KUNTILANAK ITU ISTRI KU

KUNTILANAK ITU ISTRI KU
episode 14


__ADS_3

Dia juga merobek leher Itis dengan taring di mulutnya lalu meminum


darah segar yang mengalir. Setelah itu, Litha pun tertawa puas sambil memakai kembali gaun merahnya.


Sementara itu di tempat berbeda, Deddy dan Revhan pun pamit ke Lia dan Anni untuk membeli makanan.


"Bro, kita singgah ke rumahku sebentar yah, aku mau ganti baju dulu."


Ucap Deddy. "Sama bro, habis ke rumahku juga."


"Ok bro."


Sesampainya di rumah, Deddy langsung bergegas masuk ke dalam.


Betapa kagetnya dia, ketika melihat Itis sudah meregang nyawa dengan sangat mengenaskan. Ditambah sosok Litha yang sedang duduk di samping jasad Itis sambil membisikkan kata-kata tak jelas ke telinga Itis dengan sedikit tertawa.


"Revhaaan, revhaaaaaan!" Deddy berteriak memanggil Revhan sambil perlahan melangkah mendekati jasad Itis dengan penuh ketakutan dan rasa tak percaya atas apa yang dilihatnya. "Hihihihi, hihi, hiihihihi"


Litha tertawa pelan dan perlahan mulai bangkit sambil menatap Deddy tajam sembari menjilati sisa darah di jemarinya. Gadis cantik itu perlahan mulai berubah dan menunjukkan sosok aslinya, lalu merayap rayap di dinding menggunakan tangan dan kakinya.


Revhan yang berlari kencang ke dalam rumah pun kaget dan ketakutan saat melihat sosok kuntilanak merah yang sedang merayap di dinding, lebih kaget lagi ketika dia melihat sahabat baiknya tewas dengan begitu mengenaskan.


"Aaaaaaarghhh, Itiiiiissssss!"


Revhan berteriak sekencang-kencangnya, lalu mendekat ke tubuh Itis yang bersimbah darah dengan lubang besar di dadanya.


"Iblis bangsaaaaat!" teriak Revhan


Tampak Revhan mengeluarkan air mata sambil memegang tubuh Itis.


"Kemana perginya kuntilanak itu?" Ucap Deddy sambil mencari-cari keberadaan kuntilanak merah yang sudah menghilang tanpa jejak.


"Bagaimana sekarang Ded?" "Maksud kamu?"


"Sekarang kita tidak mungkin membawa jasad Itis ke rumah sakit, bagaimana kalau pihak rumah sakit curiga dan melaporkan pada polisi? Bisa-bisa kita yang dituduh membunuh Itis!"


"Benar apa yang kamu bilang itu, bagaimana kalau kita menguburkan jasadnya saja?"


"Dimana?"


"Di halaman belakang rumahku saja!"


"Kamu yakin?"


"Habis mau bagaimana?" Tidak mungkin kita membuang mayat Itis kan?"


"Oke bro, kamu coba gali lubangnya aku akan mengurus jasad Itis."


Revhan mengambil beberapa buah lakban, dia menaruh rusuk itis yang


patah ke tempatnya semula, lalu melakban seluruh tubuh Itis dengan sangat hati-hati.

__ADS_1


Setelah itu, dia lalu membopong tubuh Itis ke halaman belakang dan membantu Deddy menyelesaikan tugas menggali lubang.


Beberapa saat setelah menggali, sebuah lubang berdiameter 1,5x1,5


meter pun selesai.


Revhan lalu turun ke dalam lubang dan menerima jasad Itis yang diserahkan oleh Deddy.


Tampak dengan air mata berurai, Revhan membaringkan jasad sahabat baiknya itu. Lalu mereka menimbun lubang tersebut dengan tanah bekas galian.


Deddy lantas mencor bekas galian tersebut agar terlihat rapi. "Semoga arwahmu tenang di alam sana bro." sahut Revhan sambil


menyekah tirta yang terus mengalir dari liang matanya.


"Bagaimana sekarang bro?" "Kita pergi saja dulu dari sini!"


Deddy lalu menyempatkan diri masuk ke dalam untuk mengambil beberapa potong pakian untuk dia dan Revhan kenakan, kemudian mereka mengganti pakian di dalam mobil, lalu bersama Revhan meninggalkan rumah tersebut.


Mereka kembali ke tempat Lia Sambil membawa makanan untuk mereka makan bersama.


"Bro, kita harus rahasiakan kematian Itis dari Anni dan Lia, akan sangat bahaya, apalagi jika mereka tahu Itis meninggal akibat dibunuh kuntilanak di dalam rumahku!" ucap Deddy mengingatkan Revhan


"Ok!"


Mereka berdua keluar dari dalam mobil dan masuk ke dalam.


"Darimana saja kalian? Lama sekali!" Tanya Anni. Baru saja ingin menjawab, handphone Deddy sudah bergetar tanda ada panggilan masuk.


"Maaf kemarin waktu kamu telepon saya lupa membawa HP, ada apa?"


Tidak mau pembicaraannya dengan pak Gusty didengar oleh Anni dan Lia, maka Deddy pun beranjak keluar dan melanjutkan percakapan.


"Pak, Itis pak." "Itis kenapa?"


"Itis meninggal pak."


"Apa? Bagaimana bisa?" "Itis tewas dibunuh kuntilanak merah saya pak!"


"Bagaimana bisa?"


"Saya juga tidak tahu pak, saat saya masuk ke dalam rumah, saya menemukan Itis sudah tewas dengan lubang mengangah di Dada, serta jantungnya sudah tidak ada. Dan disamping mayatnya ada kuntilanak merah saya!"


"Biasanya kuntilanak merah tidak sembarangan membunuh orang, jika


orang tersebut menjadi ancaman untuk dirinya atau sedang mengusiknya, baru la akan segera membunuhnya dengan sadis." "Saya sudah tidak tahu sampai disitu pak. Saya ketakutan sekarang!" "Ya sudah, kamu masih menyimpan mayat Itis kan? Soalnya saya ingin


melakukan ritual sebelum mayatnya dikubur." "Mayat Itis sudah dikubur oleh saya dan teman saya, ritual apa itu


pak?"


"Apa? Mengapa tidak memberitahukan sejak awal kepada saya saat menemukan jasad Itis?"

__ADS_1


"Maaf pak, saya tidak tahu menahu soal itu, memangnya mengapa


harus melakukan ritual?"


"Kamu lupa kalau Itis juga punya Istri kuntilanak merah? Jika tahu Itis meninggal dengan seperti itu, maka kuntilanak tersebut akan membalaskan dendam atas suaminya, teror akan terus terjadi pada kalian!"


"Bagaimana ini pak? Teror dari satu kuntilanak saja sudah buat saya depresi, apa lagi dua kuntilanak pak!"


"Teror dua kuntilanak?, maksud kamu?"


"Saya belum cerita sama pak Gusty, kalau istri kuntilanak merah saya juga melakukan teror karena mengetahui saya akan menikahi kekasih saya pak!"


"Hmmm, baiklah dalam waktu dekat saya akan kesitu, kalian bersabarlah hingga saya tiba di sana!"


"Baik, terimakasih pak!"


"Hmmm, Aku turut berduka atas kematian Itis."


"Iya pak, kematian Itis membuat kami para sahabat sangat terpukul."


"Itis meninggal?"


Deddy kaget ketika mendengar suara Lia yang sudah berada di belakangnya, la lalu buru-buru mematikan sambungan telepon dan menyimpan handphonenya di saku baju.


"Lia?, sejak kapan kamu berada di situ?"


"Apa benar Itis meninggal?"


"Iya Lia, Itis sudah meninggal tadi pagi." "Tapi, bagaimana bisa Itis meninggal? Setahu aku dia sehat-sehat saja!"


"Aku juga tidak tahu, aku juga baru mendapatkan kabar dari saudaranya," ujar Deddy menutupi


"Ya Tuhan, padahal Itis anak yang baik hati, aku akan memberitahu Revhan dan Anni."


"Eh Lia, apakah kamu mendengar pembicaraan lainnya?"


"Maksud kamu apa?"


"Apa kamu mendengar hal lain saat aku berbicara di telepon?"


"Tidak!"


"Baik, terimakasih!"


"Hm syukurlah Lia tidak mendengar seluruh percakapan antara aku dan pak Gusty, kalau tidak aku bisa mati," batin Deddy sambil berjalan melewati Lia ke dalam ruangan.


"Sepertinya ada yang disembunyikan oleh Deddy, tapi apa yah? atau


mungkin perasaanku saja yang berkata lain? mudah-mudahan tidak


ada maksud jahat di balik semua ini? Lia membatin sambil menatap

__ADS_1


Deddy yang berjalan ke dalam.


__ADS_2