
"Sepertinya ada yang disembunyikan oleh Deddy, tapi apa ya? atau mungkin perasaanku saja yang berkata lain? mudah-mudahan tidak ada maksud jahat di balik semua ini? Lia membatin sambil menatap Deddy yang berjalan ke dalam.
Lia pun berjalan masuk ke dalam mengikuti langkah Deddy.
Sesampainya di dalam, Lia mendekati Revhan untuk memberitahukan perihal kematian Itis kepada Revhan, namun melihat Revhan yang tiba tiba seperti murung, Lia berpikir kalau Revhan pasti sudah mengetahuinya.
la lalu menggenggam tangan Revhan sebagai tanda penguatan.
"Kau tahu? Itis merupakan sahabat terbaik yang aku punya, Kami sudah bersama sejak kecil, haah.... meski sedikit miring otaknya, tapi dia sosok yang sangat baik dan disayangi banyak orang." Ucap Revhan pada Lia dengan pelan.
"lya, aku mengerti perasaanmu, aku turut berduka ya sayang.." ucap Lia sambil memeluk erat tubuh Revhan.
"Hm, Terimakasih sayang."
Malam pun tiba, mereka masih bersama di tempatnya Lia. Setelah selesai makan,mereka masih berbincang kecil.
"Aku sampai sekarang masih penasaran, mengapa Itis bisa meninggal? Ucap Lia sambil memandang yang lain.
"Terlebih lagi sama aku, rasa penasaranku muncul saat ayahku meninggal dengan tak wajar, apalagi saat aku melihat arwah ayahku, seolah dia ingin mengatakan sesuatu. Dan dengan kematian Itis, maka rasa penasaranku makin tergali." Sambung Anni.
"Pasti ada sesuatu yang yang menyebabkan mereka meninggal secara tak wajar." Ujar Revhan sambil menatap Deddy dalam-dalam. Deddy hanya menatap Revhan sebentar dan memalingkan wajahnya,
kemudian memegang tangan Anni dengan erat.
Malam makin larut, satu persatu dari mereka mulai mengantuk dan memilih untuk merebahkan tubuh mereka di kasur. Tinggal Deddy sendiri yang masih duduk di luar sambil menyeruput kopi Flores yang hampir meninggalkan ampas. Tak pelak dia menarik asap rokok dalam dalam lalu menghembuskan kepulan-kupalan asap.
Sesekali ia mengerutkan dahinya, tanda ada sesuatu yang sedang bermain dengan pikirannya.
"Aku jadi takut menikahi Anni, aku takut dia menjadi korban berikutnya karena kesalahanku, namun di satu sisi aku ingin sekali memperistri dia, terdengar egois memang, tapi orang-orang tak pernah tahu betapa aku mencintainya. Ah..... siaaaaal... siaaaal... sial apa aku ini?" Batin Deddy yang bingung dan kesal pada dirinya sendiri.
Tak mau menderita dengan pikirannya sendiri, Deddy lantas menarik rokok dan menyelesaikannya dengan melempar puntung rokok ke
tanah. Kemudian ia masuk ke dalam guna beristirahat. la menyandarkan kepalanya di atas bantal empuk dan dalam beberapa
saat, ia sudah tertidur pulas.
Deddy yang kini sedang asik tidur,sempat terganggu karena ada percikan suatu cairan yang mengenai pipinya. Karena di rasa makin tak nyaman Deddy membuka mata dan menyekah cairan di pipinya itu, betapa kagetnya ia ketika cairan tersebut merupakan darah kental, dia lalu menengadahkan kepala ke atas untuk melihat sumber darah tersebut.
Dan sungguh kaget bukan main dirinya, ketika melihat jasad Itis sedang melayang-layang di langit-langit ruangan. "Aaaarrrgg...... arghh...."
Teriakan Deddy lantas membangunkan Revhan, Lia, serta Anni.
Mereka pun juga kaget ketika melihat banyak darah di wajah Deddy.
"Apa yang terjadi? Mengapa ada banyak darah di wajahmu?" Sahut Lia Deddy tidak menjawab pertanyaan itu, namun, dengan ketakutan ia memusatkan tatapan pada jasad Itis yang sedang melayang.
Sontak kepala Revhan, Anni, dan Lia secara otomatis ditengadahkan ke
atas untuk melihat apa yang sedang ditatap Deddy.
Mereka begitu histeris karena ketakutan melihat jasad Itis yang sedang
melayang di langit-langit ruangan itu.
__ADS_1
Mereka saling berpelukan satu sama lain di pojok ruangan, Anni pun mulai menangis ketakutan.
Meski ketakutan, Deddy dan Revhan juga merasakan heran yang luar biasa, bagaimana mungkin jasad yang sudah mereka kuburkan, bisa berada di situ.
Revhan lalu perlahan maju untuk melihat secara dekat akan jasad Itis,
namun jasad yang sedang melayang itu tiba-tiba jatuh dan
menghantam lantai dengan sangat keras.
"Aaaaarghhhhh..... aaaarghh...aaaaargh, huuuuahuuu... huuuuhuuu."
Mereka berempat berteriak histeris karena ketakutan.
Akibat menghantam lantai dengan sangat keras, ditambah jasad yang mulai membusuk, tampak beberapa anggota tubuh seperti tangan, rahang, dan gigi terlepas dari tempatnya.
Beberapa daging dari tubuhnya juga berserakan di lantai.
Aroma busuk dari jasad tersebut membuat mereka menutup hidung rapat-rapat.
Terlihat banyak belatung yang sudah gemuk akibat menyantap daging busuk, lalu lalang dari lubang besar yang mengangah di dada jasad
Praaak.... praaak..... praaak..... praaak.... praaaak.... praaaak...
milik Itis.
Terdengar suara benturan keras dengan ritme berulang dari balik pintu, Revhan yang penasaran, lalu hendak melangkahkan kakinya untuk melihat apa yang terjadi di luar.
"Please sayang, jangan, aku mohon,jangan, aku takut!" Ucap Lia menahan Revhan.
Setelah mendekati pintu, ia mencoba menyingkapkan gorden jendela
agar dapat melihat sumber suara dari balik jendela, namun tak ada
apapun di luar. "Hmmm, aneh! Tak ada sesuatu atau apa pun di luar!" Ujar Revhan
pada yang lain. Praaaak.... praaaak....praaaak.... praaaaak....
Bunyi benturan dari balik pintu pun terdengar kembali, dengan sigap Revhan kembali melihat dari balik jendela namun tak mendapati apapun.
Praaaak.... praaaaak... praaaaak.....
Sedikit kesal karena merasa dipermainkan, akhirnya Revhan pun membuka pintu, namum kali ini ia mendapati sesosok pria bertubuh tambun dengan kepala tertutup kain putih sedang membenturkan kepalanya ke dinding dekat pintu, Revhan yang ketakutan langsung berlari ke arah rekan-rekannya.
Bruuuukk....
Tubuh Revhan seketika ambruk karena tidak sengaja menginjak tangan Itis di lantai, dia jatuh menindih jasad Itis, sehingga wajahnya seolah terbenam di dalam lubang mengangah di dada jasad tersebut.
Dia makin ketakutan dan berusaha bangkit, nampak wajahnya dipenuhi
darah segar dan berbau amis.
Beberapa belatung menempel di sekitar mulut dan pipinya.
__ADS_1
Dengan ketakutan bercampur rasa jijik ia berusaha menghindar dari jasad Itis sambil membersihkan wajahnya.
Sosok pria tersebut lalu berhenti membenturkan kepalanya, dengan perlahan lalu berjalan masuk ke dalam, Anni yang ada disitu menangis sejadi-jadinya karena sosok tersebut merupakan ayahnya sendiri.
"Ayaaaaaah.... ayaaaah.. mengapa sampai ayah seperti ini?" ucap Anni sambil menangis.
Sosok pria tersebut lalu mengangkat tangannya dan menunjuk ke arah Deddy.
Lampu dalam ruangan itu tiba-tiba mati beberapa detik, dan setelah
menyalah Sosok pria dengan kepala ditutupi kain putih tadi sudah lenyap beserta dengan jasad Itis.
Teror ini makin menambah babak baru dalam pikiran Lia dan Anni.
Dengan terburu-buru, Deddy lalu melangkah keluar menuju mobilnya. Revhan, Anni, dan Lia yang kebingungan lalu menyusul mengikuti langkah Deddy.
"Mau kemana kamu?" Tanya Revhan.
"Aku harus menyelesaikan masalah ini sekarang juga!" Jawab Deddy setengah berbisik
"Jangan gegabah! Bagaimana kalau Anni dan Lia curiga hah?" Bagaimana kalau kamu mati di sana?" Aku sudah kehilangan sahabat terbaik dalam hidupku, jangan ada lagi yang mati!" Hardik Revhan pada Deddy.
"Tapi ini semua karena aku, aku tidak mau kalian kenapa-kenapa,
terlebih Anni!"
"Dengar aku!, jika kamu pergi dan mati, siapa yang akan menjaga
Anni?"
"Haah...baiklah, aku minta maaf."
Mereka berdua lalu berjalan masuk ke dalam.
Sesampainya di dalam Lia dan Anni mencecar mereka berdua dengan
beberapa pertanyaan.
"Apa yang kalian berdua bicarakan di luar tadi?"
"Terus mau kemana kamu tadi Deddy?, mengapa arwah ayahku menunjuk ke arah kamu?"
"Deddy tadi sempat marah, dan ingin mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, dan oia Anni bisa saja arwah ayahmu menunjuk Deddy sebagai korban tewas berikutnya kan? Kita tak tahu!" sambung Deddy
"Maksud kamu? Memangnya mau mencari tahu kemana? Dan mengapa Deddy harus menjadi korban tewas berikutnya? Dan memangnya apa sudah kalian lakukan?"
"Ini hanya asumsiku saja, karena kita semua di sini tidak tahu apa yang
sebenarnya terjadi, lebih baik kita semua lanjutkan tidur kita yang terganggu atas peristiwa tadi."
"Apa yang kau dan Deddy sembunyikan? Aku bukan wanita bodoh, ingat itu!" ucap Lia sedikit berbisik pada Revhan.
"Pikiranmu sedang kacau karena terlalu capek dengan kejadian yang kita alami, sudahlah, aku juga tak tahu apa-apa, mengapa bisa seperti ini, tidurlah!"
__ADS_1
Mendengar jawaban Revhan, Lia pun berlalu meninggalkan Revhan dengan sejuta pertanyaan dalam penjara pikirannya.