Land : The Chronicles

Land : The Chronicles
Bab 3 : Claudius


__ADS_3

Hari ini, aku bersama ayahku menghadiri undangan jamuan dari seorang kawan lama ayahku, dia seorang Penguasa kelas menengah dengan wilayah yang meliputi 3 kota di Kerajaan Arakaza.


Setelah kami sampai di kediaman Penguasa, para pelayan menyambut kami dan mengantarkan kami ke ruang perjamuan.


Di depan pintu, berdiri dua orang pelayan yang membukakan pintu. Di dalam ruangan, Tuan Penguasa sudah duduk di salah satu kursi. Ada dua kursi lain yang diletakkan di sebelah meja bundar.


Pelayan menggeser kursi mempersilakan kami duduk, kemudian dia menuangkan teh untuk aku dan ayahku dalam cangkir dengan ornamen khas Arakaza. Aroma dan rasa teh ini sangat menyegarkan, sesuai dengan seleraku.


Di sisi ruangan, berdiri tiga Prajurit Arakaza, dari seragamnya, mereka terlihat memiliki jabatan tinggi.


“Jadi, apa perjalananmu lancar?” sang Tuan Rumah membuka percakapan, dia sama sekali tidak berbicara dengan formal kepada ayah. Karena mereka tidak bertukar sapa sama sekali, jadi ku simpulkan kalau mereka ini sangat akrab.


“Lancar, butuh waktu 2 hari untuk sampai disini, tapi semua fasilitas yang kau siapkan selama perjalanan sangat bagus, jadi aku tidak bisa protes.” ayah menjawabnya.


“Baguslah.” dia hanya mengangguk.


“Jadi Staurog, apa maksud dibalik jamuan ini?” yah bertanya setelah menyeruput teh-nya. Tuan Staurog tertawa mendengar pertanyaan ayah.


“Hey, ayolah Benedict, ini hanya reuni kawan lama, aku mengundangmu begitu mendengar kabar kalau kau sedang berada di Kekaisaran Grandis.”


Ayah juga tertawa “Aku hanya bercanda.”


“Jadi ini putramu?” Tuan Staurog bertanya ketika menatapku, aku mengangguk demi sopan santun.


“Ya. Kau benar, dia Claudius.” ayah menepuk bahuku.


“Salam Tuan Staurog Kuddard Grezenas. Saya Claudius Ixora Filiformis.” Aku berdiri dan menempelkan tangan kananku di bahu kiri.


“Kau tidak perlu terlalu formal Claude, anggap saja dia paman mu.” lanjutnya.


“Kau punya tiga anak heh? Padahal waktu itu Cassia masih sangat kecil.” Cassia adalah kakak perempuan ku, jadi ternyata Tuan ini pernah bertemu kakak.


“Ya. Ketika itu, istriku masih belum mengandung Claudius.”


Setelah itu mereka berbincang-bincang tentang beberapa topik yang tidak begitu kupahami, seperti urusan kebangsawanan dan masa lalu mereka, aku penasaran seakrab apa mereka dulu.


“Nah, Claudius. Apakah kau tertarik untuk menikah dengan gadis Arakaza? Aku bisa mengenalkanmu dengan gadis bangsawan dengan keluarga berperingkat tinggi.” Aku menyeruput teh untuk menyembunyikan kegugupan.


“Sayang sekali, Claudius sudah bertunangan.” Ayah menjawab, Tuan Staurog ber-oh kecewa dan mengangguk-angguk.


“Karena Cassia tidak memiliki keinginan untuk menikah dalam waktu dekat, jadi aku berpikir kalau sebaiknya pernikahan Claudius dilaksanakan secepat mungkin.”


“Ah, kau membuatku teringat sesuatu. Istri Zarakhel adalah putri dari Helarc Marvette, putra pertama mereka mewarisi dua darah sekaligus. Menarik bukan?”. Tuan Staurog menyebut nama asing, tapi salah satu pengawal di sisi ruangan sedikit menunduk ketika Tuan Staurog mengatakan itu.


“Jadi kau menantu dari Theodore? Aku pernah mendengar kabar soal salah satu putrinya yang berada di Kerajaan Arakaza. Lupakan, lebih dari itu, putramu mewarisi dua darah sekaligus?” ayah menatap Zarakhel kagum, dia rupanya tertarik dengan putra Zarakhel yang memiliki kasus langka.


“Benar, Tuan Benedict. Saya merasa terhormat karena Tuan Theodore berkenan menerima saya sebagai menantu beliau. Adapun perihal putra saya, benar demikian adanya.” Pria bernama Zarakhel itu menjawab pertanyaan ayah.


“Kalau aku tidak salah, Putra Zarakhel seusia dengan Claudius. Apa aku benar, Zarakhel?” Tuan Staurog bertanya.


“Anda benar Tuan.” Zarakhel menunduk.


Darah campuran sangatlah langka, aku hanya pernah mendengar soal mereka di dalam pelajaran, aku berharap bisa bertemu dengannya langsung.


Pelayan masuk membawa troli berisi hidangan pembuka, kelihatan enak, itu adalah buah-buahan dan sayuran yang dipotong dalam satu wadah kemudian ditaburi madu.


Aku suka makan hidangan ini di rumah, tapi ini sedikit berbeda, buah-buahan yang digunakan sepertinya adalah buah liar yang belum pernah kulihat.


“Bagaimana menurutmu? Aku sendiri yang pergi ke hutan untuk mencari buah-buah itu”. Tuan Staurog bertanya pada ayah setelah ayah memakan hidangan ini.


“Tidak buruk, benar-benar nostalgia.” Ayah berkomentar, dia mendadak jadi semangat makan, lupa dengan semua etiket bangsawan, Tuan Staurog sama sekali tidak peduli dan dia juga makan dengan lahap.


Aku makin penasaran dengan hubungan mereka di masa lalu, apa mereka pernah berpetualang bersama atau semacamnya?


Aku mencoba satu potong buah yang terlihat segar. Rasanya benar-benar enak. Ditambah lagi, rasa manis dari madu mampu melengkapi rasa buah yang sedikit masam.

__ADS_1


Saat kami sedang menikmati hidangan ini, pintu dibuka oleh seorang prajurit pribadi Tuan Staurog, dia terlihat sangat panik. Setelah membisikkan sesuatu pada Tuan Staurog, mendadak wajahnya menjadi serius.


“Apa yang terjadi?” Ayah bertanya serius saat melihat suasana mendadak menjadi tegang.


“Apakah kalian pernah mendengar kisah tertang perang dua aliansi?” Tuan Staurog bertanya pada ayah dan aku, aku mengangguk. Ya, aku pernah mendengar kisah itu.


“Bencana aneh yang menghentikan perang itu, sekarang terjadi di wilayah kekuasaanku, di Kota Iria”.


Seseorang tersentak mendengar ucapan Tuan Staurog, dia adalah Zarakhel.


“Tuan ... keluargaku.” dia terlihat sangat panik.


“Ya, aku mengerti” Tuan Staurog menghela napas, setelah itu dia memberi perintah kepada prajurit tadi.


“Kumpulkan seluruh Petarung Naga dan siapkan naga tunggangan, kita akan melihat kondisi di sana.”


Prajurit itu menunduk dan keluar dari ruangan, Zarakhel juga mohon undur diri, lalu Tuan Staurog menatap kami sambil menghela nafas.


“Jamuan ini sepertinya terganggu, kalian bisa menunggu disini sampai kami menyelesaikan masalah ini.” Katanya.


“Tidak, ini benar-benar buruk. Aku juga akan ikut ke lokasi”. Ayah menjawab, Tuan Staurog mengangguk, dia seperti sudah menduga hal ini.


Kami pun bersiap. Aku, ayah dan tiga pengawal kami menaiki Kabin Angsa yang menjadi kendaraan kami, sedangkan Tuan Staurog dan Kesatria Arakaza yang disebut Petarung Naga menunggangi naga tunggangan.


Kami keluar dari Istana tuan Staurog. Terlihat di luar sana, sekitar 30 menit perjalanan menggunakan Kabin Terbang, sebuah lubang hitam yang mencekam.


Aku gentar saat melihat lubang hitam di langit, lubang itu muncul ditengah-tengah awan mendung.


Bagaimana mungkin bencana yang hanya ada dalam kisah-kisah dongeng, bisa terjadi di dunia ini?


Dalam perjalanan menuju kota tersebut, aku sempat melihat puing-puing bangunan tersedot kearah lubang itu, sebelum akhirnya lenyap menjadi debu sebelum mencapainya.


Lubang itu menghilang sepenuhnya sebelum kami mencapai kota. Aku tidak percaya dengan apa yang kulihat, kota ini hanya menyisakan puing, tidak ada tanda-tanda kehidupan sama sekali, tidak ada satupun bangunan yang masih berdiri.


Pencarian secara manual pun dilakukan oleh semua yang berada disitu, aku juga turut berpencar bersama salah seorang pengawal ayahku.


Aku menyusuri puing-puing bangunan yang sudah tidak lagi berbentuk, tanah becek karena hujan membuat langkahku sedikit terhambat.


Beberapa barang sehari-hari terlihat berceceran, udara mendadak terasa lebih dingin.


Rottweil mulai mengendus-endus, dan kami menyadari sesuatu yang aneh, ada jejak kaki di sini, hujan yang turun cukup deras membuat bekas jejak kaki dipenuhi air, sehingga kami bisa melihatnya dengan jelas.


Apa yang Rottweil temukan kemudian lebih mengerikan, dia menemukan pakaian yang terkoyak penuh dengan darah, dengan darah yang menggenang di sekitarnya.


Kami kemudian menyusuri area sekitar tempat genangan darah itu, kesampingkan soal jejak kaki. Hingga akhirnya Rottweil menemukan tempat dimana darah itu berasal.


Aku seketika merasa mual begitu melihat pemandangan di depanku.


Ada serpihan daging dan tulang yang berceceran di tempat itu, orang ini kemungkinan terjatuh dari ketinggian, lalu menghantam puing bangunan dan menghancurkan tubuhnya.


Tetapi sama seperti penduduk kota yang lain, tubuh orang ini menghilang secara misterius.


Aku dan Rottweil mencoba menyusuri kemana jejak kaki tadi pergi, ada kemungkinan jejak kaki dan darah tadi milik seseorang yang sama, tetapi lagi-lagi kami menemukan sesuatu yang membingungkan. Jejak kaki itu terputus begitu saja di sebuah tanah lapang, tidak ada tanda-tanda kemana jejak itu pergi.


Kami berusaha memastikan sekali lagi, tapi jejak kaki itu benar-benar berakhir disini, Rottweil mengatakan ada dua bau yang tertinggal disini. Satu bau yang tidak dikenali, dan yang satu lagi dia tidak bisa memastikan apakah itu bau Arakaza atau Manusia.


Aku terkejut ketika mendengar perkataannya, dan seketika aku teringat sesuatu.


Putra dari Zarakhel, dia memiliki dua darah sekaligus didalam tubuhnya.


Rottweil mengendus darah di genangan untuk memastikan.


“Aku benar-benar bingung, baunya seperti bau Arakaza dan Manusia secara bersamaan.” Rottweil tidak mengikuti kami saat perjamuan, jadi dia tidak tahu pembicaraan kami soal putra Zarakhel.


Aku pun segera menunjukkan lokasi ini pada ayah dan Tuan Staurog.

__ADS_1


Mereka kehabisan kata-kata ketika melihat pemandangan ini. Setelah kami menjelaskan apa yang terjadi dan dugaan Rottweil mengenai darah siapa yang tercecer disitu, mereka pun tidak kalah terkejut.


Aku menanyakan apakah ada kemungkinan orang lain memiliki dua darah selain putra Zarakhel, Tuan Staurog menggeleng.


“Bahkan di penjuru Kerajaan Arakaza ... Tidak, di penjuru dunia ini sekalipun, bisa kupastikan kalau putra Zarakhel adalah satu-satunya”. Tegasnya.


Kami terdiam mendengar hal ini. Tetapi jasadnya yang menghilang juga masih merupakan misteri.


Jika penduduk lain menghilang tanpa jejak sama sekali, kenapa putra Zarakhel masih meninggalkan jejak? Apa yang sebenarnya terjadi?


“Ditambah jejak kaki ini memiliki bau yang aneh, baunya jelas berbeda dengan bau pemilik darah ini, dan aku belum pernah menemui bau seperti ini sebelumnya." Rottweil menjelaskan keanehan yang dia temukan.


Rottweil merupakan Zakmee anjing yang memiliki kelebihan dalam indra penciuman, dan dia sudah mengenali bau khas dari seluruh ras yang ada. Itu berarti, dia bermaksud mengatakan bahwa jejak kaki ini milik 'sesuatu' yang bukan merupakan Tujuh Ras.


“Lalu kemana jejak kaki ini pergi?”. Ayah bertanya setelah kami terdiam mendengar fakta itu. Rottweil hanya menggeleng.


“Ini aneh tuan, pemilik jejak kaki ini seperti muncul begitu saja ditempat ini kemudian juga menghilang begitu saja di sana.” Rottweil menunjuk lokasi tempat jejak kaki itu menghilang.


"Apakah ada kemungkinan kalau ini adalah jejak kaki Monster?" tuan Staurog mencoba berspekulasi.


"Saya takut itu tidak benar tuan. Bentuk jejak kaki ini jelas tidak terlihat seperti kaki telanjang, melainkan terlihat seperti sepatu, atau setidaknya alas kaki." Aku mengutarakan pendapatku, Rottweil kemudian melepas sepatunya dan menjejakkan kakinya disebelah jejak kaki misterius.


Aku mengaktifkan Sihir Api untuk menguapkan air yang menggenang di bekas jejak kaki itu.


Terlihat perbedaan yang jelas, ujung jejak kaki misterius itu berbentuk runcing dan permukaannya terlihat rata, terlihat seperti alas kaki. Berbeda dengan jejak kaki Rottweil yang memiliki bentuk khas telapak kaki. Ini menunjukkan bahwa 'sesuatu' itu menggunakan semacam alas kaki.


"Tuan Muda benar Tuanku. Melihat bentuk jejak kaki ini, sudah pasti bahwa 'sesuatu' itu bukan Monster." Semua orang setuju dengan perkataan Rottweil.


"Dengan kata lain, jejak kaki ini milik sesuatu yang bukan merupakan Tujuh Ras, tetapi juga bukan jejak kaki Monster." Ayah mengamati perbedaan bentuk jejak kaki itu lebih seksama.


"Saya khawatir itu benar Tuanku." Rottweil menanggapi perkataan ayah.


"Ini justru semakin merisaukan, bukan begitu? Memikirkan ada 'sesuatu' diluar Tujuh Ras yang tiba-tiba muncul di tempat seperti ini dan menghilang tanpa jejak begitu saja, aku khawatir masalah ini bukan hanya untuk Kerajaan Arakaza saja." Tuan Staurog menghela napas dan mengusap wajahnya.


"Aku juga mengkhawatirkan hal itu." Ayah menanggapi.


Kami terdiam dan tenggelam dalam pikiran masing-masing, mencoba mencari alasan yang paling masuk akal untuk menjelaskan insiden yang terjadi di kota ini.


Lubang hitam di langit seperti yang dikisahkan dalam dongeng, penduduk yang menghilang tanpa jejak, darah yang diduga milik putra Zarakhel. Di atas itu semua, ada bukti yang menunjukkan keberadaan 'sesuatu' yang bukan merupakan bagian dari kami ada di dunia ini.


Tuan Staurog benar, aku takut masalah ini akan memicu reaksi dari seluruh Negara Besar.


Ditengah keheningan, seorang pengawal Tuan Staurog menghampiri kami dan mengkonfirmasi bahwa seluruh penduduk menghilang secara misterius, tidak ada jejak kehidupan yang ditinggalkan sama sekali.


Kami pun memutuskan untuk menganggap putra Zarakhel ikut menghilang dalam insiden ini, dan mengenai temuan tadi, kami akan merahasiakannya dari Zarakhel.


Mengetahui hal itu hanya akan membuatnya semakin terpuruk, walaupun kebenarannya masih belum bisa dipastikan. Tapi bahkan sekarang, dia hanya terduduk dengan tatapan kosong di depan puing yang dulu merupakan tempat tinggalnya.


Setelah itu, kami kembali ke Kota Lakia tempat Istana Tuan Staurog berada, aku dan ayah memutuskan untuk kembali ke Kerajaan Manusia secepat mungkin untuk melaporkan kejadian ini.


Tuan Staurog juga tidak menahan kami sama sekali, karena mulai sekarang dia akan sangat sibuk terutama melaporkan insiden aneh ini ke Kerajaan.


Dalam perjalanan pulang, aku masih memikirkan tentang berbagai keanehan yang kami temukan.


"Itu berarti, bisa saja 'sesuatu' yang meninggalkan jejak kaki itu ada kaitannya dengan menghilangnya seluruh penduduk kota." ucapku saat kami sudah memasuki Kabin Terbang


Ayah mengangguk setuju. "Walaupun terdengar berlebihan, tapi menurutku 'sesuatu' itu juga menyimpan petunjuk mengenai lubang hitam yang muncul di kota itu."


Ayah menghela napas, kami larut dalam pikiran masing-masing sementara Kabin Terbang kami melesat diantara tetesan hujan.


Bagaimanapun, hilangnya penduduk kota adalah misteri, tapi jejak kaki dan genangan darah tanpa tubuh itu tetap meninggalkan pertanyaan tersendiri.


Dalam hati, aku berharap untuk keselamatan warga kota Iria, meskipun kelihatannya mustahil.


Dengan ini, kami kembali menuju ke kediaman kami di Kerajaan Manusia dengan kemungkinan tidak bisa tidur nyenyak untuk beberapa hari kedepan, kepalaku begitu penuh hanya dengan kejadian setengah hari ini, aku ingin segera pulang dan istirahat.

__ADS_1


__ADS_2