
"Anni aku siap membeli mulut busuk ayahmu, tunggu saja" ucap Deddy
sinis. Setelah selesai bersiap-siap dan baru saja ingin membuka pintu untuk pergi, tangan Deddy ditahan oleh seseorang.
"Mau kemana?" Ujar Litha penuh tanya "Aku mau keluar sebentar."
"Makan dulu!
"Tidak usah, sebentar aku makan diluar."
Litha kemudian makin mengenggam keras tangan Deddy sambil menggelengkan kepalanya dengan sangat pelan dan menatap Deddy
dengan sorot matanya yang tajam tanpa berkedip.
Deddy yang mulai merasakan kesakitan akhirnya mengiyakan ajakan Litha
"Aku sudah menyiapkan makanan." ucap Litha datar. "Woww bisa masak kamu rupanya, hmmm enak-enak nih."
Deddy lalu makan dengan lahapnya, sedangkan Litha hanya menyaksikan Deddy yang sedang melahap bunga melati, tanah, belatung, dan kecoak mati dengan lahapnya tanpa mengetahui sebenarnya apa yang ia makan.
"Selesai, enak sekali masakanmu, aku mau lagi tapi setelah aku pulang
ya..."
Deddy langsung bergegas menuju motornya yang sudah bersih dan bersiap menuju rumah Anni di Maulafa.
Deddy sengaja tidak memberitahu Anni akan kedatangannya yang tiba tiba, dia juga sempat berhenti sejenak di seputaran daerah Kayu Putih untuk membeli bakso mas Yono kesukaan Anni.
"Hmm Anni pasti suka, aku sudah tidak sabar menemuinya." "Woy kampre!t" panggil Itis dan Revhan mengagetkan Deddy
"Woy bro, makan bro?"
"Tidak bro, mau berenang haha, datang warung yah buat makan bro..." "Hahaha sorry bro belum sempat info kalau sudah di Kupang, baru sampai semalam, sebentar kita kumpul ya bro."
"Santai seperti di pantai sambil makan tai, hahaha. Ok bro ingat bawa moke..."
"Hahaha sudah gila rusak pula kau cuman mabok di otak lu Itis..."
"Itis galau bro makanya mabok terus hahaha..." tambah Revhan "Huuss sudah sudah, aku lanjut ke rumahnya Anni ya bro."
"Awas bro dicium bapaknya, pakai kaki, hahaha...
"Tenang bro kali ini aman."
"Ok bro, sukses yah."
"Ok bro, jangan lupa moke, moke dan moke..."
"hehee aman bro, bye..."
"Byee..."
Deddy pun lalu berlalu meninggalkan Itis dan revhan menuju rumah
Anni.
Tiba di rumah Anni dengan sedikit gugup Deddy mengetuk pintu.
"Tok tok tok tok.."
"Tok tok tok.."
Tok tok tok.."
"Sayaaaaaaang..."
"Hallo sayang, aku bawa bakso kesukaanmu." "aaah makasi sayang love you."
"Ayah kamu ada?
"Hm ada, mengapa?"
"Aku ingin bertemu dengannya."
"Please, jangan cari masalah sama ayah."
__ADS_1
"Percaya sama aku." "Kamu yakin?"
"Ada apa ini?"
Secara tiba-tiba ayah Anni Muncul di depan mereka berdua.
"Mau apa lagi kamu kesini?"
"Pak, saya ingin melamar anak bapak."
"Masih berani kamu berkata seperti itu di depan saya?"
"Saya sudah sukses pak."
"Sukses dari mana? Belum sampai seminggu kamu saya usir dari rumah ini, mana ada orang sukses hanya dalam beberapa hari saja. Jangan-jangan kamu menggunakan jalan pintas?"
"Percaya pak, saya tidak mungkin melakukannya."
Deddy terpaksa membohongi ayah Anni agar dapat meluluskan niatnya
melamar Gadis yang dicintainya itu
"Lantas, bagaimana kamu bisa sukses secepat ini jika tidak menggunakan jalan pantas ha? saya tidak akan membiarkan anak saya menderita nantinya akibat ulahmu!"
Anni pun menangis memohon-mohon hubungan dia dan Deddy
kepada ayahnya agar merestui
"Nak, ayah hanya tidak mau kamu menderita dibuatnya, ayah masih
melihat keraguan dalam diri anak ini."
"Percaya pak, Deddy pasti bisa membahagiakan Anni.." Anni menangis sejadi-jadinnya dan berlutut memohon restu kepada ayahnya.
Karena tak tahan dengan tangisan anak semata wayangnya, ayah Anni
pun akhirnya luluh dan mengiyakan permohonan Anni dan Deddy.
"haaaaah... Baiklah."
"Tapi, jika kamu macam-macam dan membuat putri saya menderita
maka lihat akibatnya nanti!" "Iya pak, saya sangat mencintai Anni pak, hanya dia wanita yang ingin
saya nikahi."
"Baiklah kalo begitu."
"Terimakasih ayah." Anni memeluk ayahnya dengan erat.
Namun di satu sisi ayah Anni merasakan sesuatu yang lain dan takut anaknya kenapa-kenapa. Sedikit pun beliau sungguh tak percaya akan kata-kata dari Deddy, namun beliau dilema atas air mata putri cantiknya.
Sementara itu, Deddy pun pamit pulang kepada Anni dan ayahnya dan keluar dengan sedikit menggerutu.
"Sialan, beraninya si tua bangka berkata seperti itu padaku."
la lantas meninggalkan rumah Anni dan pergi entah kemana.
Malam harinya dia pergi menemui Itis dan Revhan yang sudah menunggunya. Mereka pun duduk sambil meminum moke yang dibelinya tadi sore atas pesanan Itis.
"Bro, terimakasih sudah mengenalkan aku pada pak Gusty, Tanpamu
aku tak akan bisa seperti ini." ucap Deddy membuka percakapan.
"Ah relax bro, sesama teman harus saling membantu kan?" "Benar, tapi mengapa kamu tidak menikah saja bro, padahal kan banyak wanita yang mendekatimu."
"Aku sudah cukup punya satu, hehehe..."
"Maksudmu? Kuntilanak? Kamu yakin? Lu gila bro"
"Hehehe, kehidupan yang gila seperti ini yang aku idamkan, Kamu yakin ingin menikah dengan Anni?"
"Yakin lah."
"hidupmu akan penuh teror bro.."
__ADS_1
"Maksud kamu teror apa?" "Kamu tidak tahu apa-apa soal kuntilanak merah?"
"Tidak bro, Memangnya kenapa?"
"Kuntilanak merah merupakan kuntilanak paling kejam dan mengerikan dari kuntilanak lainnya, jangan pernah buat mereka marah, kalau tidak "
"Kalau tidak apa?" sambung Deddy
"Kalaaaau tidaaak kamu akaaaan matiii mengeeeenaskan..."
"Kau mabuk bro, cara bicaramu ngawur.."
Melihat Itis dan Revhan yang sudah mabok, Deddy memutuskan untuk pulang kerumahnya. Dengan terhuyung-huyung akibat setengah mabok ia melangkahkan kaki menuju motornya Namun betapa kagetnya ia ketika melihat Litha sedang berdiri di
samping motornya
"Bagaimana kamu bisa disini, ah kayaknya aku sudah mulai mabok. Hei
ini kamu Litha atau aku yang mabok?"
Litha hanya diam sambil menatap Deddy. Deddy lantas menyalakan motornya dan pergi meninggalkan Litha begitu saja. Sesampainya di rumah ia langsung masuk ke kamarnya dan
merebahkan diri di atas ranjang.
Saat hampir tertidur, dia merasakan ada sesuatu yang merayapi wajah serta sekujur tubuhnya Dibukanya mata dan melihat banyak belatung hidup mondar-mandir
diatas wajah dan seluruh badannya
Dia kaget Setengah mati lalu dengan tergesah-gesah bangkit dan membersihkan tubuhnya dari belatung-belatung itu.
la mulai mencium bau amis menyengat dalam kamarnya. Ditengadahkan kepalanya ke atas dan ia mendapati sosok kuntilanak merah dengan kedua tangan dan kaki menempel di atas loteng kamarnya.
Sosok itu lalu melompat menindih tubuh Deddy dan belatung- belatung serta darah dari mulutnya berjatuhan di atas wajah Deddy terlebih di atas mulutnya.
Lalu dari mulut kuntilanak itu keluar beberapa ular cincin berbisa dan
merayap diatas tubuh Deddy.
Deddy lalu berontak dan hendak melarikan diri keluar dari kamar. Kuntilanak itu merayap di dinding tembok dan melompat menutup pintu keluar agar Deddy tidak bisa keluar.
Deddy yang sangat kalut mendorong kuntilanak itu dan berhasil keluar dari kamarnya, saat membuka pintu keluar dari rumah Deddy kaget melihat Litha di depan pintu
"Litha... haaa.. haaa... haa.." ucap Deddy dengan napas memburu.
Dia membalikkan kepalanya kebelakang dan tidak menemukan ular cincin tadi, melainkam hanya Litha yang kini di depannya
"Mau kemana?"
"Mengapa kamu menakutiku?"
Litha diam dan berjalan masuk ke dalam rumah
Lalu pintu pun tertutup sendiri
"Mengapa kau menakutiku?"
"Ini baru permulaan." "maksud kamu apa?"
"Aku sudah menyiapkan makanan
untukmu." "jangan mengalihkan pertanyaanku, maksud kamu apa?"
"Aku sudah menyiapkan makanan untukmu!" "Tapi aku sudah makan."
"Aku ingat tadi siang kamu berkata sangat menyukai masakanku dan ingin memakannya lagi ketika sudah pulang."
"Tapi aku sudah makan." "Aku membuatnya khusus untukmu!" ujar Litha dengan tegas.
Dengan terpaksa Deddy menuju meja makan
"Aku makan sedikit saja, soalnya sudah kenyang."
"Baiklah."
Dengan cepat Deddy melahap makanan yang tersedia di atas meja makan.
__ADS_1
"Enak sekali masakanmu." sahut Deddy sambil mengunyah cacing cacing hidup yang tak disadarinya itu.