
Sementara itu pak Gusty memalingkan wajahnya dan melempar senyum kepada sosok perempuan bergaun merah yang sedang duduk di dahan pohon beringin besar itu.
Di dalam kamar, Deddy belum bisa memejamkan mata sambil menatap selendang merah yang digenggamnya.
"Siapakah wanita itu? Aku ingin bertemu dan mengembalikan selendang ini, mungkin dia sedang mencarinya."
Dia lalu meletakkan selendang tersebut di samping tempat ia berbaring dan berusaha memejamkan mata agar segera singgah ke alam mimpi.
Setelah dipeluk kantuk dan dibelai waktu selama 15 menit, akhirnya Deddy pun pulas tertidur dan sukses tiba di alam mimpi. Dalam mimpinya, Deddy sedang duduk di bawah pohon beringin besar tempat dia melihat wanita bergaun merah tadi, angin berhembus kencang dan tiba-tiba tercium aroma amis anyir yang sangat menusuk hidung, terdengar suara perempuan yang sedang tertawa nyaring. Deddy menengadahkan kepala ke atas dan melihat sosok perempuan dengan wajah setengah rusak dan penuh belatung sedang tertawa sambil melihatnya dengan sorot mata yang tajam.
"Aaah aaah si sia siapa kamu? Jangaan ganggu aku!"
Perempuan itu mengambil belatung hidup di wajahnya, dimasukkan ke dalam mulutnya, lalu dimakannya dengan rakus.
__ADS_1
Sisa-sisa belatung di mulut perempuan itu pun berjatuhan di wajah Deddy.
Deddy yang kaget dan takut lantas hendak berlari meninggalkan wanita itu namun kaki dan seluruh tubuhnya tak bisa digerakkan, perempuan itu lalu melayang dari atas pohon turun ke bawah dan berhenti tepat di depan Deddy.
"Hhhhmmmm,heeeaaaaam heeeeeaaaaaam..."
Deddy ingin berteriak namun mulutnya kaku seperti ada yang menahan.
Sekarang Deddy dapat melihat sosok itu dengan jelas, di separuh wajahnya terdapat luka dan lubang mengangah, sehingga Deddy dapat melihat belatung hidup lalu lalang keluar masuk dari luka tersebut, dari situlah sumber bau amis yang sangat menusuk hidungnya.
Perempuan tersebut lalu membuka mulutnya lebar-lebar dan keluarlah sekelompok kecoak yang terbang hinggap dan mengerubungi seluruh tubuh Deddy, Dibukanya lagi mulutnya dan keluar seekor ular berwarna hitam. Deddy makin ketakutan saat ular itu mendesis dan mendekatinya, Ular tersebut membuka mulutnya hendak mematok, Deddy berusaha sekuat tenaga untuk membuka mulutnya dan berteriak sekencang-kencangnya.
"Aaaaaaaaaaaaaaaarrrrrghhhhhhgg haaah haaah haaaaah haaaaah"
__ADS_1
Dia tersadar dari mimpinya dengan tubuh penuh keringat dan napas memburu.
"Aaarghh, pak Gusty sejak kapan berada di samping saya?"
Deddy lebih kaget lagi ketika melihat pak Gusty sudah berada di dalam kamar tepat di sampingnya.
"Aku masuk ke sini karena mendengarmu berteriak."
"Tapi, bagaimana bapak masuk? Karena sebelum tidur saya ingat betul sudah mengunci pintu kamar."
"Tidurlah, kamu harus benar-benar siap untuk ritual ini." Ujar pak Gusty sambil melangkahkan kaki keluar dari kamar.
Deddy hanya terdiam heran atas apa yang menimpanya.
__ADS_1
Deddy lalu teringat selendang merah yang disimpannya sebelum tidur. Dicarinya selendang merah yang tadi disimpannya disamping pembaringan tapi tak dapat ia temukan, dia bangun dari kasur lalu mencari seisi ruangan tapi tetap nihil.
"Tak mungkin selendang itu hilang begitu saja." Batin Deddy penuh tanda tanya.