KUNTILANAK ITU ISTRI KU

KUNTILANAK ITU ISTRI KU
episode 19


__ADS_3

Deddy yang ketakutan lalu berlari, meninggalkan Litha yang


menatapnya tajam sambil tertawa, serta meninggalkan kuntilanak kuntilanak lainnya yang sedang asik bermandi darah karena memakan jantung serta usus-usus yang dicabut mereka dari tubuh Ibu Dewi dan dimakan dengan sangat lahap.


la berlari dengan sangat kencang menuju ke arah mobil yang terparkir tidak jauh dari gerbang keluar.


"Bangsat! Mobilnya tak mau menyala.."


la berusaha dengan sekuat tenaga dan daya menyalakan mobilnya namun tetap sia-sia.


Litha lantas memerintahkan beberapa kuntilanak berbaju putih yang


sedang asik makan untuk menghadang Deddy.


Nampak, ada tiga kuntilanak melompat dan mendarat tepat di depan mobil, dua kuntilanak berjalan mendekati sisi pintu untuk menganggu Deddy.


Deddy makin panik dan berusaha mati-matian menyalakan mobil tersebut. Beberapa menit kemudian mobil itu pun menyala, dia lantas menabrak dan melindas sosok kuntilanak di depannya, lalu pergi


meninggalkan rumah itu. "Untung saja, kalau tidak aku bisa mati, sial.. sial..." Ucap Deddy yang begitu kesal.


la lantas melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi ke rumah


sakit untuk memastikan keadaan Anni baik-baik saja. Ia takut istrinya


juga diteror kuntilanak-kuntilanak itu.


Sesampainya di rumah sakit, dia langsung berlari ke ruang tempat Anni di rawat.


Dan ketika membuka pintu ruangan, ia sangat kaget karena hanya


mendapati kasur kosong dengan Ino yang sedang tertidur pulas. Karena marah bercampur panik, ia lalu meluapkannya dengan menendang kaki kursi yang menjadi sandaran Ino untuk tidur.


"Woy, bangun!"


"Ada apa bro?" "Anni mana?"


"Tadi ada bro"


"Sekarang coba lihat? Kosong!"


"Sumpah tadi ada bro?"


"Aku meminta kamu untuk menjaganya bukan tidur!"


"Aku juga capek lah menjaga dia seharian, ini juga ketiduran bukan mau tidur!" Ino pun juga mulai meradang


"Ya sudah aku minta maaf bro, ayo kita cari dia."


Mereka berdua lantas berjalan keliling sambil menanyakan keberadaan Anni pada para perawat.


Para perawat yang kaget pun juga ikut mencari Anni dibantu beberapa


security rumah sakit.


Seorang cleaning service datang menghampiri security, katanya ada seorang wanita yang terlihat sedang memakan ari-ari bayi yang baru selesai dilahirkan. Mereka bersama lalu bergegas ke tempat yang dimaksud, setibanya di situ, dengan rasa jijik bercampur ngeri mereka menatap wanita tersebut yang merupakan Anni sedang meminum darah sisa melahirkan dari sebuah wadah hingga habis.


Setelah selesai minum, Anni langsung membalikkan tubuhnya ke arah mereka, kemudian memuntahkan seluruh isi perutnya, lalu tersungkur tak sadarkan diri dengan sendirinya.


Deddy yang dibantu Ino lalu menggotong tubuh Anni ke sebuah ranjang dorong dekat situ, kemudian membawanya ke ruangan dan langsung diperiksa oleh dokter.


Dokter menyarankan agar tangan dan kaki Anni di ikat pada ranjang


demi kebaikannya sendiri, meski terlihat sedih, Deddy pun turut


membantu mengikatnya, lalu duduk menjaganya bersama Ino.


"Bro, aku keluar beli makan dulu ya, kamu belum makan kan?" Ujar Deddy. "Aku memang lapar, tapi aku tak berniat lagi untuk makan setelah

__ADS_1


melihat dengan mata kepalaku sendiri akan kejadian tadi, aku titip


rokok dan kopi saja."


"Ok bro, tapi ingat awasi terus Anni."


"Iya tenang!"


Ino dudu sambil menatap Anni tanpa berpaling ke kanan dan kirinya. "Kenapa aku diikat? Lepaskan aku!" Ucap Anni sambil sedikit merontah


Anni yang tertidur, kini tersadar dan mulai memberontak,


"Maaf kak, ini demi kebaikan kakak." "Jika kamu lepaskan aku, maka malam ini aku tidak akan membunuhmu!"


"Maksudnya kak?"


"Please lepaskan aku, sakiiiiit...."


Ino pun dibuat bingung, dia tak menyadari kalau Anni sedang kerasukan.


"Mendekatlah padaku." Ucap Anni pelan


"Aku kak?"


"lya berdirilah di sampingku."Ino perlahan mendekati Anni dengan sangat hati-hati.


"Cuuuiiiiiiihhhh, hihihihi...hihihihihi.."


"Hah? Kenapa kakak buang ludah padaku?


"Malam ini... kalian harus mati


Malam ini.... kalian harus mati


Malam ini.... kalian harus mati


Anni yang sedang kerasukan mengulang kalimat tersebut sambil


memandang ke arah Ino. Tiba-tiba, ia melayang diatas kasur lalu terhempas lagi ke ke kasur dengan keras, begitu seterusnya sambil tertawa dan menatap wajah Ino.


Ino pun tersadar kalau Anni sedang kerasukan, dia ketakutan setengah mati, kemudian melangkahkan kaki hendak kabur, saat ingin membuka pintu dan berlari, ia bertabrakan dengan Deddy.


"Kenapa bro?" "Kak Anni kerasukan, aku takut!"


"Aman bro."


"Aman bagaimana? kau gila? dia mengancam akan membunuhku, aku belum mau mati, aku pergi saja!"


"Tapi bro.. brooo..."


Ino sudah tak memperdulikan panggilan Deddy, ia terus berlari ke parkiran dan pulang.


Di dalam perjalanan ke rumah, ia merasakan kalau motornya agak


sedikit berat seperti ada yang mendudukinya di belakang.


la mengarahkan tangannya ke belakang untuk meraba meraba,tangannya mengenai sesuatu yang bentuknya seperti paha manusia. la lalu menatap ke arah kaca spion dan terkaget-kaget ketika melihat Anni sedang duduk di belakang sambil menatapnya tajam tajam dari spion.


Ino pun berteriak dengan kencang, sedangkan Anni hanya tertawa sambil menatap ino. Saking takut dan kagetnya, motor Ino menghantam sebuah bus yang melintas, tubuh dan motornya terguling masuk ke kolong bus dan akhirnya digilas oleh bus itu, karena sarat penumpang, tampak kepala Ino pecah sehingga otaknya yang sudah menjadi seperti bubur berceceran di atas aspal, rahangnya patah, anggota tubuh yang lain dari ujung kaki hingga pinggul terlepas dari badannya, sehingga menyisahkan bagian perut ke atas, karena setelah digilas, tubuhnya masih terseret beberapa ratus meter barulah bus tersebut dapat berhenti.


Nampak, di beberapa ratus meter aspal jalan tersebut, dipenuhi darah segar dan sisa-sisa daging yang berceceran menempel di aspal jalan.


Dari seberang jalan, tampak sesosok wanita tersenyum puas menyaksikan kejadian naas itu.


Sementara di rumah sakit,


Bip...bip...bip.... HP Deddy bergetar tanda ada panggilan masuk.

__ADS_1


"Hallo, Revhan."


"Bro, di mana Ino?"


"Dia sudah pulang bro?"


"Coba buka AFB TV sekarang!"


"Ok bro, jangan matikan telepon."


"Dari rekaman CCTV sebuah toko grosir, pemuda tersebut terlihat sedang membonceng seorang wanita, namun ketika terjadi kecelakaan wanita tersebut sudah berada di seberang jalan sambil mengamati kejadiaan naas itu, kemudian pergi meninggalkan TKP......" Suara dari tv.


"Inoooo..........."


"Iya itu Ino bro..."


"Sudah lihat wanita di CCTV itu?"


"Ta.. ta..tapi Anni di depan aku bro sejak Ino pulang, dan dia masih


tertidur pulas.


"lya aku tidak menuduh dia yang melakukannya, kita bersama tahu kan siapa dalang di balik ini semua?"


"Terimakasih bro."


"Jika tidak segera diatasi, maka kita semua yang akan menjadi korban


berikutnya."


"Aku makin bingung sekarang." "Bagaimana dengan ibu Dewi?"


"Hmmm...kepalanya ada di dekat pintu belakang rumah, sedangkan


sisa tubuhnya mungkin masih sedang menjadi santapan kuntilanak


kuntilanak itu."


"Ibu Dewi juga tewas."


"Iya bro, nanti aku telepon lagi, byee..."


Deddy langsung mengakhiri panggilan tersebut karena sangat syok dengan kengerian yang menimpah dirinya.


"Hingga laporan ini disampaikan, terlihat polisi masih sedang mengevakuasi jenazah korban, dan langsung melakukan oleh TKP, kecelakaan Naas dan juga membludaknya warga dan pengendara yang berhenti untuk melihat kejadian tersebut, menyebabkan macet panjang sejauh dua kilometer sepanjang bilangan jalan Frans Seda. Demikian Headline News AFB TV malam ini, dari Kota Kupang kami melaporkan."


Setelah menyaksikan kejadian naas itu, Deddy langsung mematikan TV.


"Jika nanti aku harus mati, biarkan saja aku mati, karena memang aku


pantas menerimanya. Sudah empat orang tewas karena kesalahan yang aku lakukan, aku tak mau ada yang meninggal lagi, apalagi orang yang sangat ku cintai..." Batin Deddy sambil menatap dalam-dalam wajah istrinya itu.


Bip....bip....bip.....


Di tengah pikiran yang sedang berkecamuk dengan hebatnya, HPnya bergetar lagi, nampak sebuah panggilan masuk yang membuat pupil mata Gusty melebar.


"Hallo pak Gusty..."


"Bagaimana keadaan kamu?"


"Pak, tolong saya pak, saya sudah tak sanggup mendapat teror ini. Ada lagi dua korban yang tewas dengan sangat mengenaskan pak." "Hmmm... Ini saya baru ingin balik ke kupang dari Malaka, bersabarlah!"


"Iya pak,kedatangan bapak sangat saya nantikan." "Ok, sampai ketemu di Kupang. Setelah sampai, saya akan langsung ke situ."


"Baik pak, terimakasih."


Lilin asa pun menyala dalam pikiran, sebab hanya pak Gusty yang menjadi fokus harapannya dalam masalah ini. Dengan harap-harap cemas sambil menyekah keringat di ruang ber-AC itu, Deddy terlihat sangat depresi, ia lalu memegang tangan Anni erat-erat, kemudian mengatup kecup pada kuncup tangis di duka yang menguras degup.

__ADS_1


__ADS_2