
Melihat mobil Deddy yang berhenti, kuntilanak tersebut lalu dengan
cepat meninggalkan Anni yang menderita dibuatnya.
Deddy yang dari luar berjalan dengan santai karena tak tahu apa-apa, langsung berlari ke arah Anni ketika dari pintu ia melihat Anni bersimbah darah, sambil memuntahkan cacing-cacing hidup dari mulutnya.
"Apa yang terjadi padamu? Ha? Siapa yang melakukannya?"
Anni hanya terdiam, sambil tangannya memegang bahu Deddy, Kemudian berusaha berdiri dibantu suaminya itu. "Sebaiknya kita ke rumah sakit sekarang!"
"A..a..aku baik-baik saja! Aku tak mau pergi ke rumah sakit."
Deddy lalu mengambil sebaskom air hangat dan sebuah handuk kecil, kemudian dengan lembut melap wajah istrinya hingga tak ada lagi bekas darah yang tersisa.
Kemudian, dengan mata yang melihat sekeliling karena ketakutan, Anni
pun menceritakan semua yang terjadi padanya.
"Hmmm, ini pasti ulah Litha atau mungkin ulah istri kuntilanaknya Itis, Takkan kubiarkan mereka mendekati Anni." Batin Deddy sambil menarik napasnya dalam-dalam.
"Sayang, mari ku antar kamu masuk ke kamar untuk beristirahat."
Anni mengangguk tanda iya, kemudian Deddy memapahnya berjalan ke
kamar dan membantunya untuk berbaring, dengan penuh kasih sayang,
Deddy menyelimuti tubuh istrinya itu.
Beberapa menit sudah ia duduk di di situ hingga Anni nyenyak, lalu, ia
memberikan sebuah kecupan di kening wanita itu dan berjalan keluar. Deddy berusaha menelpon pak Gusty, namun belum bisa terhubung.
"Hmm.. mungkin pak Gusty masih di Malaka, apa yang harus aku lakukan? Haaaah..."
Deddy lalu bergegas ke dapur untuk menyiapkan makanan bagi Anni.
Setelah menghabiskan waktu satu setengah jam, ia selesai, lalu
mengantar semangkuk sup ayam dan bubur ke kamar.
Setibanya dalam kamar, ia meletakkan makanan tersebut di atas meja dan berusaha membangunkan Anni, namun dilihatnya wajah Anni sangat pucat, dan keluar banyak keringat dari tubuhnya.
la meletakkan telapak tangannya di kening Anni, ia cukup kaget ketika merasakan suhu tubuh Anni begitu. panas.
"Sayang, kita ke rumah sakit sekarang!"
"Aku tak mau..." jawab Anni dengan lemah
"Tapi kamu demam..."
"Sekali tak mau, aku tak mau..."
"Hmm, kamu tunggu sebentar aku ke apotik untuk membeli obat dulu!" Deddy lantas pergi meninggalkan Anni seorang diri di rumah. Dengan sangat kuatir, ia menyalakan mobilnya, kemudian segera melajukan kendaraan itu ke apotik terdekat.
Beberapa saat setelah mendapat obat, ia langsung sesegera mungkin
kembali ke rumahnya, setibanya di rumah ia langsung menuju ke
kamar, namun, betapa kagetnya ia ketika tidak mendapati Anni di dalam.
"Sayaaaang...saaaayang,hmm.. ke mana dia?"
Deddy mencari ke beberapa sisi ruangan, tapi tidak menemukan
keberadaan Istrinya.
la lalu berjalan turun ke bawah dan seperti mendengar suara rintih kesakitan dari seseorang.
Dia berdiri beberapa saat untuk mencari asal suara. "Suaranya berasal dari lorong menuju kamar Litha.." batin Deddy sambil
berjalan Makin dekat dengan kamar Litha, makin jelas pula suara rintihan itu.
Dari ujung lorong menuju kamar Litha, Deddy melihat sosok wanita yang tak lain adalah Anni, ia sedang duduk sambil melakukan gerakan yang aneh dan menghadap ke arah pintu.
"Sayang..sayang...sayang...apa yang kau lakukan di situ?" Ucap Deddy
sambil mendekat dengan hati-hati.
Betapa terkejut dirinya ketika melihat Anni sedang menjahit mulutnya sendiri, tampak, darah segar mengalir membasahi tubuh dan bajunya akibat lubang-lubang yang ditembusi jarum dan benang jahitan.
Matanya seperti hanya menyisahkan bagian putihnya saja, dengan bagian bola mata berwarna hitam bergerak ke arah atas, Anni kerasukan!
Dan tiba-tiba, ia langsung pingsan dan tersungkur ke lantai,dengan cemas, Deddy membopongnya ke dalam mobil dan melajukan kendaraan tersebut dengan kecepatan tinggi menuju ke rumah sakit.
Setibanya di sana, mereka disambut oleh perawat dan Anni langsung mendapatkan perawatan dengan segera di ruang UGD
Deddy yang tak kuat melihat para perawat yang sedang berusaha melepaskan jahitan dari mulut istrinya, langsung keluar dari ruangan tersebut.
la hanya bisa mondar-mandir di depan ruang UGD, mengatupkan jari
__ADS_1
sambil harap-harap cemas.
Setelah beradu dengan waktu selama beberapa jam, seorang perawat meminta Deddy untuk masuk ke dalam untuk menemani Anni.
Di situ, ia dicecar banyak pertanyaan oleh perawat dan dokter. Ia yang sudah pusing, hanya menjawab mereka dengan seadanya.
Setelah beberapa menit, akhirnya Anni dipindahkan ke ruang inap,
Deddy mencium tangan istrinya yang belum tak sadarkan diri itu dengan berlinang air mata, tanda penyesalan atas kesalahan yang ia lakukan.
la lalu keluar dari ruangan tersebut sambil mengutak-atik HPnya untuk menelepon seseorang.
"Halo Revhan."
"Halo bro, Apa kabar?"
"Buruk bro! kamu dan Lia masih di Lembata?
"Hah? Buruk? Memangnya apa yang terjadi? Iya masih, dua hari lagi kami kembali ke Kupang,"
"Anni masuk rumah sakit bro? Dia kerasukan dan menyiksa dirinya, seharian dari pagi hingga sore dia di teror secara sadis."
"Oleh Litha? Bagaimana keadaannya sekarang? "Iya, pasti Litha, sebab aku mendapatinya di depan kamar Litha, dia baru dipindahkan ke ruang inap dan belum sadarkan diri."
"Hmm...kamu sudah coba hubungi pak Gusty?"
"Aku sudah menghubunginya sejak tadi pagi, bahkan sebelum aku
menelponmu, aku masih sempat menghubunginya, namun tidak masuk-masuk."
"Hm...mungkin dia masih di Malaka dan tak mau diganggu."
"Mungkin, kamu kenal orang pintar yang bisa mengusir atau mengatasi
gangguan kuntilanak?"
"Jawabanku masih sama seperti tempo hari, aku tak kenal seorang pun, dan menurutku, hanya pak Gusty yang mampu melakukannya." "Aku sudah habis akal untuk mencari cara mengatasi teror ini!"
"Tunggu..tunggu, aku ingat. Beberapa tahun lalu, aku dan Adrian pernah berkunjung ke seorang dukun di seputaran Maulafa, kalau tak salah namanya Ibu Dewi."
"Kamu yakin dia mampu?" "Di situasi seperti ini kamu masih berpikir seperti itu? Coba saja, siapa tahu ibu Dewi mampu."
"Tolong SMS aku alamat lengkapnya."
"Ok bro, tapi kalau kamu ke Maulafa, siapa yang akan menjaga Anni di rumah sakit?
"Esok pagi sebelum aku ke Maulafa, aku akan meminta Ino Bria untuk datang menjaga Anni."
"Terimakasih bro, kamu juga."
Keesokan pagi, Deddy menunggu Ino yang sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit.
Setelah menunggu sekitar 20 menit, akhirnya Ino datang. "Bro, aku percayakan Anni sama kamu, aku mohon jangan hilangkan pandangan sedetik pun dari dirinya."
"Ok bro, percayakan saja sama aku!"
"Terimakasih bro,aku pergi dulu." la kemudian pergi ke tempat dukun tersebut.
Meski sempat nyasar dan salah rumah, akhirnya Deddy tiba pada
tempat yang ia tuju.
Tok.. tok..tok...
Tok..tok..tok..
Tok..tok..tok..
Kreeeek....
"Cari siapa ya?"
"Maaf, saya mencari Ibu Dewi, apakah ibu Dewi Ada."
"Saya Ibu Dewi."
"Oh.. maaf, saya pikir ibu sudah.."
"Uzur maksudmu? hm... Masuklah!"
"maaf, iya makasi bu."
"Perkenalkan bu, saya Deddy."
"Ada maksud apa datang kemari?"
"Begini, saya dan istri saya diteror oleh kuntilanak di rumah kami, sudah dua orang meninggal dan sekarang istri saya sedang sekarat,
tak sadarkan diri di rumah sakit akibat perbuatan kuntilanak itu." "Mengapa bisa di teror? Kuntilanak tidak akan membunuh atau
__ADS_1
meneror seseorang tanpa sebab!"
"Ceritanya panjang..."
"Aku tidak dapat membantumu jika aku tak tahu yang sebenarnya.."
Dengan berat hati Deddy pun menceritakan semuanya dengan pelan, karena takut ada orang lain yang mendengarnya.
"Hmm...berat sekali masalah ini,"
"Tolong saya bu, saya akan bayar berapapun yang minta, asal ibu dapat menolong saya dan istri saya."
"Ini sangat berat!"
"Saya mohon bu, saya akan kasih berapa pun buat ibu..
"Hmm, baiklah, purnama malam ini, aku akan ke rumahmu!"
"Terimakasih bu, saya akan menemani ibu, kalo begitu saya pamit dulu,
sebentar saya akan datang menjemput ibu, ini ada sedikit dimuka buat ibu..." Deddy lantas menyodorkan sebuah amplop tebal sambil berpamitan.
Malam pun tiba, seperti yang dijanjikan, Deddy datang menjemput Ibu Dewi dan bersama ke rumahnya.
"Dilihat dari tampang dan gaya bicaranya, wanita ini cukup menjanjikan,
mudahan ia mampu mengusir kuntilanak-kuntilanak itu." Deddy
membantin sambil sesekali mencuri pandang ke arah ibu Dewi. "Tidak perlu ragu, aku akan berusaha mengusir kuntilanak-kuntilanak itu!" Ucap ibu Dewi secara tiba-tiba sehingga mengagetkan Deddy.
"Ehe....iya bu."
Akhirnya, mereka pun tiba di rumah tersebut. Sambil menyilangkan tangan ke belakang, ibu Dewi turun dari mobil dan memandang sekeliling rumah.
"Hmm, pekat sekali aura jahat
"Ba..baik bu."
nah ini, Ayo kita masuk!"
Sesampainya di dalam, Ibu Dewi langsung memercikkan air dari dalam sebuah botol ke beberapa titik di dalam rumah,
Kemudian membakar beberapa lilin merah di sudut-sudut ruangan,
sang dukun pun lalu berdiri di tengah ruangan sambil mulutnya komat
kamit tak jelas.
Tiba-tiba, nampak sosok kuntilanak merah sedang merayap-rayap di Dinding rumah, dan perlahan turun mendekat ke arah Ibu Dewi,
Dukun tersebut lalu menghentakkan satu kakinya ke lantai dan kuntilanak tersebut terpental beberapa meter.
Terpancar rona sedikit senang dari wajah Deddy yang menyaksikannya dari sisi ruangan yang lain.
Kuntilanak itu lalu membuka mulutnya lebar-lebar, seakan tulang rahangnya sudah terlepas, dari dalam mulut keluar banyak kecoak yang terbang dan merayap ke sekujur tubuh Ibu Dewi, jendela-jendela lalu terbuka dengan sendirinya, udara yang masuk membuat api dari lilin merah tadi padam dengan seketika.
Kuntilanak itu mendekat dan menghujamkan kukunya yang panjang dan tajam ke arah bola mata ibu Dewi hingga kedua bola matanya pecah dan darah segar muncrat membasahi lantai.
Kuntilanak itu lalu membuat Ibu Dewi melayang di udara kemudian
menghempaskannya ke lantai dengan sangat keras, darah segar keluar
dari mulut, mata, hidung, dan telinganya.
"Tolong...tolong...tolong aku." Dukun itu merayap dengan kedua tangannya dilantai sehingga meninggalkan jejak-jejak darah kental yang sangat banyak.
Melihat kondisi Ibu Dewi yang sekarat, Deddy mengambil langkah seribu menuju kamarnya.
la lalu menutup pintu kamar dengan rapat-rapat untuk bersembunyi. Setelah 1 jam berlalu, ia berpikir keadaan sudah mulai aman, ia lantas memberanikan dirinya untuk keluar melihat keadaan.
Dengan sangat perlahan dan ketakutan, ia melangkahkan kakinya,
dadanya bergetar hebat, melihat banyak darah di lantai, pikirnya ibu Dewi mungkin sudah tewas. la lalu menuju pintu belakang agar dapat lari dari situ, karena pikirnya kuntilanak itu sedang menungguinya di sana, namun yang ia dapati setelah membuka pintu belakang ialah sosok Litha yang sedang menari di bawah purnama tanpa busana.
Deddy mematung di situ, seakan tak dapat bergerak, dalam batinnya, ia pasti akan melihat kematian seperti saat ia melihat seorang bayi kecil tak berdosa yang dipersambahkan kepada Litha di waktu lalu.
Tak butuh waktu lama, tiba-tiba muncul beberapa kuntilanak berbaju putih, sedang membawa tubuh ibu Dewi, sesampainya di depan Litha, kuntilanak-kuntilanak itu melempar tubuh dukun tersebut ke tanah. Akibat dilempar dengan keras ke tanah, ibu Dewi pun tersadar.
Litha lalu mendekatinya, kemudian menjilati wajah ibu Dewi dengan
perlahan.
Ibu Dewi yang dari awal penuh keberanian, sekarang hanyalah sosok lemah, tanpa bola mata, dan juga penuh dengan ketakutan luar biasa. la hanya menangis memohon ampun atas nyawanya pada Litha.
Kemudian Litha memegang kepalanya erat-erat, lalu menarik kepalanya ke atas hingga putus dari badannya diikuti dengan tulang kerongkongan dan beberapa anggota tubuh bagian dalam yang ikut tercabut.
Litha lalu memutuskan kepala tersebut dari sisa tulang yang tercabut dan hanya memegang kepala dari ibu Dewi, kemudian membuka mulut dari kepala tersebut dan dengan giginya, ia menarik lidah Ibu Dewi, lalu digigit dan ditarik menggunakan gigi hingga putus, dikunyahnya sambil tertawa lalu menelan lidah tersebut.
Setelah itu, ia melemparkan kepala itu hingga terguling-guling ke arah kaki Deddy.
__ADS_1
Deddy yang ketakutan lalu berlari, meninggalkan Litha yang menatapnya tajam sambil tertawa, serta meninggalkan kuntilanak kuntilanak lainnya yang sedang asik bermandi darah karena memakan jantung serta usus-usus yang dicabut mereka dari tubuh ibu Dewi dan di makan sangat lahap.