Kugugat Suami Setelah Dipoligami

Kugugat Suami Setelah Dipoligami
saran Rio


__ADS_3

"Jadi gimana, Rio?" tanya Cahya setelah ia curhat panjang kali lebar apa yang ia curigai pada Hardian.


"Wah itu sih namanya udah nggak beres. Dia minta cuti katanya ada keluarga yang sakit. Aku pikir dia memang selama ini selalu bekerja dengan baik dan tidak pernah ada masalah dan begitu ia meminta cuti, si bos langsung mengizinkannya. Kalau begitu masalahnya, aku juga tidak begitu paham dunia berpelakoran karena aku kan belum menikah," seloroh Rio.


"Duh, bantu mikir dong," ucap Cahya.


Dia sengaja meminta Rio untuk bertemu di sebuah cafe dan menceritakan semua keresahan hatinya pada Rio.


"Kamu pasang kamera CCTV di setiap sudut rumah termasuk kamar ARTmu itu. Siapa tahu, suamimu sering datang malam-malam ke sana," ucap Rio memanas-manasi.


"Jangan bikin aku tambah takut deh."


Meski yang dikatakan Rio itu memang besar kemungkinan terjadi namun cahaya seperti takut untuk mengetahui kebenaran.


"Kok takut? Itu malah bagus dong bisa dijadikan senjata buat mengusir gudik suamimu itu."


"Gundik, Teh Rio," ucap Cahya membenarkan.


"Hahaha, aseli. Kagak ada efek sampingnya kalau kamu pasang CCTV di sana. Nanti jangan lupa rekaman videonya dikirim ke aku, biar aku bisa live streaming lihat mereka indehoy di dalam kamar," sarkas Rio.


"Huuu! Modus bin sengaja itu mah. Tapi saran dari kamu oke juga. Nanti aku akan coba untuk melakukannya. Kamu punya kenalan nggak yang bisa pasang CCTV di rumah?"


"Ada nanti. Aku kasih kontaknya. tapi pastikan dulu kalau suaminya itu tidak akan pulang hari ini kalau pas lagi pasang suami mau tahu bahaya bisa kamu yang kena sial gara-gara keteledoran itu," saran Rio menyesap jus melon pesanannya.


"Sip, aku pastikan dulu."


Cahya menelpon Hardian dan kebetulan sangat, panggilannya langsung terangkat.

__ADS_1


"Halo, assalamualaikum, Mas."


"Waalaikumsalam, Ya. Ada apa? maaf semalam baterai Mas lobet dan mati sehingga tidak bisa membalas pesanmu."


"Tak apa. Mas, nggak jadi pulang hari ini ya? Katanya tiga hari. Ini udah 4 hari. Kok lama nambah harinya?" tanya Cahya.


"Ada masalah, Ya. Ada kecelakaan saat liburan. Teman Mas ada yang masuk rumah sakit dan hanya Mas yang diminta untuk membantu menemaninya di sini."


Lagi-lagi Hardian berbohong, namun Cahya sudah tahu setelah foto yang Melina kirimkan waktu itu.


"Inalillahi, kasihan sekali. Kira-kira berapa hari di sana?" tanya Cahya berpura-pura.


"Sekitar 2 hari lagi. maaf ya Sayang Mas juga nggak tahu bakalan begini kejadiannya. Teman-teman sudah pada pulang hanya Mas dan dua teman lainnya yang menunggu teman Mas di rumah sakit. Nggak apa, kan?"


"Oh. Nggak apa-apa sih, kalau memang untuk menolong teman Mas. Ya sudah hati-hati di sana, jangan sampai Mas yang sakit karena menunggu teman yang sakit."


"Ya."


Meski hati sedikit sedih karena Hardian tidak pulang tepat waktu, namun ia sedikit tersenyum karena rencana Rio kali ini bisa ua jalankan dengan rapi sebelum Hardian pulang ke rumah.


"Gimana?" tanya Rio memastikan.


"Siplah. Sepertinya kali ini semesta mendukung aksi kita. Thanks ya atas sarannya. Dari dulu emang kamu selalu top markotop dalam hidup jahil dan juga kekonyolan yang hakiki," puji Cahya.


"Dan dari dulu kamu juga abadi menjadi cewek yang bego dan tidak berpendirian. sudah dibilang nikah sama aku aja bakal bahagia kenapa pilih sama Hardian? Mentang-mentang dia kaya," protes Rio.


"Hahaha, Itu namanya belum jodoh, Rio. Muka ganteng kayak kamu mah banyak peminatnya."

__ADS_1


"Iya, sih. Ya dah, ada lagi yang mau dijalankan?"


"Nggak sih. Sejauh ini aku lakukan rencana awal dulu nanti kamu sambil memantau pergerakan Mas Hardian di kantor, jika nanti ada keanehan kamu bisa beritahu aku apa saja yang bisa aku lakukan setelah itu."


"Tenang saja, nanti kalau Hardian macam-macam di kantor sudah pasti dia akan kena SP dari si bos. Dan bisa jadi itu akan lebih berdampak ke kamu yang akan memiliki suami pengangguran," ucap Rio tersenyum senang.


"Nah, itu. Baik buruknya, pikirkan matang-matang dan jangan gegabah biar kita tidak salah langka. Terlebih kalau sampai jebakan itu berbalik sama kita kan repot."


"Gak repot. Paling tertuduh memiliki hubungan kita. Kalau aku sih, gak keberatan. Paling kamu yang senewen, hahaha."


"Asem! Janganlah. Kita ini plend. Sesama plend dilarang saling menikung," kelakar Cahya.


"Yo jelas dilarang menikung tapi kalau menanjak boleh apalagi banting setir," ucap Rio.


"Udah ah, jadi ngaco. Nanti kamu ajak Mentari makan bareng kalau rencana ini berhasil."


"Mentari si culun?"


"Sembarangan! Ya kagak culun-culun banget. Dia dah cantik sekarang. Pinter lagi. Dia yang membantu aku mengelola bisnis laundry dan sekarang mau buka cabang lagi di jalan kemuning."


"Wah, keren ini mah. Wes, gadkeun jadi bos. Aku dorong dengan doa dan harapan."


"Harapan apa?"


"Menunggu janda kaya, dilamar karyawan rendahan yang hobi ngehalu dan pandai menggombal."


"Asyem ... dah ah. Aku mo pulang! Ini semua dah dibayar. Jadi nggak usah khawatir kalau mau dibungkus," ucap Cahya.

__ADS_1


Rio hanya tersenyum dan ikut keluar dari restoran bersama dengan Cahya. Kali ini kecurigaan Cahya akan dibuktikan dengan semua bukti yang valid dan tidak bisa lagi memuat Hardian mengelak jika nantinya hal itu benar-benar terjadi. Cahya juga harus memikirkan bagaimana menyikapi langkahnya kemudian, jika kalian ketahuan mempunyai hubungan dengan Silvi.


__ADS_2