KUNTILANAK ITU ISTRI KU

KUNTILANAK ITU ISTRI KU
episode 13


__ADS_3

"Kamu mimpi buruk?" ucap Revhan sambil memegang kedua bahu Deddy.


"Iya bro, Mimpinya sadis." "Eitsss, tunggu dulu bro, Lia telepon," Sahut Revhan memotong


percakapan. "Sayang, kamu datang kesini sekarang, aku takut!" Ujar Lia, pacar


Revhan.


"Kamu kenapa sayang?"


"Anni!"


"Anni kenapa?"


"Please datang sekarang!"


"lya aku dan Deddy kesana sekarang!"


Sementara itu di tempat berbeda, Lia ketakutan akibat melihat Anni yang sedang duduk di depan pintu kamar, menundukkan kepalanya sambil menangis dengan sedikit tertawa pelan.


"Malam ini, malam jumat, waktunya mencabut nyawa, malam ini, malam jumat, waktunya mencabut nyawa, Malam ini, malam jumat, waktunya mencabut nyawa. Maukah kamu menyerahkan nyawamu? hihihihihi!" Anni menyanyi dengan nada datar,lalu menoleh arah Lia.


Huuuuh, huhh, jangan, jangan, huh,"


Lia hanya bisa duduk merengkuh di pojok kamar, dengan kedua tangan


menutupi wajahnya, sambil menangis ketakutan. Tiba-tiba Anni perlahan berdiri, dan mulai berjalan mendekati Lia.


"Bapa kami yang ada di surga dimuliahkanlah nama-Mu!" dalam


ketakutan Lia pun mulai berdoa. "Hahahaha, haaaaaah, Hahahaha."


"Jadilah kehendak-Mu diatas bumi seperti di dalam Surga."


Anni makin mendekat, lalu mengarahkan tangannya ke leher Lia dan mulai mencekiknya dengan sekuat tenaga.


Cekikan Anni makin kuat sambil tangannya diangkat sehingga tubuh Lia juga terangkat dan menyebabkan Lia makin susah bernapas.


"Hihihihihi, hihihihi, hihihihihi, "Be beeeerilah ka kami rezeki padaaaaa hari ini dan ampunilah


kesalahan kami seperti kamipun mengaaam......


Anni langsung melempar tubuh Lia ke arah tembok karena seperti merasakan sakit pada tubuhnya.


"Argh,, aaaaargg."


Anni, makin marah dan berusaha mendekat ke arah Lia yang kesakitan.


Lia pun dengan segera bangkit dan dengan lantang melanjutkan doanya.


"Mengampuni yang bersalah kepada kami dan janganlah masukkan kami kedalam pencobaan tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat, Amin."


Anni pun tiba-tiba melayang di udara, dan langsung terhempas ke lantai kamar dengan keras sehingga tak sadarkan diri. Lia lalu mendekati Anni dan berusaha menyadarkan dirinya, di waktu


yang bersamaan Revhan dan Deddy pun tiba ke tempat Lia.


Mereka lalu membantu mengangkat tubuh Anni dan merebahkannya ke atas ranjang.

__ADS_1


Malam itu mereka bertiga memutuskan untuk tidak tidur agar dapat


menjaga Anni.


Dari luar terdengar suara beberapa anjing menyalak beriringan, membuat suasana malam itu makin mencekam, menyebabkan bulu


kuduk berdiri hebat. "Srrrraaaaaakk, sraaaaaaaaaak, sraaaaak"


Tiba-tiba terdengar suara tembok yang digaruk-garuk oleh sesuatu dari


luar kamar. Mereka terheran-heran sebab suara tembok digaruk itu dari bagian atas tembok yang notabene begitu tinggi, ditambah pula tiba-tiba


terdengar suara atap seng berbunyi seperti dipijak oleh seseorang,


kemudian terdengar jelas suara butiran- butiran pasir yang jatuh dari


atap seng seolah dilepaskan oleh seseorang.


Lia pun lalu mengajak Revhan dan Deddy berdoa agar mendapat


lindungan dari yang Kuasa.


Setelah selesai berdoa, suara tembok yang digaruk-garuk dan bunyi pasir yang jatuh dari atap pun sudah tak terdengar lagi, apalagi pagi juga hampir tiba sehingga mereka memutuskan untuk tidur disitu.


Pagi pun tiba, Anni yang bangun lebih awal merasakan sakit yang teramat sangat disertai beberapa lebam dan memar di beberapa tubuhnya.


"Aaau, aaaah, sakit sekali!"


Dia kaget melihat Deddy dan Revhan sudah ada di dalam kamar, ia lalu beranjak dari ranjang dan berusaha membangunkan Deddy, Revhan dan Lia yang juga mendengar suara Anni pun ikut terbangun, mereka


lalu menceritakan kejadian semalam dengan jelas kepada Anni. Anni hanya bisa menangis ketakutan, ia lalu berterimakasih kepada Revhan dan Lia, serta kekasihnya Deddy yang telah menjaganya, tak pula ia meminta maaf telah melibatkan Revhan, dan terlebih lagi


"Haaaah, Akhirnya ku hirup juga udara Kupang, bagaimana keadaan


Deddy yah?, ah aku langsung ke rumahnya saja!, kebetulan aku


membawa sejerigen sopi Rote."


Itis pun lalu bergegas ke rumah Deddy, dalam perjalanan ia mencoba menghubungi Deddy namun tak dapat dihubungi.


"Tumben handphone Deddy tidak aktif?, apa mungkin masih tidur?"


30 menit perjalanan dan akhirnya Itis tiba di rumah Deddy.


Dia mencoba mengetuk-ngetuk pintu tapi tak ada jawaban dari dalam.


"Deddy, yuuuuhuuuu Deddy, Deddy, ah mungkin dia tidak ada, Aku pergi


saja,"


Saat ingin meninggalkan rumah Deddy, tiba-tiba pintu rumah terbuka. Tampak seorang wanita cantik bergaun merah berdiri di depan pintu.


"Hmm, apakah ini Litha?, istri kuntilanaknya Deddy?, cantik sekali." batin Itis sambil mengarahkan pandangan ke arah Litha. "Ah maaf, apakah Deddy ada?"


"Tidak ada,"


"Oh kenalkan, saya Itis temannya Deddy, kamu pasti Litha?, boleh saya menunggu Deddy di dalam?"

__ADS_1


"Hmm, baiklah, ayo masuk!"


"Terimakasih!"


"Duduklah, darimana kamu tahu namaku?"


"Deddy sering menceritakan soal kamu pada diriku,"


"Menceritakan?"


"lya, dia sering menceritakan soal kamu!"


"Menceritakan aku yang bagaimana?"


"Dia menceritakan soal pernikahan kalian dan sebagainya."


"Jadi kamu tahu siapa aku?"


"Tentu saja."


"Hmm, tunggu sebentar aku akan buatkan minum untukmu."


Litha lalu meninggalkan Itis sendiri di ruang tamu, dan beberapa saat kemudian ia kembali dengan secangkir teh panas.


"Silahkan minum," ucap Litha"


"Terimakasih, maaf sudah merepotkan" sahut Itis sambil memindahkan posisi duduknya tepat di samping Litha.


Setelah meminum teh tadi, Itis lantas menatap wajah Litha dalam dalam. Dan perlahan mendekatkan wajahnya ke wajah Litha sehingga bibirnya menyentuh bibir Litha. Litha hanya diam saja sambil menatap apa yang dilakukan Itis.


Merasa Litha hanya diam dan seolah membiarkan ketika dikecup, maka Itis pun makin berani melancarkan ciuman ke bibir Litha, Litha pun mendorong Itis sehingga dia terjatuh di atas lantai.


Litha lalu naik dan duduk diatas tubuh Itis. Melihat apa yang di depannya membuat Itis semakin menggila.


Litha lalu menanggalkan gaun merahnya dan betapa kagetnya Itis ketika melihat banyak belatung dan cacing di bagian dada hingga perut Litha, nampak belatung-belatung itu keluar masuk dari lubang di dada dan perut Litha.


"Mengapa kaget?, bukankah ini yang kau mau?"


Litha lantas menghujamkan tangannya dengan kuku-kukunya yang


tajam dan panjang itu ke dada Itis.


"Aaaarghhhh, aaaarghhhhhhh, jangan" teriak Itis menahan sakit. Litha lalu membelah daging yang menutupi seluruh dada Itis sehingga nampak rusuk yang melindungi paru-paru juga jantung yang sedang bergerak, ia menjulurkan lidahnya yang panjang dan menjilat-jilat tulang rusuk Itis.


Kemudian dengan kedua tangannya, ia mencabut rusuk itu sehingga Itis memuntahkan banyak darah segar dari mulutnya.


Litha kemudian membuka mulutnya lebar-lebar dan keluar seekor tikus besar, diambilnya tikus itu lalu dimasukkan ke dalam dada milik Itis.


Karena berusaha keluar dari dalam dada milik Itis, maka tikus itu melubangi beberapa organ di dalam dada seperti paru-paru untuk mencari jalan keluar, tidak puas sampai disitu Litha memasukan tangan miliknya ke dalam mulutnya, mengambil segenggam belatung dan dimasukkan ke dalam dada Itis.


Lalu Litha mengarahkan tangannya ke arah jantung Itis, dengan kejam mencabutnya hingga akhirnya itis meregang nyawa dengan sangat mengenaskan,


Sambil tertawa Litha memegang jantung yang masih menyisahkan


sedikit gerakan memompah, dia lalu membanting jantung itu ke lantai


beberapa kali dan memakannya hingga habis.

__ADS_1


Dia juga merobak leher Itis dengan taring di mulutnya meminum darah segar yang mengalir.


Setelah itu Litha pun tertawa puas sambil memakai kembali gaun merahnya.


__ADS_2