
Sore itu, toko kami kedatangan seorang pelanggan tepat setelah roti-roti terakhir untuk hari ini selesai dipanggang.
Dia kelihatan masih muda, tapi dari postur tubuh dan penampilannya, dia terlihat seperti tentara bayaran muda. Setelah membeli beberapa roti, dia segera keluar dari toko.
Melihatnya membuatku teringat saat-saat aku masih sangat muda dan ceroboh, sebagai akibat dari kecerobohanku itu, aku harus kehilangan satu anggota tubuhku yang sangat berharga.
"Kaki palsu mu itu sepertinya sudah harus segera diperbaiki, Elle," kata ayah setelah aku masuk ke ruang keluarga sembari memperhatikan kaki kananku yang digantikan oleh kaki palsu.
Aku mengangguk, "Iya, besok aku akan ke tempat dokter Otto." Ibu muncul dari balik pintu dapur, "Mau menemui dokter Otto atau Jonathan nih?" godanya.
Aku merasakan wajahku memanas, segera saja kututup wajahku dengan bantal karena malu ekspresiku akan dilihat oleh ibu, "Ibuuu!" Pekikku, Ibu hanya tertawa jahil dan kembali masuk ke dapur, sedangkan ayah hanya diam sambil tersenyum kecil.
"Yah ... Jonathan itu cukup baik untuk seorang menan-" aku buru-buru menutup mulut ayah dengan tangan, terdengar suara tawa ibu dari dapur, "Ayah ihhh ...!"
Ayah juga ikutan tertawa, lalu menyingkirkan tanganku yang menutupi mulutnya, "Udah ah! Aku mau tidur aja!" Aku sudah tidak bisa lagi berada disini, nanti pasti ayah dan ibu semakin parah menggodaku.
Di kamar, aku termenung menatap kaki kananku yang sudah tidak ada, sampai sekarang pun, aku tidak mengerti kenapa Jonathan bisa tetap menyukaiku meskipun aku sudah menjadi gadis yang cacat.
Aku mengusap paha kananku yang sudah tidak ada sambungannya lagi itu, sekali lagi ingatan hari itu muncul di benakku, hari dimana aku harus kehilangan kaki kananku.
...****************...
"Kau ikut serta juga hari ini, Elle?" Seorang wanita berusia tiga puluhan bernama Rizza bertanya kepadaku saat aku ikut berkumpul dengan para tentara bayaran lain yang sedang mengambil misi untuk menyerang sekelompok bandit yang terlihat di hutan sekitar kota.
Aku mengangguk mengiyakan. Dia menghela nafas, "Dengar ya, bukannya aku meremehkanmu atau bagaimana, tapi misi kali ini cukup beresiko, kau bisa saja kehilangan nyawamu kali ini," tuturnya.
"Aku bisa kok!" Sahutku tidak terima, dia pun mengangkat bahunya dan berbalik, memilih untuk tidak berdebat lebih panjang, "Tapi kau harus ingat satu hal Elle. Tidak sepertiku, kau punya rumah dan keluarga yang menunggumu." Dia berkata sambil menyulut rokok, "Yah, pokoknya kau tidak boleh mati, paham?" dia meniupkan asap rokoknya ke wajahku, membuatku terbatuk.
Dia menertawakanku dan menepuk-nepuk punggungku, "Kalau ada bahaya, kau lari saja, biar aku yang menggantikanmu mati," ucapnya dengan nada tinggi, dari ekspresi wajahnya, dia terlihat bersungguh-sungguh. "Ngomong apa sih?" ketusku sambil menepis tangannya.
Seorang pria botak berbadan besar melewati kami berdua, dia terlihat sedikit terkejut saat melihatku, "Eh, kamu ikut juga Elle? Mungkin kamu tidak tahu, tapi misi kali ini cukup berbaha-" aku menghentakkan sepatuku karena sebal, "Aku bisa kok! Aku bisa! Lihat saja pokoknya!" Aku berteriak keras-keras, membuat pria botak itu kebingungan, dia menatap Rizza penuh tanya, yang ditatap hanya mengangkat bahu tidak peduli. Orang lain tertawa melihat kelakuanku tadi.
Dari gerombolan pria yang sedang adu panco, seseorang dengan zirah lengkap berdiri dan berseru, "Semua pria wajib banget melindungi Elle! Apa kalian setuju!?" semua pria yang ada di tempat itu mengangkat tangannya dan bersorak ramai, setuju dengan perkataan pria tadi.
"Wanita yang patut dilindungi adalah wanita yang lemah lembut dan egois seperti Elle! Bukan wanita berotot dengan tampang galak yang disana itu! Setuj-" belum selesai dia menyelesaikan kalimatnya, perisai Rizza yang terbang dengan kecepatan tinggi menghantam wajah pria itu, membuatnya terkapar.
Semua orang termasuk aku tertawa melihat itu, sedangkan Rizza hanya mendecak kesal, dia menghampiri pria itu untuk mengambil perisainya, lalu menginjak perut pria itu. Membuatnya menggeliat karena sesak nafas.
Ditengah tawa itu, kapten dari misi ini berdiri dan menyuruh kami diam. Semua keributan segera hilang, mata orang-orang tertuju pada kapten.
"Kita akan berangkat sore hari ini dan sampai di hutan markas mereka berada, rencananya sederhana, kita akan menyergap mereka saat mereka lengah. Habisi mereka dengan satu serangan!" Para pria bersorak dan tertawa, "Mudah sekali kapten! Sepertinya kita semua bisa keluar hidup-hidup dari hutan itu!" celetuk seorang pria berusia lima puluhan sambil tertawa, yang lain juga ikutan tertawa. Kapten yang mendengar itu hanya tersenyum, dia menyuruh mereka diam dan segera bersiap.
Aku harap perkataan pria tadi adalah kenyataan.
...****************...
Begitulah yang Elle pikirkan.
-BOOM! BOOM! BOOM!-
-DOR! DOR! DOR!-
__ADS_1
-RATATATATATATA-
Satu persatu rekan tentara bayarannya tumbang dengan mengenaskan, kekuatan tempur para bandit jauh lebih tinggi dari perkiraan mereka. Tentara bayaran yang seharusnya menyergap malah balik menjadi yang di sergap, Elle yang panik tidak bisa menemukan Rizza ditengah semua kekacauan ini, semua orang berusaha lari dari hujan peluru dan bom mesiu.
Sesuatu terlempar dan jatuh di hadapan Elle, dia jatuh terduduk karena shock saat melihatnya, itu adalah potongan tangan rekannya.
"Hiikk! Hikk! Hikkk!" Dia meringkuk menutupi kepalanya, bahkan dia tidak bisa menangis dan hanya mengeluarkan suara aneh berkali-kali karena saking tertekannya.
"Elle! Elle! Kau dimana!?" Seorang wanita dengan tubuh penuh noda darah dan debu berlarian mencari Elle, dia adalah Rizza. Saat dia melihat Elle meringkuk gemetaran sambil mengeluarkan suara-suara aneh, dia segera menghampirinya dan mendudukkannya.
"Elle! Sadarlah! Kau bisa mati kalau terus begini!" Dia memekik berusaha mengembalikan kesadaran Elle yang terkena serangan panik, "Elle! Ah sialan!" Satu tamparan mendarat di wajah Elle, dia tampak sudah sedikit sadar, tapi Rizza menamparnya sekali lagi.
Kesadarannya sudah pulih, Rizza segera menariknya untuk berdiri, "Hei! Kita harus segera lari dari tempat ini! Kau dengar! Lari dan jangan sekalipun menengok ke belakang! Sinyal darurat sudah ditembakkan! Seharusnya bala bantuan segera datang!" Rizza mendorongnya untuk berlari, dia mengikuti dari belakang untuk meneriaki Elle supaya berlari lebih cepat.
Saat mereka sudah hampir sampai ujung hutan, terdengar suara letusan, sepersekian detik kemudian satu peluru menembus punggung Rizza, membuatnya jatuh terguling. Elle yang melihat itu berteriak panik, Rizza dengan sisa-sisa tenaga meneriaki Elle supaya terus berlari. Beberapa bandit terlihat mengejar mereka.
"Ukhh! Lari Elle! Lari! Uhukk!" Rizza yang muntah darah terus-terusan meneriaki Elle dengan suaranya yang parau
Sementara Elle hanya meracau, dia meringkuk sambil memegangi kepalanya, air mata keluar deras dari matanya yang mendelik ketakutan, "Mati aku mati aku mati aku mati aku."
"Cewek sinting!" Pekik Rizza, dia berdiri sambil memegangi perutnya yang tertembus peluru, berusaha melindungi Elle yang kehilangan akal sehat.
Para bandit yang semakin dekat mengayunkan senjata mereka sambil bersorak, "Jangan bunuh mereka, buat mereka kehilangan kesadaran!" Teriak salah satu bandit.
Rizza menghunus belatinya, hanya itu senjatanya yang tersisa, para bandit mengelilingi mereka berdua, Rizza menebaskan belatinya secara asal, membuat para bandit menertawakannya. Tapi ketika mereka lengah, Rizza segera menarik salah satu bandit yang paling dekat, sebelum dia sanggup bereaksi, Rizza menusuk lehernya dengan belati. "Khehekk," bandit itu terkapar dengan belati menancap di lehernya.
"Cewek ini gila!" Salah satu bandit segera menebas punggung Rizza yang tidak terlindungi, Rizza memekik kesakitan dan tersungkur, para bandit segera melampiaskan kekesalan dengan menghajar Rizza yang terkapar secara membabi buta.
Elle yang menyaksikan hal itu terdiam dengan tatapan kosong, akal sehatnya benar-benar sudah hilang setelah menyaksikan Rizza dihabisi dengan kejam didepan matanya.
Para bandit segera menghampirinya lalu menjatuhkan tubuhnya di tanah, saat satu bandit menindih tubuhnya, entah karena naluri bertahan atau kendali pikiran bawah sadar. Elle menghantam biji bandit itu sampai pecah menggunakan lututnya, bandit itu pun kejang-kejang dengan mulut berbusa.
Salah satu bandit meraung dan menghantam lutut kanan Elle menggunakan kapak sampai putus, Elle mulai menggeliat hebat sambil berteriak kesakitan, matanya masih saja menatap kosong, entah dia itu sadar atau tidak.
Saat para bandit yang mulai geram sudah bersiap untuk menghabisi Elle. Tiba-tiba, salah satu bandit terkapar dengan lubang di dahinya, disusul bandit lainnya sepersekian detik berikutnya.
Dari balik pepohonan, muncul sekelompok orang dengan persenjataan lengkap, mereka adalah divisi kesatria Orthras. Dengan pergerakan taktis, mereka segera menyergap para bandit, kondisi mereka diuntungkan karena jumlah para bandit sudah berkurang karena perlawanan beberapa tentara bayaran dan amunisi mereka habis karena terus-terusan menembak secara membabi buta.
Elle yang kehilangan kesadaran pun diselamatkan bersama dengan beberapa tentara bayaran lain yang masih hidup.
Dari seratus sebelas tentara bayaran yang menjalankan misi, hanya tiga puluh enam yang kembali.
...****************...
Aku tersadar dari lamunan itu ketika bel toko berbunyi dan seorang pelanggan masuk, dia adalah laki-laki yang datang kemarin sore, kali ini dia terlihat sudah mengenakan perlengkapannya. Ternyata dia benar-benar seorang tentara bayaran.
Dia membeli banyak sekali kali ini, sepertinya dia sedang mempersiapkan bekal untuk perjalanan. Laki-laki itu segera pergi setelah menerima kembaliannya.
Aku kembali duduk di kursi kasir sambil menatap langit-langit ruangan. Saat aku mulai memejamkan mataku, pintu toko kembali terbuka. Ekspresi senang di wajahku tidak bisa kusembunyikan saat melihat siapa yang masuk.
Setelah sekian lama, aku akhirnya bisa pulih dari trauma yang kualami, alasan terbesarnya adalah pria yang sekarang dihadapanku ini.
__ADS_1
"Hari ini jadwalnya memperbaiki kakimu kan?" Ucapnya dengan senyuman di wajahnya yang manis.
"Iya." Aku menjawab singkat. Rencananya, aku yang akan datang ke kliniknya, tapi malah dia sendiri yang mendatangiku.
Tiba-tiba ibu muncul dari balik pintu yang menghubungkan ke rumah, "Eh, Jonathan, kamu mau memperbaiki kaki Elle atau mau melamarnya?" dengan ekspresi jahilnya, ibu menggoda kami berdua. Wajahku memanas, aku tidak bisa berkata-kata.
Lalu ayah segera menarik ibu untuk kembali masuk ke rumah.
Aku dan Jonathan saling tatap. Canggung sekali.
"Eh, ja-jadi ... Mana kakinya?" Ucapnya dengan malu-malu. Aku hanya diam dan memberikan kaki palsu itu ke Jonathan.
Dia memeriksa dengan cepat, lalu mengganti beberapa bagian kecil di kaki itu, kemudian menyerahkannya kepadaku.
"Terima kasih," ucapku setelah menerima kaki itu, "Sama-sama." Dia mengatakan itu dengan canggung.
Urusannya sudah selesai, tapi dia tidak kunjung berpamitan.
"Emmm ... Mau beli roti?" Tanyaku pelan
Jonathan menggeleng, wajahnya terlihat sangat merah dan gugup, beberapa kali dia menelan ludah.
"Eh ... Anu ... Jadi ... Emm ...." Dia seperti ingin mengatakan sesuatu. Aku menatapnya dengan penasaran, tapi dia malah terlihat semakin gugup.
"Aa-aku ... S-suka ... Eh ... Itu ...."
Eh, tidak mungkin kan?
"J-jadi ... Itu ... Aku ... M-me-melamar ... K-ka-kamu."
Tanpa kusadari, air mata mengalir dari mataku. Jonathan meraih sesuatu di kantongnya, lalu berlutut dan membuka sebuah kotak kecil berisi sepasang cincin. Dia memejamkan mata dan menarik nafas dalam-dalam.
"Maukah kamu menikah denganku?" Kalimat itu keluar dari mulutnya, membuat sekujur tubuhku bergetar karena kebahagiaan.
Dia tidak lagi gugup, wajahnya nampak penuh keyakinan meskipun tetap terlihat canggung.
Aku menutup mulutku dengan kedua tangan, tangisku tidak lagi bisa terbendung, tidak sepatah kata pun bisa keluar dari mulutku.
Jonathan terlihat cemas.
Toko ini hening selama beberapa saat, hanya suara tangis sesenggukan ku yang terdengar.
Akhirnya aku hanya bisa mengangguk sebagai jawaban.
"UWOOGHHH!"
Ayah dan ibu yang ternyata sejak tadi menguping berseru kegirangan sambil berpelukan dan jingkrak-jingkrak, aku melempar mereka dengan remah-remah roti. Sedangkan Jonathan hanya tertawa kecil melihat pemandangan itu.
Setelah semua keributan mereda, aku dan Jonathan saling tatap dengan ekspresi malu-malu.
"Tolong jaga aku." Ucapku dengan suara gemetar karena tangis.
__ADS_1
Jonathan mengangguk mantap. "Tentu!"