
-BRAK-
"Yap, itu yang terakhir."
Arion langsung merebahkan tubuhnya dengan nafas terengah-engah setelah Ego memberi isyarat berhenti, sudah enam bulan sejak dia memulai pelatihan neraka Ego.
Orang bilang sesuatu yang berat akan terasa biasa seiring berjalannya waktu, tapi Arion merasa kalau latihan neraka ini tidak bisa terasa biasa mau sampai kapanpun.
Hari-harinya selama enam bulan terakhir hanya berisi penderitaan. Latihan tidak masuk akal seperti menghancurkan bongkahan batu dengan tangan kosong. Lalu saat mereka melewati danau yang dalam, Ego akan menyuruh Arion menyelam di kedalaman air sampai-sampai gendang telinganya pecah dan paru-parunya serasa dihimpit batu besar.
Kemudian latihan berikutnya adalah memindahkan tumpukan bebatuan besar yang lebih mirip bukit, dari tempat semestinya ke tempat lain, seperti yang dilakukan Arion barusan.
Setelah latihan fisik tidak masuk akal seperti itu, biasanya Ego akan memberi sesi pelatihan teknik bertarung. Dia benar-benar tidak setengah-setengah saat melatih Arion, entah berapa kali tangan dan kaki Arion terputus karena tebasan Scimitarnya Ego, tulang dada dan rusuk remuk karena pukulan dan tendangan Ego pun sudah jadi makanan sehari-hari.
Kali ini pun, Arion sudah bersiap meladeni Ego, tapi Ego tidak terlihat hendak menghajarnya. "Hari ini tidak usah latihan bertarung, aku sedang ada urusan, kau lanjut saja perjalanan ke tujuan selanjutnya."
"Sok sibuk." Sahut Arion.
"Mau aku hajar sampai mampus dulu sebelum aku pergi?" Ego mengepalkan tangannya.
"Memang aku ngomong apa?"
"...."
Kemudian tanpa berkata apapun, tubuh Ego menghilang begitu saja. Arion menghela nafas, si Ego itu sering sekali pergi entah kemana, membuat Arion kadang terpaksa melanjutkan perjalanan sendirian. Bahkan dia pernah pergi selama beberapa pekan, meninggalkan Arion sendirian tanpa meninggalkan satu pelat uang pun.
Arion pun segera berkemas dan kembali mengenakan pakaian, dia membuka peta, mencari-cari lokasinya saat ini. "Tujuan berikutnya itu ... Kamp Tentara Bayaran ya."
Setelah memastikan tidak ada barang yang tertinggal, dia segera menunggangi kudanya dan kembali melanjutkan perjalanan, kuda Ego yang tanpa penunggang pun entah bagaimana mengikuti kuda Arion tanpa perlu tali pengekang atau sejenisnya.
Derap kuda Arion membelah padang rumput luas, tujuannya adalah suatu lokasi di balik gunung yang merupakan Kamp bagi para Tentara Bayaran atau pengembara. Sebenarnya Arion bisa saja langsung menuju kota terdekat tanpa perlu singgah di tempat seperti itu. Tapi semenjak dia jadi semakin kuat, dia jadi punya hobi baru.
Setibanya dia di kaki gunung, dia berpapasan dengan sekelompok orang yang merupakan Tentara Bayaran, "Jalan ini benar menuju ke Kamp?" Arion bertanya kepada kelompok itu, "Yap." Seseorang dari mereka menjawab singkat, Arion kembali memacu kudanya melewati jalur gunung.
Beberapa kali dia harus berhenti untuk mengistirahatkan kuda, jalur gunung ini sudah dirapikan sedemikian rupa sehingga cukup mudah dilalui, tapi medan menanjak bukan medan yang ramah bagi kuda.
Saat matahari mulai akan terbenam, Arion sudah tiba di Kamp yang dia tuju.
"Kau sendirian?" Seorang Tentara Bayaran yang menjaga jalan masuk Kamp bertanya kepada Arion, sedikit heran dengan kuda bermuatan tanpa penunggang yang membuntuti Arion.
"Begitulah." Orang itu masih saja mengamati Arion, "Kau Tentara Bayaran? Atau Pedagang? Penampilanmu sih terlihat seperti Tentara Bayaran meski masih muda, tapi barang bawaanmu ...."
"Aku Tentara Bayaran." Jawab Arion singkat, orang itu hanya mengangkat bahu tidak peduli. Ada aturan tak tertulis bagi Tentara Bayaran, yaitu tidak seharusnya Tentara Bayaran ikut campur masalah Tentara Bayaran lain.
Setelah dia masuk ke lahan luas tempat para Tentara Bayaran berkumpul mendirikan tenda, dia segera turun dari kuda dan mencari tanah kosong untuk menurunkan bawaan.
Di sana, dia mendirikan tenda dan kemudian merebahkan tubuh untuk mengistirahatkan punggung. Dua kudanya ditambatkan tidak jauh dari tendanya.
Kamp Tentara Bayaran ini mirip seperti kantor administrasi suatu instansi, hanya saja tidak ada bangunan permanen, melainkan hanya tenda-tenda yang tersusun di atas tanah lapang.
Kelompok Tentara Bayaran bisa merekrut anggota, atau bisa juga sebaliknya, melamar masuk menjadi anggota suatu kelompok.
__ADS_1
Mereka juga bisa mendapatkan misi di tempat ini, biasanya klien akan mendatangi Kamp untuk menyewa jasa Tentara Bayaran. Kalau pun merasa kesulitan, tinggal bilang saja ke penjaga jalan masuk, nanti mereka akan mengarahkan klien ke kelompok yang dirasa paling tepat untuk menjalankan misi.
Ada juga berbagai fasilitas wajib seperti bengkel senjata dan bar, tapi hanya berupa tenda semi-permanen.
Setelah beristirahat beberapa saat, Arion pergi ke bar untuk mengisi stok ransum dan minum-minum sebentar. Penjaga bar juga sempat menawarkan seorang Tentara Bayaran wanita untuk menemani Arion, tapi dia menolaknya. Setelah urusannya selesai, dia langsung kembali ke tendanya dan duduk-duduk sambil mengamati sekitar.
Kalau dilihat-lihat lagi, cuma Arion yang singgah tanpa kelompok atau rekan, beberapa orang juga menatapnya dengan sedikit heran, apalagi Arion membawa dua kuda bermuatan.
Saat hari mulai gelap, api unggun dinyalakan, para Tentara Bayaran mulai mabuk-mabukan, ada juga yang main judi. Beberapa Tentara Bayaran wanita juga mulai menggoda para pria yang ada di sana, harga mereka tidak mahal sih, tapi Arion tidak pernah berminat dengan mereka.
Ketika suasana mulai semakin ramai, seseorang berdiri di atas tumpukan peti kayu sambil memukul-mukul kuali rusak dengan pedang, membuat suara berisik.
"YOOO KEPARAT-KEPARAT SIALAN!" Orang itu berseru lantang, pandangan semua orang di tempat itu tertuju ke arahnya. Bukannya emosi atau merasa terganggu, mereka justru terlihat antusias, seolah sudah menunggu momen ini.
"AKU TIDAK AKAN BANYAK BICARA BERHUBUNG KALIAN SUDAH TAHU! JADI, SIAPAPUN YANG MERASA KALAU DIRINYA ADALAH BAJINGAN TERKUAT DI LEMBAH INI, MAJULAH! DAN YANG TIDAK TERIMA YA SIKAT LAH ANJING! JANGAN DIAM SAJA!"
Semua orang bersorak heboh, mereka mulai meneriakkan nama orang terkuat di kelompok masing-masing.
Akhirnya seorang Tentara Bayaran wanita maju ke arena yang hanya berupa batu-batu yang disusun membentuk lingkaran. Dia melepas semua zirahnya dan menyisakan rompi kulit dan celana.
Host duel membuka lapak taruhan, orang-orang mulai memasang taruhan, ada yang bertaruh untuk si wanita, ada juga yang cukup gila untuk bertaruh pada lawannya yang masih belum maju.
Suasana menjadi semakin rusuh ketika sang penantang maju, dia adalah seorang pria berbadan besar dengan rambut panjang yang diikat ke belakang, dia pun melepas semua zirah dan hanya menyisakan celananya.
"Jadi kau merasa yang paling kuat ya?" Pria itu mengusap-usap dagu dengan seringai cabul di wajahnya, "Bagaimana kalau kita beradu di ranjang saja? Kurasa itu lebih cocok buatmu."
Mendengar provokasi tak beradab itu, raut wajah si wanita mengeras dan giginya bergemeretuk, dia dengan mudahnya terprovokasi.
Satu pukulan keras menyasar kepala si wanita, tapi dia dengan gesit menunduk, lalu dia memutar tubuhnya dan melancarkan tendangan dengan sasaran kepala.
Tapi pria itu menahan tendangan itu dengan tangannya, dia terlihat meringis, "Brengsek, sakit juga."
Dengan lututnya, pria itu mengincar perut si wanita, membuatnya terpaksa mundur untuk menjaga jarak. Melihat celah di pertahanan si wanita, pria itu kembali menerjang dengan tangan terkepal, bermaksud menghantamkannya ke tubuh si wanita.
Wanita itu berkelit menghindar ke samping, lalu dengan cepat dia luncurkan serangan balasan berupa tendangan dengan sasaran leher.
Kali ini si pria menunduk, lalu dengan sekuat tenaga, dia lancarkan pukulan uppercut ke perut wanita itu.
Suara berdebam keras terdengar saat tinju pria itu telak mengenai perut si wanita, wanita itu terbatuk dan langsung tersungkur. Pemenangnya sudah jelas.
Semua orang bersorak, apalagi mereka yang menang taruhan, Arion salah satunya. Si pria pemenang tadi masih berdiri di tempatnya, dia memprovokasi orang-orang untuk menantangnya.
Arion yang melihat itu tersenyum, dia menumpahkan semua uang hasil taruhan barusan ke depan host pertarungan, "Mau pasang taruhan lagi? Untuk siapa?"
"Aku." Host pertarungan terdiam sejenak, lalu dia tertawa keras. "HEI BONGSOR! KAU KEDATANGAN TAMU!"
Pria besar berambut panjang itu menoleh, dia menyeringai saat melihat lawannya adalah seorang anak muda yang mungkin baru saja menginjak usia 20an.
Penonton pun juga tak kalah heboh, mereka mulai memasang taruhan lagi, tentu saja hampir semua bertaruh untuk si pria besar, beberapa yang bertaruh ke Arion hanya untuk sekedar jaga-jaga saja.
"Siapa namamu?" Si bongsor melontarkan pertanyaan, "Adam, Adam Frost." Arion menjawab singkat.
__ADS_1
"Kau yakin ingin melanjutkan ini, nak?"
"Kau yakin mau berhenti? Padahal kau terlihat sudah tidak sabar ingin menghajarku tuh."
Pria besar itu tertawa keras, "Sebagai seniormu, aku akan memberimu kesempatan untuk menyerang duluan." Orang itu merentangkan tangannya, mempersilakan Arion menyerang terlebih dahulu.
"Kalau begitu aku harus berterimakasih."
Selesai kalimatnya, Arion langsung menutup jarak di antara mereka dalam sekejap. Satu pukulan meluncur lurus ke wajahnya yang terlihat gelagapan dan menghantamnya dengan telak.
Pria besar itu tidak sempat memasang pertahanan karena dia lengah akibat terlalu percaya diri, membuat semua celah pertahanannya terbuka.
Pukulan itu membuat si pria besar kehilangan keseimbangan, Arion tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, dia segera mengirimkan serangan susulan. Beberapa kali pria itu berusaha menahan serangan Arion, tapi karena serangan Arion yang gencar lebih kuat dari dugaannya, beberapa pukulan berhasil menembus pertahanannya.
"Keuk! Kepalan tangannya terasa seperti batu!" Batin si pria besar tidak percaya.
Satu pukulan hook mendarat di pelipisnya, kemudian rusuknya, selanjutnya satu pukulan uppercut mendarat dengan telak di dagunya.
Tubuh bongsor si pria besar terhuyung ke belakang, lalu dia ambruk karena keseimbangannya sudah sepenuhnya goyah. Pria itu tidak kunjung bangkit setelah jatuh, host pertarungan segera memukul kuali.
"BOCAH NEWBIE MENANG! SI BONGSOR TOLOL ITU TERLALU MEREMEHKAN LAWANNYA!"
Orang-orang berseru tak percaya, mereka kehilangan banyak uang dalam sekejap karena kebanyakan sudah all in ke pria bongsor itu.
Sebaliknya, Arion yang bertaruh untuk dirinya sendiri mengambil uang hadiah pemenang dan hasil taruhan, totalnya sangat banyak.
Tentara Bayaran lain mendekatinya dan menepuk-nepuk pundaknya sambil tertawa terbahak-bahak, "Padahal si bongsor itu lawan yang cukup merepotkan karena tubuh bongsornya, tapi tak kusangka aku kehilangan uang karenamu brengsek."
"Aku cuma beruntung, dia sedang lengah." Arion menanggapi dengan singkat.
Orang-orang yang mengerumuninya tertawa, "Lihat si brengsek ini, caranya menyombong sangat memuakkan."
Mereka segera bubar setelah pertarungan selanjutnya dimulai, membuat Arion bernafas lega. Tapi kali ini giliran Tentara Bayaran wanita yang mengerumuninya, tentu saja mereka menggoda Arion untuk menemani mereka.
"Minggir, kalian bau kaus kaki."
...****************...
Matahari pagi menyingsing, semua Tentara Bayaran masih terkapar di sembarang tempat dengan bau alkohol menguar dari mulut mereka. Tenda yang mereka susun malah jadi tempat barang dan tempat bersenang-senang para Tentara Bayaran wanita.
Arion terlihat sudah siap melanjutkan perjalanan sepagi ini, dia mendatangi bengkel senjata untuk mengisi ulang stok pisau lemparnya. Lalu dia juga datang ke bar untuk mengisi stok alkohol.
"Jadi kau si Adam Frost itu ya, aku sudah pernah mendengar rumor tentangmu dari Kamp lain. Kau bertarung lebih baik dari yang kukira." Ujar si Bartender.
Salah satu keuntungan ikut bertarung dalam arena di Kamp selain mendapat uang adalah untuk menyebarkan reputasi, tentu saja itu sangat berguna untuk memudahkan para Tentara Bayaran mendapatkan klien. Semakin baik reputasinya, semakin banyak misi dan bayarannya.
"Apa kau berniat ikut dalam pertarungan gelar C?" Si Bartender melontarkan pertanyaan kepada pemuda di depannya yang memesan roti daging untuk sarapan.
Arion menggeleng sambil terus mengunyah, "Terlalu merepotkan, lebih baik aku menyebarkan nama lewat pertarungan di Kamp," jawabnya setelah dia menelan roti daging.
"Padahal kebanyakan Tentara Bayaran muda sepertimu sangat bersemangat untuk ikut pertarungan skala besar seperti itu. Saranku sih, kau ikut saja, itu sarana promosi yang bagus kok." Si Bartender tersenyum kecil ketika Arion meletakkan uang pembayaran dan tips, "Akan ku pertimbangkan," ujar Arion sambil berjalan keluar dari bar tenda semi-permanen itu.
__ADS_1
"Pertarungan kelas C ya? Kedengarannya merepotkan, tapi tidak buruk juga sepertinya."