
"Rio kali ini kamu harus membantuku lagi," ucap Cahya saat menelpon Rio di jam istirahat nya.
"Apalagi yang harus aku lakukan?" tanya Rio semangat.
"Bolehkah kamu berikan video ini kepada atasanmu, atau enggak kamu kirimkan saja nomor atasanmu padaku. Aku ingin melihat respon bosmu ketika melihat karyawannya melakukan hal ini," ucap Cahya sambil menjalankan rencananya untuk membuat suaminya dipecat dari perusahaan tempat bekerja.
"Video apa lagi sih? Bikin aku jadi tambah penasaran. Eh, yang kemarin itu ada lanjutannya nggak?" tanya Rio terlihat antusias menangani masalah Cahya dengan Hardian.
Kemarin Cahya sempat mengirimkan sebuah video singkat di mana Hardian pulang bekerja dan langsung memeluk Silvi di saat dirinya tidak berada di rumah namun video itu hanya berdurasi 3 menit dan membuat Rio semakin penasaran.
"Kalau video itu masih belum bisa meyakinkan, Rio. Tapi, kalau yang ini sudah pasti meyakinkan Dan kamu kirimkan saja nomor bosmu itu kepadaku, karena aku tidak ingin kamu terkena masalah jika kamu yang nantinya mengirimkan video itu pada atasanmu," ucap Cahya.
"Kamu pasti takut aku dipecat ya?" tanya Rio dengan rasa pede yang tinggi.
"Tentu saja, kamu itu kan sahabat terbaikku dan aku tidak ingin kamu menderita karena sudah membantuku. Ini kamu kirim sekarang kontaknya, buruan!"
"Ye lah, tuh. Aku kirim sekarang."
Rio mengirimkan nomor bosnya. Cahya tersenyum saat video telah ia kirim dari nomor baru yang sengaja ia kirimkan dari nomernya yang lain.
"Harap tindak tegas karyawan yang mengatasnamakan keluarga padahal di sana dia sedang berbulan madu dengan istri barunya. Saya harap Anda mengenali siapa lelaki yang ada di video ini," pesan Cahya.
Cahya tersenyum kembali, membayangkan bagaimana respon Hardian nanti jika tahu ia mendapat teguran dari bosnya.
"Rio, pastikan kamu menjadi saksi dan juga meyakinkan bos bahwa Mas Hardian memang salah."
Cahya meminta Rio agar benar-benar membantunya sampai masalahnya selesai.
"Tapi jangan lupa bayarannya," balas Rio dengan emoticon cium.
"Dih. Serius, Rio."
"Iya iya. Gampang lah itu."
***
Cahya berhias dengan cantik dan rapi. Ia akan menyambut kedatangan Hardian setelah Cahya menunggu kabar yang akan didengar dan disampaikan Hardian padanya.
"Bu, Silvi mau pamit ke depan sebentar. Boleh?" tanya Silvi membuat saya melihatnya dengan tatapan curiga.
"Mau ngapain ke depan?"
__ADS_1
"Itu, anu, saya mau beli obat."
"Obat? Kamu sedang sakit, Silvi?"tanya Cahya dengan raut wajah yang ia buat sekhawatir mungkin.
"Agak sedikit pusing dan sepertinya Silvi memang harus membeli sesuatu di apotek depan. Boleh nggak, Bu?"
Terlihat wajah Silvi yang mengharapkan Cahya segera mengizinkannya. namun Cahya penasaran dan memutuskan mengizinkan namun ia akan membuntutinya.
"Baiklah. Ada uangnya?"
"Ada, Bu."
Begitu Silvi meninggalkan rumah, Cahya mengikutinya dari belakang dengan menggunakan jaket hitam dan juga kacamata hitam. Ia berjalan dengan cepat agar tidak ketinggalan jauh ke mana Silvia pergi.
Cahya mengernyit saat melihat ternyata Silvia pergi ke sebuah cafe. Dia juga melihat ada Hardian di sana. Hati Cahya semakin yakin, jika suaminya itu sering melakukan pertemuan dan juga hal menjijikan di luar sana. Di rumah saja, Hardian sering terang-terangan melakukan hal menjijikan dengan Silvia jika ia sedang tidak berada di rumah.
Cahya berusaha memikirkan cara, agar Ia bisa mendengar apa yang dibicarakan oleh Silvia dan Hardian di dalam kafe.
"Mas," cegah Cahya pada lelaki yang berjalan dengan santai hendak masuk ke dalam kafe. Lelaki itu menengok lalu mengernyit bingung.
"Maaf, boleh saya ikut ke dalam dan satu meja dengan Anda? Please bantu saya untuk menyelidiki sesuatu di dalam sana," ucap Cahya mengiba.
"Apa kita saling mengenal sebelumnya?"
"Tidak. Tapi kalau dengan berkenalan sekarang, Anda mengizinkan saya untuk ikut ke dalam maka saya siap untuk berkenalan dengan Anda sekarang juga. Saya Cahya Aryani. Masnya bisa panggil saya Cahya. Jadi, bisakah kita masuk sekarang aja?" tanya Cahya tanpa ingin mendengar siapa nama dari lelaki yang ada di depannya itu.
Lelaki itu hanya menggelengkan kepala heran, lalu berjalan dengan santai menuju ke dalam tanpa menghiraukan Cahya yang juga ikut berjalan di samping nya.
Lelaki tadi pesan makanan satu porsi, membuat Cahya begitu kesal karena lelaki tadi tidak bisa ia ajak untuk bekerja sama dalam penyelidikan nya itu.
Cahya menengok ke arah meja di mana Hardian dan Silvi duduk. Ia menajamkan pendengaran, seberapa intens itu percakapan mereka ketika bertemu di luar.
"Siapa yang sedang kamu mata-mata i?" tanya lelaki tadi.
Cahaya menengok Dan tersenyum. "Hehehe, suami saya sedang pergi dengan asisten rumah tangga saya secara diam-diam tanpa sepengetahuan saya. Bukan salah saya dong, kalau saya curiga dan berpikiran yang tidak tidak."
"Curiga boleh, tuduh jangan. Lagian, Kamu pengecut sekali dengan mencari informasi sembunyi-sembunyi seperti ini. Kenapa tidak langsung saja ke sana?" ajak lelaki tadi yang kemudian berdiri dan menarik Cahya untuk ikut bergabung dengan Hardian dan Silvi.
Tentu saja Cahya menolak dan berusaha untuk melepaskan tangannya dari genggaman lelaki tadi. Namun sayangnya, langkahnya kurang cepat dan akhirnya ia membuat kaget Hardian dan Silvi.
"Pak," pekik Hardian dengan wajah yang benar-benar kaget.
__ADS_1
"Sedang apa kamu di sini? Bukan kah Ini sudah waktunya untuk pulang ke rumah?" tanya si lelaki misterius. "Dia kekasihmu?" tanya lelaki itu.
Sepertinya Hardian dan Silvi tidak mengetahui keberadaan dan penyamaran Cahya yang ada di depannya. Karena penampilan Cahya yang berbeda dari biasanya, dengan pakaian tomboy dan kacamata hitam membuat ia tidak dikenali oleh Hardian dan Silvi.
"Bukan, Pak. Dia istri saya. Kenalkan, Silvia namanya. Bapak sedang makan malam juga di sini?" tanya Hardian ramah.
"Silvia. Bos kamu, Mas?" tanya Silvia dengan nada yang mendayu.
"Ya. Beliau bos di kantor tempat Mas bekerja. Namanya Pak Hasbi."
Cahya begitu geram karena melihat Herdian yang memperkenalkan Silvi sebagai istrinya di depan lelaki yang ia panggil bapak itu.
"Yakin ini istri Anda?" cibir Hasbi.
"Ya. Memang ada apa, Pak dengan istri saya?" tanya Hardian bingung.
Cahya sudah harap-harap cemas. Ia takut Hasbi si lelaki yang tidak sengaja tadi ia minta bantuan, justru akan membuatnya tertangkap basah di depan Hardian dan Silvia.
"Setahu saya istri anda bernama Cahya Aryani. Apa sudah ganti? menurut dokumen perjanjian pekerja bahwa semua karyawan wajib memiliki nilai kelakuan yang baik. Jika anda ketahuan menikah lagi atau memiliki hubungan selain dengan istri Anda, maka anda harus segera membuat surat pengunduran diri sebelum saya yang akan memecat Anda dari kantor itu," ucap Hasbi tegas.
Hardian merasa ketakutan dengan ancaman yang bosnya katakan. Namun dia bingung bagaimana menjelaskan pada bosnya itu, jika Silvia adalah istri sirinya .
"Kita duduk dulu dan jelaskan!" ajak Hardian.
"Ini siapa, Pak?" tanya Hardian yang masih tidak mengenali wajah Cahya.
"Dia asisten pribadi saya yang baru. Jadi, istri anda Cahya atau Silvia?" tegas Hasbi.
Hardian hendak menjawab namun Silvia langsung menyelanya dan mengaku sebagai istri sahnya.
"Sebenarnya yang menjadi istrinya adalah saya sekarang. Apakah Bapak kenal dengan istri Mas Hardian sebelumnya?" tanya Silvia, membuat Cahya benar-benar geram.
''Sebelumnya?"
Hardian terlihat bingung bagaimana menanggapi pertanyaan demi pertanyaan yang Hasbi lontarkan.
"Hardian Saya tunggu kamu besok di ruang kerja saya. Ajak sekalian kedua istrimu dan saya yang akan memutuskan bagaimana nasib kamu sebagai pekerja di kantor saya. Paham?"
"Baik, Pak."
Hardian sangat panik dan khawatir dengan bertemunya Hasbi di cafe dengan wanita yang tak lain adalah istri sirinya. Namun, Ia tetap saja ia juga takut jika besok ia akan dipecat akibat memiliki dua istri dalam waktu yang bersamaan dan itu pasti akan membuat bosnya sangat marah dan kesal jika sampai hubungannya dan Silvi mempengaruhi perusahaan.
__ADS_1