KUNTILANAK ITU ISTRI KU

KUNTILANAK ITU ISTRI KU
episode 10


__ADS_3

"Ada apa sebenarnya? apa yang kamu takutkan sayang? aku putar balik ke sini karena melupakan dompetku, sesampainya disini aku mendengar kamu menjerit dan menemukanmu seperti ini"


"Aku baru pertama kali mengalami hal seperti ini, malam ini kamu nginap disini yah, aku takut sekali." Ungkap Anni ketakutan.


"Sudah jangan dipikirkan, mungkin hanya halusinasimu saja, baiklah


sayang malam ini aku nginap disini." "Ini bukan halusinasi! Semua yang terjadi begitu nyata."


"Iya, iya sayang, sudah jangan takut, malam ini aku akan menjaga kamu."


Malam pun tiba, hanya mereka berdua di rumah besar itu, Anni pun kini telah tidur dan Deddy duduk disamping kasur menjaga kekasih hatinya yang sedang pulas tertidur.


Beberapa saat akhirnya Deddy pun merasakan kantuk yang memaksa


dirinya untuk tidur. Waktu menunjukkan pukul 01:00 malam, Anni pun terbangun dari tidurnya karena kehausan. Ia melihat Deddy yang tertidur pulas diatas kursi, karena kasihan ia lalu mengambil selimut tebal dan menyelimuti Deddy.


"I love you" ucap Anni sembari mengecup bibir Deddy.


Tiba-tiba nampak sosok laki-laki berbadan tambun dengan kepala


tertutup kain putih berdiri di depan pintu kamarnya yang tidak tertutup.


Dari tubuh dan pakian yang dikenakan tentu Anni sangat mengenal sosok itu.


"Ayah!"


Sosok itu lalu berjalan perlahan, Sontak Anni pun langsung mengikuti sosok tersebut yang berjalan menuju ke ruang tengah.


Sesampainya di ruang tengah,sosok itu berhenti lalu membalikkan badannya menghadap ke Anni.


Sosok yang dikenal sebagai ayah Anni itu memegang lehernya seolah


menahan sakit yang mencekiknya. "aaaaarrrgh aaargghhhhh arrrgh"


"Ayah, ayaaah kenapa? Ayah, apa yang terjadi?"


Karena penasaran dengan apa yang mencekik ayahnya, Anni mendekat dan menarik kain putih yang menutupi kepala ayahnya. Dia begitu kaget dan jatuh tersungkur melihat seekor ular yang meliliti leher ayahnya.


Ular itu membuka mulutnya lebar-lebar dan menjulurkan lidahnya ke arah Anni.


Dia lantas berteriak dan menangis sejadi-jadinya hingga pingsan.


Deddy yang tertidur akhirnya terbangun karena kaget mendengar teriakan Anni dan berlari mencari asal suara tersebut.


Dia lalu mendapati Anni yang sudah tak sadarkan diri di lantai dan


berusaha membangunkannya


"Sayang, sayang, kamu kenapa?


Dia lalu mengangkat tubuh Anni dan membopongnya ke dalam kamar serta merebahkannya di atas ranjang serta menungguinya hingga Anni sadarkan diri.


"Syukurlah kamu sudah siuman, apa yan terjadi sayang"

__ADS_1


Anni hanya menangis, sambil memeluk erat tubuh Deddy.


"Aku melihat ayah, lehernya dililit seekor ular, aku pikir ayah ingin menyampaikan sesuatu padaku."


"Kamu yakin dengan apa yang kamu lihat?" "Dia ayahku, tentu saja aku tahu dan sangat yakin."


"Hmmm, sekarang kamu tidur yah. Maaf tadi aku ketiduran?"


"Iya sayang, terimakasih, aku jadi berpikir untuk segera mempercepat pernikahan kita. aku takut sendiri"


"Kamu yakin?"


"Hemmmmm"


"Yessss, terimakasih sayang" mereka lalu saling membalas ciuman dan bercumbu menghabiskan malam dingin itu.


Keesokan harinya Deddy kembali ke rumahnya, di dalam rumah dia mencari-cari sosok Litha, namun tak ditemuinya.


Dia lantas mengangkat handphonenya dan menelpon Itis


"Hallo Tis, aku mau tanya sesuatu!"


"Tanya apa bro?"


"Aku ingat akan perkataanmu bahwa kuntilanak merah itu sangat


jahat."


"lya bro."


"Mereka itu tak sama seperti kuntilanak lainnya, mereka tak segan untuk membunuh orang yang membuat mereka marah, makanya aku pernah bilang, jangan pernah buat mereka marah!"


"Iya bro, pak Gusty pernah bilang seperti itu."


"Mereka sangat kejam, dan tak kenal ampun, menurut para sesepuh dan cerita yang beredar, mereka itu seperti pemimpin dari kuntilanak biasa karena kekejamannya"


"Apakah pernah kamu diteror bro?"


"Kamu ingat tidak akan beberapa wanita yang berusaha mendekatiku? Yang sering aku ceritakan itu."


"Nia, Lanny, Erna? Tapi mereka kan sudah meninggal bro?"


"Menurut kamu mereka meninggal karena apa?"


"Dibunuh kuntilanak merahmu?"


"Gotchaaa!" "Serius bro?"


"Mie ayam dua bungkus, ni malam gua serius, hahaha"


"Bangsat, aku lagi tak bercanda bro, soalnya aku dan Anni akan segera melangsungkan pernikahan!"


"Itu sudah serius kambing, ya sudah terima konsekuensinya, teror akan

__ADS_1


terus terjadi!"


"Tapi kamu kan yang menyarankan aku tuk pergi ke pak Gusty, kamu juga tak bilang jika harus menikah dengan kuntilanak, kamu juga tidak bilang padaku kalau akan terjadi seperti ini."


"Jadi kamu mau menyalahkan aku bro? Sebagai sahabat aku hanya


kasihan padamu waktu dihina ayah Anni!" "Tapi bagaimana jika Anni terbunuh?"


"Jika Anni mati itu sudah menjadi takdirnya, ingat terkadang untuk mendapatkan sesuatu yang besar, kita harus mengorbankan banyal hal, termasuk orang-orang yang kita cintai, lihat kau sekarang, sudah bergelimang harta kan?"


"Psikopat kau bro, apapun yang terjadi aku tak mau kehilangan Anni!,


pernikahan kami akan tetap diteruskan!"


"Hmm, boleh-boleh saja, tapi seperti yang aku bilang, kalian harus siap menerima teror! dan yang paling parah adalah Anni nantinya."


"Hmm, bro tolong jangan sampai Anni tahu semuanya soal ini, aku


minta maaf soal ucapanku tadi."


"Ok bro aman, kuntilanak lu cantik?"


"Cantik sekali, tapi...." "Kenalkan dong, hehehe"


"Huuuh Dasar gila!"


"Hahaha, ok bro, sudah yah, aku di pelabuhan, mau pulang kampung ke Rote dulu."


"Ok bro, hati-hati"


"Thank you"


Deddy lalu menutup telpon dan melempar dirinya ke atas kasur empuk miliknya.


"Aku menunggumu sejak kemarin!" Sahut Litha yang tiba-tiba berdiri di depan Deddy.


"Aaah aaah, sejak kapan kamu di situ?" ujar Deddy penuh kaget.


"Aku menunggumu sejak kemarin!" Ucap Litha mengulang perkatannya.


Deddy yang mulai menyadari arah percakapan Litha hanya diam sambil


menatapnya.


"Deddy"


"lya"


Tiba-tiba mata Litha berubah menjadi merah dan darah segar mengalir dari matanya menyusuri sekujur tubuhnya hingga membuat lantai berkeramik putih bersih itu hampir dipenuhi darah segar dan kental.


Lalu kuku-kuku di jarinya yang pendek perlahan mulai memanjang dan


meruncing.

__ADS_1


Deddy yang ketakutan bangkit dari ranjangnya hendak lari dari kengerian di depannya, Saat ingin berlari keluar, tubuh Deddy ambruk seketika akibat terpleset genangan darah di lantai yang licin, kini pakaian dan setengah bagian dari tubuhnya bermandikan genangan darah tadi.


Litha lalu mendekati nya dan mengarah kan cekik ke leher Deddy, diangkat tangannya tinggi-tinggi sehingga Deddy terangkat sambil memegang tangan Litha seolah berusaha menahan cekikan itu, Litha lalu menghempaskan tubuh Deddy ke arah tembok sehingga ia tak sadarkan diri.


__ADS_2