Land : The Chronicles

Land : The Chronicles
Bab 4 : Ego


__ADS_3

Aku membuka mata, pemandangan pertama yang kulihat adalah langit biru tanpa awan, sangat berbeda dari warna langit yang terakhir kali kulihat. Punggungku terasa sedikit basah, dari teksturnya, aku seperti berbaring di atas rerumputan.


Semua itu masih terasa nyata bagiku. Langit yang seolah tersedot, tanah yang berguncang, orang-orang lenyap menjadi debu, Viona yang membisikkan kata-kata terakhirnya.


Seharusnya saat ini aku sudah mati, apakah ini alam di mana orang-orang menunggu jiwanya dipanggil? Di sekelilingku hanya ada padang rumput luas dan langit biru tanpa awan.


Apakah Dewa akan keluar dari pintu yang tiba-tiba muncul di tengah-tengah padang rumput? Lalu dia akan menawariku untuk hidup sekali lagi.


Sepertinya tidak mungkin.


Ngomong-ngomong, meskipun aku mengingat seluruh kejadian saat bencana itu terjadi, tapi aku tidak merasa sedih atau apa pun sama sekali. Apakah ini karena aku sudah mati?


Aku mencoba bangun dan memeriksa situasi di sekitarku dengan lebih baik. Ternyata aku tidak berada di padang rumput kosong, ada hutan dan bebatuan cadas yang memanjang.


Tadi aku tidak melihat karena posisiku membelakanginya. Ternyata alam kematian tidak sehampa yang kupikirkan.


Burung-burung masih terlihat beterbangan di langit yang bersih, aku juga melihat beberapa rusa dan hewan-hewan lain yang berlarian di padang rumput luas ini.


Setelah diperhatikan lagi, rusa-rusa itu mengelilingi sebuah danau yang cukup luas. Aku berdiri dan berjalan mendekati danau yang jaraknya tidak begitu jauh.


Aku menatap pantulan wajahku di permukaan danau, ini masih wajah yang kukenal. Wajah dari seorang Arion Druceus, sebentar lagi mungkin aku akan lenyap dan menyatu dengan ketiadaan. Atau jika beruntung, aku mungkin bisa mendapatkan kesempatan untuk hidup lagi.


Air danau ini terasa begitu menyejukkan ketika aku memasukkan kakiku ke dalamnya, aku menciduk air dan meminumnya untuk melepas dahaga.


Dahaga? Bukankah aku sudah mati? Apakah orang mati memang masih bisa merasakan hal-hal yang biasa dirasakan oleh orang hidup?


Aku kembali mengamati sekeliling. Langit yang semula bersih kini mulai dihiasi awan, hewan-hewan mulai kembali ke dalam hutan. Entah kenapa aku merasa ini adalah dunia yang sama seperti duniaku dulu.


Kelihatannya tempat ini bukanlah alam kematian seperti dugaanku.


Lalu jika memang benar, bagaimana bisa aku masih hidup? Aku sangat yakin tidak ada satu orang pun yang bisa bertahan setelah jatuh dari ketinggian seperti itu.


Terlebih, karena saat itu aku tidak bisa melihat apapun, jadi kemungkinan kepalaku telah hancur karena benturan keras, tidak menutup kemungkinan anggota tubuhku yang lain juga hancur.


Apakah ada seseorang yang menyelamatkanku? Benar juga, setelah dipikir-pikir lagi, sesaat sebelum aku kehilangan kesadaran, aku sempat mendengar suara seseorang. Meskipun aku tidak mengerti apa yang dia katakan.


Apa orang itu yang menyelamatkanku? Tapi bagaimana bisa? Seharusnya kerusakan yang kuterima sudah tidak bisa disembuhkan lagi dengan cara apapun, sekalipun menggunakan Sihir Penyembuh tingkat tinggi ras Grandis ataupun teknologi ras Manusia.


Lalu apa yang sebenarnya terjadi?


Saat aku sedang larut dalam pikiranku, tiba-tiba aku mendengar suara langkah kaki, aku segera berbalik dan memasang posisi siap bertarung.


“Woah ... Tenang, aku bukan orang jahat. Setidaknya saat ini.” Orang itu menghentikan langkahnya dan mengangkat kedua tangan.


Apakah dia ras Manusia? Rambut dan matanya berwarna hitam, posturnya tinggi, dan dia mengenakan jubah yang biasa dikenakan Tentara. Di balik jubah itu, aku bisa melihat sebuah Scimitar yang menggantung di ikat pinggangnya.


Bukan orang jahat setidaknya untuk saat ini? Aku tidak tahu maksud perkataannya, tapi aku tidak boleh mengendurkan kewaspadaanku.


Kami saling tatap untuk beberapa saat, lalu dia maju selangkah dan mengangkat dua tangannya lebih tinggi.


“Bukankah sebaiknya kita bicara satu sama lain dulu untuk menghilangkan kecurigaan?” Ekspresi dan intonasinya kelewat santai, orang seperti ini terkadang justru lebih mencurigakan dan berpotensi menimbulkan masalah untuk protagonis di Buku Dongeng Bergambar.


“Siapa kau?” Aku melangkah keluar dari danau dan memasang posisi siap bertarung, orang ini sangat santai, kalau seandainya dia memang berniat menyerangku, itu berarti dia adalah orang yang benar-benar percaya diri bisa mengalahkanku dengan mudah.


“Aku Ego.”


Kami terdiam beberapa saat, wajahnya terlihat berkeringat. Tunggu, itu saja?


“Apa maumu?”


“Ah, aku hanya ingin memeriksa kondisimu. Kau tahu? Sudah sepuluh hari sejak kau tidak sadarkan diri.”


Sepuluh hari? Kalau dia menggunakan hitungan hari, apakah itu berarti aku belum mati?


“Seharusnya aku sudah mati saat ini, bagaimana aku masih hidup, dan apakah kau ada hubungannya dengan itu?”


Orang itu terlihat pura-pura berpikir sejenak dengan ekspresi aneh. “Itu benar, kau mungkin sudah mati kalau bukan karena aku.” Dia mengatakan itu dengan santainya.


“Itu berarti, apa kau orang yang muncul setelah terjadinya bencana itu?” orang itu terlihat sedikit terkejut, tapi kemudian dia tertawa kecil.


“Ah, jadi kau masih sempat sadar bahkan setelah tubuhmu hancur seperti itu?” sesuai dugaanku, tubuhku saat itu memang sudah hancur.


“Lalu, apakah kau orang yang menyembuhkanku?”


Dia mengangguk “Itu benar.”


“Bagaimana bisa?”


“Karena itu aku.” Jawabnya santai.

__ADS_1


“Lalu apa sebenarnya tujuanmu?”


“Tidak ada tujuan khusus sih, saat itu aku hanya iseng saja.” Dia ber-hehe dan menggaruk kepalanya.


Aku mulai menurunkan kewaspadaanku, dia memang terlihat berbahaya, tapi dia tidak berniat untuk mencelakaiku. Setidaknya untuk saat ini.


“Pertanyaan terakhir, apakah kau punya makanan?”


°°°°°°


Kami berjalan memasuki hutan, dia bilang dia sengaja meletakkan tubuhku di tengah padang rumput karena terlihat keren.


....


Kesampingkan hal konyol itu, aku merasa sangat asing dengan vegetasi di hutan ini, aku sering bermain-main di hutan bersama dengan Viona dan ayahnya, tapi hutan ini benar-benar tidak familiar bagiku.


Beberapa tanaman yang belum pernah kulihat sebelumnya selain di buku terlihat tumbuh subur. Sebaliknya, tanaman yang seharusnya umum tumbuh di hutan justru tidak terlihat sama sekali.


Terlebih lagi, ada rawa-rawa di hutan ini, seharusnya benua tempat Kerajaan Arakaza berdiri bukan tempat di mana rawa bisa ada dan hutan bisa selebat ini.


“Ngomong-ngomong, untuk ukuran orang yang tidak tahu situasi yang sedang dihadapinya sekarang, reaksimu cukup tenang ya?” Ego berkata tanpa menoleh ke belakang.


“Aku juga tidak mengerti".


“Apakah itu karena kerusakan pada kepalamu? Atau karena trauma mental?” Ego berbalik dan mengamati wajahku.


“Apa maksudmu?” aku tidak begitu paham dengan ucapannya.


“Artinya sesuatu di kepalamu rusak karena bencana itu, tapi kerusakan itu bukan secara fisik. Agak susah sih menjelaskannya, tapi biasanya orang yang seperti itu jadi tidak bisa merasakan emosi".


Tidak bisa merasakan emosi? Berarti alasan kenapa aku tidak merasa sedih meskipun aku dengan jelas mengingat kejadian saat itu adalah karena hal ini ya?


"Lalu bagaimana kau bisa menyembuhkan tubuhku hanya dalam waktu sepuluh hari". Siapa tahu kan dia berbohong soal sepuluh hari itu, bisa saja sebenarnya aku sudah tidak sadarkan diri lebih lama.


Ego menoleh ke belakang dan menatapku dengan wajah cengengesan.


“Aku tidak menyembuhkanmu dalam waktu sepuluh hari. Aku menyembuhkanmu saat itu juga dan menunggumu bangun selama sepuluh hari.” Dia menjawab dengan enteng.


“Kau ... Sebenarnya kau ini dari ras apa? Kau terlihat seperti Manusia, tapi sebenarnya bukan kan?” aku bertanya dan menatap punggungnya tajam.


Dia berhenti berjalan, lalu diam sejenak. Aku bergidik ngeri ketika dia melirikku dengan mata hitamnya. Aku memang tidak sekuat itu, tapi aku merasa takut hanya karena tatapannya?


“Sesuai namaku, aku ini Ego. Perwujudan dari keegoisan.” Dia menjentikkan jarinya sambil mengatakan itu.


Lagi-lagi dia mengatakan omong kosong yang tidak aku pahami, entah siapa dia sebenarnya. Mungkin sebaiknya aku tidak terlalu cari tahu soal itu.


Tatapan matanya tadi seolah memberiku peringatan supaya tidak bertanya tentang dia melebihi batas.


Baiklah, kusimpulkan kalau dia ini orang yang sangat berbahaya. Seberapa berbahaya? Entahlah, kita baru akan mengetahuinya seiring berjalannya waktu.


Yang terpenting dia tidak bermaksud jahat padaku setidaknya untuk saat ini.


Kami akhirnya sampai di bagian hutan yang cukup dalam. Pria ini, dia meninggalkanku di tengah padang rumput yang benar-benar jauh dari tempat tinggalnya, seolah-olah dia ingin membuatku jadi makanan Monster.


Dia kemudian masuk ke dalam bongkahan batu besar yang di bagian dalamnya terdapat rongga seukuran dua orang dewasa, aku ikut masuk ke dalam. Tempat ini ternyata lebih nyaman dari kelihatannya, dia bahkan membuat tungku di dalam tempat ini.


Di atas tungku itu terdapat lempengan batu pipih yang ditutup menggunakan semacam tempurung kura-kura, aku bisa samar-samar mencium aroma daging yang dimasak.


Pria itu kemudian membuka tempurung, aroma daging panggang pun memenuhi rongga batu ini. Dia mengambil lembaran daun yang cukup lebar, kemudian menimpanya dengan daging yang ada di atas lempengan batu tersebut.


“Begini lebih baik bukan? Sebaiknya kau mengisi perutmu terlebih dahulu sebelum banyak bertanya”. Dia menyodorkan daging panggang itu kepadaku.


“Itu pun kalau aku masih hidup setelah memakan daging ini.” Aku menyobek daging panggang itu dan segera menjejalkannya ke dalam mulutku.


Dia memperhatikanku saat aku makan, hal itu membuatku merasa sangat tidak nyaman.


“Bagaimana kau bisa sampai di kota itu begitu bencana itu selesai?”


“Kan sudah kubilang untuk makan terlebih dahulu".


Aku kembali menjejalkan potongan daging ke dalam mulutku, sambil terus mengawasi gerak-gerik orang yang ada di depanku ini. Dia dengan santai bersandar dan memperhatikanku yang sedang makan.


Kami saling mengawasi sembari aku menghabiskan makananku, aku memasukkan potongan daging terakhir ke dalam mulut dan meremas lembaran daun yang digunakan sebagai piring, lalu membuangnya ke luar.


“Kau tahu kalau aku punya banyak pertanyaan kan?” ucapku setelah membersihkan tangan.


“Apa yang ingin kau tanyakan?” pria itu sama sekali tidak merubah posisi duduknya, dia tetap bersandar sambil menyelonjorkan kakinya.


“Jawab pertanyaanku tadi, bagaimana kau bisa muncul begitu bencana itu berakhir?”

__ADS_1


“Saat itu aku kebetulan lewat, dan ... Yah, aku menemukanmu saat memeriksa kerusakan yang terjadi.”


“Seberapa besar dampak bencana itu?”


“Tidak ada satu pun bangunan yang masih berdiri, kemungkinan kota itu akan terbengkalai sementara waktu. Siapa yang tahu?"


“Bagaimana dengan penduduk yang lain?”


Dia menggeleng mendengar pertanyaanku “ Aku tidak merasakan tanda-tanda kehidupan sama sekali selain darimu, penduduk kota itu menghilang seluruhnya.”


Aku menghela napas. Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa aku harus pergi ke Kerajaan Manusia? Kemungkinan, kabar mengenai hancurnya kota Iria juga telah sampai ke telinga kakekku.


Atau aku hanya perlu pindah ke kota sebelah, mencari pekerjaan yang layak, dan hidup normal sebagaimana orang pada umumnya. Aku sudah tidak peduli lagi dengan cita-cita menjadi Tentara.


Ada banyak sekali hal yang harus kupikirkan untuk saat ini.


“Saat kau membawaku, apakah ada tanda-tanda tim penyelamat atau semacamnya sedang menuju ke lokasi bencana?” tanyaku lagi.


“Aku sempat merasakan segerombolan orang menuju ke kota itu, mereka tiba tepat saat aku memindahkanmu.” Jawabnya.


“Lalu di mana aku sekarang?”


“Kerajaan Orthras.”


....


“Maaf?”


“Kerajaan Orthras.”


....


“Ya?”


“Kerajaan Orthras.”


“Permisi, sepertinya kau tidak menyembuhkan pendengaranku dengan benar, aku mengalami sedikit gangguan pendengaran saat ini.” Kacau sekali, mana mungkin aku berada di Kerajaan Orthras. Telingaku benar-benar bermasalah.


Pria itu mengambil ranting, lalu menggores tanah membentuk susunan huruf. ‘Ke-ra-ja-an Orth-ras’


“Aku pasti sudah gila.”


“Tidak, kau masih waras dan pendengaranmu masih bagus. Kenyataannya, kita sekarang berada di Kerajaan Orthras.”


“Aku tidak tahu kau berasal dari mana. Tapi apa kau tahu jarak antara Arakaza dan Orthras? Dua bulan perjalanan menggunakan transportasi darat dan lima belas hari menggunakan Naga tercepat. Kerajaan Orthras adalah Kerajaan yang paling jauh dari Kerajaan Arakaza". Omong kosong pria ini benar-benar parah, aku benar-benar tidak bisa berlama-lama bersamanya atau aku akan gila.


“Tidak ada yang mustahil kalau itu aku, bahkan memulihkan kau yang sekarat saja aku sanggup, bukan begitu?” dia mengangkat bahunya dan memasang ekspresi sombong.


“Lalu katakan padaku, bagaimana kau bisa melakukannya?”


“Aku berpindah tempat. Sederhana bukan?”


“Maksudmu teleportasi? Omong kosong, kau kebanyakan baca Buku Dongeng Bergambar".


“Nyatanya aku bisa tuh.” Dia mengangkat kedua bahunya.


“Oke, katakanlah kau benar-benar bisa melakukan teleportasi. Lalu apa bukti kalau kita benar-benar berada di Kerajaan Orthras?” orang ini bercandanya kelewatan, aku harus menghentikan semua omong kosong ini.


Entah berapa kali aku sudah mengatakan kalimat ‘omong kosong’ dalam satu bab ini. Maaf saja, tapi bahkan keberadaan orang ini pun merupakan omong kosong.


“Bukankah daun yang kau gunakan untuk makan tadi adalah daun dari pohon yang tumbuh di Kerjaan Orthras?”


Aku menatap daun yang sudah aku buang. Dia benar, daun itu adalah daun yang pernah aku lihat di dalam buku, buah yang hanya tumbuh di wilayah Orthras karena iklimnya yang mendukung.


Itu mengingatkanku dengan hutan yang ada di luar, berarti alasan kenapa aku melihat tumbuhan yang tidak seharusnya tumbuh di Arakaza adalah karena aku tidak berada di Arakaza?


Orang ini. Dia tidak mengatakan omong kosong kali ini, atau jangan-jangan sedari awal dia sama sekali tidak mengatakan omong kosong, dan justru aku yang menganggap semua perkataannya omong kosong.


Sialan, ini membuatku lelah.


“Baiklah, terserahmu. Tapi bisakah aku tidur disini? Kepalaku serasa akan hancur lagi setelah mendengar semua omonganmu.”


“Tentu saja, beristirahatlah dengan tenang. Lagipula, aku tidak beristirahat.”


“Kenapa? Apa aku membuatmu tidak bisa tidur nyenyak? Kalau begitu aku akan tidur diluar.”


Dia tertawa mendengar perkataanku “Bukan seperti itu, aku memang tidak ada niatan untuk tidur di tempat ini. Lagipula siapa juga yang tidur saat matahari sedang cerah seperti hari ini, hanya pengangguran dan gelandangan tanpa keluarga yang melakukannya ... Ups.” Pria itu menutup mulutnya.


“Intinya kau istirahat saja, aku punya urusan yang harus kukerjakan saat ini. Jadi, silahkan beristirahat dengan tenang.”

__ADS_1


Pria itu keluar dari rongga batu dan menghilang begitu saja. Jadi soal teleportasi itu juga bukan omong kosong. Sepertinya aku memang harus beristirahat untuk menata ulang kepalaku.


__ADS_2