Kugugat Suami Setelah Dipoligami

Kugugat Suami Setelah Dipoligami
obat tidur


__ADS_3

...5...


"Hari ini kamu pulang lebih awal lagi Mas?" tanya Cahya. "Kok tumben?"


Mendapati suaminya yang satu minggu ini selalu pulang lebih awal dan juga menikmati kebersamaannya bersama dengan Cahya, membuat Cahya merasa aneh.


"Ya gak awal banget kan? Ini baru jam 7 malam loh. Memang Kan kemarin habis keluar kota, jadi pekerjaan di kantor tidak begitu banyak karena sudah ada yang menghandle. Ya jadi Mas hanya mengeceknya saja dan setelah itu boleh pulang. Daripada di kantor nggak ada kerjaan kan mending sama kamu. Ya nggak?" ucap Hardian mengusap rambut Cahya yang bersandar di bahunya namun mata Hardian melirik ke arah Silvia yang ada tak jauh dari sana. Silvia amat kesal saat Hardian selalu bermesraan di depannya dan ia selalu melakukan kegiatan yang bisa menjauhkan keduanya.


Silvia memiliki ide untuk memberikan obat tidur untuk malam ini kepada Cahya agar ia bisa berduaan dengan Hardian tanpa harus terganggu oleh kemesraan Cahya bersama Hardian di kamar mereka. Silvia ingat jika ia memiliki stok obat tidur di kamarnya.


"Monggo, Bu Cahya. Silvia buatkan minuman hangat agar Bu Cahya dan Pak Hardian bisa semakin hangat. Ini namanya teh tarik rasa cinta buatan dari Silvia spesial buat Bu Cahya," ucap Silvia dengan senyum liciknya. Silvia menyodorkan gelas yang sudah ia masuki obat tidur dan memastikan cahaya benar-benar meminumnya malam ini.


"Terima kasih banyak Silvia, kamu benar-benar pengertian. Makan malam sudah disiapkan?" tanya Cahya.


"Sudah. Mau makan sekarang?" tanya Silvia.


"Nanti saja. Saya sama Mas Hardian mau salat isya dahulu, biar sekalian nanti habis makan terus tidur," jawab Cahya.


"Siap, Bu."


Cahya mengajak Hardian masuk ke dalam kamar untuk melakukan ibadah salat isya berjamaah, namun setelah salat Cahya merasa matanya sangat berat dan ia merasa sangat mengantuk.


"Mas, kok Cahya ngantuk banget ya? perasaan tadi siang sudah tidur."


"Mungkin kamu kelelahan, Ya. tadi kamu habis ke laundry-an mungkin? Jadinya tubuhnya capek perlu istirahat."

__ADS_1


Cahya menguap dan ia langsung melepas mukenanya dan naik ke atas ranjang. "Mas makan malam sendiri dulu ya? Cahya nggak kuat buat membuka mata, ngantuk banget."


Belum juga Hardian menjawabnya, Cahya sudah tertidur saat Hardian mendekat ke arah Cahya.


Akhirnya Hardian memilih untuk keluargamu dan menikmati makan malam sendiri.


"Kok sendiri? Bu Cahya mana?" tanya Silvia pura-pura tak tahu.


"Barusan tidur, aneh sekali katanya mau makan malam tapi ternyata saya ditinggal sendiri," gerundel Hardian.


"Mau Silvi temani, Mas?" tanya Silvi dengan genit.


"Boleh."


Silvia duduk di samping Hardian dan melayani Hardian layaknya seorang istri yang sedang melayani suaminya makan malam. Bahkan dengan sengaja Silvia merayu Hardian dengan menatapnya genit. Silvia senang karena akhirnya ia bisa meladeni Hardian makan malam tanpa diganggu oleh Cahya.


Hardian terhenyak, bahkan suara mendayu Silvia membuat dia merasa jika Silvia sedang menginginkan dirinya.


"Apakah kamu sengaja memasukkan obat tidur pada Cahya?" tanya Hardian menyelidik.


Silvia tertawa. Dia berdiri dan mengajak Hardian untuk menghadap ke arahnya.


"Untuk apa kalau Silvia dijadikan istri tapi tidak dianggap. Jika ada Bu Cahya, Mas Herdian seperti orang asing. Nggak ada salahnya dong kalau Silvi minta sedikit waktu Bu Cahya saja malam ini untuk berduaan dengan suami sendiri?" ucap Silvi.


Hardyan menghela nafasnya panjang lalu ia membopong Silvia dan membawanya ke dalam kamar Silvia.

__ADS_1


"Lain kali, kalau kamu meminta waktu untuk berduaan, atur saja waktu untuk keluar dari rumah. Melakukannya di dalam rumah ini sangat beresiko, jika tiba-tiba Cahya memergoki kita sedang bersama. Bukankah kamu yang menginginkan Mas membawa kamu ke rumah ini? Jadi lakukanlah semua secara hati-hati dan jangan sampai membuat semua hal yang sudah dilakukan menjadi berantakan dan hubungan Mas dan Cahya menjadi kacau karena keteledoranmu itu, oke?" ujar Hardian mencium pipi Silvia saat mereka sudah sampai di kamar Silvia.


"Mas marah, aku kasih obat tidur sama Bu Cahya?" gerutu Silvia yang merasa tidak suka Herdian memprotes aksinya memberikan obat tidur pada Cahya.


Hardian yang sudah melihat wajah murung Silvia, memilih untuk memberikan respon yang lebih hangat agar tidak terjadi kesalahpahaman.


"Nggak. Mas nggak marah kok. Seneng malah kalau kamu secara terang-terangan merasa cemburu jika Mas ada di samping Cahya. Lain kali kalau kepengen bersama Mas lagi, ngomong aja. Tapi jangan pas ada Cahya."


Hardian langsung membuat pemanasan dengan Silvia malam ini, tanpa memikirkan Cahya yang sudah dibuat tidur oleh Silvia.


Selama tinggal di rumah ini, sering Hardian melakukan dengan Silvia dan hampir setiap ada kesempatan. Jika Cahya sedang pergi atau sedang tidur di malam hari, Hardian akan mendatangi Silvia dan minta jatah istri sirinya itu. Bukan karena Hardian tidak mencintai Cahya lagi. Namun karena itu bagian dari permintaan Silvia yang katanya mau memberikan anak yang dikandungnya cuma-cuma untuknya nanti. menurut Hardian ini sama-sama menguntungkan bagi Cahya maupun Silvia karena memberikan nafkah batin bukan merupakan kejahatan karena keduanya sama-sama istri dari Hardian.


"Mas. Bisa nggak minggu besok kita jalan-jalan ke luar kota?" tanya Silvia saat mereka telah selesai melakukan hubungan suami istri.


"Ya nggak bisa. Kalau kita pergi berdua, nanti Cahya curiga dan itu akan membuat kita kerepotan nantinya. Mau, Cahya marah dan ngusir kita? Bahkan, Jika kamu berbuat nekat anak kita akan terdampak juga nantinya. Sabarlah dulu hingga anak itu lahir, pastilah Cahya akan sibuk untuk mengurusi anak itu dan tidak ada waktu lagi untuk memikirkan hal lain selain merawat anak kita."


"Huft! Jadi nggak sabar pengen cepat-cepat melahirkan biar aku bisa segera keluar dari rumah ini dan bisa hidup bebas dan punya waktu dengan Mas di luar sana tanpa harus terikat waktu dan pekerjaan yang melelahkan setiap harinya," gerutu Silvia.


"Sabar ya. Semua akan indah pada waktunya."


Hardian memeluk erat Silvia dan mencium keningnya setelah itu membiarkan Silvia tertidur setelah lelah melakukan olahraga malam.


"Mas harus temani aku tidur dan jangan pergi sebelum aku benar-benar terpejam. Ya?" rengek Silvia.


"Ya. Kamu jangan khawatir Mas akan menemani kamu sampai kamu mimpi indah."

__ADS_1


Kembali Hardian mengecup kening Silvia dan mengusap pipinya sampai wanita itu benar-benar tertidur di dalam pelukannya. Setelah memastikan Silvia tertidur, Hardian gegas keluar kamar dan membersihkan tubuhnya untuk segera mandi dan beristirahat di kamar Cahya.


Selama ada Silvia di rumah ini ia tidak akan bermalam di kamar Silvia karena takut istrinya itu curiga dan akhirnya memergoki dirinya yang memiliki hubungan dengan Silvia. Hardian memilih cara aman dan selalu memperhatikan segala hal yang bisa saja memicu kecurigaan Cahya. Hardian tahu jika semua ini salah, namun Ia juga tidak bisa mengelak bahwa Silvia masih singgah di hati terkecilnya sebagai mantan terindah yang tidak akan pernah bisa dilupakan. Memiliki Silvia kembali ibaratkan sebuah angin segar yang membuat hari-harinya begitu indah. Terlebih Silvia sudah memberikan keturunan untuknya dan Hardian semakin mencintai Silvia karena Silvia yang begitu penurut dan tidak pernah menuntut apapun selain menafkahi secara batin setiap malamnya.


__ADS_2