
Dua anak kecil tersebut berhenti dan menatap Deddy dengan sorot yang tajam pula. Ketakutan menyelimuti seluruh tubuhnya sehingga ia menambah
kecepatan motornya melewati sungai kecil itu. Dikiranya setelah melewati sungai kecil tersebut suasana mencekam itu akan selesai.
Nampak, di depannya terdapat banyak sosok pria tegap dengan wajah pucat berdiri di kiri dan kanan sisi jalan menggunakan pakaian adat lengkap sambil memegang tombak dan perisai.
Dan tidak jauh dari pinggir jalan terdapat beberapa wanita dengan wajah pucat menggunakan pakian adat Amarasi sedang menari tarian adat pula.
Karena makin ketakutan, Deddy hendak memutar balik arah namun dia juga dibuat takut oleh seorang nenek yang sedang menyapu tengah malam di pinggir hutan dan kedua anak kecil di sungai di belakangnya tadi. Ingin dia berhenti namun teringat perkataan pak Gusty yang memintanya jangan berhenti dan tetap melanjutkan perjalanan ketika bertemu sesuatu yang aneh dalam perjalanan.
Dikumpulkan keberaniannya lalu melewati para pria dan penari wanita tersebut dengan kecepatan tinggi tanpa menoleh kiri dan kanan. para pria dan penari wanita itu hanya melihat Deddy melewati mereka dengan mulut terkunci, setelah melewati mereka, Deddy menolehkan
pandangan ke belakang dan tak melihat mereka lagi.
"Haaaaah.... Apakah mereka adalah para Meo Timor yang menjaga perbatasan kerajaan Amarasi jaman dulu? dan para Penari wanita itu? Batin Deddy sambil melajukan motornya dengan banyak tanda tanya.
Beberapa puluh menit perjalanan, akhirnya Deddy tiba di pemukiman penduduk, ini menandakan sedikit lagi ia akan tiba di persimpangan keluar dari jalan menuju bendungan Tilong dan memasuki jalan pusat trans Timor.
"Sepi sekali, hahaha... aku lupa kalau ini sudah sangat larut." Celetuk Deddy setengah tertawa.
Dia boleh sedikit tertawa karena mulai memasuki area pemukiman
penduduk, sebab dari tadi hanya kejadian mencekam yang menemani
dirinya sepanjang perjalanan dari Amarasi.
Makin banyak perumahan penduduk yang ia lewati sehingga membuat senyum keluar dari wajahnya, sehingga ia melanjutkan perjalanan dengan santai.
"Rrrrerreetttrt, bbbbbrrrrruk..." bunyi gemericit ban motor akibat Deddy menahan rem sekuat tenaga disertai bunyi tabrakan.
Rupanya Deddy menabrak seekor kucing hitam yang tiba-tiba
__ADS_1
memotong jalan, ia lalu berhenti untuk mengecek keadaan kucing tersebut. Namun kucing itu bangun dan berlari lalu menghilang ke arah semak belukar.
"Pertanda apakah ini? Terlalu banyak kejadian aneh dari awal perjalanan hingga sekarang. Semoga sampai di Kupang dengan selamat..."
la lalu naik ke atas motornya dan melanjutkan perjalanan, senyum Deddy makin keluar ketika tiba di persimpangan bendungan Tilong. la lalu berhenti di depan sebuah kios kecil untuk sekedar membeli rokok dan melepaskan kram karena terlalu lama duduk di atas motor.
la membakar rokok dan terus melanjutkan perjalanan agar segera tiba di rumahnya.
la mengurungkan niatnya saat tiba di pertigaan untuk melewati jalur Bimoku karena teringat akan cerita Itis, Ryan,dan Enzo yang sempat ditodong pistol rakitan oleh dua orang yang diduga sebagai begal, dia lantas melewati jalur Lasiana. Saat melewati daerah Oesapa, Deddy memberhentikan motornya di depan warung yang menjual nasi goreng. rasa lapar ternyata sudah menyerang perut Deddy sedari tadi.
"Mas, nasi goreng dua, dibungkus, sambalnya banyak ya, kerupuknya juga banyak."
"Lapar yah mas? sampai makan dua bungkus, hehehe..."
"Tidak mas untuk cewe ini juga..." "Cewe yang mana mas? dari tadi mas sendirian kok..."
"Maksud saya untuk cewe di rumah mas hehehe..." Deddy yang menyadari mereka tak bisa melihat Litha pun segera berkilah. Oesapa-Kelapa Lima-Pasir Panjang-Pasar Oebobo, dan akhirnya Deddy
Baru saja senang karena sudah tiba di rumah, tiba-tiba tercium aroma amis dan busuk yang sudah tak asing baginya, ia lalu memalingkan kepala ke kiri dan ke kanan untuk mencari sumber bau busuk tersebut, ia mendapati kuntilanak merah sedang bertengger di atas pohon beringin kecil depan rumahnya. Kuntilanak itu menunjukkan jarinya ke arah motor. Mata Deddy pun tertuju pada sehelai selendang merah di atas dudukan motornya.
Dia lalu buru-buru mengambil selendang itu dan masuk ke rumahnya, menyalakan lampu dan menuju kamar kosong di rumahnya. Dan membongkar sebagian kecil lotengnya untuk naik ke atas serta mengikat selendang di atas tiang kosen atau peyangga seperti yang diperintah kan pak Gusty.
Selesai mengikat selendang tersebut, Deddy turun lalu keluar dan mengunci kamar itu rapat-rapat lalu bergegas menuju kamarnya untuk membersihkan diri.
"Akhirnya bisa mandi air hangat, segar rasanya."
"Hmmm, haaaah apa tadi?"
Deddy yang sedang asik mandi, kaget saat merasakan ada tangan yang memeluknya dari belakang. Saat dia membuka mata tangan itu sudah tidak ada. Dia pun segera menyelesaikan mandinya, lalu berpakaian dan menuju kasurnya untuk beristirahat.
Baru sebentar menaruh kepala di bantal, ia sudah langsung pulas
__ADS_1
tertidur.
Rupanya dia kecapean dalam perjalanan, sebuah tangan halus mencoba mengelus wajahnya dengan lembut. Sosok Litha hadir di kamar dan menjaga Deddy dalam lelap.
Dibawah lampu temaram sambil mengelus wajah Deddy, Litha menyanyikan tembang tahun 60an berjudul kesunyian malam dengan suara yang datar dan mata yang begitu sayu.
Selesai menyanyi, Litha duduk di samping Deddy sambil menyisir rambutnya yang panjang bergelombang dengan mata yang kini menatap tajam ke arah Deddy yang tertidur pulas.
Detik berganti detik menit berganti menit malam berganti pagi, Deddy
yang tertidur pulas akhirnya bangun. Saat ingin bangkit dari ranjangnya
ia memegang sekumpulan rambut hitam bercampur uban panjang
dengan aroma amis yang berhamburan begitu saja di atas ranjangnya. "Rambut siapa ini, apakah rambut Litha? hm... atau rambut dari sosok asli Litha yang sesungguhnya?"
la lantas membersihkannya lalu membuangnya di tempat sampah dan
menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah selesai, ia teringat akan tas berisi daun kering dan bunga melati yang ia bawa kemarin.
"Aku sudah tidak sabar ingin membukanya..." Dibukanya tas itu dengan sangat pelan dan...
"Yeeeeesss...... wwwwwhooaaaa........ aku kaya... aku kay..., kayaaaaaaa" Teriak Deddy kegirangan
aku
Deddy senang bukan main, bagaimana tidak, di dalam tas tersebut terdapat banyak lembaran uang.
"Anni, aku siap membeli mulut busuk ayahmu, tunggu saja" ucap Deddy
__ADS_1
sinis.