Land : The Chronicles

Land : The Chronicles
Bab 9 : Serangan di Pelelangan


__ADS_3

Memasuki sesi lelang terakhir. Tadi, kulit beruang milikku terjual seharga 500 pelat emas


Kulit beruangku tidak berkualitas tinggi kata si Ego? Masa bodoh, dalam imajinasi terliarku sekalipun, aku tidak pernah bisa membayangkan bisa memiliki uang sebanyak itu.


Tetapi setelah mengetahui melihat perbedaan harganya, aku sepertinya benar-benar menghancurkan barang berharga. Aku merusak nilai sebuah item.


Kulit Beruang Belang memang menggambarkan kegagahan bagi orang yang memilikinya. Bayangkan saja, selain Beruang Belang merupakan hewan yang masuk kategori Monster, Beruang Belang juga sangat langka, sulit ditemukan. Bahkan sekalipun kau menemukannya, belum tentu kau bisa hidup setelah itu.


Selain itu, Kulitnya juga cukup tahan terhadap api dan tebasan, sehingga seseorang perlu menguasai teknik pedang tingkat tinggi atau formula Sihir yang kuat supaya bisa menembus kulit itu.


Ngomong-ngomong, Ego bilang item terakhir ini adalah item milik Ego, entah apa itu. Tapi, melihat pembawa acara meninggalkan panggung untuk sementara, kemungkinannya item ini sangat berharga. Walaupun aku tidak tahu apa hubungan antara item berharga dengan perginya pembawa acara.


Aku menunggu sambil mencomot buah-buahan di baskom kristal yang disiapkan untuk Ego, sesekali aku meneguk minuman yang tadi dipesankan oleh Ego.


Minumannya enak, kandungan alkoholnya pun sepertinya sangat rendah, atau bahkan mungkin tidak ada sama sekali. Apa tadi pelayan itu bilang? Cocktail? Mocktail? Entahlah, mari kita lupakan saja.


Si pembawa acara itu akhirnya kembali ke panggung.


“Hadirin sekalian, maafkan saya karena ada beberapa hal yang perlu saya lakukan berkaitan dengan item terakhir hari ini. Mohon maaf sebesar-besarnya karena membuat Anda menunggu lama.”


Sebuah display yang ditutupi kain berwarna putih didorong oleh empat wanita yang dikawal beberapa Prajurit. Sepertinya Ego benar, item ini lebih langka daripada kulit Beruang Belang. Sampai membuat Prajurit pun mengawal benda ini.


“Baiklah, ini dia yang kita tunggu. Item terakhir dari pelelangan ini. Bersiaplah untuk tercengang hadirin sekalian! Ini dia!”


Empat wanita itu mengangkat kain putih yang menjadi penutup display. Tamu-tamu di jajaran eksekutif berdiri dari tempat duduknya, bahkan kulihat si Pangeran juga berdiri dari sofa panjangnya dan menjatuhkan gelas berliannya dengan ekspresi tidak percaya.


“Apakah Anda tahu apa yang ada di hadapan Anda sekarang ini?!”


Pembawa acara menunjuk sebuah, atau aku harus menyebutnya segumpal? Seukuran satu kepalan tangan, berwarna putih mutiara dan memancarkan cahaya.


“I-itu ... Bukankah itu Ether?! Dan dilihat dari warnanya, bukankah itu kadar Mana yang luar biasa?!” Seorang tamu eksekutif berseru tidak percaya.


“Sulit dipercaya! Tapi kualitas Ether itu tidak main-main!” Sahut tamu eksekutif yang lain.


Aku juga pernah mendengar soal Ether sebelumnya, dengan 8 tingkatan warna yang menunjukkan kadar Mana yang terkandung di dalamnya. warna hijau adalah yang paling rendah dan warna putih mutiara adalah tingkatan tertinggi, dan tingkatan tertinggi inilah yang ada di hadapan orang-orang ini sekarang.


Seisi aula mendadak ribut, mereka yang punya uang heboh karena tidak menyangka item berharga seperti itu bisa muncul di pelelangan yang berada di kota kecil ini.

__ADS_1


Sedangkan mereka yang tidak mampu membeli saling bersilat kata soal mereka yang memiliki residu Ether lah, atau cuilan Ether peninggalan leluhur lah.


“Harga pembuka untuk item ini. 500 pelat rhodium!”


“510!” Seorang tamu eksekutif berseru dengan pengeras suara.


“620!” Disusul yang lainnya.


“650!”


“800.” Itu suara Pangeran.


“1.000.” Bocah bermasker misterius tadi menawar dengan harga gila-gilaan.


“1.500.” Pangeran tidak ingin kalah.


“1.700.” Bocah itu lagi-lagi menaikkan harganya.


“1.950.” Pangeran.


“2.500.” Bocah misterius.


“15.000.” Bocah misterius.


****** abis. Dengan uang sebanyak itu, seseorang sanggup membangun Mansion megah. Tidak, bahkan dengan uang segitu mungkin bisa mencapai kelas Kastil.


“Ada yang mampu membeli lebih dari ini?!” Pembawa acara memprovokasi para hadirin yang berada di aula itu, namun sepertinya tidak ada lagi orang yang mampu menawarkan harga lebih tinggi. Pangeran pun terlihat kehilangan minat.


“Terjual!”


Semua hadirin bertepuk tangan kagum. Bukan pangeran atau Bangsawan kelas atas yang membeli item terakhir ini. Tapi justru seorang bocah misterius yang terlihat penyakitan.


“Marvelous! Bisakah kami mengetahui nama Tuan Muda yang begitu berkharisma ini?!”


Pembawa acara bertanya dengan penuh antusias, seluruh lampu sorot fokus menyorot balkon tempat bocah itu duduk, menyisakan satu yang menyorot pembawa acara. Bahkan si pangeran pun seolah-olah seperti tidak pernah berada di sini, semua orang melupakannya.


“Kemas Ether itu dan segera serahkan kepada satuan Kesatria kami.” Salah satu pengawal bocah itu angkat suara, mereka benar-benar terlihat sangat angkuh dan keren. Kemudian mereka pun pergi begitu saja.

__ADS_1


Bocah itu jelas berasal dari keluarga bangsawan, dan fakta kalau mereka memiliki Kesatria mengatakan kalau mereka bukan dari keluarga bangsawan rendah.


“Ah ... Haha ... Dimengerti ... Baiklah, hadirin sekalian, sepertinya tamu spesial kita kali ini sedang sangat sibuk sehingga tidak bisa menjawab pertanyaan yang tidak penting.” Pembawa acara mengelap keringat di dahinya.


“Demikianlah! Akhirnya, pelelangan hari ini telah berakhir! Nantikan pelelangan yang akan kami gelar bulan depan! Terima kasih dan sampai jumpa!”


Hadirin berseru semangat, meskipun ada beberapa dari mereka yang masih terpaku kebingungan, entah karena kemunculan item tak terduga atau karena harga jualnya yang fantastis.


Kemudian satu persatu hadirin mulai beranjak dari tempat duduk masing-masing, sebagian berjalan menuju pintu di sisi aula, mereka adalah orang-orang yang ingin melakukan pembayaran atas item yang mereka pilih.


Orang-orang yang keluar secara teratur dari aula pun masih saja membicarakan pelelangan dengan nada penuh keheranan. Mereka membicarakan bagaimana Pangeran Kerajaan Manusia bisa berada di kota ini, atau tentang tuan muda yang tadi membeli item terakhir, benar-benar heboh.


Tiba-tiba terdengar suara ledakan dari arah ruang penyimpanan barang lelang.


Orang-orang berteriak panik, para pengawal segera melindungi tuan mereka masing-masing. Aku menoleh ke arah Ego untuk melihat reaksinya, tapi dia terlihat santai dan sama sekali tidak bergerak dari tempat duduknya.


“Apa yang terjadi?” Tanyaku.


“Mungkin ada sekelompok pencuri yang mencoba mengambil barang berharga di rumah lelang ini.” Jawabnya santai.


“Kau tidak mau mengurus mereka?”


“Buat apa? Toh penjagaan di rumah lelang ini tidak bisa diremehkan, ditambah lagi bocah yang membeli Ether itu membawa satuan Kesatrianya kan? Belum lagi si Pangeran itu. Pasti hal itu ada diluar perkiraan para pencuri itu.”


Masuk akal.


“Baiklah, karena sekarang kita memiliki banyak uang, kita akan mengambil uang kita dan bersenang-senang sedikit lalu melanjutkan perjalanan.”


Ego beranjak dari tempat duduknya, aku mengikutinya dari belakang. Mengira-ngira uang yang kudapatkan dari lelang ini.


"Kapan kau mengajukan item terakhir itu?" Tanyaku kepada Ego. "Mungkin sekitar sepuluh hari lalu, saat kau masih belum sadarkan diri".


Itu berarti dia membawa item itu di pelelangan begitu dia menyelamatkanku dari bencana di kota Iria.


"Terus kenapa tidak bilang kalau kau penjual item itu saat menyerahkan kulit beruang tadi?" Tanyaku.


"Aku kan pakai identitas lain".

__ADS_1


Benar juga, tadi saja gerbang kota jadi ribut gara-gara kami membawa kulit Beruang belang, entah seperti apa kalau seandainya orang pelelangan tahu kalau Ego yang menjual Ether tadi.


"Kau cari penginapan sana, aku mau mengambil uangku di pelelangan, nanti aku susul". Dia berjalan kearah lain, sepertinya dia menuju kantor pusat pelelangan. Aku segera keluar dari kompleks bangunan pelelangan, misi selanjutnya adalah mencari penginapan.


__ADS_2