
Lit.. Lit.. Lithaaaaaa..."
Betapa kagetnya Deddy melihat sosok wanita di dalam kamar tersebut adalah Litha, wanita misterius yang sempat menarik perhatiannya ditengarai sebagai sosok mengerikan yang tadi membuat Deddy takut setengah mati.
"Lit... litha, apa betul kamu adalah..."
"Kuntilanak merah?" Sambung Litha memotong percakapan.
"Iya aku adalah kuntilanak merah, rumahku di pohon beringin besar itu."
"Mana mungkin gadis secantik kamu!, hmm tak pantas kamu menjadi seorang kuntilanak."
"Mau kutunjukkan sosok asliku?"
"Jangan..., jangan ku mohon jangan!"
"Hehe duduklah disampingku."
Deddy masih takut dan enggan mendekat ke arah Litha.
"Jangan takut, aku takkan membunuh suamiku sendiri."
"Suamiiii?"
"Iya suami, kamu sekarang adalah suamiku dan kamu tidak akan bisa lari dariku!"
"Aa...aaah.. iya."
"Mari mendekat ke sini!"
Dengan sedikit ketakutan Deddy mendekat ke arah Litha yang setengah berbaring di ranjang.
"Jangan takut!"
Deddy duduk di atas ranjang dengan sedikit takut, dia menghirup dalam-dalam aroma tubuh yang keluar dari tubuh Litha.
"Hmmm aneh, tidak ada bau amis sedikit pun. Wangi sekali tubuhnya." batin Deddy
"Deddy..."
Deddy lalu menolehkan wajahnya ke arah Litha. Namun dia masih setengah takut, dengan jelas sosok di luar tadi masih terbayang di wajahnya.
"Tenang Deddy, aku tak seperti di luar tadi."
"Kamu bisa membaca pikiranku?"
Litha hanya tersenyum lalu bangkit dan memeluk Deddy dari belakang serta mencium punggung Deddy.
Setelah beberapa saat Deddy pun membalas ciuman itu, mereka serta merta bercumbu layaknya sepasang suami istri.
"Wah berhasil, tugasku telah selesai." Ucap pak Gusty yang dari tadi menguping pembicaraan antara Litha dan Deddy dari balik pintu kamar.
Malam pun berganti pagi, Deddy yang masih setengah sadar di atas ranjang buru-buru membuka matanya karena merasakan ada yang ganjil di atas kasurnya
"Dimana Litha? mengapa bisa banyak daun kering dan bunga melati diatas kasur ini?"
Deddy lantas berpakaian dan segera mencari pak Gusty, didapatinya pak Gusty sedang asik minum kopi diluar.
"Pak, pak, saat saya bangun Litha sudah tidak ada. Dan anehnya banyak daun kering dan bunga melati bertebaran di atas kasur."
"Sudah bangun kamu rupanya, Oh itu. Coba kamu lihat di bawah ranjang ada sebuah tas, masukan semua daun kering dan bunga melati di dalamnya lalu tutup rapat dan biarkan selama sehari, keesokan harinya baru boleh kamu buka. Lakukan hal yang sama tiap pagi setelah malamnya kamu bercumbu dengan kuntilanak merah"
"Apa yang akan terjadi pak setelah itu?"
"Lakukan saja sesuai perintah!"
"Baik pak."
Deddy lantas bergegas masuk ke kamar tadi dan merogoh sebuah tas di bawah ranjang dan mengisi penuh tas tersebut dengan daun kering dan bunga melati.
Setelah melakukannya Deddy langsung pergi menemui pak Gusty di depan.
"Sudah saya lakukan pak."
"Bagus, Malam ini kamu boleh pulang ke Kupang."
__ADS_1
"Kenapa harus malam pak? Mengapa tidak sekarang?"
"Karena kamu akan membawa kuntilanak itu pulang bersamamu."
"Apa pak? Di bawa pulang?"
"Walaupun berbeda dunia, kalian adalah suami istri. Dan kamu tidak bisa lari darinya, jangan pernah membuat kuntilanak merah marah kalau tidak kamu dan keturunanmu akan menanggung akibatnya."
"Baik pak." sahut Deddy dengan ketakutan?
"Di rumah kamu ada kamar kosong?"
"Ada pak, mengapa?"
"Kamar itu akan ditempati oleh kuntilanak merah nantinya."
"Bagaimana caranya pak?"
"Kuntilanak tersebut akan memberimu sebuah selendang, setelah sampai di rumah langsung pergi ke kamar kosong itu dan ikat selendangnya di tiang penyangga atap di balik loteng."
"Maksud bapak selendang berwarna merah?"
"Bagaimana kau tahu?"
"Saya pernah menemukannya dan juga pernah bermimpi soal selendang itu pak."
"Oh" tambah pak Gusty singkat sambil mengangguk-anggukan kepalanya.
"Ada lagi pak?"
"Jangan biarkan siapapun selain kamu yang masuk ke kamar itu."
"Mengapa pak?"
"Ikuti saja!" jawab pak Gusty serius
"Iya pak terimakasih, saya permisi keluar sebentar."
"Mau kemana?"
"Hmmm..." jawab pak Gusty singkat seraya mengiyakan.
Deddy berjalan menghampiri pohon beringin besar di depannya, seperti mencari sesuatu namun tak ditemukannya. Kemudian ia berjalan masuk ke arah hutan melihat-lihat sekeliling namun juga tak mendapatkan apa yang ia cari
"Kemana dia?, katanya rumah dia di pohon beringin, dihampiri tapi tak ada, di hutan juga tak ada." batin Deddy mencari Litha.
Karena tak menemukan Litha, akhirnya Deddy melangkahkan kaki pulang ke rumah pak Gusty.
Sesampainya di rumah, Deddy langsung menuju kamar dan hendak merebahkan diri tapi
betapa kagetnya ia ketika melihat belasan ular berbisa di atas kasurnya.
Dia langsung berteriak dan berlari keluar kamar
"Aaaaah tolong, pak Gusty, pak, tolong..."
"Ada apa Deddy?" jawab pak Gusty sambil berlari menuju Deddy
"U...ular pak, ada ular di kamar pak."
Pak Gusty langsung menuju kamar dan tidak menemukan seekor ular pun di situ.
"Tidak ada ular atau apapun di dalam kamar, Mungkin kamu berhalusinasi, atau mungkin karena cuaca terlalu panas siang ini."
"Tapi pak yang saya lihat begitu nyata pak, tidak mungkin saya berhalusinasi."
"Coba kamu masuk ke dalam dan lihat sendiri."
Deddy masuk ke kamar dan juga tidak menemukan seekor ular pun di dalamnya. Dia terheran-heran atas apa yang baru saja di alaminya.
"kamu beristirahatlah,mungkin kamu terlalu capek, atau terlalu banyak pikiran."
"Iya pak." sahut Deddy singkat
"Sebenarnya apa yang terjadi? Litha tidak ada, dan aku melihat belasan ular berbisa di atas kasur, tidak mungkin hanya halusinasi, semua ini terjadi setelah semalam." batin Deddy
__ADS_1
Ia lalu merebahkan diri dan berbaring sebentar.
"Bbbbbp bbbbp bbbp..." hp Deddy bergetar
"Hallo Itis."
"Hallo bro, bagaimana? Lancar?"
"Lancar bro."
"Wah mantap, kapan pulang?"
"Malam ini bro"
"Sampai Kupang tolong traktir moke ya bro hehe."
"Hehehe aman bro siap, tapi ada sesuatu yang aneh bro."
"Apa itu bro?"
"Tadi aku melihat belasan ular berbisa di atas kasur, saat dilihat lagi tak ada.Apa kamu pernah mengalami hal yang sama?"
"Tak pernah, mungkin halusinasimu saja bro."
"Mungkin juga bro"
"Baiklah, sampai jumpa di kupang."
"Ok bro siap."
Malam hari pun tiba dan Deddy juga sudah selesai bersiap-siap untuk kembali ke Kupang.
"Semua barang-barangmu sudah kamu kemas?"
"Sudah pak"
"Oia, sebentar kamu lewat jalan yang satunya saja, jalannya lebih bagus namun sangat sepi, jalannya nanti akan berujung ke cabang bendungan Tilong."
"Terimakasih pak sudah sangat membantu saya, ini ada sedikit buat bapak, saya mohon ambil lah." Sahut Deddy sambil menyodorkan sebuah amplop coklat tebal kepada pak Gusty.
"Terimakasih, hati-hati di jalan ya."
"Terimakasih kembali pak."
"Oh satu lagi, jika dalam perjalanan kamu bertemu dengan apapun dan siapapun di jalan maka jangan pernah kamu berhenti, ingatlah hal ini baik-baik."
"Baik pak kalau begitu saya mohon diri pak, terimakasih atas bantuannya pak."
"Iya jika ada apa-apa hubungi saya saja."
Deddy pun lantas menyalakan motornya dan siap untuk pulang ke Kupang, sebelum berangkat dia masih menyempatkan diri berhenti di depan pohon beringin besar itu sebentar. Menatap pohon itu, lalu menyulut api ke batang rokok surya di mulutnya kemudian pergi meninggalkan tempat itu.
Tepat di pukul 22:00 wita, Deddy meninggalkan Amarasi dengan kecepatan sedang, pikirannya berlari menuju wajah Litha, istri kuntilanaknya.
Sekitar 15 menit perjalanan, tiba-tiba Deddy mencium aroma amis menyengat yang mengikutinya. Ternyata Deddy mulai menyadari kalau itu merupakan sosok kuntilanak merah. Tak pelak dia melihat sosok tersebut sedang bergelantungan di atas pohon besar pinggir jurang sambil tertawa dan memandang ke arahnya, Deddy ketakutan namun ia harus mulai membiasakan diri akan hal itu.
Beberapa saat kemudian ia mulai merasakan ada yang aneh dengan motornya.
Seperti sesuatu yang berat diatas motor yang sedang melaju itu, apalagi aroma amis yang tadi hilang dan berganti menjadi aroma harum kemana-mana."
Ditolehkan kepalanya menghadap spion motor dan ternyata dia melihat sosok Litha yang juga sedang menatapnya melalui spion sambil tersenyum.
Dia kaget kalau sedang membonceng Litha.
"Kamu sejak kapan disitu?"
Ucap Deddy setengah takut.
"Baru saja, hehehehe...."
Deddy hanya diam menahan takut sambil menarik gas motornya kencang-kencang.
Jalan semakin sempit dan berbuku-buku sehingga Deddy memperlambat laju motornya. Dari dalam hutan Deddy mendengar seseorang sedang menyapu, sambil menahan gas motor ia menolehkan wajahnya ke samping kanan dan melihat seorang nenek sedang menyapu di tengah hutan.
Nenek tua itu melihat Deddy dengan sorot mata yang sayu, karena takut Deddy menambah laju motornya.
__ADS_1
Dan akhirnya ia tiba pada suatu sungai kecil yang meluap menutupi jalan, dikiranya jalan tersebut putus karena banjir. Ia lalu memperlambat laju motor dan hendak melewatinya dengan hati-hati, baru setengah jalan melewati sungai tersebut Deddy melihat dua anak kecil sedang berenang sambil memercikkan air ke satu sama lain, menyadari kehadiran Deddy, dua anak kecil tersebut berhenti dan menatap Deddy dengan sorot yang tajam pula. Semakin ketakutan ia pun menambah kecepatan motornya sehingga melewati sungai kecil itu.