
Mendengar jawaban Revhan, Lia pun berlalu meninggalkan Revhan dengan sejuta pertanyaan dalam penjara pikirannya.
"Awas saja kalau ketahuan, tak akan kumaafkan!" Batin Lia kembali ke
kasur
Mereka melewati malam tersebut dengan ketakutan dan tanda tanya yang luar biasa, apa lagi hawa dingin yang mencumbui raga, sukses membuat ******* hati mereka dengan perasaan yang pelik.
Beberapa dari mereka tak dapat memejamkan mata hingga malam berlalu, baru lah pada saat di matahari hampir merekah, mata mereka diserbu oleh kawanan kantuk.
Kira-kira pada pukul 09:00 Wita Deddy bangun, jemarinya langsung
meraih handphone yang ditaruh di bawah bantal. Nampak, matanya
beradu dengan layar, tetiba mukanya sedikit bingung, digaruknya
kepala yang tak gatal itu sebagai simbol pikiran yang buntu.
Dia lalu membangunkan Revhan dengan segera. Setelah Revhan terbangun, dia langsung menyodorkan HPnya ke arah Revhan. Sama halnya dengan Deddy, Revhan pun menggaruk kepala yang tak
gatal, ikut bingung.
"Bagaimana ini? Pak Gusty tak jadi ke sini, karena harus ke Malaka, untuk menjenguk anaknya yang sakit!" Ucap Deddy
"Aku bingung, sebaiknya kita bersabar saja, hingga pak Gusty datang
ke sini. Karena hanya dia mampu mengatasi masalah ini." Jawab
Revhan memastikan.
"Hmmm, Kalau begitu kita harus siap, akan teror yang terjadi pada kita setiap hari nantinya."
"Itu konsekuensi dari apa yang sudah dilakukan bro!"
"Aku minta maaf, sudah membawa kalian dalam masalah ini."
"Sudahlah, sudah terlanjur, kita hadapi bersama saja!" "Terimakasih, kamu dan Itis adalah orang yang paling bisa ku andalkan,
namum sepeninggal Itis, hanya kamu yang bisa terus ku andalkan, aku sangat menghargai bantuan kamu dan Lia."
"Sama-sama bro, setelah ini semua selesai, aku harus balik ke Lembata
untuk beberapa saat."
"Baik bro...."
Satu minggu pun berlalu, namun hanya ada teror-teror kecil tak berarti, seperti pintu yang diketuk-ketuk tapi saat dibuka tak ada orangnya, atau sekedar mendengar suara dipanggil dari luar di malam hari selanjutnya setelah kejadian menegangkan malam itu. Sisahnya sudah tak ada teror lagi.
Untuk memastikan apakah masih ada teror, maka Deddy dan Revhan beranjak ke rumah Anni dan Deddy untuk mengeceknya. Disana pun juga tidak ditemukan apa-apa, hanya rumah yang berdebu seperti telah ditinggalkan.
"Kayaknya sudah aman bro," Sahut Revhan
"Kamu yakin?" jawab Deddy dengan raut wajah penuh tanya. "Kamu lihat sendiri kan? Dalam seminggu ini sudah tak ada teror lagi, rumah kalian berdua pun juga sudah aman, tak ada tanda-tanda akan kehadiran Litha lagi."
"Iya benar, tapi apa benar dengan tak adanya teror juga pertanda Litha
juga sudah menghilang?" "Aku tak tahu bro, Litha juga tadi tidak ada kan di rumahmu? Mungkin
__ADS_1
dia sudah pergi meninggalkanmu, karena lelah dikhianati..." "Hahaha lebay lu bro, sepertinya benar dia sudah menghilang."
"Ayo, kita pulang untuk memberitahukan kepada mereka!" Mereka lalu pulang ke tempat Lia dan mengabarkan berita baik tersebut pada Lia dan Anni. Kabar tersebut disambut dengan syukur dan gembira dari Lia, terlebih oleh Anni, Karena dalam hal ini dia lah yang paling tersiksa batinnya. Tangis lahir di pipi Anni sebagai perwujudan rasa haru.
Deddy dan Anni pun memutuskan untuk kembali ke rumah masing masing.
"Ka Lia, terimakasih banyak sudah banyak membantu, bahkan sangat mer aku, maafkan aku dan Ded sudah sangat merepotkan!"
"Sini sayang, aku peluk, tidak apa-apa, senang bisa membantu, kamu harus lebih berani ya, ingat itu!" Sahut Lia sambil memeluk erat tubuh Anni
"Ka Revhan, maaf sudah merepotkan, aku sangat berterimakasih sekali, aku turut berduka atas meninggalnya ka Itis." "Hehehe tak usah sungkan, aku senang kok di repotkan, apalagi sama
kamu, hehehe....." Jawab Revhan bercanda yang akhirnya disambut
cubitan di perutnya oleh Lia
"Au..au.. sakit sayang, cuman bercanda kok!"
"Hehehe Revhan, Lia, terimakasih atas segala bantuan kalian, kalian sahabat terbaikku!" Tambah Deddy
"Eh, Deddy, tolong jaga Anni baik-baik!" Sambung Lia pada Deddy
"Iya, sama-sama bro!"dengan menatap matanya dalam-dalam
"Iya, itu pasti Lia.."
"Hm, syukurlah kalau begitu."
Mereka berdua pun lalu masuk ke mobil dan berlalu dari situ, Deddy
mengantar Anni hingga masuk ke dalam rumah, hendak memastikan semuanya baik-baik saja. "Sayang, aku masih berpikir untuk mempercepat pernikahan kita," ucap
"Aku sudah tidak punya siapa-siapa selain kamu, aku tak mau sendiri.
Apalagi aku sudah sangat mencintai dirimu!" "Aku juga sangat mencintaimu, secepatnya kita akan menikah!" Jawab
Deddy
Jawaban Deddy disambut ciuman lembut di bibirnya oleh Anni, Deddy lalu membalas ciuman itu, mereka saling berpagutan satu sama lain. Praaaaak.....
Bunyi bingkai foto milik ayah Anni yang terjatuh hingga pecah
berantakan, mereka berdua yang kaget lantas menghentikan adegan
ciuman itu dan memeriksanya.
"Mungkin karena angin, lihat, jendela itu terbuka lebar." Ucap Deddy
meyakinkan Anni
"Mungkin juga sayang,"
"Ah... kalau begitu aku pamit ya, mau balik ke rumah dulu, kamu tak
apa-apa kan aku tinggal sendiri?"
"Baiklah, iya sayang, aman!"
__ADS_1
Deddy lalu mengecup kening dan bibir Anni, kemudian pergi meninggalkan Anni seorang diri di situ.
Anni menyempatkan diri memeriksa kamar milik ayahnya, setelah memastikan semuanya aman, ia lekas mandi dan memilih untuk beristirahat.
Di lain tempat, ketika Deddy tiba di rumahnya, ia juga memeriksa keadaan rumahnya dengan seksama. Lalu ia tiba di depan pintu kamar di mana kamar tersebut merupakan kamar yang ditempati oleh Litha.
Sedikit ragu ia membukanya, namun dengan keberanian yang terkumpul, akhirnya pintu kamar tersebut terbuka dan hanya mendapatkan kamar kosong, dengan bau amis anyir dan ruangan yang dipenuhi sarang laba-laba.
"Hmm, mungkin dia sudah pergi meninggalkan aku! Syukurlah, dengan begini aku bisa segera menikahi Anni tanpa takut!" batin Deddy.
"Haah...
Apakah itu Litha? Tidak... tidak... Itu bukan Litha, lantas itu
siapa?" Deddy menampar-nampar wajahnya, dia berpikir mungkin dirinya sedang berhalusinasi.
"Haaah... ini nyata, Anni tidak boleh tahu akan hal ini, dia akan sangat ketakutan, apalagi besok merupakan hari pernikahan kami!" Kejadian tersebut membuat Deddy tak bisa tidur, ia memeras pikiran
sedari tadi. "Apa benar gadis tersebut bukan Litha? Jika bukan Litha, siapakah dia? Maksud apa dia datang mengunjungiku dengan menyerupai Anni?
Apakah dia......"
Mata Deddy tiba-tiba terbelalak, dia makin ketakutan saat mengingat ucapan pak Gusty.
"Apakah dia adalah istri kuntilanaknya Itis? Jika memang ia merupakan istri kuntilanaknya Itis mengapa ia tidak langsung membunuhku saja? Deddy hanya bisa berpikir sambil ketakutan, ditambah lagi ia teringat akan ucapan pak Gusty bahwa akan ada teror dari istri kuntilanaknya Itis.
"Besok hari pernikahanku, aku tidak boleh mengotorinya dengan terlalu banyak pikiran dan ketakutan, haah...sebaiknya aku memaksakan diri untuk tidur!"
Bip.... bip...... bip......
Baru saja ia ingin tidur, HPnya sudah bergetar lagi. "Hallo sayang, kamu baik-baik saja kan?" Ucap Anni khawatir
"Iya aku baik-baik saja sayang, maaf tadi aku terlalu mengantuk jadi langsung mematikan telepon."
"Hmmm, kamu yakin?"
"lya, aku yakin sayang, aku saja yang terlalu gugup akan pernikahan kita besok, sehingga aku berpikir sampai mengantuk, hehehe" jawab Deddy berusaha mencairkan suasana.
"Hehehe, sama aku juga sangat gugup, kalau begitu, kamu lanjutkan tidurmu, love you, mimpi indah ya!"
"Love you too sayang, kamu juga, bye"
"Bye....."
Deddy lalu mematikan telepon dan berusaha untuk tidur.
Setelah bertarung dengan waktu selama beberapa jam, akhirnya Deddy dapat tertidur pulas.
Hari pun berganti, tiba pada hari yang begitu dinantikan oleh Deddy seumur hidupnya, akhirnya ia dapat menikahi wanita yang sangat ia cintai.
Bertempat di gereja Sta. Maria Assumpta kota Kupang, mereka akhirnya dipersatukan dalam kasih di depan Altar gereja, suasana begitu haru saat mereka berdua saling mengikat janji sehidup semati, disaksikan oleh keluarga dan kerabat dari mereka berdua.
Setelah pemberkatan selesai, mereka semua pulang ke rumah Deddy untuk merayakannya. Tampak mereka semua sangat bergembira tak terkecuali Deddy dan
Anni. Namun, dari luar rumah, tepatnya di tempat Itis dikuburkan, terdapat sosok seorang wanita yang melihat ke dalam seolah tak senang akan
kebahagiaan tersebut.
__ADS_1
Dan kelihatannya sosok tersebut juga tak sendiri, Tampak dari balik pohon besar di samping kamar Deddy, muncul sosok seorang wanita yang mengeluarkan air mata, bukan air mata biasa, melainkan air mata darah yang mengalir membasahi pipinya, sehingga gaun berwarna merah yang dikenakannya makin pekat warnanya oleh darah.