
Litha lalu menghempaskan tubuh Deddy ke arah tembok sehingga ia tak sadarkan diri.
Setelah cukup lama tak sadarkan diri, akhirnya Deddy terbangun sambil menahan
sakit di sekujur tubuhnya.
"Auuu, aaaaah, sakit sekali." ucap Deddy sambil memegang kepala dan lengannya
yang terbentur keras di dinding kamar.
Sambil menahan sakit ia bersandar di tembok dengan kepala menengok ke kanan dan kiri melihat sekeliling untuk memastikan Litha tak ada di situ, ia takut Litha
akan muncul kembali dan menyerangnya lagi. la lalu menginjakkan kaki kanannya di lantai agar menjadi tumpuan ia berdiri, setelah berdiri, dengan terseok ia berjalan ke arah ranjang untuk meraih
handphonennya, namun pandangannya teralihkan oleh sosok dari balik jendela
kamar.
"Apa yang dilakukan Litha di situ?"
Nampak, Litha sedang menari di bawah cahaya bulan purnama, semakin dirasanya aneh ketika Litha mulai melucuti gaun merah yang dipakainya hingga tak ada sehelai benang pun yang membalut tubuh putih langsat itu. Seolah menyerap cahaya bulan, Litha mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan membiarkan cahaya dari bulan memandikannya.
Lalu dari kejauhan, tiba-tiba muncul beberapa sosok kuntilanak lainnya yang berbaju putih, salah satu dari kuntilanak itu nampak sedang menggendong sesuatu dan dan kuntilanak yang lain lagi sedang memegang sesuatu pula, setelah diperhatikan dengan seksama, kuntilanak itu sedang menggendong bayi merah yang baru dilahirkan, dan kuntilanak yang satu lagi dengan kedua tangannya sedang memegang ari-ari dari bayi tersebut yang masih dipenuhi darah segar.
Kuntilanak yang sedang menggegam ari-ari, mulai membungkuk sambil menyerahkan ari-ari tersebut ke tangan Litha. Tanpa lama, Litha langsung memakan ari-ari tersebut hingga habis tanpa sisa, lalu menjilati darah yang masih tersisa di tangannya.
Deddy yang tak sanggup melihat pemandangan itu, langsung memuntahkan isi perutnya.
Kemudian, sosok kuntilanak yang menggendong bayi tadi mulai membungkuk dan menyerahkan bayi mungil itu ke tangan Litha, terdengar suara tangisan panjang dari makhluk tak berdosa itu.
"Apa lagi yang akan dia lakukan pada bayi itu?" batin Deddy cemas.
__ADS_1
Litha seolah mengendus-endus bayi tersebut. Lalu memegang kedua kaki bayi itu sehingga kepalanya menggantung dengan posisi kepala di bawah. Tangisan bayi tersebut makin keras dan seakan menyayat hati.
Lalu, tanpa ampun Litha menghujamkan tangannya ke arah dada bayi tersebut
hingga tembus ke punggunya, tampak tangan Litha mengenggam sesuatu yang mana adalah jantung dari Bayi itu.
"Aaaaaargh" Deddy kaget setengah mati dengan apa yang dilihatnya sehingga tanpa sadar mengeluarkan suara.
Litha lalu memalingkan kepalanya ke arah suara di balik jendela dan mendapati Deddy yang sedari tadi sedang mengintip dirinya.
Sadar karena dirinya ketahuan Deddy mencoba bersembunyi di balik dinding dengan napas memburu karena ketakutan. Meski takut, Deddy masih dipenuhi rasa penasaran.
la lalu mencoba menengadahkan kepala secara perlahan ke arah jendela.
"Aaarghhh argghh"
Deddy luar biasa kaget ketika melihat Litha sudah berdiri tepat di depan jendela
dengan masih memegang jantung dan mayat dari bayi tadi.
Kemudian Litha melempar mayat bayi tersebut ke arah kuntilanak-kuntilanak tadi, dan dengan rakus, memakan mayat bayi tersebut bersama-sama.
Deddy hanya mematung dengan mulut terkancing menatap kejadian memilukan
dan mengerikan yang terjadi tepat di depan matanya sendiri. Tubuhnya baru bisa dipalingkan setelah mendengar suara handphone yang
berdering dari atas ranjangnya. Deddy lalu berusaha meraih handphone tersebut dan menjawabnya.
"Ha haa hallo saaayang." ucap Deddy sambil ketakutan "Hahahahaa haaaaahahaha hahahahaa, hahahaha, hahahahahaaa,
"Sayang, sayang, kamu kenapa? Hallo, sayang!"
__ADS_1
"Haahahaa, hahahaaha." "Sayang jawab aku, halllo!"
Deddy makin ketakutan dengan tingkah Anni yang semakin aneh, dia lalu menutup panggilan dan bergegas ke rumah Anni.
Dia mencoba menatap ke arah jendela untuk melihat Litha, namun Litha sudah tidak ada beserta dengan para kuntilanak tadi.
Dia langsung bergegas keluar dari kamar agar segara pergi ke rumah Anni.
"Hihihihi, hihihihi,"
Baru saja ia keluar dari pintu, ia langsung diserbu rasa kaget setengah mati ketika melihat Litha sedang berdiri di sudut ruangan sambil tertawa menatapnya dengan mulut yang masih ada bekas darah dari ari-ari dan jantung bayi tadi.
Deddy pun berlari ketakutan keluar rumah dan masuk ke mobilnya, lalu melajukan kendaraan tersebut dengan kecepatan tinggi ke rumah Anni.
Sesampainya di rumah Anni, dia langsung masuk dan mencari-cari keberadaan
Anni.
"Sayang, sayang, Anni, kamu di mana?" Dia mencari seisi ruangan dan tidak menemukan siapun.
Dia lalu mendengar suara seseorang dari halaman belakang rumah Anni, ia berjalan perlahan menyusuri ruangan-ruangan dalam rumah tersebut, diterangi cahaya lampu yang suram menuju ke halaman bekalang.
Di situ dia melihat Anni sedang menghujamkan pisau pada sesuatu dan berusahamenggigitnya.
la makin mendekat secara hati-hati dan ternyata Anni sedang menghujamkan pisau secara bertubi-tubi pada seekor kucing dan memakan kucing mati tersebut.
"Hei, stop, stop sayang, stop!"
Anni lalu mendorong Deddy hingga terpental. Anni yang aslinya sangat lemah, kini
mempunyai tenaga yang kuat, sekuat pria dewasa. Anni langsung melompat dan menindih tubuh Deddy dan berusaha menghunuskan pisau ke arah kepala Deddy.
__ADS_1
Deddy mencoba menahan dan menarik Anni agar segera berhenti. Anni yang seperti sedang kerasukan, malah mencoba menyerang Deddy dengan pisau tajam yang digemggamnya. "Sayang stop, sadar sayang, stop! Deddy lalu mencoba meraba-raba sekelilingnya, dia berhasil meraba sebuah balok "Sayang, aku minta maaf, sadar sayang! Please bangun sayang!" Deddy mulai panik dan membopong tubuh Anni ke dalam mobil dan dengan segera melajukan kendaraanya menuju le rumah sakit terdekat.
kayu, diraihya balok tersebut dan dihantamkan ke kepala Anni dengan sekuat tenaga sehingga Anni pingsan.