
Deddy terlihat sangat depresi, ia lalu memegang tangan Anni erat-erat, kemudian mengatup kecup pada kuncup tangis di duka yang menguras degup.
Lalu menjaga lelap tidur Anni dengan penuh perhatian dan juga kesedihan karena rasa bersalah yang memeluk dirinya.
Perlahan-lahan, rasa kantuk mulai mendekati tanpa diperintah
kepalanya direbahkan pada kasur tempat Anni berbaring dengan badan yang masih terduduk di kursi. Ternyata, rasa kantuk lebih kuat dari kesedihan, sehingga dengan
mudah ia dapat dirubuhkan, dan dalam beberapa waktu, ia pun sudah
tenggelam dalam lelap.
Malam itu seakan menjadi malam yang sangat panjang bagi mereka, akankah mereka sanggup melewati malam-malam selanjutnya? Ataukah juga meregang nyawa?
Pagi pun tiba, Deddy yang terlelap kini terbangun karena ada sebuah tangan halus yang mengelus-elus kepalanya dengan sangat lembut. "Sayang?" Ucap Deddy lembut pada istrinya itu.
Anni lalu memberikan senyum khasnya, senyum yang selalu membuat Deddy jatuh cinta setiap hari pada dirinya. Namun senyum itu tidak sendiri, ia ditemani seberkas air mata. Yah, air mata akan jiwa yang hampir lelah akan teror yang terus terjadi pada dirinya.
"Hei..hei.. istriku yang cantik jangan menangis."
Dengan penuh perhatian Deddy menyekah air mata dari pipi yang lembut itu. Ia kemudian mendekap tubuh Anni dengan hangat dan erat. "Aku akan selalu menjagamu, sebab aku adalah teman, sahabat, kakak, dan terlebih lagi adalah suamimu. Aku bukan pembunuh, namun aku
akan membunuh mereka yang mencoba merampas senyum indahmu itu."
Air mata Anni makin tak terbendung, begitu pun dengan Deddy. kini, giliran Anni yang balik menyekah air mata suami tercintanya itu.
"Hallo selamat pagi, ibu dan bapak, mohon maaf saya menganggu. Saya periksa dulu ya?" Ucap seorang dokter yang tiba-tiba menghampiri mereka.
"Silahkan bu..."
"Hmm, permisi ya bu Anni, saya periksa sebentar."
Setelah beberapa saat memeriksa kondisi Anni, dokter memanggil Deddy untuk berbicara.
"Pak, istri bapak harus selalu dijaga, kami akan memberikan obat penenang agar dia cukup beristirahat, jika dalam beberapa hari kondisinya menunjukkan ada kemajuan, maka ibu Anni boleh pulang."
"Baik bu terimakasih, saya hargai bantuan ibu."
"Ini sudah menjadi tugas kami pak, oia maaf boleh saya bertanya?"
"Silahkan bu..."
"Apakah beliau sudah lama seperti ini?"
"Dia seperti ini sejak ayahnya meninggal, terutama sejak kami menikah
beberapa saat yang lalu."
"Oh berarti baru saja ya pak?"
"lya bu, ada apa ya?"
"Tidak pak, tolong jaga dia, hibur dia terus, jangan sampai kondisi psikisnya terganggu, bisa bahaya nanti."
"Baik bu, terimakasih sudah mengingatkan."
"lya pak, saya permisi dulu, Ibu Anni cepat sembuh ya."
Anni hanya melempar senyum pada dokter tersebut sambil menatapnya hingga berlalu dari ruangan itu.
Lima hari setelahnya, Kondisi Anni makin menun Kemajuan. Sehingga hari itu jug, Anni diperbolehkan untuk pulang.
"Makasi ya sayang, sudah menjaga aku selama ini." Ujar Anni pada Deddy meski belum terlalu lancar akibat luka dan memar pada mulutnya.
"Hei, aku kan suamimu. Lah harus kan menjaga istrinya yang jelek ini
hehehe..."
"Hehehe, iya aku sekarang sudah jelek." Anni sedikit bersedih sambil
mengucapkan kalimat itu.
"Tidak sayang, istriku tetap yang paling cantik sedunia, tapi..."
"Tapi apa?"
__ADS_1
"Tapi kentutnya paling busuk, hehehe.."
"Whooooa hahaha, tidak lah, kentutmu yang paling busuk."
"Hehehe, aku punya hadiah buatmu." "Benarkah? Hadiah apa?"
"Sekarang tutup matamu, kita sudah hampir sampai."
"Oke..."
"Setelah beberapa saat dalam perjalanan, mereka pun tiba di suatu
tempat."
"Matanya tetap ditutup ya, mari ku bantu turun dari mobil,"
"Ok sayang.."
"Nah, sekarang matanya sudah boleh dibuka!"
Anni nampak takjub ketika melihat sebuah rumah besar di depannya.
"Ini rumah siapa?"
"Ini rumah baru kita, aku sengaja memilih lokasi di area Kelapa Lima biar kamu bisa melihat dan bermain ke pantai setiap saat, Kamu kan suka pantai."
"Terimakasih sayang." Ucap Anni sambil memeluk erat Deddy."
"lya sama-sama sayang."
"Tapi bagaimana dengan rumah lama kita?"
"Aku hendak menjualnya dan masih mencari pembeli, aku takut ada hal buruk lainnya yang akan menimpamu jika kembali ke rumah itu."
"Sayang,"
"Iya sayang?"
"Terimakasih banyak, aku sangat mencintaimu." "Aku tidak, hehehe...."
"Dasar!"
"Iya tidak apa-apa sayang."
Bip....bip...bip...
HP Deddy bergetar tanda ada panggilan masuk.
"Sayang, aku terima telepon dari teman dulu, kamu masuk lah ke dalam dan lihat-lihat rumah kita."
"Ok sayang."
Deddy melangkahkan kaki menjauh dari Anni, karena tak mau Anni
mendengar percakapan teleponnya.
"Hallo pak Gusty..."
"Hallo Deddy, saya sudah di kupang sejak beberapa hari yang lalu, maafkan saya tidak langsung datang karena ada masalah yang harus saya selesaikan."
"Tidak apa-apa pak, Anni juga sudah membaik dan baru saja keluar dari rumah sakit, sekarang kami sedang berada di rumah baru kami."
"Syukurlah kalau dia sudah membaik, kalian pindah rumah?" "Iya pak, saya hendak menjual rumah lama karena tak mau diteror lagi."
"Selama saya belum turun tangan, maka teror tak akan berhenti meski kalian pindah ke seribu rumah sekalipun!"
"Saya sudah habis akal pak."
"Besok lusa saya akan ke situ, malam harinya kamu ikut saya ke rumah
itu untuk melakukan ritual." "Saya takut pak, saya sudah terlalu banyak melihat pembunuhan sadis oleh kuntilanak itu."
"Tanpamu, ritual tak akan berjalan dengan lancar, terserah padamu, jika tak mau ikut maka teror akan terus terjadi!"
"Ba..ba..baik pak."
__ADS_1
"Bagus, ini semua demi kebaikanmu."
"Maafkan saya, baiklah kalau begitu saya menunggu kedatangan
bapak dua hari lagi."
"Ok, kamu harus bersabar, jaga istrimu!"
"lya pak, terimakasih banyak."
"Baiklah."
Deddy lalu mengakhiri panggilan kemudian menyusul Anni ke dalam
rumah barunya itu.
Keesokan harinya, Anni yang tengah sendirian dirumah mendengar bel rumah berbunyi, tanda ada seseorang di depan pintu.
"Hallo ibu, kami ingin mengantar sisa barang ibu dari rumah lama."
"Iya baik, silahkan pak." Setelah para petugas selesai mengangkut barang ke dalam, Anni pun membongkar satu persatu barang tersebut dari kardus agar ditata.
"Hmmm, apa ini? Ini kan selendang. Tapi punya siapa ya? Aku tak
pernah punya selendang seperti ini, mungkin punya Deddy, hm... tapi
Deddy kan laki-laki, untuk apa dia menyimpan selendang ini?"
Mata Anni tertuju pada sebuah selendang merah yang tak dikenalnya.
la lalu menaruh selendang tersebut di atas meja.
Kemudian menyibukkan diri kembali dengan kegiatannya menata barang-barang pada tempatnya dengan rapi. Praaak.....
lya tak sengaja menyenggol sebuah pigura foto pernikahan dirinya dan
Deddy, sehingga jatuh ke lantai. Nampak, pecahan kaca berserakan dimana-mana. la pun lalu berusaha untuk membersihkannya.
"Auuu...."
Tangannya tertusuk serpihan kaca saat ingin membersihkannya, sehingga darah pun keluar.
Beberapa tetes darah jatuh ke atas foto pernikahan yang masih di lantai. Namun, tiba-tiba ia melihat darah segar keluar dari mata miliknya di foto tersebut. la yang kaget pun lalu menjauh lalu dengan spontan menutup mata.
Ketika kembali membuka mata, darah di foto tersebut sudah tidak ada.
"Haaah...Mungkin ini hanya halusinasiku saja."
la lalu mengambil segelas air untuk melepas dahaga, "Haah, Kupang makin panas, sebaiknya aku mandi dulu." Ucapnya sambil berjalan menuju ke kamar mandi.
Saat sedang asik mandi, Anni merasakan ada sesuatu yang aneh pada dirinya, ia lalu membuka mata dan melihat banyak darah di lantai kamar mandi, makin kaget pula ketika darah yang dilihatnya itu juga membasahi sekujur tubuhnya.
Dengan perlahan ia mendekatkan wajah ke cermin untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.
"Arrrrrrgh......"
Anni berteriak histeris ketika melihat banyak darah mengalir keluar dari
matanya. la seperti sedang menangis darah, betapa kaget dan
ketakutan dirinya sehingga ia langsung mengenakan handuk dan
segera berlari keluar kamar mandi menuju kamarnya untuk segera menelpon Deddy. Namun, langkahnya terhenti di ruang tengah karena di situ terdapat
beberapa orang yang sedang berdiri dengan kepala tertutup kain putih. Orang-orang itu lalu memuntahkan banyak darah dari mulutnya, sehingga kain putih yang menutupi kepala mereka perlahan bercampur warna merah gelap.
Mereka lalu membalikkan badan mereka menghadap ke arah Anni, kemudian berjalan menuju dirinya sambil mengeluarkan suara yang aneh seperti sedang tersedak sesuatu di mulut mereka.
Dengan tergesah-gesah, Anni pun berlari kembali menuju ke kamar
mandi.
Namun, tiba-tiba dari atas langit-langit rumah jatuh seekor ular sanca besar.
Ular itu pun seolah menghadang dirinya, sementara orang-orang tadi
__ADS_1
makin mendekat.
Anni yang tak bisa lari kemana-mana pun, lalu terduduk sambil menundukkan kepalanya dengan tangan menutup kedua mata, lalu menangis sejadi-jadinya.