KUNTILANAK ITU ISTRI KU

KUNTILANAK ITU ISTRI KU
episode 17


__ADS_3

Tampak, dari balik pohon besar di samping kamar Deddy, muncul sosok seorang wanita yang mengeluarkan air mata, bukan air mata biasa, melainkan air mata darah yang mengalir membasahi pipinya hingga ke bawah, sehingga gaun berwarna merah yang dikenakannya makin pekat warnanya oleh darah. Malam hari, para kerabat dan keluarga sudah pergi meninggalkan


rumah besar tersebut dan hanya meninggalkan sepasang suami istri yang sedang berbahagia itu. "Aku sangat bahagia bisa menikahimu." Ucap Deddy sambil membelai lembut wajah Anni.


"Apa lagi aku, ini pula yang selama ini menjadi salah satu harapan terbesarku, menjadi nyonya Deddy, hehehe." Balas Anni sambil mencubit hidung Deddy.


Di sela hawa dingin yang memaksa masuk untuk menampar kulit, dengan lembut mereka saling berpagutan, melancarkan serangan serangan menembus liang bibir, melahirkan erangan disertai suara anjing menyalak dari luar, seolah turut andil merayakan kenikmatan.


Setelah prosesi suci itu terlampaui, mereka pun terkulai lemas, kemudian mencumbui bibir satu sama lain, Deddy merangkul Anni dengan erat seolah tak mau melepaskannya.


Kemudian bersama melewati malam dalam tidur yang lelap.


Di pagi hari, Anni terbangun akibat cahaya matahari yang merayunya dengan paksa akibat Deddy yang membuka Gorden jendela. "Istriku sudah bangun rupanya, ini sudah aku siapkan sarapan, silahkan makan."


"Terimakasih suamiku, love you."


"Love you too, ayo segera dimakan, aku ke depan dulu."


"Iya sayang."


Setelah selesai makan, dan membersihkan diri, Anni pun keluar kamar


untuk menyusul Deddy.


Saat ke depan, Anni tidak menemukan Deddy, ia lantas berjalan menelusuri seisi rumah tersebut untuk sekedar melihat-lihat, ia melewati sebuah lorong gelap dan di ujung lorong terdapat sebuah ruangan yang digembok serta dirantai.


"Apa yang ada di dalam ruangan ini? Mengapa hingga digembok dan di rantai?" Batinnya sambil memegang gagang pintu tersebut.


"Sedang apa kamu di sini?"


"Aaah....Sayang, jangan kagetkan aku!"


"Hehehe, ayo kita jalan-jalan ke depan."


"Hehe.. hehe. Iya sayang..


Mereka berdua lalu meninggalkan tempat itu dengan sesekali


menoleh ke arah ruangan tersebut.


Deddy


"Itu ruangan apa sayang?"


"Itu cuman gudang sayang?"


"Cuman gudang? Tapi mengapa harus dirantai?"


"Di dalamnya banyak tersimpan barang-barang peninggalan


keluargaku, aku tidak mau hilang atau pun rusak, makanya aku gembok


dan rantai."


"Oh...."


"Ayo kita ke mall, untuk membeli keperluan rumah tangga kita." Sahut Deddy


"Cieee, cieee kepala rumah tangga.. hehehe ayo."


Mereka lalu pergi meninggalkan rumah tersebut. Sementara di rumahnya, pintu di ruangan tersebut bergetar hebat


seperti ada yang mendorongnya keras-keras.


Beberapa jam berlalu, akhirnya mereka pulang, Anni lantas langsung beranjak ke dapur untuk mempersiapkan makan malam bagi mereka. Saat di dapur, Anni merasakan seperti ada yang mengawasinya dari


luar.


"Sayang... sayang..." "Ada apa sayang?"


"Tadi kamu yang berdiri di luar jendela?"


"Tidak, aku sedang asik menonton TV, mengapa?"

__ADS_1


"Aku seperti sedang diawasi oleh seseorang."


"Mungkin cuman perasaan kamu saja, cuman kita berdua disini."


"Oh.. ya sudah, mungkin cuman perasaanku saja."


Anni pun melanjutkan menyiapkan makan malam, setelah beberapa saat, makan malam pun selesai dan siap dihidangkan.


"Sayang, ayo kita makan." "Wow, aromanya sedap sekali, pasti enak!"


"Sini sayang, aku bagikan punyamu." "Hmmmm.. aku sudah tidak sabar ingin mencicipinya,"


"Ayo dimakan, rasanya bagaimana?" "Enak sayang, lebih enak dari masakan...."


"Masakan siapa?"


"Masakan aku lah!"


"Oh.. hehehe aku kira siapa!"


"Hahaha, aku suka masakanmu, lezat sekali!"


"Terimakasih sayang, ayo tambah," "Jelas aku tambah, hehe"


Setelah selesai menikmati makan malam, mereka duduk sebentar untuk bersenda gurau, lalu kembali ke kamar mereka untuk beristirahat.


Tepat pukul 12:30 wita, Deddy terbangun dari tidurnya karena mendengar suara tangisan dari luar rumah.


la lalu berjalan keluar dengan perlahan untuk mencari sumber suara


itu.


Di luar, suara tersebut semakin dekat ketika ia berjalan ke arah halaman belakang.


Di situ, ia mendapati seorang wanita berpakaian serba merah sedang


menangis di depan tempat Itis dikuburkan, namun tempat tersebut


"Siapa di situ?" Ucap Deddy dengan pelan


Perempuan tersebut tetap menangis, Deddy pun lantas makin mendekat ke arah wanita itu.


Saat makin dekat, perempuan tersebut lalu menghentikan tangisnya, kemudian dengan tiba-tiba membalikkan kepalanya menghadap ke arah Deddy.


Deddy sangat kaget ketika wanita yang mempunyai wajah rusak dan


hanya memiliki satu bola mata itu menghardiknya.


la lalu tersadar kalau wanita itu merupakan istri kuntilanaknya Itis, ia


hendak berlari namun tangannya dipegang erat-erat oleh kuntilanak itu, dia ditarik dan dihempaskan dengan keras hingga masuk ke dalam lubang tempat Itis di kuburkan. Di dalam lubang itu, Deddy jatuh menindih mayat Itis yang sebagian besar sudah menjadi tulang belulang, Dia begitu ketakutan dan berteriak sekencang-kencangnya.


"Tolong..tolong.."


Sosok tersebut lalu ikut masuk ke dalam lubang, mencekik leher Deddy hingga sulit bernafas, kepala Deddy dibentur-benturkan ke tengkorak kepala Itis hingga akhirnya Deddy pun tak sadarkan diri, setelah itu kuntilanak tadi langsung meninggalkan Deddy sendiri di dalam lubang itu.


Hujan deras pun turun membasahi tanah, aliran air hujan pun turun hampir memenuhi lubang tersebut, Deddy tetap tak sadarkan diri hingga matahari menyentuh wajahnya.


"Sayang..sayang.."


"Aau..aaaah."Deddy merasakan sakit yang begitu hebat


"Mengapa kamu bisa di sini?"


Deddy lalu terkaget dan seperti ketakutan sambil memegang seluruh


tubuhnya, sambil terheran-heran akan bekas galian yang sudah utuh seperti semula.


"Ah... syukurlah aku masih hidup!" Ucap Deddy sambil memeluk Anni erat-erat.


tubuh


"Apa maksudmu? Anni lalu melepaskan pelukan tersebut dengan

__ADS_1


terheran-heran.


Anni menatap leher Deddy dan perlahan menyentuhnya.


"Mengapa ada bekas memar di lehermu? Ini seperti bekas cekikan!"


"Aaau, sakit sayang! Ah.. kepalaku juga sakit sekali!"


Anni lantas memeriksa kepala Deddy


"Bagaimana kepalamu bisa memar seperti ini? Kamu jatuh?" tanya


Anni dengan kuatir.


"Aku tak tahu sayang, saat tersadar aku sudah di sini."


"Mari masuk, biar aku kompres."


Anni lalu memapah Deddy masuk ke dalam rumah, ia lantas merawat memar di leher dan kepala Deddy dengan penuh kasih sayang. "Kamu mau kemana? Ucap Anni pada Deddy yang tiba-tiba beranjak bangun.


"Aku mau keluar sebentar,"


"Tapi ke mana?"


"Aku mau pergi menenangkan diri sebentar,"


"Kamu yakin? Aku ikut ya? "Tenang sayang, aku baik-baik saja, dan kamu di sini saja," "Hmm baiklah!"


Deddy pun berlalu meninggalkan istrinya seorang diri dirumah. Melihat sikap Deddy yang sedikit aneh, Anni sedikit curiga, namun ia menampik segala pikirannya dan memilih ke kamar mandi untuk membilas dirinya.


Setelah selesai mandi, ia hendak kembali ke kamar untuk memakai pakaian, namun ia kaget ketika melihat ada beberapa benda yang dibungkus kain kafan putih sedang tergantung di langit-langit kamarnya, seperti sedang diikat.


Meski ketakutan ia mencoba berusaha untuk mendekat, perlahan ia memegangnya lalu membalikkan benda tersebut ke arahnya.


Betapa histeris dirinya ketika melihat benda tersebut merupakan mayat orang-orang yang tak dikenalnya.


"Aaaargh... argh..."la histeris dan menangis sejadi-jadinya di pojok kamar.


Tanpa diduga, mayat-mayat yang terbungkus kain kafan itu jatuh menghantam lantai kamar dengan keras,


la lantas berteriak sekencang-kencangnya lalu berlari keluar menuju


ruang tengah dengan handuknya, di situ ia mendapati sesosok wanita bergaun merah sedang duduk membelakangi dirinya.


"Si..si..siapa kamu?"


"Hihihi....hihihi..."


Sosok tersebut hanya tertawa sambil tetap membelakangi Anni. Anni yang ketakutan, melihat sekeliling mencari benda yang bisa ia gunakan sebagai alat untuk membela dirinya.


Matanya tertuju pada sebuah gunting di atas meja, jemarinya lalu meraih gunting tersebut dengan cepat, digenggamnya kuat-kuat sambil diarahkan menuju sosok tersebut.


"Kamu siapa? Jawab aku!"


Sosok tersebut lalu berdiri, kuku dari jari-jarinya lalu perlahan memanjang dan meruncing, sosok tersebut membalikkan tubuhnya ke arah Anni sambil melompat dan menindih tubuh Anni yang jatuh akibat menahan berat dari sosok tersebut.


"Argh...aku mohon jangan, jangan bunuh aku!" Dari mulutnya keluar lidah yang panjang, lalu menjilati wajah Anni secara perlahan.


Anni hanya bisa menangis karena tak kuasa berbuat apapun.


Kuku wanita yang runcing di arahkan ke bola mata Anni.


Ani meraba-raba gunting yang terlepas dari tangannya tadi, setelah berhasil menggenggamnya, ia lalu menghujamkannya ke wajah sosok


tersebut secara bertubi-tubi.


Nampak darah segar keluar dari luka bekas tusukan gunting disertai


belatung-belatung yang jatuh membanjiri wajah Anni,


sosok tersebut lalu memaksa Anni untuk membuka mulutnya lebar lebar dengan tangannya, setelah itu, ia lalu memuntahkan banyak cacing hidup dan darah ke dalam mulut Anni, lalu menutup mulut Anni rapat-rapat dengan kedua tangannya sambil tertawa menikmatinya.


Melihat mobil Deddy yang berhenti, kuntilanak tersebut lalu dengan cepat meninggalkan Anni yang menderita dibuatnya.

__ADS_1


__ADS_2