
Dahulu kala, terjadi berang besar antara dua aliansi. Ras Arakaza bersekutu dengan ras Grandis menghadapi aliansi ras Buraka, ras Demago dan ras Orthras.
Hal yang memicu peperangan tersebut adalah sepasukan ras Buraka menyerang wilayah pinggiran kerajaan Arakaza.
Raja Arakaza menuntut pertanggung jawaban dari pihak Buraka, namun Federasi Buraka justru membentuk aliansi dengan Kerajaan Orthras dan Kesultanan Demago, kemudian mendeklarasikan perang terhadap Kerajaan Arakaza.
Kerajaan Arakaza merupakan kerajaan yang memiliki keunggulan tertinggi dalam militer, sehingga mereka mampu bertahan dari gempuran aliansi tiga ras sekaligus.
Namun setelah 3 tahun perang berlangsung, Kerajaan Arakaza mulai kewalahan menghadapi gempuran tiga Negara sekaligus.
Kekaisaran Grandis yang bersebelahan dengan Kerajaan Arakaza merasa jika Kerajaan Arakaza takluk oleh aliansi, maka tidak menutup kemungkinan Kerajaan mereka akan menjadi target selanjutnya.
Pada akhirnya, Kekaisaran Grandis beraliansi dengan Kerajaan Arakaza untuk memukul mundur pasukan aliansi, keunggulan pun berhasil kembali ke pihak Arakaza.
Akan tetapi setelah 2 tahun berikutnya, perang tersebut tidak menghasilkan apapun selain menambah jumlah korban, upaya untuk mengembalikan kedamaian pun dilakukan oleh dua Negara lain, yaitu Kerajaan Troumb dan Kerajaan Zakmee.
Dua Kerajaan tersebut memilih untuk tidak terlibat dalam pertumpahan darah ini.
Meski begitu, aliansi Buraka tetap bersikeras dangan peperangan, mereka memang berniat menaklukkan Kerajaan Arakaza dan menyelesaikan yang telah mereka mulai.
Setelah enam tahun sejak perang berlangsung. Kedua belah pihak mengerahkan seluruh kekuatan dalam pertempuran kali ini, pertempuran ini akan menjadi penentu. Saat pasukan dari dua aliansi saling bunuh satu sama lain.
Tiba-tiba langit diatas mereka merekah, menampilkan pemandangan gelap yang misterius, suara gemeretuk menggetarkan terdengar dari langit yang kini terlihat berlubang.
Pemandangan ini menghentikan perang yang sedang berkecamuk, pasukan Aliansi dan Sekutu menatap langit diatas mereka.
Pasukan yang tadinya hendak menebas lawan terhenti gerakannya, Penyihir di garis belakang membatalkan rangkaian algoritma, semuanya menatap ke pemandangan gelap mencekam di atas kepala mereka.
Di tengah keheningan aneh itu, mendadak tanah yang mereka pijak bergetar. Gempa bumi dengan skala yang tidak bisa dibayangkan mengguncang medan pertempuran, pasukan dua aliansi kocar-kacir, bahkan untuk merangkak pun mustahil bagi mereka.
Hanya saja, ini semua masih belum berakhir.
Keputusasaan selanjutnya telah menunggu. Tanah yang berguncang mulai merekah, retakan retakan menjalar dengan cepat, dan bongkahan-bongkahan tanah yang retak terangkat ke langit.
Bukan hanya bongkahan tanah, tapi prajurit-prajurit di tempat itu satu persatu mulai terangkat ke langit, mereka berteriak putus asa, sedangkan mustahil untuk mereka melarikan diri dari tempat itu.
Ditengah-tengah teriakan putus asa dan jeritan ketakutan, orang-orang yang terangkat ke langit lenyap satu persatu menjadi debu, para prajurit semakin histeris.
Mereka mulai berdoa kepada kekuatan yang mereka yakini, Roh-Roh Agung, Dewa-Dewa Mahakuasa, Kekuatan Alam.
Mereka memanggil keberadaan yang mereka puja, dan seolah menjawab seruan-seruan keputusasaan itu, tanah mulai berhenti berguncang, langit perlahan kembali tertutup, dan langit menurunkan hujannya seolah membagikan ketenangan kepada sisa-sisa prajurit yang gentar.
Mereka yang tersisa pun kembali ke kerajaan masing-masing, membawa cerita yang tidak terbayangkan, dengan ini perang pun berakhir, Aliansi dan Sekutu sepakat untuk berdamai.
Bencana aneh itu seolah menjadi peringatan atas kerusakan yang diperbuat oleh makhluk hidup.
Dengan ini, seluruh Negara Besar yang mewakili setiap ras, sepakat untuk selalu menjaga kedamaian untuk masa depan yang lebih baik, dan kedamaian itu tetap berlangsung hingga beberapa generasi di masa depan dan diharapkan tetap bertahan selamanya.
Namun siapa yang tahu, jika ada yang merusak perdamaian dan memulai kembali pertumpahan darah, maka hukuman itu akan kembali mendatangi mereka tanpa pandang bulu, namun itulah tugas makhluk hidup untuk selalu menjaga bumi pemberian Sang Pencipta.
*******
"... Dan kisah ini pun berakhir." Pengelana memetik alat musik nya, aku terkesima dengan kisah yang dibawakan oleh pengelana, sampai aku tidak sadar mulutku sedikit terbuka, Pengelana itu begitu piawai membawakan kisah, intonasinya yang pas, petikan alat musiknya di sela-sela kisahnya semakin menambah emosi yang dituangkan dalam setiap kata kata. Dengan kata lain 'sempurna'.
Seorang anak mengangkat tangan dan bertanya kepada Pengelana.
"Apakah itu kisah nyata?"
Si Pengelana tersenyum dan memetik alat musiknya menanggapi pertanyaan itu,
"Siapa yang tahu? Yang lebih penting adalah pelajaran apa yang bisa kita ambil. Kita harus selalu berusaha untuk menjaga kedamaian di dunia, dan hukuman akan datang jika kita merusak kedamaian itu."
Si Pengelana mengakhiri jawabannya dengan petikan alat musik.
"Kalau begitu aku akan melanjutkan perjalanan ku, kuharap kisah ini bisa mengingatkan kalian untuk selalu menjaga kedamaian dunia."
Dia memetik kembali alat musiknya.
Terdengar seruan kecewa dari anak-anak di sekitarku, mereka mulai melemparkan uang kedalam wadah yang disiapkan oleh Pengelana, usia anak-anak ini berkisar antara 5 sampai 12 tahun, dan ada satu lagi yang berusia 16 tahun.
Ya, itu adalah aku.
Entah kenapa aku begitu menyukai kisah para Pengelana meskipun aku sadar kalau kisah mereka sangat lebay, dan intisarinya pun terkadang terkesan Cringe.
Si pengelana berdiri dari tempat duduknya dan melambaikan tangan pada gerombolan anak-anak, aku berdiri dan menepuk-nepuk celanaku yang sedikit kotor.
"Kau ini kekanak-kanakan sekali ya Arion. Lihatlah, disekelilingmu hanya ada anak seusia adikmu, harusnya kau belajar arti kata malu."
Aku menoleh saat mendengar suara di belakangku, di sana berdiri seorang (atau aku harus menyebutnya 'seekor'?) Zakmee serigala perempuan seusiaku sedang berkacak pinggang dan menatapku dengan mata serigalanya yang berwarna biru.
"Ah, Viona."
Dia adalah teman ku sejak kecil, pertemuan pertama kami sedikit aneh, ketika itu dia menolongku yang sedang diganggu bocah-bocah nakal.
Sebenarnya aku bukan tipe anak korban bully, tapi entah kenapa saat itu kami seperti ditakdirkan bertemu, dan bukannya aku tidak bisa membela diri, tapi Viona datang tepat ketika aku bersiap membalas mereka.
Serius.
Ayahnya adalah seorang Tentara dan ibunya seorang Guru, aku bisa menebak kalau dia sedang bosan di rumah karena orang tuanya tidak ada.
Walaupun hari ini sekolah sedang libur, sepertinya ibu Viona sedang menghadiri rapat.
"Bahkan adikmu tidak pernah tertarik dengan kisah dari pengelana kan?"
Ucapnya ketika kami berjalan bersama, Ariel adikku memang sedikit spesial, dia tidak tertarik dengan hal-hal yang kekanakan seperti kisah dari pengelana.
Berbeda dengan kakaknya, meski usianya masih 10 tahun tapi kau bisa bilang kalau dia jauh lebih dewasa dibandingkan aku.
__ADS_1
"Mau bagaimana lagi, itu memang hobiku dari dulu"
Jawabku sambil menghembuskan nafas, aku menatap langit diatasku, membayangkan jika tiba-tiba langit itu terbelah dan menampakkan pemandangan gelap misterius.
"Hey, Arion. Kalau kau terlalu suka membaca dongeng bergambar, bisa-bisa kau tidak naik kelas loh."
"Memangnya kenapa? Kau saja yang tidak paham serunya membaca dongeng bergambar"
Aku menimpali, lagipula aku selalu bisa masuk daftar 30 Siswa dengan nilai akademik terbaik meskipun malas belajar.
"Kau seharusnya belajar lebih giat, aku yakin ketika kau serius belajar kau bisa menempati lima besar dalam nilai akademik."
"Kenapa kau peduli sekali dengan sekolahku? Kau bukan ibuku kan?"
Wajah Viona cemberut. Dia menatapku kesal.
"Tsk ... terserah lah". Viona membuang muka. Aku tertawa kecil melihat wajah cemberut Viona, cewek serigala ini imut juga kalau sedang ngambek.
Harus kuakui dia ini cantik, kulitnya putih, rambut, ekor dan telinganya berwarna abu-abu, dan itu sangat serasi dengan matanya yang biru.
Juga, meskipun dia sering pasang wajah cemberut, dia tidak pernah marah ataupun berbicara dengan nada tinggi padaku, itulah yang membuatku senang berteman dengannya.
Kurasa aku tidak keberatan jika dia memintaku menikahinya.
Saat kami sedang berjalan dalam diam, sekelompok teman-teman sekolah berpapasan dengan kami. Aku menyapa mereka, dan dibalas dengan tatapan jahil.
"Oh, kau sedang kencan ya, Arion?" kata seorang dari mereka.
"Sialan memang, bikin iri saja." yang lain menimpali
Aku hanya menatap mereka kesal, aku sudah terbiasa menghadapi situasi seperti ini. Karena dari kecil aku sudah dekat dengan Viona, jadi setelah kami mendekati usia dewasa, banyak yang menyangka kalau kami ini pacaran.
"Tidak tidak ... Jangan salah paham dulu, aku cuma mengantar serigala tersesat ini ke rumahnya."
Aku berusaha mengontrol nada bicaraku supaya terdengar senormal mungkin.
Mereka tertawa terbahak-bahak.
Tiba-tiba Viona menendang kakiku, aku langsung menunduk memegangi kakiku yang kesakitan.
"Ooh ... jadi begini cara kalian bermesraan ... sial, makin iri saja." mereka kembali tertawa.
"Bisa tidak sih kalian pergi saja? Kita jadi diperhatikan orang-orang tau." Ucapku dengan nada kesal. Bukan karena perkataan mereka, tapi tendangan Viona sakitnya minta ampun.
"Baiklah baiklah ... Kami nggak akan mengganggu kencan berharga kalian di hari libur, jadi kami pergi dulu."
Mereka cabut begitu saja sambil tertawa-tawa, aku berdiri dan menatap Viona yang menunduk, mungkin dia malu karena jadi banyak orang yang menatap kami.
"Maaf, yang tadi itu cuma bercanda kok."
"Aku tahu." dia menyahut
Beberapa orang menyapaku dengan ramah meskipun aku tidak mengenal mereka, aku hanya membalas dengan senyum canggung.
Selalu begini. Bahkan tak jarang orang yang baru saja kutemui menyapaku dengan akrab 'Arion bukan? Sekarang kau sudah besar ya' dan semacamnya.
Aku tidak terlalu nyaman bersosialisasi dan hanya akrab dengan beberapa orang saja, tapi aku cukup populer di kota ini. Karena aku adalah ras campuran.
Kenapa itu bisa membuatku terkenal? Karena normalnya jika dua orang yang berbeda ras memiliki anak, maka anak mereka seharusnya hanya mewarisi sifat dari ras salah satu orangtuanya.
Tapi aku tidak, ada dua darah ras dalam tubuhku, yaitu darah Arakaza dari ayahku dan darah Manusia dari ibuku.
Saat aku lahir, banyak yang menyangka kalau aku mewarisi darah Manusia dari ibuku, tapi mereka terkejut saat melihat mata ku yang berwarna oranye gelap, mata oranye gelap adalah salah satu ciri ras Arakaza, dan ciri lainnya adalah garis merah tua dibawah mata, inilah yang tidak kumiliki.
Kami sudah sampai di halaman rumahku, rumah ini memiliki dua lantai. Terimakasih atas pekerjaan ayah yang bagus, sehingga kami bisa tinggal di rumah yang terbilang mewah dan nyaman.
"Aku pulang." aku membuka pintu rumah
"Selamat datang." ibu yang sedang di dapur menyahut.
Aku berjalan ke dapur, disana ibu sedang menyiapkan makan siang dibantu oleh Ariel
"Oh, ada Viona, kamu mau makan siang bersama?" Tanya ibu.
"Aku memang mengajaknya makan siang bersama, nggak masalah kan?" Sebenarnya tidak perlu bertanya seperti itu, cewe serigala ini memang sangat sering makan siang bersama kami, terutama kalau orangtuanya sedang tidak dirumah.
"Tentu saja tidak masalah." jawab ibu, dia orang yang ramah, berbeda dengan anak laki-laki nya.
Dia berasal dari keluarga Helarc Marvette, salah satu keluarga bangsawan kelas atas di Kerajaan Manusia, sepertinya ayah belum pulang siang ini, dia adalah salah satu perwira militer di kota ini, profesi yang sama seperti kakekku.
Ayah orangnya cukup sibuk, tapi dia selalu menyempatkan makan siang dirumah, aku menyimak obrolan Viona dan Ariel yang ikut membantu ibu menyiapkan makan siang.
"Apa kamu sudah bisa menggunakan Sihir?" tanya Viona pada Ariel.
"Ya, aku bisa menggunakan Sihir dasar" jawab Ariel.
Dia belajar sihir dari ibu, keluarga ibu merupakan keluarga penyihir, Sihir Energi Dingin merupakan Sihir yang menjadi ciri khas keluarganya.
Bukan berarti Sihir Energi Dingin tidak bisa dipelajari oleh orang lain, tapi orang yang menyusun formula Sihir tersebut adalah kepala keluarga Helarc Marvette pertama. Seluruh anggota keluarga yang sudah menginjak usia dewasa pasti bisa menggunakan sihir itu, sihir yang dipelajari Ariel adalah Sihir Energi Dingin.
"Arion, kau juga belajar Sihir?" Tanya Viona padaku sambil tangannya sibuk mengaduk sup di kuali.
Dia mencicip sedikit, lalu menggumamkan sesuatu kemudian menambahkan beberapa bumbu kedalam kuali.
"Sedikit, aku malas menghafal algoritma Sihir." Aku mencomot lauk dari piring, tiba-tiba sebuah panci penggorengan menghantam kepalaku. Itu ulah Ariel, aku langsung menjauh dan mengambil lauk yang lain.
"Selain cerdas, Ariel juga sangat tekun, sangat berbeda dari seseorang. Karena itulah dia cepat menguasai Sihir." Ibuku bergabung dalam percakapan.
__ADS_1
"Wah, aku tidak paham siapa yang bibi maksud dengan 'seseorang'." Viona tertawa kecil. Ibu tertawa dan mengangkat bahunya.
"Kakak, tadi ada senior cewek yang menitipkan surat untukmu." Ucap Ariel yang sedang menghias piring.
"Terus, kamu taruh dimana suratnya?"
"Masih di tas, setelah makan siang aku ambilkan." Jawabnya.
"Memang siapa yang titip surat?" Viona menyahut.
"Tidak tahu, aku tidak kenal dengan kakak-kakak kelas menengah." Ariel mengangkat bahu.
"Apa dia dari kelas yang sama denganku?" Tanyaku sambil mencoba mengingat-ingat wajah cewek-cewek di kelasku.
"Tidak tahu." Sahut Ariel.
Viona sudah selesai membuat sup, dan sekarang dia membantu Ariel menghias piring. Aku diam-diam mencicipi sup buatan Viona. Rasanya cukup enak.
Dulu, aku tidak menyangka kalau Viona bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga, bahkan ibuku berkali-kali memujinya dan bilang kalau suatu saat dia pasti akan jadi istri yang baik.
"Beruntung sekali pria yang bisa menikahimu." Begitulah kira-kira yang dikatakan ibu saat Viona pertama kali membantunya memasak.
Ekor Viona selalu bergerak-gerak saat mendengarkan pujian itu. Walaupun menurutku itu sama sekali tidak terdengar seperti pujian.
"Arion sangat berbakat dalam Teknik Pedang, bahkan dia mulai bisa menggunakan Bara. Kalau saja dia mau, mungkin dia bisa mendapatkan jabatan tinggi di militer."
Ibuku bergabung dalam percakapan sambil dengan lincah menyiapkan makan siang
"Kalau saja dia mau?" tanya Viona kebingungan.
"Yah ... Arion tidak tertarik jadi Prajurit dan lebih memilih jadi Tentara." jawab ibuku.
"Sayang sekali, kenapa kau tidak sekalian jadi Pengelana saja? Aku yakin kau bisa membuat banyak anak tertarik dengan kisahmu, bahkan anak yang sudah berusia 19 tahun" . Viona nyengir.
Itu sindiran telak, ibuku dan Ariel tertawa, wajah Viona terlihat sangat puas. Aku pura-pura tidak menanggapi dan terus mencomot lauk makan siang satu persatu dibawah ancaman teflon Ariel.
Ditengah kesibukan di dapur, pintu rumahku terbuka dan terdengar suara ayah.
"Ayah pulang."
"Selamat datang." kami menyahut serempak.
Ayah berjalan masuk ke dapur, ibu menghampiri ayah, melepaskan mantel dan menyambutnya dengan senyum. Viona yang sedang membantu ibu juga menyambut ayah.
"Kamu ingin bergabung makan siang dengan kami?"
Viona mengangguk. "Arion mengundangku untuk makan siang bersama."
"Sepertinya Gavielle dan Hasia cukup sibuk ya." Ucap ayah yang kemudian duduk di salah satu kursi, Gavielle dan Hasia adalah orangtua Viona.
"Iya, aku minta maaf sudah merepotkan." Viona menunduk sopan,
"Tidak masalah, justru aku senang kalau meja makan ini ramai." Ayah melambaikan tangannya.
Para wanita dengan gesit mulai menata meja makan, dalam sekejap meja sudah terisi penuh dengan menu makan siang yang beragam.
Kami mulai makan denan tenang, satu persatu makanan di atas meja mulai berkurang. Piring kotor pun mulai ditumpuk satu persatu.
Sehabis makan, Ibu, Ariel, dan Viona berbincang ringan, topiknya hanya seputar sekolah dan kegiatan sehari-hari. Sedangkan aku dan ayahku membicarakan topik pria.
"Jadi, bagaimana menurutmu?" ayahku bertanya.
Aku yang sedang minum menatap ayah bingung, "Apanya?"
"Gadis itu kelihatannya boleh juga kan?" Matanya menunjuk ke arah Viona.
"Hmm ... Karena aku berteman dengannya sejak kecil, jadi menurutku biasa saja sih." Aku berusaha menjawab sedatar mungkin.
"Hey ... Kau ini, tahun depan kau seharusnya sudah punya pasangan loh."
19 tahun adalah usia seseorang dianggap dewasa. Biasanya, orang-orang akan menikah tidak lama setelah pesta ulang tahun ke-19 mereka digelar.
Meskipun begitu aku tidak terlalu peduli, aku hanya ingin berpetualang mengelilingi dunia. Mencari uang dari menjalankan misi, menurutku hidup bebas seperti itu lebih menyenangkan.
Tapi kalau seandainya ada wanita yang mau menemaniku berpetualang, maka aku tidak keberatan menikah dengannya dan kemudian berpetualang bersama, tidak jarang juga kasus seperti itu.
"Itu masih terlalu cepat tahu, aku masih punya banyak hal yang ingin aku lakukan." Aku menjawab Ayah.
"Ya ... Terserah kamu deh." Ayah mengangguk dan menyeruput teh nya.
"Siang ini, aku ditugaskan untuk mengawasi pelatihan prajurit baru, kemudian malam ini akan ada rapat petinggi dan aku diminta untuk ikut hadir. Makan malam sudah disediakan disana jadi tidak perlu menungguku makan malam". Ayah memberi tahu kami
Ibu mengangguk dan bergegas merapikan seragam kerja ayah. Ayah pergi ke kamar mandi untuk mencuci wajah.
Seharusnya dia mandi, tapi ayah orangnya pemalas seperti aku.
Sebenarnya, kalau ayah bilang ada rapat, itu tidak selalu berarti rapat betulan. Kadang ayah dan petinggi prajurit lain hanya pesta dengan memesan satu ruang di bar untuk semalam penuh, ayah pernah memberitahu ku dan bilang kalau ini rahasia lelaki.
Ibu dengan cekatan merapikan kusut di pakaian ayah menggunakan setrika. Pakaian itu siap begitu ayah keluar dari kamar mandi.
Aku kemudian pergi ke kamarku di lantai dua untuk membaca Buku Dongeng Bergambar yang kubeli hari ini.
Buku Dongeng Bergambar pertama kali diperkenalkan oleh kerajaan Manusia, ras Manusia adalah ras paling berkembang dalam hal teknologi dan hiburan, mereka juga memiliki budaya yang sangat beragam.
Aku mendengar samar-samar suara pintu depan diketuk, setelah pintu dibuka oleh seseorang terdengar suara percakapan, kutebak itu adalah ibu Viona, percakapan itu kadang diselingi oleh seruan-seruan Viona yang menyuruh ibunya diam, entah apa yang mereka bicarakan.
Di malam hari. Seperti yang ayah bilang, dia pulang terlambat, jadi kami tidak menunggu ayah untuk makan malam.
__ADS_1
Saat aku dan Ariel pergi ke kamar masing-masing aku melihat ibu masih menunggu di ruang tengah, aku membayangkan bagaimana reaksi ibu kalau tahu ayah sebenarnya tidak sedang rapat, pasti dia akan berada dalam masalah.
Aku lanjut membaca Buku Dongeng Bergambar. Setelah cukup larut, aku beranjak ke tempat tidur.