KUNTILANAK ITU ISTRI KU

KUNTILANAK ITU ISTRI KU
episode 12


__ADS_3

Deddy mulai panik dan membopong tubuh Anni ke dalam mobil dan dengan segera melajukan kendaraanya menuju le rumah sakit terdekat. Sesampainya di rumah sakit, ia langsung membawah tubuh Anni dibantu beberapa


perawat ke ruangan UGD agar segera mendapat perawatan.


Dia lalu mengambil handphone dan melakukan panggilan.


"Hallo Revhan, posisi kamu dimana sekarang?"


"Aku lagi di jalan, mau cari makan bro, kenapa?"


"Kamu bisa datang sekarang ke Rumah Sakit Leona? Soalnya Anni sedang masuk UGD!"


"Oke oke bro, aku merapat sekarang!"


Beberapa saat kemudian Revhan sudah sampai di rumah sakit dan langsung


menuju ke ruangan UGD dan mencari keberadaan Deddy.


"Anni kenapa bro?"


Deddy pun membawa Revhan keluar ruangan dan menceritakan semua kronologi peristiwa yang dialaminya beberapa jam lalu kepada Revhan.


"Jadi begitu bro, aku makin bingung dan panik, aku tadi coba telpon ke nomor Itis


tapi tak aktif, mungkin ia sedang tidak mau diganggu saat berada di


Rote."


"Mengapa tidak kamu hubungi saja pak Gusty?, dia pasti tahu cara menyelesaikan masalah ini, kan dia yang menikahkan kamu dan kuntilanak merah." "Sudah juga bro. Tapi sama, tak aktif juga, tak mungkin aku kembali ke Amarasi


lagi meninggalkan Anni sendiri."


"Betul juga, bagaimana kalau kita panggil pendeta, pastor, tim doa, atau siapa pun


yang dapat membantu kamu dalam masalah ini?"


"Bisa bro, tapi kalau aku ketahuan menikah sama kuntilanak bagaimana? Bisa mati


aku kalau diketahui banyak orang, apalagi kalau Anni tahu akan hal itu."


"Jalan satu-satunya yah cuman lewat pak Gusty."


"Iya bro, sebentar aku akan coba hubungi beliau lagi, aku mau mengecek kondisi Anni dulu."


"Aku ikut bro"


Hampir satu jam, Anni mendapat perawatan di rumah sakit dan akhirnya diperbolehkan untuk pulang ke rumah oleh dokter.


"Deddy dengan sigap memapah Anni ke dalam mobil serta mengatur posisi duduk Anni agar dia merasa nyaman.


"Bro, menurut aku sebaiknya malam ini Anni jangan pulang ke rumahnya dulu" sahut Revhan menambahkan.


"Betul apa katamu, tapi malam ini dia nginap dimana?" "Bagaimana kalau di tempat pacarku?"


"Tapi apa dia tak keberatan?"


"Amanlah bro, masalah itu tak usah dipikirkan, biar aku yang urus."


"Ok terimakasih bro, kita jalan sekarang!"


Karena jarak yang tidak jauh ke tempat pacar Revhan, maka dalam 15 menit mereka sudah tiba disitu.


"Kalian tunggu di sini, biar aku bangunkan pacarku dan bicara sama dia dulu."


Beberapa menit beradu dengan waktu membangunkan pacarnya akhirnya pintu pun terbuka, nampak Revhan seperti sedang menjelaskan sesuatu pada pacarnya."


Nasib baik berpihak pada mereka, pacar Revhan mengijinkan Anni untuk menginap

__ADS_1


sementara di tempatnya.


"Terimakasih bro, sudah membantu kami malam ini."


"Santai saja bro, kita sahabat, susah senang wajib sama-sama."


"Terimakasih bro, Apa aku bisa minta tolong lagi?" "Apapun itu bro."


"Apa boleh aku menginap di rumahmu malam ini, soalnya aku masih takut bro." "Hahaha. Ya boleh lah bro, mau tinggal berbulan-bulan pun boleh, asal jangan


bawa kuntilanak ke rumahku, hahaha" "Hahaha Terimakasih bro, ayo kita cari makan dulu, aku sudah sangat kelaparan."


"Ayo bro, aku juga sama!, tapi pakai mobilmu saja, motor aku tinggalkan di sini." Mereka berdua pun menyusuri area TDM untuk mencari makan.


"Stop di sini bro, kita makan di sini saja, pelayannya cantik hahaha." Bisik Revhan


Revhan pun langsung memesan makanan kepada pelayanan tersebut.


"Kaka, Nasi kuning satu, lauknya pake ikan sambal balado, kikil, dan mie goreng, eitss jangan pakai kerupuk, hehehe. Kau pesan apa Deddy?"


"Sama, tapi aku pakai kerupuk kaka, sambalnya banyak." Tambah Deddy seolah tak


mau kalah.


"Wisss, Pesananku datang, aku makan duluan ya bro, belum makan dari pagi."


"Silahkan bro, ini pesananku juga sudah datang, mari makan!" Mereka berdua terlihat begitu menikmati makanan yang disajikan dengan begitu lahap.


"Hmmm, aku jadi teringat masakan Litha di rumah yang begitu lezat." Sahut Deddy setengah berbisik pada Revhan.


"Ueeeeekkk, ooaaaaaak, cuiiih, itu apa bro?"


Revhan memuntahkan makanan di mulutnya sambil menunjuk-nunjuk ke arah mulut Deddy."


"Kau kenapa bro?"


"Mana? Tak ada bro?" "Liat lagi bro!"


"Haaaaah aaaah, sialan," Deddy lantas membuang piring penuh belatung dan rambut hingga tercecer di tanah.


"Woy, makanan apa yang kau beri padaku!" Sahut Deddy memarahi pelayan tadi. Namun ketika pelayanan tersebut memalingkan wajahnya, Deddy tersentak kaget saat menatapnya.


"Liii li lithaaaa?"


Nampak sosok pelayan tersebut yang menyerupai Litha tertawa terkekeh menatap Deddy.


Deddy yang kaget, lalu menarik tangan Revhan dan berlari ke arah mobil, lalu menyalahkan mobilnya dan langsung tancap gas dengan cepat.


"Jadi makanan lezat yang selama ini diberikan istri kuntilanakmu adalah belatung hidup, aaaah menjijikan" ujar Revhan mual.


"Aku makin takut bro! Kita pulang saja ke rumahmu


Sesampainya di rumah Revhan, Deddy nampak kebingungan dan terlihat seperti sedang depresi.


"Ayoo bro, kita masuk, biar bisa beristirahat." sahut Revhan sambil membuka pintu


mobil dan berjalan ke arah pintu rumah.


Revhan lalu menyiapkan kamar untuk Deddy agar dapat beristirahat.


"Bro, kau tidurlah. Aku juga sudah sangat mengantuk." Sahut Revhan sambil menepuk bahu Deddy.


"Terimakasih bro, maafkan sudah membawahmu dalam kejadian janggal malam ini."


"Sama-sama bro. Sudah, tak usah dipikirkan, aku ke kamarku dulu."


"Baik bro,"

__ADS_1


Setelah itu, Deddy merebahkan tubuhnya di atas kasur, dan mulai tidur.


Pukul 02:00 dini hari, Deddy yang tertidur pulas terbangun karena samar-samar


mendengar suara tangisan beberapa orang yang berasal dari ruang tamu.


Karena penasaran, Deddy lantas bangkit dari kasurnya. Dibukanya pintu kamar


secara perlahan, suara tangisan dari orang-orang yang tak diketahui siapa itu mulai


terdengar jelas.


Nampak, di depan mata Deddy beberapa wanita dan pria berpakian serba hitam sedang menangis sambil menatap sebuah peti mati yang seukuran tubuh orang dewasa di depan mereka.


Meski takut, Deddy berusaha mendekat untuk melihat sosok yang ada di dalam peti mati tersebut.


Betapa kagetnya dia ketika melihat sosok yang ada dalam peti mati tersebut adalah dirinya.


Tubuhnya dibanjiri keringat, kakinya gemetar, karena tak percaya atas apa yang dilihatnya.


Sosok mayat dalam peti itu tiba-tiba membuka matanya lebar-lebar menatap ke atas langit-langit rumah.


Mayat itu lalu memiringkan kepalanya ke arah Deddy dan sambil melotot menatap Deddy. la yang ketakutan lalu mundur secara perlahan.


Beberapa wanita dan pria berpakaian hitam tadi lalu berdiri dan menolehkan pandangan ke arah Deddy, kemudian mereka berjalan perlahan untuk mendekatinya.


Ditambah peti mati berisi mayat yang menyerupainya tiba-tiba melayang di udara dan bergerak mengarah ke arah dirinya.


Kali ini Deddy mengambil langkah seribu berlari ke arah kamar Revhan, sambil berteriak dia menggedor-gedor pintu kamar.


"Tolloong, Revhaaan, tolonggg"


Sosok pria dan wanita, beserta peti mati yang melayang itu makin mendekat ke


arahnya.


Dia akhirnya terpaksa mendobrak pintu kamar Revhan dengan sekuat tenaga.


Karena tidak sanggup menahan gempuran tubuh Deddy, pintu tersebut lalu terlepas dan ambruk.


Dari dalam kamar, tampak Revhan sedang sekarat dengan mulut keluar banyak darah. Didapatinya pula sosok kuntilanak merah tengah asik membelah perut Revhan sambil menarik isi perutnya hingga usus-usus Revhan terburai keluar.


Revhan hanya bisa mengangkat tangannya seolah ingin menggapai Deddy untuk


meminta tolong.


Kuntilanak itu lantas menghunuskan kukunya yang tajam ke kedua mata Revhan dan mencungkil keluar bola matanya, satu bolah mata Revhan di makan kuntilanak itu dan tampak biji matanya hancur dikunyah kuntilanak merah itu.


bola mata yang satunya dilemparkan ke arah Deddy, tak sengaja Deddy menangkap bola mata tersebut dengan kedua tangannya. Rasa takut dan jijik membuat Deddy kaget dan menjatuhkan bola mata itu hingga terguling-guling di lantai.


Kuntilanak itu lalu melompat dan merayap-rayap di dinding tembok sambil tertawa melihat Deddy yang mematung tak dapat bergerak.


Kuntilanak itu lalu merayap ke arah lantai dan berdiri.


Dari balik gaun merahnya keluar banyak tikus besar. Tikus-tikus tersebut lalu


berlari ke arah Deddy, menggigit tubuhnya dimulai dari kaki, mengerogoti daging dagingnya hingga darah segar mengalir membasahi lantai.


Deddy yang tak dapat bergerak hanya dapat berteriak menahan sakit yang teramat


hebat.


"Arrrrghhhhhh aaaaarghhhhhhhh, arrrrrrrrghhhhh" "Deddy, Deddy, Ded, Deddy, bangun Plaaaaaak" bunyi tamparan telak di pipi kiri


Deddy oleh Revhan. "Haaah, haaah, Revhan, kamu masih hidup, ohhh syukurlah!"


"Kamu mimpi buruk?" ucap Revhan sambil memegang kedua bahu Deddy.

__ADS_1


__ADS_2