juga dapat uang dari Hardian?" tanya Gayatri.
"Cahya buka loundry, Bu di pusat kota. Mentari yang kelola. Ada dua cabang dan gaji bersih memang Cahya transfer ke Gilang atas nama Mas Hardian."
"Oalah. Bukannya suamimu punya usaha kontrakan?"
"Punya. Tapi dikelola sama mertua dan Cahya hanya diberi keuntungan 20%. Sisanya, mertua Cahya yang ambil."
Gayatri Masih saja aku dengan apa yang diucapkan anaknya namun ia mencoba untuk memahami kejujuran lewat mata anaknya.
"Apa kamu punya buktinya? Ibu takut kamu salah dan justru akan membahayakan hubunganmu dengan Hardian," ucap Gayatri ragu.
"Ada. Tapi Cahya yakin, Ibu pasti shock melihatnya."
"Lalu, apa yang hendak kamu tunjukan sama Ibu?"
Cahya mengeluarkan ponselnya. Dia menunjukkan video yang terlihat semua aktivitas di rumahnya.
"Mau lihat apa yang sudah Mas Hardian lakukan selama ini? Yakin, Ibu kuat?" ledek Cahya. Padahal dia sendiri yang sedang ketar ketir dan marah jika melihatnya. Cahya berpikir ibunya memang harus tahu, karena baik buruknya nanti, Ibunya juga akan terkena imbasnya. Mengingat selama ini, Gayatri mempercayai semua ucapan Hardian.
"Ya. Ibu dengar sendiri bukan? Mas Hardian sudah menikah secara siri dengan wanita itu dan mengaku asisten dengan Cahya. Bagaimana Ibu bayangkan hati Cahya sekarang?" tanya Cahya dengan wajah sendu.
"Maafkan Ibu, Cahya. Ibu sudah salah memilihkan suami buat kamu." Gayatri memeluk Cahya dengan erat seakan ia merasa bersalah karena telah menjodohkan anaknya itu dengan Hardian yang merupakan anak dari sahabat mendiang suaminya.
"Semua sudah jalannya. Cahya hanya butuh support Ibu, doakan Cahya kuat menjalani semua ini."
Gayatri beranjak. "Ayo kita ke rumahmu. Ibu ingin lihat, seperti apa madu suamimu itu."
"Tapi, Bu. Kita tunggu sore saja. Biar kita bisa lihat apa yang Mas Hardian lakukan jika Cahya tidak di rumah. Cahya akan kirim pesan untuk tidak pulang dan kita bisa grebek mereka, jika Ibu ingin lihat kenyataan dengan mata kepala sendiri."
"Apa sebaiknya kamu hubungi mertua kamu. Biar lihat apa yang anaknya itu lakukan."
Cahya nampak memikirkan ucapan ibunya dan ia mengirimkan pesan pada mertuanya untuk datang ke rumah Hardian sore nanti karena ibunya akan datang ke rumahnya. Terlihat centang satu dan ia berharap nanti mertuanya akan membuka pesan yang ia kirim.
Sore hari, Gayatri dan Cahya menaiki mobil yang sengaja ia sewa. Ia memang sudah bisa mengemudi mobil, hanya saja Hardian tak mengizinkan ia mengemudi sendiri. Takut hal buruk terjadi, terkesan perhatian memang. Maka dari itu, Cahya sangat mencintainya. Sayang, cintanya harus dibalas sesakit ini oleh suaminya sendiri.
Hati Cahya risau. Mungkin Ada hal buruk yang akan terjadi nanti. Karena dari video yang terlihat, Hardian baru saja pulang ke rumah.
"Tumben," batin Cahya.
Mobil terparkir dengan rapi di halaman rumah Cahya. Ia melihat mobil suaminya yang juga sudah pulang, sesuai dengan apa yang dilihatnya di layar monitor. Namun, ia tercekat saat hendak turun dan mengecek ponselnya. Ia melihat Hardian yang ada di kamar Silvia dan sedang memadu kasih.
__ADS_1
"Tunggu, Bu!" cegah Cahya saat Gayatri mau turun dari mobil.
"Kenapa?"
"Yakin mau masuk saat mereka sedang seperti ini?" ujar Cahya.
Wajah Gayatri merah padam. Ia segera turun dengan kasar dan Cahya mengikutinya. Ia membuka pintu rumah dengan kunci cadangan yang ia punya.
*****
Brak!
"Dasar set4n!!" umpat Gayatri--ibu Cahya.
"Ibu?!"
Hardian kaget saat melihat ada mertuanya yang tiba-tiba datang bersama istrinya--Cahya.
Cahya yang sudah tahu kelakuan suaminya sejak lama, akhirnya bisa tersenyum puas saat ia bisa menunjukan hasil penyelidikannya langsung pada sang ibu.
"Ini kelakuan kamu selama ini, Hardian?! Jauh-jauh Ibu datang hanya untuk menyaksikan kamu berkelakuan seperti binatang. Dasar mantu kurang ajar!' teriak Gayatri.
Silvia tampak ketakutan. Dia menutupi bagian tubuhnya yang terbuka dan Cahya mendekat ke arah Silvia.
Plak!
Plak!
Cahya melayangkan dua tamparan keras di pipi Silvia membuat Hardian segera menarik istrinya agar menjauh dari Silvia. Namun, gelora amarah yang memang sudah tertahan lama, seakan meledak saat melihat dan mendapati dengan mata terbuka, keduanya sedang memadu kasih. Bahkan ucapan Hardian yang mengajak Cahya keluar kamar, tak dihiraukannya.
"Kamu mau suamiku, hm? Rendahan sekali kamu menginginkan milik orang lain dengan cara busuk dan hina seperti ini. Kamu pikir, dengan menikahi secara diam-diam kamu bisa mendambakan kebahagiaan?" Cahya berkata setengah berteriak, setelah berhasil memergoki Silvia yang sedang berduaan di kamar bersama Hardian di dalam rumahnya.
"Kamu salah paham, Ya. Kami tidak melakukan apapun. Dia yang menggoda Mas dan meminta Mas menikahinya." Hardian yang masih menggunakan celana boxer dan sudah telan*Jang dada itu, menghiba. Namun, Cahya sudah terlanjur marah dengan suaminya yang sudah membohonginya.
"Sudah, Ya. Kamu jangan lagi berurusan dengan lelaki ini. Dia sangat tidak layak untuk wanita sebaik kamu. Ibu kira dia lelaki baik dan bertanggung jawab, ternyata Ini salah!" timpal Gayatri.
"Ibu. Kami tidak melakukan dosa. Silvi ini istri Hardian juga." Hardian mencoba membela diri. Cahya begitu kaget karena suaminya ternyata membela Silvia.
"Dan itu sama saja kamu sudah menyakiti hati anak Ibu. Sekarang, kamu pilih dia atau anak Ibu!'
Hardian kaget. "Tidak bisa, Hardian mencintai keduanya."
"Tidak usah diminta, Bu. Cahya yang akan menyerah. Biarkan saja mereka bahagia dengan dunia mereka. Kita pergi saja. Cahya sudah tidak ingin lelaki itu ada dalam hidup Cahya."
Cahya mengajak sang ibu keluar dari rumahnya sendiri.
"Pergilah! Jangan harap kamu akan dapatkan sepeserpun harta dari Mas, Ya. Aku haramkan rumah ini untuk kamu masuki!"
__ADS_1
Cahya tidak sedih, karena sebelum ia melakukan aksinya ia sudah mengamankan aset yang ia miliki dan dia akan menunggu kehancuran suaminya selepas memilih madunya.