Kugugat Suami Setelah Dipoligami

Kugugat Suami Setelah Dipoligami
memutuskan


__ADS_3

Silvi sangat kesal karena hari ini Cahya begitu tega padanya. Ia diminta bekerja dengan ekstra giat tanpa diberi makan dan juga minum. Sebenarnya Silvi bisa saja mengambilnya secara diam-diam namun cahaya selalu mengawasi pekerjaannya sehingga ia tidak bebas dalam bekerja.


Silvy menunggu suaminya Hardian pulang. Namun sampai pukul 09.30, Hardian belum juga pulang, membuat Silvi begitu resah dan tidak bisa tertidur dengan pulas. Terlebih perutnya yang sudah dari tadi keroncongan. Ia hanya makan satu kali saat selesai mengerjakan pekerjaan rumah tadi siang.


Sedangkan Cahya, sengaja iya tertidur sejak awal untuk bisa bangun dengan mudah, jika nanti suaminya tengah malam pindah ke kamar Silvia. Dari penyelidikan yang ia dapatkan, suaminya sering diam-diam datang ke kamar Silvia Jika ia sudah tertidur, dan sekarang ia akan mencoba melihatnya sendiri apa yang suaminya lakukan di kamar itu.


Cahya terbangun saat suara deret pintu terdengar membuka. Ia mengintip dari celah selimut dan melihat suaminya yang baru saja pulang. Ia melihat pergelangan tangannya dan ternyata suaminya pulang pukul 11.00 malam.


Hardian tidak membangunkan Cahya, dia justru langsung mandi dan juga memakai piyamanya. Mencium kening Cahya lalu pergi keluar kamar seperti dugaannya.


Cahya melihat dari layar monitor ponsel yang terhubung dengan CCTV, ke mana suaminya pergi dan ternyata ia memasuki kamar Silvia. Tepat seperti dugaannya itu, jika malam pasti berbagi kamar dengan sang madu.


Cahya memperhatikan lagi apa yang dilakukan suaminya dan melihat adegan di mana Silvia yang sedang merajuk dan marah pada Hardian. setelah itu keduanya pergi keluar tak entah ke mana, membuat batin Cahya bertanya-tanya.


Tidak lama setelah itu, satu jam kemudian keduanya kembali dengan senyum yang sudah kembali mengembang. Cahya kini beranjak dan ingin menanyakan ke mana keduanya pergi sambil mengagetkan keduanya akan kehadirannya yang tiba-tiba itu.


"Dari mana, Mas?" tanya Cahya sambil menatap ****** ke arah Silvia.


"Ya?! Kamu kenapa bangun?" tanya Hardian kaget.


"Kenapa kalau aku bangun, Mas? Habis dari mana berdua dengan Silvi?" brondong Cahya sambil menautkan kedua tangannya bersidekap.


"Maaf, Bu. Tadi Silvia yang ngajak Pak Hardian untuk keluar membeli makanan karena saya lapar malam-malam," timpal Silvia.


"Iya, Ya. Mas kasihan karena Silvia tadi terlihat pucat saat sedang membukakan pintu waktu Mas pulang. Kasihan kalau sampai dia kelaparan karena anak dalam kandungannya juga butuh makan," ucap Hardian mencoba melindungi Silvia dari kecurigaan Cahya.

__ADS_1


"Kenapa tak masak saja?" Cahya masih saja tidak mau kalah. Ia terus mendesak agar Silvia mau mengakui hubungannya dengan Hardian.


"Bu-kannya Ibu tidak memperbolehkan Silvia masak?" lirih Silvia takut.


"Kapan? Jangan membuat alasan yang tidak masuk akal. Kamu tidak saya perbolehkan makan tadi pagi karena kamu sudah lalai dan membohongi saya dengan alasan belanja dan pulang setelah beberapa jam kemudian. Kamu pikirin saya percaya?" ucap Cahya sinis.


Hardian mendekat ke arah cahaya dan merangkulnya. "Sudah malam, Sayang. Nggak baik kalau marah-marah seperti itu. Mending kita ke kamar aja dan kembali tidur. Lagian nggak ada gunanya juga marah-marah, toh Mas hanya niatnya untuk membantu Silvia agar tidak sakit dan mati kelaparan selama tinggal di sini," ucap Hardian membawa Cahya ke kamar mereka.


Cahya mendengkus kesal dan mengikuti langkah suaminya yang membawanya menuju kamar. Bukan ia malas atau enggan untuk berdebat, namun jika diteruskan justru ini akan membuat dirinya terlihat buruk di depan Hardian. Ia akan menunggu waktu yang tepat untuk membuka semuanya dan pasti keduanya akan dengan jelas mengaku di depannya jika sudah tertangkap basah.


"Kenapa sih, Mas belain Si Silvi terus? Mas suka sama dia?" omel Cahya.


"Mas bukan ngebelain dia, Sayang. Tapi kamu pikir saja, kita itu mempekerjakan dia. Dia tadi membukakan pintu, wajahnya begitu pucat dan Mas tidak tega sehingga menanyakan kenapa dia sakit. Dia bilang tidak boleh makan sama kamu tadi pagi dan akhirnya sampai malam dia belum makan. Kamu tega, jika nanti Silvia kenapa-napa dengan janinnya dan bisa saja dia mati di rumah kita dan kita bakal ditangkap polisi dan masuk penjara karena sudah membuat wanita hamil mati kelaparan?" ucap Hardian penjelasan alasan konyol yang cahaya sendiri tak habis pikir harian sampai sebegitunya menutupi perbuatannya dengan Silvi.


"Alah, itu hanya alibi Silvi biar bisa dekat-dekat sama kamu. Sudahlah, Mas, jangan berkelit terus bosan aku dengarnya," ucap Cahya.


Kali ini Cahya sedikit mengalah, ia memilih ikut tidur dan tidak lagi mengomentari tidak jelas pada Hardian.


***


Pagi hari wajah Silvia tampak berseri. Ia merasa senang karen tadi malam ia menang dari debat dengan Cahya dan sudah dibela Hardian di depan Cahya.


"Pagi, Bu," sapa Silvi.


Cahya tidak menanggapi. Setelah mandi ia sudah memakai baju yang rapi dan hendak pergi untuk mengurus sesuatu.

__ADS_1


"Pagi, Pak," sapa Silvi pada Hardian yang juga sudah rapi dengan pakaian kerjanya.


"Tumben pagi-pagi sudah pada rapi. Mau kerja lebih awal ya, Pak, Bu?" tanya Sivia kembali menyuguhkan senyum bahagianya.


"Bukan urusanmu! Cepat mana sarapannya? Saya sudah lapar," ucap Cahya.


Silvia segera memberikan masakan yang sudah ia masak sejak jam 05.00 tadi. Kondisi hatinya sedang baik dan ia bisa bangun lebih awal untuk menyajikan sarapan Cahya dan Hardian.


"Kamu mau ke mana, Ya?" tanya Hardian.


"Cahya ada urusan. Cahya mau pergi duluan. Mas kalau suka sarapannya, habisin saja. Masakan Silvi tidak cocok di lidah Cahya. Besok Cahya akan cari asisten baru saja. Dia tidak becus masak!" seru Cahya lalu melenggang pergi tanpa meraih tangan suaminya seperti biasanya.


Hardian mengejar Cahya yang sudah dahulu keluar dari rumah.


"Kamu masih marah sama, Mas?" tanya Hardian yang berhasil mencegah kepergian Cahya.


"Nggak! Cahya hanya marah sama takdir. Dahlah, Cahya dah siang. Dah ditunggu taksi di depan. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Hardian melihat sorot mata marah Cahya sejak semalam. Silvi yang melihatnya, mendadak merasa senang dan menang karena sudah bisa membuat Cahya marah dan kesal.


"Istrimu marah sama Silvi ya, Mas?" Isak Silvi mencoba mengambil kesempatan dalam kesempitan. Menggunakan momen yang tepat untuk mengambil simpati dari Hardian.


"Sudah jangan dipikirkan. Kamu jaga kesehatan saja. Mas mau pergi kerja dulu. Wassalamu'alaikum."

__ADS_1


"Waalikumsalam."


Setelah Silvi meraih tangan Hardian, Hardian melenggang pergi dan Silvi melambaikan tangannya melepas Hardian pergi bekerja. Hatinya senang, setelah bersakit-sakit di pagi hingga sore hari, malamnya ia bersenang-senang kemudian.


__ADS_2